Perjalanan Ziarah di Yerusalem hari ke-1

Posted: January 11, 2012 in Holy Land Tour
Tags: , , , , , , ,

20120111-004325.jpg
Hari Rabu, 23 Nopember 2011 setelah menikmati makan pagi, kami mulai melakukan ziarah hari pertama di Yerusalem. Dengan mengendarai bus wisata, 28 orang dari rombongan yang saya pimpin dan didampingi guide lokal – Bapak Parl Sagala – kami menuju ke Kolam Betesda. Jarak yang ditempuh sekitar 45 menit dari hotel tempat kami menginap. Sepanjang perjalanan kami berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dengan antusias. Pada masa pelayanan Tuhan Yesus di Yerusalem, kolam ini terletak di luar tembok utara kota. Namun saat ini kolam ini terletak di dalam tembok Yerusalem dan dipugar kembali dekat Pintu Gerbang Domba yang mengarah ke Bait Suci. Sekitar 20 abad yang lalu, kolam ini dipercaya apabila sewaktu-waktu ada malaikat Tuhan turun untuk menggoncangkan airnya, maka siapapun yang pertama kali masuk ke dalamnya akan mendapatkan kesembuhan, apapun juga penyakitnya. Namun, selama berabad-abad kolam ini akhirnya terkubur di bawah reruntuhan dan ditemukan dalam penggalian White Fathers. Kolam ini berbentuk persegi panjang dengan ukuran 350×200 kaki dengan kedalaman 25 kaki, dikelilingi pada setiap empat sisinya dengan serambi-serambi dan serambi yang kelima berada di tempat yang terpisah.

Sekalipun peninggalan dari Kolam Betesda ini hanya berupa puing-puing reruntuhan dan sudah tidak ada lagi airnya, namun beberapa mujizat juga tetap terjadi di tempat ini bagi orang-orang sakit yang dengan sungguh-sungguh hati percaya dan berdoa kepada Tuhan Yesus. Setibanya di Kolam Betesda, kami mendapatkan penjelasan singkat dari Guide lokal kami lalu kami mengadakan ibadah sambil menaikkan lagu pujian “Mujizat itu Nyata”

Saya menyampaikan Firman Tuhan dari Injil Yohanes pasal 5:1-14, yang juga menyinggung kisah dari kolam ini. Pada waktu Yohanes menceritakan kejadian di Kolam Betesda, pada waktu itu banyak sekali orang-orang sakit yang berbaring di serambi-serambi kolam. Ada yang buta, timpang, lumpuh, mereka semua menantikan goncangan air kolam. Adapula seorang yang telah mengalami sakit-penyakit selama 38 tahun dan terbaring di sebuah tilam. Orang sakit ini bisa jadi menggambarkan keadaan diri kita ketika sedang sakit ataupun mengalami sebuah masalah atau pergumulan. Orang sakit ini berfokus pada solusi pada kesembuhan dirinya, yaitu Kolam Betesda; orang ini sungguh mengharapkan mujizat terjadi agar dia keluar dari masalahnya. Demikian pula dengan kita, saat kita dalam sebuah pergumulan berat, yang menjadi fokus kita adalah mencari solusi ke sana kemari dan bahkan mengharapkan pertolongan terjadi secara ajaib. Tidak salah dengan kita berharap bahwa mujizat akan terjadi dalam kehidupan kita, karena Tuhan sanggup untuk memberikan pertolongan melalui mujizatnya dengan cara yang ajaib. Namun tidak semua sakit-penyakit dan masalah dalam hidup kita diselesaikan-Nya dengan mujizat atau cara yang ajaib. Adakalanya Tuhan Yesus ingin agar kita mulai menujukan pandangan iman kita untuk mulai benar-benar fokus kepada pribadi-Nya.

Tuhan Yesus menyapa orang sakit ini dan menanyakan apakah dia ingin disembuhkan (ayat 6). Namun, rupanya orang sakit ini tidak mengenal siapa yang telah menyapanya karena terlalu terfokus kepada masalah dan keadaannya sendiri. Tuhan Yesus senantiasa berulangkali menyapa kehidupan Anda dan menanyakan kondisi Anda, namun seringkali kita tidak memberikan jawaban yang tepat pada-Nya seperti yang dilakukan oleh orang sakit ini. Pada ayat ke-7, orang sakit ini menjawab bahwa tidak ada orang yang membantu dia turun ke kolam ketika airnya mulai goncang. Jawaban ini tentunya tidak menjawab pertanyaan Yesus sebelumnya, “Maukah engkau sembuh?” karena orang sakit tersebut terlalu fokus pada masalah dan dirinya sendiri.

Saat kita mengalami sakit-penyakit ataupun masalah, marilah kita berfokus pada Tuhan Yesus, Saya percaya bahwa Tuhan Yesus akan memberikan jalan keluar, bahkan mujizat-Nya bagi kita semua! Saat Tuhan Yesus telah memberikan kesembuhan atau telah menyatakan mujizat-Nya, inilah pesan yang disampaikan-Nya, “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” (ayat 14). Jagalah hidup kita senantiasa berkenan kepada-Nya agar tidak terjadi hal-hal yang lebih buruk menimpa kehidupan kita apabila melakukan perbuatan dosa lagi.

Mengakhiri renungan pagi itu, saya dan isteri mendoakan anggota rombongan kami yang sedang mengalami sakit-penyakit tertentu pada tubuhnya. Tentunya fokus doa kami bukanlah meminta kesembuhan dari Kolam Betesda maupun dari air yang digoncangkan malaikat karena kolamnyapun sudah kering. Kami berfokus pada Tuhan Yesus yang sanggup menyembuhkan segala sakit-penyakit. Ada seorang kakek kami doakan karena dari awal mengikuti ziarah ini susah tidur karena batuk. Namun puji Tuhan, hingga pada akhir perjalanan ziarah ini kakek ini tetap dapat mengikuti semua acara yang telah ditentukan. Selain itu, ada seorang bapak yang mengalami sakit bagian lutut sehingga mengalami kesulitan untuk berjalan bahkan tidak bisa berlari. Kami doakan memohonkan kuasa Tuhan menjamah lututnya dan memberikan kesembuhan.

Beranjak dari kolam Betesda, kami singgah di sebuah gereja yang bernama St. Anne Church – yang didirikan di lokasi tempat kelahiran Bunda Maria. Gereja ini merupakan salah satu gereja peninggalan Ksatria Perang Salib dengan arsitektur yang sangat baik, utamanya di bagian interior gereja ini dibangun demikian rupa sehingga dinding-dindingnya memantulkan tata suara yang baik ketika menaikkan suatu lagu pujian. Setelah itu, kami menuju ke Bukit Sion yang terletak di bagian barat daya tembok kota tua. Pada zaman dahulu, daerah ini termasuk bagian dalam kota kuno Yerusalem. Daerah bukit Sion ini merupakan situs di mana Yesus melakukan perjamuan malam terakhir bersama murid-murid-Nya. Bagi bangsa Yahudi, tempat ini berhubungan dengan makam Raja Daud yang sangat dihormati di Israel. Sebelum menuju ke Ruang Perjamuan Makan Terakhir dan makam Raja Daud, kami melakukan ziarah ke Gereja Santo Petrus di Gallicantu atau yang juga dikenal dengan Gereja “Kokok Ayam” (gallicantu artinya: kokok ayam).

20120111-010806.jpg
Melanjutkan perjalanan ziarah kami berikutnya, kami menuju Gereja Getsemani atau yang disebut juga sebagai “Gereja Segala Bangsa”. Menurut namanya, gereja ini didirikan dengan gaya basilika di tempat yang dipercaya sebagai Taman Getsemani tempat Yesus berdoa, memohon kekuatan untuk menanggung derita dan akhirnya ditangkap. Basilika ini merupakan salah satu tempat yang pertama kali dihancurkan oleh Bangsa Persia di tahun 614. Di abad ke-12 Ksatria Perang Salib membangun kembali gereja ini, yang kemudian dihancurkan. Kemudian, dibangun kembali sekitar tahun 1919-1924 dan sekitar 16 negara mendanainya sehingga disebut sebagai “Gereja Segala Bangsa”. Batu bersejarah yang dipercaya sebagai tempat Yesus berlutut untuk berdoa ditempatkan di depan altar utama.

20120111-015926.jpg
Di bagian depan gereja terdapat pilar-pilar yang di bagian atasnya dibangun patung empat penulis Injil yang masing-masing memegang kitab. Pada pedimen terdapat ilustrasi yang indah menggambarkan Tuhan Yesus berdoa kepada Allah Bapa saat menjelang penderitaan yang akan dijalani-Nya demi menebus umat manusia dari dosa. Di samping gereja ini terdapat sebuah taman yang disebut sebagai Taman Getsemani, tempat yang biasa digunakan oleh Tuhan Yesus untuk berdoa dan terletak di kaki Bukit Zaitun. Di masa kini, taman tersebut tetap terlihat seperti di masa abad ke-12 yang lalu, bahkan sekalipun kota Yerusalem mengalami peperangan, dihancurkan hingga dibangun kembali namun keadaan taman ini tetap seperti pada waktu Yesus melayani di dunia, mungkin dengan pohon-pohon zaitun yang sama pula. Di taman ini terdapat delapan pohon zaitun yang sangat tua dan tidak dapat dipastikan lagi umurnya. Beberapa ahli botani menyatakan bahwa usia dari pohon-pohon ini mungkin sekitar 3000 tahun. Dipercaya, bahwa pohon-pohon zaitun tersebut merupakan ‘saksi bisu’ saat Yesus merenung, berdoa kepada Bapa, hingga akhirnya ditangkap.

20120111-014104.jpg
Selanjutnya, kami menuju ke Ruangan Makan Malam Terakhir yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya. Di ruangan yang sama Yesus juga menampakkan diri-Nya kepada para murid sebanyak dua kali ksetelah bangkit dari kematian. Di tempat ini pula murid-murid menantikan ‘janji Bapa’ dan menerima pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta.

Sesaat setelah saya membacakan renungan dari Kisah Para Rasul 2:1-4, saya berlutut dan mengajak rombongan kami berdoa untuk memohonkan kepenuhan Roh Kudus. Saya menangis terharu karena dapat merasakan jamahan-Nya kembali di tempat ketika Roh Kudus pertama kali dicurahkan. Beberapa orang dari rombongan kami pun menangis karena mengalami lawatan Roh Kudus, bahkan ketika kami berdoa, ada seorang bapak yang mengalami kepenuhan Roh Kudus untuk pertama kalinya sehingga mulai dapat berkata-kata dalam bahasa roh. Benar-benar kami rasakan sekali lagi lawatan Roh Kudus di tempat ini.

Perjalanan ziarah berikutnya kami mengunjungi Sebuah situs yang dipercaya sebagai makam Raja Daud, tidak jauh dari Ruangan Malam Terakhir. Lalu, siang itu kami beristirahat sejenak sambil makan siang bersama dengan seluruh rombongan. Seusai makan siang, kami mengunjungi En Karem, di sana terdapat Gereja yang dibangun untuk memperingati lokasi kelahiran Yohanes Pembaptis. Di dalam gereja ini, saya menyampaikan renungan singkat sebagai berikut:
“Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”” (Matius 3:1-3).
Pesan Tuhan yang secara spesifik saya dapatkan ketika menyampaikan renungan tersebut adalah; ketika kita menapak tilas tempat kelahiran Yohanes Pembaptis, maka kita bukan sekedar mengunjungi tempatnya saja. Namun, kita belajar untuk meneladani Yohanes sebagai ‘pembuka jalan’ agar seseorang membuka hatinya untuk menerima Yesus sebagai Juruselamat. Seperti Yohanes Pembaptis mempersiapkan jalan bagi Tuhan Yesus, demikian pula kita melalui hidup, pelayanan, perbuatan, bahkan kesaksian kita hendaknya mempersiapkan hati seseorang untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Di akhir renungan, saya mendoakan agar semua peserta rombongan menjadi saksi-saksi yang berani untuk menjadi pemberita Injil agar membuka jalan bagi Tuhan Yesus untuk masuk dalam kehidupan seseorang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s