Archive for the ‘Holy Land Tour’ Category


20120616-224600.jpg

Pagi hari di hari ketiga kami berada di Yerusalem, kami mengunjungi Tembok Ratapan. Tembok Ratapan atau juga dikenal dengan ‘Tembok Barat’ merupakan bagian bangunan Bait Allah yang paling suci bagi umat Yahudi di seluruh dunia. Tembok ini merupakan peninggalan terakhir dari Bait Allah yang terakhir dibangun. Tembok Barat ini adalah bagian tembok yang tersisa yang dibangun oleh Herodes di sekeliling Bait Allah yang kedua sewaktu dibangun pada tahun 20 SM. Memasuki area doa di tembok ini, antara kaum pria dan kaum wanita dipisahkan dengan sebuah sekat. Banyak penduduk Yahudi setempat yang berdoa menghadap ke arah tembok ini yang dipercaya bahwa di balik tembok ini merupakan lokasi dari Bait Suci di zaman dahulu. Selain itu, para peziarah yang berdoa dari berbagai negara turut menyelipkan carikan-carikan kertas berisi permohonan dan pokok-pokok doa karena ingin doanya dijawab.

Akibat peperangan dan perebutan kekuasaan, bangunan Bait Suci dan sekitarnya menjadi tertimbun, bahkan berada di bawah tanah sekitar empat generasi kota yang berada di atasnya. Akhirnya dilakukanlah penggalian-penggalian di sepanjang Tembok Ratapan ini. Penggalian yang dilakukan menjadi jalur terowongan yang sangat panjang dan kami pun memasukinya. Dalam Tunnel/ terowongan tersebut kami dapat melihat kondisi jalan-jalan dan batu-batu besar yang disusun untuk menjadi bangunan Bait Suci yang sangat megah. Sungguh merupakan pengalaman yang tak terlupakan bagi saya secara pribadi dapat memasuki bagian dalam Bait Suci ini sekalipun hanya di bagian luar dindingnya. Di sepanjang Tunnel tersebut masih dilakukan penggalian dan diberi penanda untuk mengidentifikasi lokasi yang telah ditemukan beserta keterangannya. Kami berhenti di sebuah aula kecil untuk mendapatkan presentasi singkat bagaimana proses pembangunan Bait Suci di zaman pemerintahan Raja Salomo yang sebenarnya terletak di puncak gunung Moria tempat Abraham hendak mempersembahkan Ishak, anaknya kepada Tuhan (Kej. 22:2; 2 Taw. 3:1).

Selain itu, juga ditampilkan video bagaimana proses pengangkutan batu-batu besar dari pegunungan menuju Yerusalem untuk kemudian disusun hingga menjadi bangunan Bait Suci yang begitu indah. Pintu keluar dari Tunnel ini adalah Kota Tua Yerusalem, di sepanjang jalan-jalan yang telah kami lalui sehari sebelumnya saat mengadakan Via Dolorosa.

20120618-115934.jpg
Kami melanjutkan perjalanan kami menuju ke Garden Tomb, sebuah situs yang dipercaya umat Kristen sebagai lokasi asli tempat penyaliban Tuhan Yesus dan tidak jauh dari situ terdapat kubur kosong tempat jenazah Tuhan Yesus pernah dibaringkan. Situs ini berada di bagian utara Gerbang Damaskus. Pada tahun 1883, Jenderal Charles Gordon dari Inggris mengamati lembah berbatu ini yang bentuknya menyerupai tengkorak manusia dan mengasumsikan bahwa tempat ini kemungkinan memang Kalvari. Adanya makam dengan belahan batu besar di sekitar lokasi ini dipercaya berasal dari abad pertama, menguatkan asumsi sebelumnya mengenai situs ini. Rombongan lainnya dari Surabaya, Hong Kong dan Taiwan juga turut bergabung di tempat ini, karena kami akan melakukan ibadah bersama dan perjamuan kudus yang dipimpin oleh Ps. Philip Mantofa.

20120625-171059.jpg
Perjalanan ziarah berikutnya adalah menuju ke Yerikho, yang merupakan bagian dari negara Palestina dalam kawasan negara Israel. Tidak beberapa lama memasuki Yerikho, kami singgah di sebuah taman yang cukup ramai dikunjungi peziarah karena terdapat pohon ara yang dikenal sebagai pohon Zakheus. Pohon ini telah menjadi saksi sejarah sekitar 2000 tahun di saat Zakheus berusaha melihat Yesus dengan cara memanjatnya karena badannya pendek (Luk. 19:3-4).

20120625-171327.jpg
Tidak jauh dari lokasi pohon ara ini, kami melanjutkan perjalanan menuju sebuah photo-spot untuk menyaksikan Mount of Temptation atau Gunung Pencobaan, tempat Tuhan Yesus dicobai oleh iblis setelah dibaptis. Di tempat tersebut, kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama lalu melanjutkan perjalanan ke “Temptation Restaurant” untuk menikmati makan siang. Menu utama yang disajikan di restoran ini adalah steak domba, sebagai sajian khas yang benar-benar menggugah selera. Ternyata, lokasi restoran ini tepat berada di Elisha Spring Fountain atau mata air Elisa, seperti yang dikisahkan dalam 2 Raj. 2:19-22 di saat Elisa menyehatkan air di Yerikho. Di tempat ini juga terdapat pusat perbelanjaan “AHAVA” salah satu merk terkenal untuk produk kecantikan dan kosmetik yang diolah dari Laut Mati.

20120625-180023.jpg
Selanjutnya, kami menuju Qumran; 14,4 km di sebelah selatan Yerikho, sebuah lokasi dekat Laut Mati yang dikenal sebagai tempat ditemukannya gulungan Naskah Laut Mati. Memasuki pintu utama di “The Secret of Qumran”, kami langsung menyaksikan sebuah video dokumentasi singkat mengenai keberadaan Qumran dalam bahasa Spanyol dan text terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Lokasi ini merupakan tempat pengasingan kaum Eseni dari dunia luar untuk mengkhususkan diri mereka tetap dalam kesucian untuk menyalin naskah Perjanjian Lama. Di tempat ini banyak ditemukan pecahan-pecahan piring dan gelas yang terbuat dari tanah liat sehingga sempat diduga bahwa lokasi ini merupakan sebuah tempat pembuatan tembikar. Ternyata, untuk menjaga kesucian hidup, kaum Eseni ini selain memisahkan diri dengan dunia luar juga membuat piring dari tanah liat lalu memecahkan dan membuang peralatan makan tersebut setelah digunakan untuk makan. Menurut dokumentasi yang ditayangkan, disebutkan pula bahwa Yohanes Pembaptis pernah bergabung dengan kelompok ini sebelum menjadi ‘suara yang berseru-seru di padang gurun’.

Gulungan Naskah Laut Mati yang di dalamnya terdapat kitab Yesaya ditemukan tahun 1947, oleh seorang gembala Bedouin. Dikisahkan, waktu itu gembala tersebut sedang menggembalakan dombanya di wilayah Qumran hingga suatu ketika, gembala ini kehilangan salah satu dombanya dan mulai mencari-cari. Untuk memudahkan pencarian, gembala ini melempar-lemparkan batu ke arah lereng bebatuan dengan harapan apabila mengenai dombanya, akan bersuara. Ternyata, salah satu batu yang dilemparnya masuk ke salah satu gua dan mengenai periuk yang berisi Gulungan Naskah Laut Mati ini. Gulungan ini dijual kepada pedagang barang antik yang kebetulan anggota gereja di Suriah. Orang ini menjualnya kepada Anastasius Samuel, dari gereja “the Metropolitan of the Syrian Orthodox Church” di Yerusalem Timur. Mar Samuel membawanya ke Amerika Serikat dengan harapan menjualnya di sana bersama 3 gulungan lainnya. Lalu, empat gulungan ini dibeli oleh arkelolog Israel, Yigael Yadin, senilai $250.000 pada tahun 1954 dan dibawa kembali ke Israel. Akhir perjalanan ziarah kami di sore harinya adalah ke situs Laut Mati, di sini rombongan dapat berenang sambil mengapung maupun melapisi kulitnya dengan lumpur Laut Mati sebagai kosmetik alami.


20120509-003501.jpg
Hari kedua di Yerusalem, rombongan kami bangun pagi-pagi dan menikmati sarapan pagi bersama di ruang makan Royal Wing Hotel. Pagi itu, kami memulai perjalanan ziarah hari kedua di Yerusalem dengan rute pertama melalui Via Dolorosa (Jalan Penderitaan) yang harus ditempuh oleh Tuhan Yesus tatkala diadili oleh Ponsius Pilatus, memikul kayu salib hingga disalibkan. Via Dolorosa adalah jalan kuno yang dilalui Yesus sambil membawa salib-Nya dari arena pengadilan Ponsius Pilatus ketika Dia dijatuhi hukuman mati, menuju Kalvari untuk disalibkan. Kejadian-kejadian sepanjang Via Dolorosa ini diperingati dengan 14 perhentian, di mana 9 di antaranya berhubungan dengan ajaran Alkitab sementara 5 lainnya berhubungan dengan tradisi. Dua bagian pertama berada di antara situs Antonia, tujuh lainnya berlokasi di jalan-jalan yang ada dan lima bagian yang terakhir berlokasi di gereja dari Holy Sepulchre (Makam Kudus). Sepanjang menempuh Via Dolorosa ini, saya memimpin rombongan sambil menaikkan pujian sebagai berikut:

Salib-Nya, salib-Nya selama mulia
Dosaku disucikan… Oleh darah Yesus

Suasana haru kami rasakan saat menempuh Via Dolorosa sambil membayangkan peristiwa 2000 tahun lalu ketika Yesus harus memikul kayu salib yang berat. Berikut ini adalah daftar perhentian yang dilalui dalam Via Dolorosa:
I. Antonia fortress: Pilatus menjatuhkan hukuman kepada Yesus
II. Lithostrotos: Yesus menerima salib
III. Yesus jatuh untuk pertama kalinya saat memikul salib yang berat
IV. Maria menyaksikan Yesus memikul salib
V. Simon dari Kirene dipaksa untuk membawa salib Yesus
VI. Veronika mengusap wajah Yesus
VII. Yesus terjatuh untuk kedua kalinya
VIII. Yesus berbicara kepada wanita-wanita Yerusalem
IX. Yesus terjatuh untuk ketiga kalinya
X. Kalvari: Jubah Yesus diundi
XI. Kalvari: Yesus dipakukan pada kayu salib
XII. Kalvari: Yesus wafat di kayu salib
XIII. Kalvari: jenazah Yesus diturunkan dari kayu salib
XIV. Holy Sepulchre: jenazah Yesus dibaringkan dalam kubur milik Yusuf Arimatea
Inti renungan Firman Tuhan yang saya sampaikan saat kami melalui Via Dolorosa adalah sebagai umat Tuhan, kita patut bersyukur karena memiliki Tuhan yang telah menanggung dosa dan pelanggaran kita bahkan hingga mengorbankan diri-Nya hingga wafat di kayu salib. Selain itu, saat menapak tilas perjalanan penderitaan Tuhan Yesus, saya memotivasi peserta rombongan agar tidak jemu-jemu memikul salib kita, karena Yesus telah menjadi teladan yang sempurna bagi kita semua. Via Dolorosa yang kami lakukan berakhir di Gereja Holy Sepulchre (Makam Kudus), lokasi yang dipercaya sebagai Golgota, tempat dilakukan penyaliban Yesus dan makam tempat Yesus dibaringkan menurut tradisi Katolik.

20120509-004211.jpg
Perjalanan kami lanjutkan menuju Ascension Chapel (Kapel Kenaikan). Dalam Kisah Rasul 1:9-12 diceritakan bagaimana Yesus terangkat ke Sorga dan disaksikan murid-murid-Nya. Peristiwa tersebut terjadi di puncak Bukit Zaitun yang dinyatakan sebagai situs dari kenaikan Yesus tersebut. Kapel kenaikan ini dibuat oleh Ksatria Perang Salib dan dibangun di atas batu yang melegenda karena dipercaya sebagai bekas tapak kaki Yesus sebelum terangkat ke Sorga. Di halaman kapel ini, saya membagikan renungan mengenai Amanat Agung kepada rombongan yang saya pimpin karena sebelum kenaikannya ke Sorga, Tuhan Yesus memberikan amanat-Nya sebagai berikut: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat. 28:19-20).

20120509-005043.jpg
Sebelum melanjutkan perjalanan ziarah menuju Gereja Pater Noster atau Gereja Bapa Kami, kami dan rombongan lain dari Rhema Tours berkumpul di salah satu sisi Bukit Zaitun untuk melakukan foto rombongan bersama Ps. Philip Mantofa dan isteri. Latar belakang pengambilan foto ini adalah kota Yerusalem dengan menonjolkan bangunan Dome of the Rock yang dipercaya sebagai lokasi Bait Suci.

20120511-010359.jpg
Gereja Bapa Kami yang kami kunjungi didirikan untuk mengenang peristiwa ketika Tuhan Yesus mengajarkan doa Bapa Kami kepada murid-murid-Nya. Di gereja ini, banyak terdapat tulisan doa Bapa Kami yang dipasang di sekeliling dinding gereja dengan berbagai bahasa dari seluruh dunia. Rombongan kami berhenti di salah satu dinding yang tertulis doa Bapa Kami dalam bahasa Indonesia dan berdoa di situ. Keanekaragaman bahasa dari beberapa suku bangsa Indonesia juga terdapat di sana seperti bahasa Jawa, Palembang, Batak, dan lain-lain.

20120511-010511.jpg
Siang itu, perjalanan kami lanjutkan menuju kota kelahiran Tuhan Yesus, yaitu Betlehem sekaligus untuk menikmati makan siang dan ibadah bersama baik dari rombongan Indonesia maupun rombongan dari Taiwan dan Hongkong. Betlehem merupakan kota kecil di wilayah Palestina, sementara Palestina sendiri merupakan negara yang terdapat di dalam wilayah negara Israel. Jadi, untuk memasuki wilayah ini kami harus melewati pemeriksaan singkat di perbatasan dan menunjukkan identitas paspor kami. Kami menikmati makan siang kami di restoran dan menikmati makanan khas Betlehem yaitu steak domba.

Setelah menikmati makan siang, dilanjutkan dengan ibadah bersama. Ps. Jonathan Chow dari Bread of Life Church – Taiwan menyampaikan kebenaran Firman Tuhan seputar peristiwa kelahiran Tuhan Yesus di Betlehem yang kemudian dilanjutkan dengan penyampaian pesan singkat oleh Ps. Philip Mantofa. Ps. Philip menyampaikan pesan mengenai tiga orang Majus yang menunjungi tempat kelahiran Yesus. Malaikat menuntun langkah mereka dalam bentuk bintang besar yang bersinar amat terang. Tiga orang Majus ini membawa emas, kemenyan, dan mur. Setiap kali ada bayi yang lahir di sebuah keluarga Kristiani, Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk menjagai bayi tersebut dan Tuhan akan memberi banyak pemberian atau berkat karena kelahiran sang bayi. Setiap kelahiran bayi itu berharga di mata Tuhan, kita pun berharga di mata-Nya sekalipun kita lahir dari orang tua yang bermasalah, melalui kehamilan di luar nikah, dan lain-lain. Sekalipun kita mengalami trauma akibat latar belakang keluarga kita, kita harus bebas dari segala kepahitan, karena kita tidak bisa hidup dengan hal-hal seperti itu. Bagi yang memiliki anak, katakan kepada mereka, “Terima kasih kalian menjadi berkat bagiku!”. Identitas anak-anak kita berbeda dengan kebiasaan mereka, jadi jangan sekali-kali mengutuk anak-anak kita dengan sebutan yang kurang baik, namun doakan dan lepaskan berkat bagi mereka. Di akhir pesan yang disampaikan, Ps. Philip juga mengundang peserta rombongan yang hadir utamanya yang belum dikaruniai keturunan untuk didoakan secara khusus agar Tuhan segera memberi mereka anak.

20120511-011832.jpg
Perjalanan kami lanjutkan ke Gereja Kelahiran Yesus Kristus. Gereja ini sangat dipadati oleh peziarah dari berbagai negara. Ada satu lokasi dalam gereja tersebut yang dipercaya sebagai lokasi kelahiran Tuhan Yesus Kristus, yaitu di palungan 2000 tahun yang lalu dan ditandai dengan simbol bintang. Tempat yang bertanda bintang tersebut dipercaya sebagai lokasi tempat Yesus Kristus dilahirkan dan di sana bertuliskan bahasa Latin “Hic de Maria Virgine Jesus Christus Natus est” yang artinya “Yesus Kristus lahir dari Perawan Maria di sini”.

Situs rohani terakhir yang kami kunjungi hari itu adalah Gereja Padang Gembala, sebuah lokasi yang pada waktu peristiwa kelahiran Yesus merupakan tempat gembala-gembala berkumpul sambil menjagai kawanan domba dan memperoleh kunjungan Malaikat Gabriel yang memberitakan kelahiran Sang Juruselamat.


20120228-222214.jpg
Malam harinya setelah melakukan ziarah, segenap rombongan Holy Land Tour yang dikoordinir oleh Rhema Tours berkumpul bersama untuk menghadiri ibadah pembukaan. Seluruh rombongan yang ikut serta dalam tour kali ini mencapai sekitar 100 orang peserta, yang terdiri dari jemaat GMS baik dari Surabaya, Jakarta, Sidoarjo, maupun Medan. Selain itu, rombongan luar negri yang berasal dari Taiwan dan Hong Kong juga berkumpul dalam ibadah pembukaan ini.

Ibadah ini dimulai tepat pada pukul 7 malam waktu setempat. Ps. Philip Mantofa, BRE memimpin ibadah pembukaan ini dengan menyampaikan kotbah yang berjudul “JESUS”. Beliau menyampaikan kotbah dalam bahasa Inggris yang juga diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin bagi peserta dari Taiwan maupun Hongkong.

Firman Tuhan yang disampaikan oleh Ps. Philip Mantofa diambil dari Injil Yoh. 1:35-42. Ayat ke-35 tertulis “Again the next day after John stood, and two of his disciples;”
Saat Tuhan akan melakukan sesuatu dalam hidup kita, Dia akan berjanji terlebih dahulu. Dia memberikan Firman-Nya terlebih dahulu. Yesus menyediakan sesuatu yang luar biasa bagi murid-Nya. Ketika Yesus menggenapi janji-Nya, hal itu akan terjadi sangat cepat, karena segala sesuatu indah pada waktu-Nya. Bila Tuhan menggenapi janji-Nya yang terjadi sangat cepat, maka jika kita tidak siap, kita akan terlewat sesuatu yang luar biasa!

Tuhan akan menguji hati kita; siap atau tidak. Yesus sedang menguji, 2 murid ini pandangannya tertuju kepada Yohanes atau Yesus. Yesus juga menguji Yohanes, apakah dia melakukan tugasnya dengan baik atau tidak dan ternyata didapati Yohanes melakukannya dengan baik.

“And looking upon Jesus as he walked, he saith, Behold the Lamb of God!” (John 1:36)
Yohanes seperti pemandu rohani yang mengarahkan peserta untuk melihat/ memandang kepada Yesus.

“And the two disciples heard him speak, and they followed Jesus.” (John 1:37)
Saat kita melewati imigrasi, akan ditanya petugas, sungguhkah kita menjawab jujur bahwa kedatangan kita ke Israel untuk melakukan wisata rohani? Seharusnya, kita menjawab bahwa Yesuslah yang mengundang kita ke tanah suci. Kita datang ke sini bukan karena kemampuan keuangan kita; kita sebenarnya diundang ke tempat tinggalnya TUHAN selama Dia melayani di atas muka bumi!

“Then Jesus turned, and saw them following, and saith unto them, What seek ye? They said unto him, Rabbi, (which is to say, being interpreted, Master,) where dwellest thou?
He saith unto them, Come and see.(ini undangan Yesus bagi kita!) They came and saw where he dwelt, and abode with him that day: for it was about the tenth hour.”

Saat di Holy Land, “enjoy the fellowship with Jesus Christ”; nikmatilah persekutuan dengan Yesus Kristus. Itulah tujuan utama kita! Bukan sekedar berfoto atau berbelanja souvenir. Sama seperti Yesus menanyai kedua murid tersebut, ‘apa yang kau cari?’ maka jika Yesus menanyakan hal tersebut kepada kita, jawablah: mencari Engkau, Yesus!

“One of the two which heard John speak, and followed him, was Andrew, Simon Peter’s brother. He first findeth his own brother Simon, and saith unto him, We have found the Messias, which is, being interpreted, the Christ.
And he brought him to Jesus. And when Jesus beheld him, he said, Thou art Simon the son of Jona: thou shalt be called Cephas, which is by interpretation, A stone.” (John 1:38-42)

Berapa murid yang berdiri dengan Yohanes pada awal kisah ini? Kita telah membacanya tadi, ada dua orang. Ketika ‘tour’ berlangsung, Yohanes Pembaptis melakukan tugasnya dengan baik. Sebagai ‘tour leader’, dia menunjukkan kepada murid-muridnya bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah. Salah satu muridnya adalah Andreas, namun murid satunya lagi ‘menghilang’ sehingga namanya pun tidak tercatat lagi. Setelah Andreas mengikuti ‘tour rohani’ bersama Yohanes Pembaptis, hidupnya berubah. Dia kembali pulang ke rumah dan keluarganya diubahkan, keluarganya menerima keselamatan. Bahkan, mertua Petrus yang juga masih memiliki hubungan saudara dengan Andreas pun disembuhkan dari sakitnya dan diselamatkan.

Murid satunya lagi malah pergi ke tempat lain saat dimuridkan Yohanes. Dengan iman kita memasuki janji Tuhan. Bisa aja kita memasuki tanah perjanjian namun tidak menerima janji Tuhan karena menolak untuk percaya.
Keluarga Andreas diselamatkan dan hidupnya berdampak bagi org lain. Buah pertama Andreas begitu luar biasa. Andreas mengajak Simon yang akhirnya manjadi rasul Tuhan yang luar biasa: Petrus! Di akhir kotbahnya, Ps. Philip memberikan kesimpulan bahwa saat kita berada di Israel, segala sesuatu yang kita lihat akan menolong kita yang lemah iman agar kita dikuatkan, utamanya apabila kita melihat fakta-fakta sejarah yang ada.

“Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” (Ibrani 11:6)

Posted with WordPress for BlackBerry.


20120111-004325.jpg
Hari Rabu, 23 Nopember 2011 setelah menikmati makan pagi, kami mulai melakukan ziarah hari pertama di Yerusalem. Dengan mengendarai bus wisata, 28 orang dari rombongan yang saya pimpin dan didampingi guide lokal – Bapak Parl Sagala – kami menuju ke Kolam Betesda. Jarak yang ditempuh sekitar 45 menit dari hotel tempat kami menginap. Sepanjang perjalanan kami berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dengan antusias. Pada masa pelayanan Tuhan Yesus di Yerusalem, kolam ini terletak di luar tembok utara kota. Namun saat ini kolam ini terletak di dalam tembok Yerusalem dan dipugar kembali dekat Pintu Gerbang Domba yang mengarah ke Bait Suci. Sekitar 20 abad yang lalu, kolam ini dipercaya apabila sewaktu-waktu ada malaikat Tuhan turun untuk menggoncangkan airnya, maka siapapun yang pertama kali masuk ke dalamnya akan mendapatkan kesembuhan, apapun juga penyakitnya. Namun, selama berabad-abad kolam ini akhirnya terkubur di bawah reruntuhan dan ditemukan dalam penggalian White Fathers. Kolam ini berbentuk persegi panjang dengan ukuran 350×200 kaki dengan kedalaman 25 kaki, dikelilingi pada setiap empat sisinya dengan serambi-serambi dan serambi yang kelima berada di tempat yang terpisah.

Sekalipun peninggalan dari Kolam Betesda ini hanya berupa puing-puing reruntuhan dan sudah tidak ada lagi airnya, namun beberapa mujizat juga tetap terjadi di tempat ini bagi orang-orang sakit yang dengan sungguh-sungguh hati percaya dan berdoa kepada Tuhan Yesus. Setibanya di Kolam Betesda, kami mendapatkan penjelasan singkat dari Guide lokal kami lalu kami mengadakan ibadah sambil menaikkan lagu pujian “Mujizat itu Nyata”

Saya menyampaikan Firman Tuhan dari Injil Yohanes pasal 5:1-14, yang juga menyinggung kisah dari kolam ini. Pada waktu Yohanes menceritakan kejadian di Kolam Betesda, pada waktu itu banyak sekali orang-orang sakit yang berbaring di serambi-serambi kolam. Ada yang buta, timpang, lumpuh, mereka semua menantikan goncangan air kolam. Adapula seorang yang telah mengalami sakit-penyakit selama 38 tahun dan terbaring di sebuah tilam. Orang sakit ini bisa jadi menggambarkan keadaan diri kita ketika sedang sakit ataupun mengalami sebuah masalah atau pergumulan. Orang sakit ini berfokus pada solusi pada kesembuhan dirinya, yaitu Kolam Betesda; orang ini sungguh mengharapkan mujizat terjadi agar dia keluar dari masalahnya. Demikian pula dengan kita, saat kita dalam sebuah pergumulan berat, yang menjadi fokus kita adalah mencari solusi ke sana kemari dan bahkan mengharapkan pertolongan terjadi secara ajaib. Tidak salah dengan kita berharap bahwa mujizat akan terjadi dalam kehidupan kita, karena Tuhan sanggup untuk memberikan pertolongan melalui mujizatnya dengan cara yang ajaib. Namun tidak semua sakit-penyakit dan masalah dalam hidup kita diselesaikan-Nya dengan mujizat atau cara yang ajaib. Adakalanya Tuhan Yesus ingin agar kita mulai menujukan pandangan iman kita untuk mulai benar-benar fokus kepada pribadi-Nya.

Tuhan Yesus menyapa orang sakit ini dan menanyakan apakah dia ingin disembuhkan (ayat 6). Namun, rupanya orang sakit ini tidak mengenal siapa yang telah menyapanya karena terlalu terfokus kepada masalah dan keadaannya sendiri. Tuhan Yesus senantiasa berulangkali menyapa kehidupan Anda dan menanyakan kondisi Anda, namun seringkali kita tidak memberikan jawaban yang tepat pada-Nya seperti yang dilakukan oleh orang sakit ini. Pada ayat ke-7, orang sakit ini menjawab bahwa tidak ada orang yang membantu dia turun ke kolam ketika airnya mulai goncang. Jawaban ini tentunya tidak menjawab pertanyaan Yesus sebelumnya, “Maukah engkau sembuh?” karena orang sakit tersebut terlalu fokus pada masalah dan dirinya sendiri.

Saat kita mengalami sakit-penyakit ataupun masalah, marilah kita berfokus pada Tuhan Yesus, Saya percaya bahwa Tuhan Yesus akan memberikan jalan keluar, bahkan mujizat-Nya bagi kita semua! Saat Tuhan Yesus telah memberikan kesembuhan atau telah menyatakan mujizat-Nya, inilah pesan yang disampaikan-Nya, “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” (ayat 14). Jagalah hidup kita senantiasa berkenan kepada-Nya agar tidak terjadi hal-hal yang lebih buruk menimpa kehidupan kita apabila melakukan perbuatan dosa lagi.

Mengakhiri renungan pagi itu, saya dan isteri mendoakan anggota rombongan kami yang sedang mengalami sakit-penyakit tertentu pada tubuhnya. Tentunya fokus doa kami bukanlah meminta kesembuhan dari Kolam Betesda maupun dari air yang digoncangkan malaikat karena kolamnyapun sudah kering. Kami berfokus pada Tuhan Yesus yang sanggup menyembuhkan segala sakit-penyakit. Ada seorang kakek kami doakan karena dari awal mengikuti ziarah ini susah tidur karena batuk. Namun puji Tuhan, hingga pada akhir perjalanan ziarah ini kakek ini tetap dapat mengikuti semua acara yang telah ditentukan. Selain itu, ada seorang bapak yang mengalami sakit bagian lutut sehingga mengalami kesulitan untuk berjalan bahkan tidak bisa berlari. Kami doakan memohonkan kuasa Tuhan menjamah lututnya dan memberikan kesembuhan.

Beranjak dari kolam Betesda, kami singgah di sebuah gereja yang bernama St. Anne Church – yang didirikan di lokasi tempat kelahiran Bunda Maria. Gereja ini merupakan salah satu gereja peninggalan Ksatria Perang Salib dengan arsitektur yang sangat baik, utamanya di bagian interior gereja ini dibangun demikian rupa sehingga dinding-dindingnya memantulkan tata suara yang baik ketika menaikkan suatu lagu pujian. Setelah itu, kami menuju ke Bukit Sion yang terletak di bagian barat daya tembok kota tua. Pada zaman dahulu, daerah ini termasuk bagian dalam kota kuno Yerusalem. Daerah bukit Sion ini merupakan situs di mana Yesus melakukan perjamuan malam terakhir bersama murid-murid-Nya. Bagi bangsa Yahudi, tempat ini berhubungan dengan makam Raja Daud yang sangat dihormati di Israel. Sebelum menuju ke Ruang Perjamuan Makan Terakhir dan makam Raja Daud, kami melakukan ziarah ke Gereja Santo Petrus di Gallicantu atau yang juga dikenal dengan Gereja “Kokok Ayam” (gallicantu artinya: kokok ayam).

20120111-010806.jpg
Melanjutkan perjalanan ziarah kami berikutnya, kami menuju Gereja Getsemani atau yang disebut juga sebagai “Gereja Segala Bangsa”. Menurut namanya, gereja ini didirikan dengan gaya basilika di tempat yang dipercaya sebagai Taman Getsemani tempat Yesus berdoa, memohon kekuatan untuk menanggung derita dan akhirnya ditangkap. Basilika ini merupakan salah satu tempat yang pertama kali dihancurkan oleh Bangsa Persia di tahun 614. Di abad ke-12 Ksatria Perang Salib membangun kembali gereja ini, yang kemudian dihancurkan. Kemudian, dibangun kembali sekitar tahun 1919-1924 dan sekitar 16 negara mendanainya sehingga disebut sebagai “Gereja Segala Bangsa”. Batu bersejarah yang dipercaya sebagai tempat Yesus berlutut untuk berdoa ditempatkan di depan altar utama.

20120111-015926.jpg
Di bagian depan gereja terdapat pilar-pilar yang di bagian atasnya dibangun patung empat penulis Injil yang masing-masing memegang kitab. Pada pedimen terdapat ilustrasi yang indah menggambarkan Tuhan Yesus berdoa kepada Allah Bapa saat menjelang penderitaan yang akan dijalani-Nya demi menebus umat manusia dari dosa. Di samping gereja ini terdapat sebuah taman yang disebut sebagai Taman Getsemani, tempat yang biasa digunakan oleh Tuhan Yesus untuk berdoa dan terletak di kaki Bukit Zaitun. Di masa kini, taman tersebut tetap terlihat seperti di masa abad ke-12 yang lalu, bahkan sekalipun kota Yerusalem mengalami peperangan, dihancurkan hingga dibangun kembali namun keadaan taman ini tetap seperti pada waktu Yesus melayani di dunia, mungkin dengan pohon-pohon zaitun yang sama pula. Di taman ini terdapat delapan pohon zaitun yang sangat tua dan tidak dapat dipastikan lagi umurnya. Beberapa ahli botani menyatakan bahwa usia dari pohon-pohon ini mungkin sekitar 3000 tahun. Dipercaya, bahwa pohon-pohon zaitun tersebut merupakan ‘saksi bisu’ saat Yesus merenung, berdoa kepada Bapa, hingga akhirnya ditangkap.

20120111-014104.jpg
Selanjutnya, kami menuju ke Ruangan Makan Malam Terakhir yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya. Di ruangan yang sama Yesus juga menampakkan diri-Nya kepada para murid sebanyak dua kali ksetelah bangkit dari kematian. Di tempat ini pula murid-murid menantikan ‘janji Bapa’ dan menerima pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta.

Sesaat setelah saya membacakan renungan dari Kisah Para Rasul 2:1-4, saya berlutut dan mengajak rombongan kami berdoa untuk memohonkan kepenuhan Roh Kudus. Saya menangis terharu karena dapat merasakan jamahan-Nya kembali di tempat ketika Roh Kudus pertama kali dicurahkan. Beberapa orang dari rombongan kami pun menangis karena mengalami lawatan Roh Kudus, bahkan ketika kami berdoa, ada seorang bapak yang mengalami kepenuhan Roh Kudus untuk pertama kalinya sehingga mulai dapat berkata-kata dalam bahasa roh. Benar-benar kami rasakan sekali lagi lawatan Roh Kudus di tempat ini.

Perjalanan ziarah berikutnya kami mengunjungi Sebuah situs yang dipercaya sebagai makam Raja Daud, tidak jauh dari Ruangan Malam Terakhir. Lalu, siang itu kami beristirahat sejenak sambil makan siang bersama dengan seluruh rombongan. Seusai makan siang, kami mengunjungi En Karem, di sana terdapat Gereja yang dibangun untuk memperingati lokasi kelahiran Yohanes Pembaptis. Di dalam gereja ini, saya menyampaikan renungan singkat sebagai berikut:
“Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”” (Matius 3:1-3).
Pesan Tuhan yang secara spesifik saya dapatkan ketika menyampaikan renungan tersebut adalah; ketika kita menapak tilas tempat kelahiran Yohanes Pembaptis, maka kita bukan sekedar mengunjungi tempatnya saja. Namun, kita belajar untuk meneladani Yohanes sebagai ‘pembuka jalan’ agar seseorang membuka hatinya untuk menerima Yesus sebagai Juruselamat. Seperti Yohanes Pembaptis mempersiapkan jalan bagi Tuhan Yesus, demikian pula kita melalui hidup, pelayanan, perbuatan, bahkan kesaksian kita hendaknya mempersiapkan hati seseorang untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Di akhir renungan, saya mendoakan agar semua peserta rombongan menjadi saksi-saksi yang berani untuk menjadi pemberita Injil agar membuka jalan bagi Tuhan Yesus untuk masuk dalam kehidupan seseorang.

Kota Suci Yerusalem

Posted: December 27, 2011 in Holy Land Tour
Tags: , ,

20111226-094825.jpg
Tanah Suci
Tanah Suci Israel berlokasi di ujung Timur kawasan Mediterania. Berbatasan dengan Libanon di bagian utara, di timur dengan Siria dan Yordania serta bagian selatan dengan Gurun Sinai. Ukuran Tanah Suci sekitar 14ribu mil persegi namun memiliki peranan penting dalam sejarah manusia. Pada zaman kuno, kawasan ini dilalui oleh jalur paling penting dalam komunikasi yang menghubungkan Mesir dengan Siria dan Mesopotamia. Selain itu, kawasan ini merupakan tanah kelahiran dari tiga kepercayaan besar di dunia: Yahudi, Kristen, dan Islam. Dari sudut pandang ekonomi, kawasan di Timur Tengah ini merupakan jembatan bagi tiga benua.

Yerusalem
Yerusalem, berdiri tegak di tengah-tengah lembah Yudea, memperoleh gelar sebagai “Ratu” oleh kota-kota dunia selama 30 abad. Tanpa memiliki kekayaan hasil bumi, kota ini dipilih Tuhan sebagai tempat tinggal bagi umat-Nya agar di tempat ini umat-Nya menyembah dan memuliakan nama-Nya. Dari kota lembah-lembah tandus itulah para nabi, Yesus Kristus, dan para Rasul melontarkan ajaran moral, pengenalan akan Tuhan dan Kasih. Dari dasar lembah itu menjalar iman yang menegakkan hukum keadilan dan keyakinan beragama bagi orang-orang yang buta oleh karena dosa dan penyembahan berhala.

dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem.” – Yes. 2:3 -

Yerusalem adalah pusat kota yang berhubungan dengan keagamaan dari setengah bagian seluruh manusia yang hidup di bumi ini. Bagi orang-orang Yahudi, kota ini adalah simbol dari kejayaan masa lalu mereke dan harapan bagi masa depan mereka. Bagi umat Kristen, kota ini merupakan tempat di mana Yesus menyampaikan pesan terakhir-Nya, juga tempa Yesus mengalami sengsara, mati, dan kemudian bangkit dari alam maut. Yerusalem, sumber keyakinan dan damai, kota yang paling kudus, juga merupakan kota yang dipenuhi dengan perang dan penumpahan darah. Pedang telah menghilangkan nyawa anak-anak Yerusalem sepanjang sejarah kota itu. Telah terjadi banyak sekali pertempuran di pintu gerbang kota Yerusalem, lebih dari kota lain yang ada di dunia ini. Yerusalem pernah diserbu lebih dari 50 kali, ditaklukkan sebanyak 36 kali, dan dihancurkan sebanyak 10 kali. Yerusalem yang asli telah musnah dalam halimun zaman purbakala. Kota ini pertama kali disebut dalam kitab Kejadian pada masa Abraham dengan nama Salem, yang berarti damai, “Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi.” (Kej. 14:18). Di abad 10 Sebelum Masehi, Raja Daud mengambil alih kota tersebut dari kekuasaan orang-orang Yebus, lalu mendirikan ibu kotanya dan membawa Tabut Perjanjian ke kota tersebut.