Posts Tagged ‘kasih karunia’


20130120-171840.jpg

Sukacita memenuhi segenap jemaat Gereja Mawar Sharon my home pada hari ini… Ya! Kehadiran Gembala Sidang dan Ketua Sinode Gereja Mawar Sharon dari Surabaya yaitu Ps. Jusuf S. Soetanto dan istri sungguh memperoleh sambutan hangat dari seluruh pengerja, pelayan Tuhan, maupun jemaat GMS my home. Kehadiran beliau kali ini di kota Medan adalah secara khusus hendak meresmikan peluncuran buku pertama beliau yang berjudul “The JOURNEY of GRACE” atau perjalanan kasih karunia. Buku ini mengisahkan hidup dan pelayanan Ps. Jusuf S. Soetanto sendiri dari semasa mudanya hingga kini – Tuhan telah mempercayakan pelayanan penggembalaan di Gereja Mawar Sharon hingga puluhan ribu jemaat.

Bagi saya secara pribadi, figur Pak Jusuf (demikian sapaan akrab saya pada beliau) adalah seorang hamba Tuhan dan bapa rohani yang sangat rendah hati. Sekalipun memegang pucuk kepemimpinan tertinggi di Gereja Mawar Sharon, namun beliau tidak segan-segan untuk menyapa semua jemaat yang hadir di gereja dan selalu memberikan senyuman yang ramah. Dengan berbesar hati, beliau juga memberi kesempatan kepada setiap anak muda yang digembalakan di Gereja Mawar Sharon untuk bertumbuh memenuhi panggilan hidupnya untuk menjadi berhasil di dunia marketplace, melayani Tuhan, menjadi pemimpin rohani, bahkan didukung untuk menjadi hamba Tuhan. Tak heran, di Gereja Mawar Sharon banyak bermunculan hamba-hamba Tuhan dari usia muda yang memiliki talenta untuk melayani dan memimpin jemaat.

20130120-172959.jpg

Dalam ibadah spesial Book Launching “The JOURNEY of GRACE” ini, dalam setiap ibadah umum ditampilkan performance a capella yang terdiri dari 7 orang singer dengan pembagian suara yang luar biasa saat menaikkan pujian “Amazing Grace”. Ps. Yosep Moro selaku gembala GMS Regional Sumatra menyampaikan kata sambutan di hadapan jemaat sehubungan dengan peluncuran buku ini di GMS my home sekaligus mengundang Pak Jusuf untuk menyampaikan pesan-pesan khusus bagi jemaat. Pak Jusuf terus menguatkan jemaat dalam memasuki tahun 2013 ini sebagai “the Year of Maturity and Multiplication” untuk terus berdoa dan semakin dekat dengan Tuhan agar semakin bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa, karena melalui kematangan akan menghasilkan pelipatgandaan.

Sungguh sebuah kehormatan, sebagai salah satu anak rohani Pak Jusuf, saya memperoleh kesempatan untuk menyampaikan Firman Tuhan dalam salah satu ibadah book launching “The JOURNEY of GRACE” yaitu dalam ibadah Army of God youth. Mengawali Firman Tuhan yang saya sampaikan, saya mengajak segenap jemaat yang hadir – dengan didominasi oleh anak-anak muda – merenungkan ayat sebagai berikut:

“Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu.” (1 Korintus 4:15)

Rasul Paulus menjelaskan kepada jemaat Korintus bahwa mereka membutuhkan bapak rohani bagi pertumbuhan rohani mereka, bukan sekedar pendidik. Terdapat banyak pendidik-pendidik rohani dalam jemaat Korintus pada waktu itu, namun tidak sepenuhnya berperan sebagai ‘bapa’ dalam hidup kerohaniaan mereka. Tuhan Yesus memberi teladan mengenai ketergantungan-Nya terhadap Bapa sorgawi dan menyiratkan bahwa figur bapa begitu penting dalam pertumbuhan rohani. Ada perbedaan antara pendidik dan bapa. Pendidik cenderung melakukan tugasnya sebatas ruang lingkup pekerjaannya, sementara menjadi ‘bapa rohani’ lebih memiliki kedekatan hubungan seperti ayah dan anak melalui pemuridan, keteladanan, dan membagi nilai-nilai kehidupan. Seorang bapak rohani akan turut bertanggung jawab atas pertumbuhan anak-anak rohaninya. Generasi muda dewasa ini banyak yang mengalami kehilangan figur seorang bapa dalam hidupnya sehingga kurang mengalami kemajuan dalam segala hal yang dilakukan, bahkan menemui kegagalan.

Yosua menjadi prajurit yang tangguh untuk memasuki tanah Kanaan karena memiliki bapa rohani yang luar biasa, yaitu Musa. Daud terpanggil menjadi raja atas Israel dan secara khusus dimuridkan oleh bapa rohaninya; nabi Samuel. Elisa memiliki urapan kenabian yang luar biasa karena memiliki Elia sebagai bapa rohani. Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus menjadi bapa rohani bagi beberapa orang, dan di antaranya adalah Timotius dan Titus. Untuk mengalami pertumbuhan rohani di dalam Tuhan, setiap orang percaya membutuhkan mentor yang secara rohani lebih senior dari pada dirinya sendiri, dan inilah yang kita sebut sebagai bapa rohani. Memang, bapa rohani juga adalah seorang manusia yang penuh kelemahan dan tidak bisa selalu menyertai kita selama 24 jam sehari. Di sela-sela kesibukan pelayanan dan panggilannya, Rasul Paulus mengirimkan surat kepada anak-anak rohaninya untuk mengajar, menguatkan, dan membapaki mereka dalam Kristus. Warisan yang diberikan oleh seorang bapa rohani kepada anak-anaknya ialah warisan “kasih karunia”. Titus adalah salah satu anak rohani Rasul Paulus (Tit. 1:4), sekalipun berasal dari keturunan orang Yunani tak bersunat, bukan berasal dari keturunan Yahudi (bersunat). Anak rohani tidak mesti memiliki latar belakang yang sama, budaya yang sama, namun harus memiliki iman yang sama dalam Kristus Yesus. Kasih karunia adalah pemberian Allah secara cuma-cuma kepada manusia meskipun manusia tidak layak menerimanya. Dalam suratnya kepada Titus pasal 2:11-14, Rasul Paulus menjelaskan fungsi kasih karunia sebagai berikut:

1. Kasih karunia menyelamatkan kita
Ayat 11: Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata.
Keselamatan merupakan kasih karunia Tuhan bagi hidup kita. Lagu pujian “Amazing Grace” sangat tepat untuk menggambarkan kasih karunia Allah yang menyelamatkan umat manusia. Lagu yang ditulis dari semula dalam bentuk hymne oleh John Newton pada tahun 1779 terus berkembang hingga saat ini dalam berbagai aransemen musik dan penambahan syair lagu.

Amazing grace! How sweet the sound
That saved a wretch like me.
I once was lost, but now am found,
Was blind but now I see

2. Kasih karunia mendidik kita dalam kebenaran
Ayat 12: Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini

Dengan mengandalkan kemampuan kita sendiri, kita tidak akan sanggup menghadapi segala sesuatu di dalam hidup ini. Kasih karunia akan mendidik kita agar kita mengandalkan Tuhan untuk meninggalkan dosa, kefasikan, dan keinginan-keinginan dunia ini. Tanpa kasih karunia yang mendidik kita, kita akan menjadi pribadi yang rapuh dan hidup dalam kebimbangan.

3. Kasih karunia memberi kekuatan
Ayat 13: dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus,

Dalam penantian, dibutuhkan kekuatan, dan kasih karunialah yang memberi kita kekuatan selama kita menantikan kedatangan-Nya! Kasih karunia juga dapat diartikan sebagai kemampuan yang Tuhan berikan kepada kita supaya sanggup melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan dengan kemampuan kita sendiri. Hal ini juga dialami oleh Rasul Paulus saat mengalami ‘duri dalam daging’ dan saat tiga kali berseru kepada Tuhan, Rasul Paulus mendapat jawaban sebagai berikut:

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku (2 Korintus 12:9)

Kasih Karunia datangnya dari Tuhan Yesus, seperti yang tercantum dalam Yohanes 1:17; “sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.” Apabila kita menanggapi kasih karunia Allah dengan IMAN dalam Yesus Kristus, maka semua fungsi kasih karunia Allah akan bekerja dalam hidup kita! Tuhan Yesus memberkati!

God’s Favor

Posted: October 27, 2012 in Event, Sermon
Tags: , , , , , ,

20121027-132639.jpg

Hari ini saya mengisi sesi di REVOLUTION camp, sebuah retreat yang khusus diselenggarakan bagi kaum profesional muda jemaat Pro-M REVOLUTION GMS my home. Berlokasi di the Hill Hotel and Resort, Camp ini diikuti oleh 315 peserta. Acara pembukaan camp ini telah dimulai kemarin (26/10/2012) dengan beberapa sesi yang dilayani oleh Pdp. Mariane Telda Mamoto, Ps. Mulyadi Budiyanto, PAW night yang dipimpin oleh Sdri. Ezra serta night rally bersama Ps. Yosep Moro Wijaya.

Pagi ini, setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam dari Medan ke Sibolangit, saya menyampaikan tema “God’s favor” (Kemurahan/ perkenanan Tuhan). Saya bersyukur karena hadirat-Nya menjamah hati setiap peserta camp saat penyembahan dinaikkan. Kepuasan batin ini adalah di saat mengalami Tuhan secara pribadi sehingga masuk lebih lagi dalam kemuliaan-Nya. Inilah yang juga dialami Musa saat berkata kepada Tuhan, “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.” (Keluaran 33:15). Musa tidak menghendaki malaikat Tuhan yang menyertai perjalanan mereka. Musa juga tidak menghendaki Tuhan hanya menuntun dengan mujizat-mujizat-Nya sekalipun Musa pernah menyaksikan sendiri bagaimana Tuhan telah memukul Mesir dengan 10 tulah dan membelah Laut Teberau sehingga bangsa Israel bisa berjalan di atas tanah yang kering.
Musa menginginkan lebih dari itu! Musa menginginkan pribadi Tuhan sendiri yang menyertainya sehingga Musa berseru, “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku.” (Keluaran 33:18). Tuhan meresponi doa Musa, karena yang diinginkan Musa bukanlah hal yang lain selain pribadi-Nya dan menjawab, “Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani.” (Keluaran 33:19). Dengan kata lain Tuhan berkata bahwa Dia akan berkenan kepada siapa dia berkenan. Di dalam bahasa Ibrani, text asli dari ayat ini tertulis dua kata mengenai kasih karunia dan mengasihani:
1. ‘khanan’ , yang berarti menunjukkan kemurahan (favor) atau perkenanan.
2. ‘rakham’ menunjukkan belas kasihan; kasih sayang

Perkenanan Tuhan menjadikan seseorang seolah-olah begitu ‘spesial’. Ya, hal itu terjadi karena Tuhan berkenan kepada siapa Dia berkenan yang berasal dari kehendak hati-Nya sendiri. Perkenanan Tuhan berbeda dengan kasih karunia-Nya (lebih mendalam mengenai kasih karunia Tuhan, baca di sini). Tuhan memberikan kasih karunia-Nya kepada semua orang, dan hanya orang-orang yang meresponi dan menerima kasih karunia tersebut akan menerima pengampunan dosa dan keselamatan karena pengorbanan Yesus di kayu salib. Musa menerima perkenanan Tuhan karena senantiasa berada di dalam hadirat-Nya; haus dan lapar akan pribadi-Nya.

Raja Daud bisa saja kehilangan perkenanan Tuhan karena mengingini Batsyeba sehingga membunuh suaminya, namun Daud tetap memperoleh perkenanan Tuhan bahkan tertulis, “Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.” (Kisah para rasul 13:22). Sekalipun Daud pernah jatuh dalam dosa, namun Daud menerima kembali anugerah pengampunan dan mendapatkan perkenanan Tuhan sehingga Daud tetap hidup untuk melayani Tuhan dan memimpin Kerajaan Israel semasa hidupnya. Hal ini dituangkan Daud dalam kitab Mazmur pasal 51 yang berisi pengakuan dosa. Dosa membuat kita menjauh dari hadirat-Nya. Daud tahu akan hal ini sehingga dia segera berseru kepada Tuhan, “Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!” (Mazmur 51:13). Daud juga menyadari, bahwa tanpa hati yang hancur dia tidak akan pernah kembali ke dalam hadirat-Nya…. sementara hanya di dalam hadirat Tuhanlah seseorang akan memperoleh perkenanan-Nya. Dengan kehancuran hati Daud menyembah, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mazmur 51:19).
20121027-132716.jpg
Saya percaya, setiap orang akan menerima kasih karunia keselamatan saat membuka hati bagi Yesus – Sang Juruselamat, namun bagi kita yang telah berada di dalam kasih karunia-Nya sudahkah kita memperoleh perkenanan-Nya? Hanya Tuhan yang tahu, karena Dia hanya berkenan kepada siapa Dia berkenan. Namun satu hal yang dapat kita lakukan adalah terus berusaha menyenangkan-Nya dan mengejar hadirat-Nya dengan penyembahan yang keluar dari hati yang hancur. Biarlah Tuhan sendiri yang akan menyatakannya bahwa Dia berkenan akan hidup yang telah kita jalani. Tuhan Yesus memberkati!

Posted with WordPress for BlackBerry.


20111220-122004.jpg
Setelah melalui pendakian melalui jalan yang berbatu-batu, akhirnya kami tiba di puncak gunung Sinai. Matahari belum terbit ketika kami memulai ibadah singkat di puncak Gunung Sinai. Sekitar 80 orang memuji dan menyembah Tuhan dengan segenap hati pagi itu. Secara pribadi, saya sangat merasakan kehadiran Tuhan di puncak Gunung Sinai. Sambil menangis tersedu-sedu, saya terus menyembah Tuhan, paling tidak hadirat-Nya yang pernah dinyatakan kepada Musa ribuan tahun yang lalu di tempat yang sama juga saya rasakan. Sekalipun diselimuti dengan udara dingin, namun kami tetap memuji dan menyembah Tuhan dengan sangat antusias. Sebagian besar dari antara kami menangis karena mengalami jamahan Tuhan.

Pagi itu, saya menyampaikan perenungan Firman Tuhan dari Kitab Keluaran 33 yang menceritakan bagaimana Musa rindu untuk mengalami penyertaan Tuhan dan ingin melihat kemuliaan-Nya saat menghadap ke Gunung Sinai untuk menemui Tuhan. Di awal pertobatan saya ketika membaca kisah Musa ini, saya sangat tertarik untuk mengalami apa yang dialami oleh Musa ketika Musa meminta kepada Tuhan, “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku.” (Keluaran 33:18). Namun, Tuhan menjawab Musa, “Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani.” (Keluaran 33:19). Saya sangat kagum dengan pengalaman Musa sehingga saya merasa, untuk mengalami pengalaman seperti Musa benar-benar butuh kasih karunia, namun pada waktu itu saya merasa tidak layak untuk memperoleh kasih karunia tersebut. Ketika saya berada di puncak Gunung Sinai waktu itu, saya merasakan dan menyadari bahwa kasih karunia-Nya sungguh besar dalam hidup saya!

Saat kita membaca Kel. 34:4, “Lalu Musa memahat dua loh batu sama dengan yang mula-mula; bangunlah ia pagi-pagi dan naiklah ia ke atas gunung Sinai, seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya, dan membawa kedua loh batu itu di tangannya…”; kita membacanya dalam hitungan detik. Namun untuk mencapai puncak Gunung Sinai, dibutuhkan waktu berjam-jam seperti yang kami lakukan. Untuk menghadap Tuhan, Musa melakukannya dengan sungguh-sungguh, seperti yang tertulis dalam Ibrani 11:6, “Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” saat dengan kesungguhanhati kita mencari Tuhan, maka Tuhan akan melawat dan memenuhi kita dengan hadirat-Nya, dengan segenap kemuliaan-Nya! Itulah yang saya dan isteri saya harapkan saat kami mendaki ke puncak Gunung Sinai! Kami tidak mengharapkan berkat-Nya, tidak sekedar mencari foto yang indah di puncak gunung, bukan untuk menikmati pemandangan alam, namun kami hanya mengharapkan hadirat-Nya memenuhi kehidupan kami dan kami mengalami kemuliaan-Nya! Bahkan, kami tidak meminta agar Tuhan harus mengabulkan doa-doa kami dengan segera. Saya berpesan melalui renungan Firman Tuhan yang saya sampaikan bahwa saat kita berdoa, sesungguhnya doa kita tidak akan mengubah Tuhan dan kedaulatan-Nya namun saat kita memanjatkan doa-doa kita, saat kita memilki iman dan motivasi hati yang benar, sesungguhnya kitalah yang diubahkan-Nya!

Usai kami beribadah pagi itu dengan diiringi terbitnya matahari, kami semua berdoa dan setiap kepala keluarga mendoakan isterinya maupun anaknya yang turut serta serta memanjatkan pokok-pokok doa di hadapan Tuhan. Hadirat Tuhan sungguh luar biasa di tempat ini dan kami semua masing-masing mengalami pengalaman secara pribadi dengan Tuhan. Saat kami menuruni Gunung Sinai, barulah tampak di bebatuan yang kami lalui sebelumnya ternyata dilapisi bunga es tipis. Hal ini disebabkan suhu udara yang cukup dingin sehingga embunnya membeku dan membentuk lapisan es. Kami menuruni anak tangga yang berbatu-batu untuk kemudian melanjutkan perjalanan kami sekali lagi dengan menunggangi unta menuju ke tempat perhentian yang pertama – Biara St. Catherine.

Sekitar 3 jam yang kami lalui saat kami turun dari puncak gunung Sinai menuju ke Biara St. Catherine. Begitu seluruh rombongan sudah berkumpul, kami kembali ke tempat penginapan kami di Hotel St. Catherine untuk melanjutkan perjalanan kami berikutnya, yaitu untuk makan siang dan menuju perbatasan Taba untuk meninggalkan Mesir dan memasuki Tanah Perjanjian: Israel!


Keselamatan merupakan kasih karunia Tuhan bagi hidup kita. Kasih karunia Tuhan adalah pemberian/ anugerah Tuhan bagi kita yang diberikan secara cuma-cuma tanpa harus melakukan usaha tertentu untuk memperolehnya padahal kita tidak layak untuk menerimanya. Memperoleh janji hidup kekal di sorga merupakan kasih karunia Tuhan bagi kita, karena bukan dengan perbuatan baik kitalah yang membuat kita layak masuk sorga. Banyak paham yang mengajarkan bahwa untuk masuk sorga, seseorang harus banyak beramal, berbuat baik, bahkan sekalipun berbuat dosa di dunia ini, hendaknya menutupi perbuatan dosa itu dengan perbuatan amal yang lebih banyak atau melakukan kegiatan sosial yang lebih banyak dibandingkan dosa yang pernah diperbuat sebelumnya. Sebenarnya semua usaha manusia untuk beramal, berbuat kebajikan, bahkan memberikan sumbangan bagi rumah ibadah tertentu tidak membuat seseorang masuk sorga pada saat hidupnya di dunia berakhir. Tidak ada satupun dari usaha manusia yang dapat membuat seseorang masuk sorga. Manusia juga tidak dapat menebus dirinya sendiri sehingga dapat membersihkan dosa-dosanya.
“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” – Roma 3:23-24

Tuhan Yesus telah menjadi penebus kita dengan kematian-Nya di atas kayu salib untuk menggantikan kita – yang sebenarnya harus mengalami hukuman dan kematian kekal akibat dosa yang kita perbuat. Kita yang berdosa ini diampuni dan diselamatkan hanya oleh kasih karunia TUHAN – DIAlah yang telah mengusahakan pengampunan bagi kita, bukan oleh perbuatan baik kita. Karena itu, kita berbuat baik bukan supaya masuk sorga, namun kita berbuat baik karena kita punya keyakinan iman: sudah pasti masuk sorga. Apabila kita tidak berbuat baik, kita keluar dari kasih karunia Allah yang telah menyelamatkan kita dan tidak jadi memperoleh janji hidup kekal tersebut.

Jangan remehkan kasih karunia Tuhan, karena kasih karunia Tuhan tersebut yang menjaga hidup kita berkenan di hadapan Allah! Saya hendak berbagi pengalaman hidup mengenai kasih karunia Tuhan ini. Sebelum saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat – tentunya waktu itu saya jauh dari kasih karunia Tuhan – saya berusaha mati-matian berusaha untuk tidak berbuat dosa. Di masa remaja saya, saya memiliki keterikatan dengan sebuah perbuatan buruk, dan hal tersebut susah untuk dilepaskan – padahal saya sadar bahwa apa yang saya lakukan itu dosa. Saya berusaha menahan diri untuk tidak melakukan kebiasaan buruk tersebut dengan kekuatan saya sendiri… dan hasilnya, saya hanya dapat bertahan satu tahun saja. Setelah itu, saya kembali jatuh dalam kebiasaan buruk tersebut dan melakukan dosa lebih lagi. Namun, semenjak saya menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat di akhir tahun 1999, saya mampu menjauhi kebiasaan buruk tersebut… hingga saat ini! Hal tersebut terjadi bukan karena kekuatan saya, namun yang memampukan saya adalah KASIH KARUNIA TUHAN!

Sekitar pertengahan tahun 2003, saya pernah mengalami peristiwa penodongan sehingga saya mengalami kerugian dan hal tersebut membuat saya begitu trauma. Pada waktu itu, saat terbayang wajah penodong tersebut, benar-benar membuat saya begitu begitu benci dan ingin membalas dendam kepadanya. Setiap kali saya teringat peristiwa penodongan tersebut dan seberapa banyak saya kehilangan, saya menjadi begitu marah sehingga mengacaukan pikiran saya. Saya tahu, bahwa saat itu saya harus melepaskan pengampunan kepada orang yang bersalah kepada saya, namun saya berusaha melakukannya dengan kekuatan saya sendiri… dan hal itu tidak berhasil! Sekalipun saya sudah mengatakan kepada Tuhan bahwa saya sudah mengampuni orang tersebut, bahkan saya juga mendoakan orang tersebut, namun setiap kali saya terkenang peristiwa buruk tersebut dan teringat seberapa banyak saya kehilangan, saya selalu dihinggapi rasa benci dan marah yang amat sangat. Tuhan mengajarkan saya agar melepaskan pengampunan dengan kasih karunia Tuhan. Saya berdoa demikian: “Tuhan, saya tidak sanggup melepaskan pengampunan terhadap orang itu dengan kekuatan saya sendiri, saya membutuhkan kasih karunia-Mu agar saya dapat mengampuninya…”. Luar biasa! Saat itu saya langsung mengalami kelegaan di dalam hati sehingga oleh kasih karunia Tuhan, saya sanggup mengampuni orang tersebut! Bahkan saya juga mendoakannya dan melepaskan berkat Tuhan bagi dia. Hingga saat ini, setiap kali saya teringat pengalaman penodongan tersebut, saya tidak lagi mengalami trauma atau kebencian terhadap orang tersebut, justru saya hanya bersyukur… karena saya mengalami KASIH KARUNIA TUHAN.

Saya menjadi seperti sekarang ini semata-mata karena kasih karunia Tuhan. Apabila Anda memiliki keluarga yang berbahagia saat ini, jangan merasa bahwa itu karena kehebatan Anda untuk menjalin komunikasi yang baik dengan pasangan… itu karena kasih karunia Tuhan! Bila Anda memiliki pekerjaan yang cukup baik dengan gaji yang memuaskan saat ini, itu bukan karena kepandaian Anda… itu karena kasih karunia Tuhan! Jika Anda memiliki bisnis yang berkembang dan hidup Anda begitu diberkati, jangan pernah berpikir bahwa semua itu diraih karena naluri bisnis Anda… itu karena kasih karunia Tuhan! Bila Anda tidak jatuh sakit hari ini, bukan karena Anda rajin berolah raga dan menjaga makan… itu karena kasih karunia Tuhan! Bahkan bila Anda sedang berada dalam masalah berat dan cobaan yang begitu menekan namun Anda masih tetap kuat sehingga tidak mengalami depresi berat bahkan tidak sampai menjadi gila… itu karena kasih karunia Tuhan! Saat saya merenungkan hal ini… sungguh, saya sangat mensyukuri kasih karunia Tuhan! Bagaimana dengan Anda?

Mungkin terbersit dalam benak Anda… tapi, saya ini orang berdosa… terlalu banyak dosa yang telah saya perbuat… apakah mungkin saya masih dapat menerima kasih karunia Tuhan? Dalam Roma 5:20b kita menemukan jawabannya: “…di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah”. Untuk menerima kasih karunia Tuhan, Anda cukup membuka hati bagi Tuhan dan saya ajak untuk memanjatkan doa kepada Tuhan Yesus sebagai berikut:

“Tuhan Yesus, aku menyadari selama ini aku jauh dari kasih karunia-Mu, sehingga aku melakukan banyak hal yang sia-sia, bahkan berbuat dosa di hadapan-Mu. Saat ini aku membuka hatiku untuk-Mu. Yesus, jadilah TUHAN dan JURUSELAMAT bagi hidupku! Dalam nama Yesus, aku menerima kasih karunia-Mu yang menjadikan aku anak Allah dan memampukan aku untuk tidak berbuat dosa lagi. Terima kasih Tuhan, oleh kasih karunia-Mu aku dilayakkan agar berkenan di hadapan-Mu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Selamat! Anda baru saja menerima kasih karunia Tuhan saat memanjatkan doa tadi. Sudahkah Anda mengalami pengampunan Tuhan? Bila Anda ingin lebih lagi belajar mengenai pengampunan, Anda dapat menemukannya di sini.

Selamat menjalani hidup yang berlimpah dengan kasih karunia Tuhan!

Posted with WordPress for BlackBerry.