Posts Tagged ‘keselamatan’


20130120-171840.jpg

Sukacita memenuhi segenap jemaat Gereja Mawar Sharon my home pada hari ini… Ya! Kehadiran Gembala Sidang dan Ketua Sinode Gereja Mawar Sharon dari Surabaya yaitu Ps. Jusuf S. Soetanto dan istri sungguh memperoleh sambutan hangat dari seluruh pengerja, pelayan Tuhan, maupun jemaat GMS my home. Kehadiran beliau kali ini di kota Medan adalah secara khusus hendak meresmikan peluncuran buku pertama beliau yang berjudul “The JOURNEY of GRACE” atau perjalanan kasih karunia. Buku ini mengisahkan hidup dan pelayanan Ps. Jusuf S. Soetanto sendiri dari semasa mudanya hingga kini – Tuhan telah mempercayakan pelayanan penggembalaan di Gereja Mawar Sharon hingga puluhan ribu jemaat.

Bagi saya secara pribadi, figur Pak Jusuf (demikian sapaan akrab saya pada beliau) adalah seorang hamba Tuhan dan bapa rohani yang sangat rendah hati. Sekalipun memegang pucuk kepemimpinan tertinggi di Gereja Mawar Sharon, namun beliau tidak segan-segan untuk menyapa semua jemaat yang hadir di gereja dan selalu memberikan senyuman yang ramah. Dengan berbesar hati, beliau juga memberi kesempatan kepada setiap anak muda yang digembalakan di Gereja Mawar Sharon untuk bertumbuh memenuhi panggilan hidupnya untuk menjadi berhasil di dunia marketplace, melayani Tuhan, menjadi pemimpin rohani, bahkan didukung untuk menjadi hamba Tuhan. Tak heran, di Gereja Mawar Sharon banyak bermunculan hamba-hamba Tuhan dari usia muda yang memiliki talenta untuk melayani dan memimpin jemaat.

20130120-172959.jpg

Dalam ibadah spesial Book Launching “The JOURNEY of GRACE” ini, dalam setiap ibadah umum ditampilkan performance a capella yang terdiri dari 7 orang singer dengan pembagian suara yang luar biasa saat menaikkan pujian “Amazing Grace”. Ps. Yosep Moro selaku gembala GMS Regional Sumatra menyampaikan kata sambutan di hadapan jemaat sehubungan dengan peluncuran buku ini di GMS my home sekaligus mengundang Pak Jusuf untuk menyampaikan pesan-pesan khusus bagi jemaat. Pak Jusuf terus menguatkan jemaat dalam memasuki tahun 2013 ini sebagai “the Year of Maturity and Multiplication” untuk terus berdoa dan semakin dekat dengan Tuhan agar semakin bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa, karena melalui kematangan akan menghasilkan pelipatgandaan.

Sungguh sebuah kehormatan, sebagai salah satu anak rohani Pak Jusuf, saya memperoleh kesempatan untuk menyampaikan Firman Tuhan dalam salah satu ibadah book launching “The JOURNEY of GRACE” yaitu dalam ibadah Army of God youth. Mengawali Firman Tuhan yang saya sampaikan, saya mengajak segenap jemaat yang hadir – dengan didominasi oleh anak-anak muda – merenungkan ayat sebagai berikut:

“Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu.” (1 Korintus 4:15)

Rasul Paulus menjelaskan kepada jemaat Korintus bahwa mereka membutuhkan bapak rohani bagi pertumbuhan rohani mereka, bukan sekedar pendidik. Terdapat banyak pendidik-pendidik rohani dalam jemaat Korintus pada waktu itu, namun tidak sepenuhnya berperan sebagai ‘bapa’ dalam hidup kerohaniaan mereka. Tuhan Yesus memberi teladan mengenai ketergantungan-Nya terhadap Bapa sorgawi dan menyiratkan bahwa figur bapa begitu penting dalam pertumbuhan rohani. Ada perbedaan antara pendidik dan bapa. Pendidik cenderung melakukan tugasnya sebatas ruang lingkup pekerjaannya, sementara menjadi ‘bapa rohani’ lebih memiliki kedekatan hubungan seperti ayah dan anak melalui pemuridan, keteladanan, dan membagi nilai-nilai kehidupan. Seorang bapak rohani akan turut bertanggung jawab atas pertumbuhan anak-anak rohaninya. Generasi muda dewasa ini banyak yang mengalami kehilangan figur seorang bapa dalam hidupnya sehingga kurang mengalami kemajuan dalam segala hal yang dilakukan, bahkan menemui kegagalan.

Yosua menjadi prajurit yang tangguh untuk memasuki tanah Kanaan karena memiliki bapa rohani yang luar biasa, yaitu Musa. Daud terpanggil menjadi raja atas Israel dan secara khusus dimuridkan oleh bapa rohaninya; nabi Samuel. Elisa memiliki urapan kenabian yang luar biasa karena memiliki Elia sebagai bapa rohani. Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus menjadi bapa rohani bagi beberapa orang, dan di antaranya adalah Timotius dan Titus. Untuk mengalami pertumbuhan rohani di dalam Tuhan, setiap orang percaya membutuhkan mentor yang secara rohani lebih senior dari pada dirinya sendiri, dan inilah yang kita sebut sebagai bapa rohani. Memang, bapa rohani juga adalah seorang manusia yang penuh kelemahan dan tidak bisa selalu menyertai kita selama 24 jam sehari. Di sela-sela kesibukan pelayanan dan panggilannya, Rasul Paulus mengirimkan surat kepada anak-anak rohaninya untuk mengajar, menguatkan, dan membapaki mereka dalam Kristus. Warisan yang diberikan oleh seorang bapa rohani kepada anak-anaknya ialah warisan “kasih karunia”. Titus adalah salah satu anak rohani Rasul Paulus (Tit. 1:4), sekalipun berasal dari keturunan orang Yunani tak bersunat, bukan berasal dari keturunan Yahudi (bersunat). Anak rohani tidak mesti memiliki latar belakang yang sama, budaya yang sama, namun harus memiliki iman yang sama dalam Kristus Yesus. Kasih karunia adalah pemberian Allah secara cuma-cuma kepada manusia meskipun manusia tidak layak menerimanya. Dalam suratnya kepada Titus pasal 2:11-14, Rasul Paulus menjelaskan fungsi kasih karunia sebagai berikut:

1. Kasih karunia menyelamatkan kita
Ayat 11: Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata.
Keselamatan merupakan kasih karunia Tuhan bagi hidup kita. Lagu pujian “Amazing Grace” sangat tepat untuk menggambarkan kasih karunia Allah yang menyelamatkan umat manusia. Lagu yang ditulis dari semula dalam bentuk hymne oleh John Newton pada tahun 1779 terus berkembang hingga saat ini dalam berbagai aransemen musik dan penambahan syair lagu.

Amazing grace! How sweet the sound
That saved a wretch like me.
I once was lost, but now am found,
Was blind but now I see

2. Kasih karunia mendidik kita dalam kebenaran
Ayat 12: Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini

Dengan mengandalkan kemampuan kita sendiri, kita tidak akan sanggup menghadapi segala sesuatu di dalam hidup ini. Kasih karunia akan mendidik kita agar kita mengandalkan Tuhan untuk meninggalkan dosa, kefasikan, dan keinginan-keinginan dunia ini. Tanpa kasih karunia yang mendidik kita, kita akan menjadi pribadi yang rapuh dan hidup dalam kebimbangan.

3. Kasih karunia memberi kekuatan
Ayat 13: dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus,

Dalam penantian, dibutuhkan kekuatan, dan kasih karunialah yang memberi kita kekuatan selama kita menantikan kedatangan-Nya! Kasih karunia juga dapat diartikan sebagai kemampuan yang Tuhan berikan kepada kita supaya sanggup melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan dengan kemampuan kita sendiri. Hal ini juga dialami oleh Rasul Paulus saat mengalami ‘duri dalam daging’ dan saat tiga kali berseru kepada Tuhan, Rasul Paulus mendapat jawaban sebagai berikut:

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku (2 Korintus 12:9)

Kasih Karunia datangnya dari Tuhan Yesus, seperti yang tercantum dalam Yohanes 1:17; “sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.” Apabila kita menanggapi kasih karunia Allah dengan IMAN dalam Yesus Kristus, maka semua fungsi kasih karunia Allah akan bekerja dalam hidup kita! Tuhan Yesus memberkati!



Dalam Efesus 6:10 tercatat surat Rasul Paulus sebagai berikut, “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.”
Seringkali saat menjalani kehidupan ini, kita mengandalkan kekuatan sendiri sehingga menjadi lemah, karena begitu banyaknya tekanan yang menghimpit kehidupan kita. Karena itu, kita tidak dapat mengandalkan kekuatan kita sendiri, namun menggantungkan kekuatan kita sepenuhnya di dalam Tuhan, karena kekuatan di dalam Tuhan itu artinya kita tidak menyandarkan diri kita pada kekuatan kita sebagai manusia, melainkan kekuatan kuasa Tuhan yang luar biasa! Rasul Paulus juga memperingatkan dalam suratnya agar kita senantiasa mengenakan selengkap senjata rohani saaat menjalani kehidupan Kekristenan kita. Sayangnya, saat konsentrasi kita mulai tersedot pada perkara-perkara kehidupan sehari-hari, seringkali sebagai seorang Kristen kita lupa untuk mengenakan selengkap senjata rohani tersebut. Senjata rohani yang Allah sediakan bagi kita bukanlah senjata secara fisik, namun senjata yang tidak terlihat, namun penuh kuasa!

Senjata rohani ini harus dikenakan selengkap mungkin, dan Perlengkapan Senjata ALLAH berfungsi untuk (Efesus 6:10-13):
1. Bertahan melawan tipu muslihat iblis
Iblis telah dikalahkan oleh kebangkitan Yesus Kristus dari alam maut, namun iblis masih tetap bisa menggunakan tipu dayanya yang licik untuk menyerang kehidupan iman kita. Jangan takut, dengan mengenakan selengkap senjata Allah ini, kita akan mampu bertahan melawan tipu daya iblis tersebut.
2. Mengadakan perlawanan pada hari yang jahat
Saat kita di dalam peperangan rohani, tentunya kita tidak melakukan perlawanan dengan tangan kosong. Seluruh tubuh kita harus terlindung dan mengenakan senjata. Demikian pula, sebagai seorang pelayan Tuhan Anda harus mengerti prinsip rohani ini. Perlengkapi diri Anda dengan selengkap senjata Allah! Sekali lagi, jangan mengandalkan kekuatan sendiri, jangan mengandalkan kemenangan/ pengalaman di masa lalu! Senantiasa bersiap siagalah menghadapi perlawanan iblis di hari-hari yang semakin jahat menjelang akhir zaman ini.
3. Tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu
Setelah kita menyelesaikan segala sesuatu; baik itu tugas pelayanan, konseling, pekerjaan, permasalahan/ pergumulan kita dengan baik bersama Tuhan… hendaknya kita tetap berdiri… dalam iman! Pernah saya mendapati, seseorang yang telah melayani begitu rupa atau seseorang yang telah mengalami pertolongan Tuhan dalam pergumulan dan beban berat yang dihadapinya, namun beberapa waktu kemudian tidak menunjukkan kemajuan dalam hidup kerohaniannya, tidak lagi tegak berdiri dalam iman, justru hidupnya semakin jauh dari Tuhan. Inilah pentingnya tetap mengenakan selengkap senjata Allah… agar setelah kita menyelesaikan segala sesuatu, kita akan tetap berdiri!

Kenakanlah selengkap senjata Allah ini dengan iman dan lakukankah tindakan profetik seolah-olah Anda benar-benar mengenakannya! Dalam doa sebelum memulai hari Anda bersama Tuhan, kenakanlah perlengkapan senjata ALLAH yang terdiri dari (Efesus 6:14-18):

1. Ikat pinggang kebenaran
Sempat terbersit pertanyaan dalam benak saya, “mengapa urutan pertama dalam selengkap senjata Allah ini berupa ikat pinggang?”. Ikat pinggang berfungsi untuk mengeratkan celana kita – tentunya agar tidak kedodoran/ melorot. Akan sangat sulit bagi seseorang untuk melakukan aktivitas – apalagi berperang dengan celana yang melorot. Tentunya, celana merupakan bagian yang penting untuk menutupi area kemaluan seseorang. Secara rohani, saat Anda mengenakan ikat pinggang kebenaran artinya berkomitmen untuk menjaga hidup kudus, tidak bercela secara moral/ sexual.

2. Baju zirah keadilan
Baju zirah akan melindungi bagian dada yang terdapat organ-organ tubuh vital di dalamnya seperti paru-paru, jantung, tulang rusuk kita, dan sebagainya. Secara rohani, kita harus menjaga hati kita agar tidak mudah menjadi kecewa, kepahitan, menyimpan dendam, bahkan memiliki motivasi hati yang salah. Melindungi hati dengan baju zirah keadilan juga berarti memiliki integritas yang baik. Kasih Allah itu sifatnya adil, artinya Tuhan mengasihi semua umat manusia tanpa terkecuali, sekalipun manusia tersebut telah jatuh dalam dosa dan melakukan perbuatan-perbuatan dosa. Sebagai manusia, terkadang kita tidak bisa mengasihi orang lain yang telah melakukan kesalahan/ berbuat dosa kepada kita. Namun, bukankah Tuhan juga telah mengasihi kita, justru pada saat kita masih di dalam dosa (Roma 5:8)? Kita saja yang terkadang berlaku ‘tidak adil’… kepada orang yang baik kepada kita, kita bisa mengasihinya; namun kepada orang yang bersalah kepada kita, kita justru membencinya. Kenakanlah baju zirah keadilan! Jangan ada rasa benci dari hati kita terhadap sesama kita sekalipun orang tersebut pernah menyakiti hati kita, berbuat kesalahan pada kita. Tuhan Yesus memerintahkan agar kita mengasihi musuh (Mat. 5:44)… ya! Kasihilah sesama kita, sekalipun mereka telah bersalah kepada kita, namun bencilah perbuatan-perbuatan mereka yang melawan kebenaran (Yud. 1:23).

3. Kaki yang berkasutkan kerelaan memberitakan Injil
Saat menuju medan pertempuran, kaki kita harus siap untuk menempuh jalan yang rata, mulus, berbatu-batu, bahkan licin dan lain sebagainya. Bila kaki kita tidak terlindungi, kemungkinan besar kaki kita akan lecet, bahkan terluka, dan mengganggu perjalanan kita. Kasut rohani yang perlu kita kenakan sebagai perlengkapan senjata Allah ini bernama ‘kasut kerelaan memberitakan Injil damai sejahtera’. Artinya, dalam segala keadaan, baik atau tidak baik waktunya kita harus senantiasa memberitakan kabar baik (II Tim. 4:2). Namun, bukan sekedar kabar baik… akan tetapi harus disertai dengan damai sejahtera! Beritakanlah Injil yang mendatangkan damai sejahtera bagi orang lain, jangan sekali-kali dengan perdebatan dan kesaksian palsu, tunjukkan sikap yang baik serta kesaksian hidup yang menjadi berkat.

4. Perisai iman
Pada zaman kuno, prajurit Roma menganakan perisai yang terbuat dari bahan kayu – agar ringan untuk diangkat maupun diayunkan untuk menangkis serangan musuh. Perisai yang terbuat dari kayu ini bagian luarnya dilapisi dengan bahan kulit, lalu direndam untuk sementara waktu di dalam air sehingga kulitnya menjadi lembap. Saat menghadapi serangan jarak jauh berupa panah-panah api, maka saat panah-panah tersebut mengenai perisai yang bagian luarnya lembab, panah api tersebut akan padam. Kenakanlah perisai iman! Perisai digunakan secara aktif, diayunkan kian-kemari untuk melindungi tubuh dari serangan musuh. Kita harus memiliki iman yang aktif! Anda dapat mempelajari lebih lanjut mengenai hal iman yang aktif di sini.
Sama seperti perisai yang berlapis kulit ini harus terlebih dahulu direndam dalam air, untuk menghadapi panah-panah api dari si jahat, iman kita harus direndam dalam air ‘Firman Tuhan’ – dengan cara merenungkan kebenaran Firman Tuhan setiap waktu. Saat si jahat berusaha memanahkan panah-panah apinya yang berupa intimidasi, maka perisai iman akan melindungi kita sehingga kita tidak terkecoh olehnya.

5. Ketopong keselamatan
Bagian kepala merupakan bagian vital yang terpenting, sehingga harus mengenakan ketopong. Bagian vital yang dijaga utamanya adalah mata dan bagian otak. Mata merupakan pelita tubuh, karena itu jagalah penglihatan Anda tetap suci, bersih dan berkenan pada Tuhan. Selain itu, ketopong yang melindungi bagian otak artinya ketopong tersebut akan menjagai pikiran Anda terhadap hal-hal yang negatif. Saat pikiran-pikiran negatif menyerang, milikilah prinsip “kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar…” (Flp. 2:12) – apakah pikiran-pikiran Anda akan tetap menuntun Anda pada keselamatan atau tidak… Ingat, pikiran kita adalah medan pertempuran yang diincar iblis! Saat kita mengenakan ketopong keselamatan ini, maka sebenarnya kita sedang mengenakan ‘pikiran Kristus’ (I Kor. 2:16).

6. Pedang Roh, yaitu firman Allah
5 senjata sebelumnya berfungsi untuk pertahanan, untuk menyerang kita dapat menggunakan pedang Roh, yaitu firman Allah “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibr. 4:12)

7. Segala doa dan permohonan; berdoa dalam Roh
Bila Anda perhatikan gambar ilustrasi prajurit yang mengenakan selengkap senjata Allah dan menghitungnya, Anda hanya akan mendapati 6 saja. Mengapa? Karena senjata yang ke-7 ini merupakan ‘senjata rahasia’ Kerajaan Allah dan seringkali diperdebatkan orang. Senjata ini adalah ‘berdoa di dalam Roh untuk segala doa dan permohonan’. Berdoalah dengan segenap hati, dengan bahasa-bahasa baru yang Anda terima dari Roh Kudus untuk diperkatakan (Kis. 2:4). Senjata Allah yang satu ini akan membuat stamina rohani kita semakin kuat, karena dengan berbahasa roh sebenarnya kita sedang membangun manusia roh kita (I Kor. 14:4).

Doa saya, Anda terus-menerus mengenakan selengkap senjata Allah ini setiap waktu, di manapun Anda berada dan dalam kondisi apapun. Jadilah lebih dari pemenang dalam Kristus Yesus!

Selamat menjalani hari yang luar biasa!



Dalam Surat Yudas 1:17-18 tertulis, “Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebab mereka telah mengatakan kepada kamu: “Menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka.”
Ya, di hari-hari akhir zaman ini, akan muncul banyak pengejek-pengejek terhadap iman Kekristenan. Bahkan, seorang yang beribadah di gereja sekalipun tanpa menghargai hadirat Tuhan namun sekedar hadir di gereja dengan motivasi hati yang tidak benar termasuk sebagai ‘pengejek-pengejek’ tersebut.
Sifat dari pengejek-pengejek di akhir zaman ini tertulis dalam ayat 19: “Mereka adalah pemecah belah yang dikuasai hanya oleh keinginan-keinginan dunia ini dan yang hidup tanpa Roh Kudus.”. Sangat jelas, pengejek-pengejek ini memiliki keinginan untuk memecah belah; baik memecah belah konsentrasi seseorang di dalam gereja saat beribadah maupun memecah belah kesatuan gereja. Para pengejek ini hanya dikuasai oleh keinginan-keinginan dunia dan hidup tanpa Roh Kudus…

Menghadapi kondisi akhir zaman ini, Yudas berpesan demikian (Yud. 1:20-23):
1. Membangun diri sendiri di atas dasar iman yang paling suci.
Rasul Yakobus mengingatkan bahwa “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” (Yak. 2:17). Tuhan menghendaki agar kita memiliki iman yang aktif. Iman yang aktif adalah iman yang disertai dengan perbuatan. Iman yang hidup/ aktif akan menggerakkan kita untuk melakukan tindakan-tindakan nyata. Contoh: bila kita berkata, “Ya, aku percaya dan beriman kepada Yesus sebagai Tuhan dan juruselamatku”… namun, bila kita tidak menindaklanjuti dengan tindakan untuk dibaptis, apakah bisa dikatakan kita memiliki iman yang hidup? Tentu saja tidak.
Dalam Ibr. 11:4 tertulis, “karena iman, Habel….” pada ayat 7 tertulis, “karena iman, Nuh…”, pada ayat 8 tertulis, “karena iman Abraham….”. Tahukah Anda, kata ‘karena iman’ tersebut tertulis seperti ini dalam salah satu terjemahan Bahasa Inggris – Amplified Bible:
• ayat 4 dan 7: prompted/ actuated by faith (diminta/ digerakkan oleh iman)
• ayat 8: urged on by faith (didorong oleh iman)
Dari dua referensi ayat di atas, kita mengerti bahwa iman yang hidup/ aktif akan menggerakkan kita untuk melakukan tindakan-tindakan yang sesuai dengan kehendak TUHAN dalam hidup kita. Bangunlah dirimu di atas dasar iman yang paling suci, yaitu iman yang aktif!

2. Berdoalah dalam Roh Kudus
Berbeda dengan para pengejek akhir zaman yang hidup tanpa Roh Kudus, maka hendaknya kita membangun kehidupan doa kita dalam Roh Kudus. Selama ini apabila kita berdoa dalam tekanan, berdoa dalam beban berat, berdoa ketika menghadapi ujian…. bukan seperti ini yang dimaksud oleh Yudas dalam suratnya. Firman Tuhan ini mengingatkan agar kita berdoa dalam Roh Kudus! Agar seseorang dapat berdoa dalam Roh Kudus, maka hendaknya orang tersebut memiliki hubungan secara pribadi dengan Roh Kudus… bahkan menerima kepenuhan Roh Kudus atau dibaptis dalam Roh Kudus dengan tanda berkata-kata dalam bahasa Roh.

3. Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu
Masih banyak jiwa-jiwa di sekitar kita yang masih ragu-ragu untuk menerima keselamatan dari Tuhan Yesus, ini menandakan bahwa tuaian sudah menguning! Mintalah belas kasihan dari Tuhan Yesus agar kita sanggup menunjukkan belas kasihan Kristus kepada mereka yang ragu-ragu untuk menerima keselamatan.

4. Selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api
Bagaimana tindakan Anda ketika melihat seseorang yang hendak terjebak di dalam kobaran api? Tentunya kita tidak akan berdiam diri saja… dengan sigap kita akan menariknya dari kobaran api tersebut, dengan sekuat tenaga kita! Demikian pula dalam kehidupan nyata, dengan penuh iman aktif yang disertai dengan kuasa Roh Kudus, kita akan ‘merampas’ jiwa-jiwa yang terhilang agar tidak masuk ke api neraka! Sudah saatnya iman yang hidup menggerakkan kita untuk melakukan sebuah tindakan untuk merebut jiwa-jiwa tersebut dari cengkeraman iblis.

— catatan kotbah ibadah YOUTH 4 September 2011 – persiapan menjelang launching ibadah AOG my home YOUTH di GMS my home —


Keselamatan merupakan kasih karunia Tuhan bagi hidup kita. Kasih karunia Tuhan adalah pemberian/ anugerah Tuhan bagi kita yang diberikan secara cuma-cuma tanpa harus melakukan usaha tertentu untuk memperolehnya padahal kita tidak layak untuk menerimanya. Memperoleh janji hidup kekal di sorga merupakan kasih karunia Tuhan bagi kita, karena bukan dengan perbuatan baik kitalah yang membuat kita layak masuk sorga. Banyak paham yang mengajarkan bahwa untuk masuk sorga, seseorang harus banyak beramal, berbuat baik, bahkan sekalipun berbuat dosa di dunia ini, hendaknya menutupi perbuatan dosa itu dengan perbuatan amal yang lebih banyak atau melakukan kegiatan sosial yang lebih banyak dibandingkan dosa yang pernah diperbuat sebelumnya. Sebenarnya semua usaha manusia untuk beramal, berbuat kebajikan, bahkan memberikan sumbangan bagi rumah ibadah tertentu tidak membuat seseorang masuk sorga pada saat hidupnya di dunia berakhir. Tidak ada satupun dari usaha manusia yang dapat membuat seseorang masuk sorga. Manusia juga tidak dapat menebus dirinya sendiri sehingga dapat membersihkan dosa-dosanya.
“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” – Roma 3:23-24

Tuhan Yesus telah menjadi penebus kita dengan kematian-Nya di atas kayu salib untuk menggantikan kita – yang sebenarnya harus mengalami hukuman dan kematian kekal akibat dosa yang kita perbuat. Kita yang berdosa ini diampuni dan diselamatkan hanya oleh kasih karunia TUHAN – DIAlah yang telah mengusahakan pengampunan bagi kita, bukan oleh perbuatan baik kita. Karena itu, kita berbuat baik bukan supaya masuk sorga, namun kita berbuat baik karena kita punya keyakinan iman: sudah pasti masuk sorga. Apabila kita tidak berbuat baik, kita keluar dari kasih karunia Allah yang telah menyelamatkan kita dan tidak jadi memperoleh janji hidup kekal tersebut.

Jangan remehkan kasih karunia Tuhan, karena kasih karunia Tuhan tersebut yang menjaga hidup kita berkenan di hadapan Allah! Saya hendak berbagi pengalaman hidup mengenai kasih karunia Tuhan ini. Sebelum saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat – tentunya waktu itu saya jauh dari kasih karunia Tuhan – saya berusaha mati-matian berusaha untuk tidak berbuat dosa. Di masa remaja saya, saya memiliki keterikatan dengan sebuah perbuatan buruk, dan hal tersebut susah untuk dilepaskan – padahal saya sadar bahwa apa yang saya lakukan itu dosa. Saya berusaha menahan diri untuk tidak melakukan kebiasaan buruk tersebut dengan kekuatan saya sendiri… dan hasilnya, saya hanya dapat bertahan satu tahun saja. Setelah itu, saya kembali jatuh dalam kebiasaan buruk tersebut dan melakukan dosa lebih lagi. Namun, semenjak saya menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat di akhir tahun 1999, saya mampu menjauhi kebiasaan buruk tersebut… hingga saat ini! Hal tersebut terjadi bukan karena kekuatan saya, namun yang memampukan saya adalah KASIH KARUNIA TUHAN!

Sekitar pertengahan tahun 2003, saya pernah mengalami peristiwa penodongan sehingga saya mengalami kerugian dan hal tersebut membuat saya begitu trauma. Pada waktu itu, saat terbayang wajah penodong tersebut, benar-benar membuat saya begitu begitu benci dan ingin membalas dendam kepadanya. Setiap kali saya teringat peristiwa penodongan tersebut dan seberapa banyak saya kehilangan, saya menjadi begitu marah sehingga mengacaukan pikiran saya. Saya tahu, bahwa saat itu saya harus melepaskan pengampunan kepada orang yang bersalah kepada saya, namun saya berusaha melakukannya dengan kekuatan saya sendiri… dan hal itu tidak berhasil! Sekalipun saya sudah mengatakan kepada Tuhan bahwa saya sudah mengampuni orang tersebut, bahkan saya juga mendoakan orang tersebut, namun setiap kali saya terkenang peristiwa buruk tersebut dan teringat seberapa banyak saya kehilangan, saya selalu dihinggapi rasa benci dan marah yang amat sangat. Tuhan mengajarkan saya agar melepaskan pengampunan dengan kasih karunia Tuhan. Saya berdoa demikian: “Tuhan, saya tidak sanggup melepaskan pengampunan terhadap orang itu dengan kekuatan saya sendiri, saya membutuhkan kasih karunia-Mu agar saya dapat mengampuninya…”. Luar biasa! Saat itu saya langsung mengalami kelegaan di dalam hati sehingga oleh kasih karunia Tuhan, saya sanggup mengampuni orang tersebut! Bahkan saya juga mendoakannya dan melepaskan berkat Tuhan bagi dia. Hingga saat ini, setiap kali saya teringat pengalaman penodongan tersebut, saya tidak lagi mengalami trauma atau kebencian terhadap orang tersebut, justru saya hanya bersyukur… karena saya mengalami KASIH KARUNIA TUHAN.

Saya menjadi seperti sekarang ini semata-mata karena kasih karunia Tuhan. Apabila Anda memiliki keluarga yang berbahagia saat ini, jangan merasa bahwa itu karena kehebatan Anda untuk menjalin komunikasi yang baik dengan pasangan… itu karena kasih karunia Tuhan! Bila Anda memiliki pekerjaan yang cukup baik dengan gaji yang memuaskan saat ini, itu bukan karena kepandaian Anda… itu karena kasih karunia Tuhan! Jika Anda memiliki bisnis yang berkembang dan hidup Anda begitu diberkati, jangan pernah berpikir bahwa semua itu diraih karena naluri bisnis Anda… itu karena kasih karunia Tuhan! Bila Anda tidak jatuh sakit hari ini, bukan karena Anda rajin berolah raga dan menjaga makan… itu karena kasih karunia Tuhan! Bahkan bila Anda sedang berada dalam masalah berat dan cobaan yang begitu menekan namun Anda masih tetap kuat sehingga tidak mengalami depresi berat bahkan tidak sampai menjadi gila… itu karena kasih karunia Tuhan! Saat saya merenungkan hal ini… sungguh, saya sangat mensyukuri kasih karunia Tuhan! Bagaimana dengan Anda?

Mungkin terbersit dalam benak Anda… tapi, saya ini orang berdosa… terlalu banyak dosa yang telah saya perbuat… apakah mungkin saya masih dapat menerima kasih karunia Tuhan? Dalam Roma 5:20b kita menemukan jawabannya: “…di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah”. Untuk menerima kasih karunia Tuhan, Anda cukup membuka hati bagi Tuhan dan saya ajak untuk memanjatkan doa kepada Tuhan Yesus sebagai berikut:

“Tuhan Yesus, aku menyadari selama ini aku jauh dari kasih karunia-Mu, sehingga aku melakukan banyak hal yang sia-sia, bahkan berbuat dosa di hadapan-Mu. Saat ini aku membuka hatiku untuk-Mu. Yesus, jadilah TUHAN dan JURUSELAMAT bagi hidupku! Dalam nama Yesus, aku menerima kasih karunia-Mu yang menjadikan aku anak Allah dan memampukan aku untuk tidak berbuat dosa lagi. Terima kasih Tuhan, oleh kasih karunia-Mu aku dilayakkan agar berkenan di hadapan-Mu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Selamat! Anda baru saja menerima kasih karunia Tuhan saat memanjatkan doa tadi. Sudahkah Anda mengalami pengampunan Tuhan? Bila Anda ingin lebih lagi belajar mengenai pengampunan, Anda dapat menemukannya di sini.

Selamat menjalani hidup yang berlimpah dengan kasih karunia Tuhan!

Posted with WordPress for BlackBerry.