Wanakem! Inilah seruan salam dalam bahasa Tamil yang menjadi sapaan jemaat GMS my home satu sama lain dalam ibadah spesial “Heart of Mission” pada hari Sabtu dan Minggu, 7 dan 8 Maret 2015. Kali ini, jalannya ibadah diatur sedemikian rupa menjadi nuansa ala India. Di area Entry Hall, tampak jemaat yang berfoto dengan dekorasi yang berukiran nuansa India sebagai latar belakangnya. Jemaat dari etnis India yang hadir dengan penuh sukacita berpenampilan dengan mengenakan kostum khas India, sementara dari jemaat lainnya yang tidak berasal dari etnis India, beberapa di antaranya juga turut mengenakan kostum maupun asesoris ala India.

Lagu pujian dan penyembahan di dalam rangkaian ibadah raya pun diaransemen ala India. Dengan penuh antusias, Worship Leader maupun para singer mengajak jemaat untuk ikut menaikkan pujian sambil menari dengan penuh sukacita. Sebelum penyampaian Firman Tuhan, beberapa jemaat dari etnis India mempersembahkan choir dengan menyanyikan lagu pujian dalam bahasa Tamil. Tidak hanya itu, penampilan selanjutnya diramaikan oleh penari-penari dengan diiringi lagu pengagungan kepada Tuhan dalam bahasa Tamil.

Dalam ibadah ini, Ps. Yosep Moro Wijaya menyampaikan Firman Tuhan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada jemaat Korintus pasal 9 ayat 19-23. Dari pengalaman Rasul Paulus yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus sehingga ia mengalami pertobatan, Tuhan memiliki rencana untuk memakai Rasul Paulus menjadi alat pilihan-Nya untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa non-Yahudi. Belajar dari Rasul Paulus yang menerima panggilan Tuhan, Ps. Moro mengingatkan jemaat bahwa keberadaan GMS my home di kota Medan ialah untuk menjadi “city church” atau gereja yang berdampak bagi kota. GMS my home memiliki panggilan di dalam kasih karunia Tuhan Yesus. Injil perlu terus diberitakan melalui Gereja-Nya sehingga Kota Medan ini diberkati. Beberapa prinsip yang harus kita hidupi seiring panggilan Tuhan bagi GMS my home sebagai “city church” adalah sebagai berikut
1. Segala hal yang kita lakukan alasannya adalah oleh karena Injil (1Kor 9:23). Injil yang memanggil Paulus, sehingga kasih karunia Tuhan Yesus yang mengubah kehidupan Paulus. 
2. Injil memberi tujuan bagi hidup kita.
3. Injil mengubahkan hidup kita dan saat kita hidup di dalamnya, maka hidup kita akan mencerminkan Injil itu sendiri. Kekristenan adalah perubahan hidup, bukan hanya sekedar status di KTP. 

Paulus hidup melimpah di dalam kasih karena Injil telah memberinya tujuan dan mengubahkan hidupnya. Paulus bisa melayani baik orang Yahudi maupun orang non-Yahudi semata-mata karena Injil yang memampukannya untuk mencintai orang-orang yang berada dalam panggilannya. Jemaat GMS my home terpanggil untuk menjadi berkat bagi kota, menggembalakan kota Medan dengan penuh kasih. Berita Injil yang telah mengubahkan kehidupan jemaat juga akan memampukan jemaat untuk semakin mengasihi kota ini, mengasihi setiap penduduknya sekalipun berbeda suku, kaum, dan budaya. Tuhan mengasihi semua manusia ciptaan-Nya, yang diciptakan-Nya dalam keanekaragaman. Inilah saatnya Gereja Tuhan tidak lagi memandang perbedaan sebagai sebuah alasan untuk memecah-belah, melainkan sama seperti Tuhan mengasihi semua suku, kaum, dan bahasa, demikian pula kita mengasihi dan menerima mereka.

IMG_5361
Betapa indahnya ketika saudara-saudara seiman dapat berkumpul bersama tanpa memandang perbedaan. Tuhan menciptakan manusia dengan keunikannya masing-masing dan memiliki perbedaan satu sama lain. Namun, perbedaan bukan menjadi alasan untuk satu sama lain tidak dapat bersatu. Di tengah-tengah keragaman jemaat yang digembalakan di Gereja Mawar Sharon ‘my home’ Medan, kami mengumpulkan komunitas jemaat dari etnis India. Sebenarnya, mereka dilahirkan di Indonesia, berbahasa Indonesia, dan berkebangsaan Indonesia namun tidak dapat dipungkiri bahwa mereka adalah keturunan India. Kerinduan kami adalah agar mereka dapat digembalakan dengan baik dan menerima porsi makanan rohani yang menuntun pada perubahan hidup dan pertumbuhan iman karena mereka juga memiliki Tuhan Yesus yang sama, yang telah menebus dosa-dosa mereka dan menjadi juruselamat mereka.

Hari Rabu, 4 Februari 2015 diselenggarakanlah Connect Group perdana bagi komunitas India ini. Dengan penuh semangat, kami semua menaikkan pujian penyembahan di hadapan Tuhan yang telah mempertemukan dan mempersatukan kami. Beberapa di antara yang hadir merasa sangat gembira, karena sangat merindukan untuk bisa berkumpul dalam komunitas ini. Saat itu, saya membagikan mengenai kehidupan Rasul Paulus yang kehidupan rohaninya bertumbuh secara luar biasa sehingga dipakai Tuhan secara luar biasa pula. Sebagian besar dari Perjanjian Baru merupakan buah tulisannya yang sangat mempengaruhi banyak orang dan menuntun pertumbuhan iman umat Kristiani hingga di masa kini. Sebelum mengalami pertobatan, Rasul Paulus yang mulanya bernama Saulus adalah penganiaya pengikut Kristus. Namun, setelah mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus secara pribadi, Saulus tidak langsung menjadi salah satu rasulnya. Dalam Kisah Rasul pasal 9, saya hendak membagikan beberapa hal yang dialami oleh Saulus pada awal pertobatannya hingga kehidupan rohaninya terus bertumbuh.

Dia ayat 19b, judul perikopnya adalah “Saulus dalam Lingkungan Saudara-saudara”. Beberapa hal yang dapat kita pelajari dari Rasul Paulus adalah:
1. Tinggal bersama dengan murid-murid
Ayat ke-19b dituliskan, “Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik.”. Tinggal dalam komunitas sesama saudara-saudara seiman akan membuat iman kita bertumbuh. Apalagi, ketika CG komunitas India ini dimulai untuk pertama kalinya, dibutuhkan komitmen satu sama lain agar secara berkala tetap memiliki waktu berkumpul. Di awal pertobatannya, Saulus segera menggabungkan dirinya dengan murid-murid Kristus lainnya. Di sinilah Saulus belajar untuk semakin dibangun imannya, saling mengasihi dan melayani seorang dengan lainnya. Bahkan, di kala ada ancaman pembunuhan terhadap Saulus, murid-murid turut menolongnya untuk melarikan diri (ayat 23-25)

2. Mengalami penerimaan
Saulus melarikan diri ke Yerusalem, namun dia tetap berkomitmen untuk selalu menggabungkan diri dengan murid-murid lainnya di sana. Sayang sekali, semua murid di Yerusalem masih mencurigai Saulus karena masa lalunya adalah seorang pembenci pengikut Kristus. Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceriterakan kepada mereka, bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara dengan dia dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus (ayat 27). Penerimaan Barnabas terhadap latar belakang Saulus membuatnya semakin diteguhkan dan imannya terus bertumbuh. Di dalam komunitas CG, semua anggota diterima dengan baik tanpa memandang latar belakang atau masa lalunya. Di dalam iman kepada Tuhan Yesus, sekalipun bisa berbeda secara suku maupun ras, rekan-rekan dari etnis India diterima apa adanya. Harapan kami adalah mereka semua mengalami pertumbuhan iman yang semakin dewasa sehingga kelak juga akan dilahirkan pemimpin-pemimpin rohani dari antara mereka.

3. Tetap bersama-sama di Yerusalem
Dalam ayat 28 dituliskan bahwa Saulus tetap tinggal di Yerusalem. Yerusalem adalah pusat ibadah dan penyembahan kepada Tuhan di Bait Suci pada waktu itu bagi orang-orang Yahudi. Prinsip yang dapat diterapkan adalah, untuk mengalami pertumbuhan iman yang semakin meningkat, seseorang harus tetap memiliki sebuah komitmen untuk tertanam di sebuah gereja lokal.

4. Bersaksi dan menjangkau jiwa
Saulus yang telah menemukan komunitas murid-murid, mengalami penerimaan, serta tetap berkomitmen tinggal di Yerusalem akhirnya melakukan panggilan Tuhan bagi dirinya untuk memberitakan Injil. CG komunitas India ini dibentuk agar setiap anggota di dalamnya juga bersaksi dan menjangkau jiwa-jiwa.
IMG_5363
Kami rindu, agar Firman Tuhan ini akan digenapi dalam kehidupan Connect Group ini:
“Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.” (Kis. 9:31).
Terus maju dalam pertumbuhan dan semakin berapi-api dalam melayani Tuhan, Connect Group 07 – komunitas keluarga India!

Kupercaya Mujizat

Posted: February 1, 2015 in Event
Tags: , , , , , ,

IMG_5344
Hari ini, Minggu 1 Februari 2015 di seluruh Gereja Mawar Sharon dilakukan Ibadah Peluncuran Buku dan Album Penyembahan “Kupercaya Mujizat”. Ibadah ini diselenggarakan di Gereja Mawar Sharon Surabaya dan juga disebarluaskan secara live streaming ke seluruh gereja-gereja lokal Mawar Sharon se-Indonesia. Ps. Philip Mantofa, BRE menyampaikan kebenaran Firman Tuhan dengan judul “Worship” atau penyembahan. Dalam penyembahan, sebenarnya kita sedang membangun hubungan dengan Allah. Orang yang menyembah Tuhan tampak indah di hadapan Allah.

Dalam Kis. 15:16 tertulis, “Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan,”

IMG_5341
Tuhan mencari “hati Daud”, hati yang bisa menyembah. Penyembahan bukan sekedar menyanyi, namun penyembahan adalah gaya hidup. Dalam Perjanjian Lama, kata ‘menyembah’ dituliskan dalam 7 kata Ibrani dan semuanya mengungkapkan ekspresi tertentu sebagai berikut:
1.YADAH
Mzm. 42:5-6
Yadah artinya mengangkat tangan dengan memohon belas kasihan. Ilustrasinya adalah seperti seorang anak kecil mengangkat tangan dan berkata “minta gendong” sama bapaknya.

Mzm. 42
(5) Inilah yang hendak kuingat,
sementara jiwaku gundah-gulana;
bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia,
mendahului mereka melangkah ke rumah Allah
dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur,
dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan.

(6) Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku,
dan gelisah di dalam diriku?
Berharaplah kepada Allah!
Sebab aku akan bersyukur (yadah) lagi kepada-Nya,
penolongku dan Allahku!

2. TOWDAH
Mzm. 26:7
“sambil memperdengarkan nyanyian syukur dengan nyaring (towdah),
dan menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib.”

Towdah artinya mengangkat tangan sebagai tanda sepakat dengan Tuhan, menjadi sikap keyakinan iman.

3. BARAK
Barak artinya berlutut di hadapan Tuhan, sebuah posisi merendahkan diri di hadapan Tuhan.
Mzm. 95:6 “Masuklah, marilah kita sujud (barak) menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.”

4. TEHILLAH
Tehillah artinya menyanyi, namun bukan sekedar menyanyi tetapi spontan, karena jatuh cinta kepada Tuhan.
Mzm. 22:4 “Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam
di atas puji-pujian orang Israel.”

Tuhan bertakhta di atas tehillah. Tehillah itu adalah saat bermazmur dalam penyembahan (termasuk berbahasa roh), sehingga di saat itu turunlah kemuliaan Allah karena Tuhan bertakhta di atas ‘tehillah’ umat-Nya.

5. ZAMAR
Zamar artinya bermain musik untuk Tuhan.
Mzm. 150:3 “Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi!”

6. HALAL
Dari kata ini muncullah kata “haleluya”. Halal itu artinya “mengapi-apikan diri” untuk Tuhan.
2 Samuel 6:14, 20-23
(14) Dan Daud menari-nari (“halal”) di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan.
(20) Ketika Daud pulang untuk memberi salam kepada seisi rumahnya, maka keluarlah Mikhal binti Saul mendapatkan Daud, katanya: “Betapa raja orang Israel, yang menelanjangi dirinya pada hari ini di depan mata budak-budak perempuan para hambanya, merasa dirinya terhormat pada hari ini, seperti orang hina dengan tidak malu-malu menelanjangi dirinya!”
(21) Tetapi berkatalah Daud kepada Mikhal: “Di hadapan TUHAN, yang telah memilih aku dengan menyisihkan ayahmu dan segenap keluarganya untuk menunjuk aku menjadi raja atas umat TUHAN, yakni atas Israel, di hadapan TUHAN aku menari-nari (halal),
(22) bahkan aku akan menghinakan diriku (halal) lebih dari pada itu; engkau akan memandang aku rendah, tetapi bersama-sama budak-budak perempuan yang kaukatakan itu, bersama-sama merekalah aku mau dihormati.”
(23) Mikhal binti Saul tidak mendapat anak sampai hari matinya.

7. SYABACH
Syabach artinya bersorak-sorai untuk Tuhan, ekspresinya dengan tepuk tangan, keluarkan puji-pujian untuk Tuhan, atau mengeluarkan kegaduhan/ keramaian yang indah untuk menyembah Tuhan.
Mzm. 47:2
“Hai segala bangsa, bertepuktanganlah, elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai!”

– disarikan dari khotbah Ps. Philip Mantofa –

Dengar dan Taati Firman-Nya

Posted: January 10, 2015 in Daily Devotion

2015/01/img_5318.jpg
Hari ini, dalam saat menjalani doa puasa dalam gerakan doa puasa Sinode Gereja Mawar Sharon yang menjadi pokok renungan diambil dari Ibrani pasal 3:7-8. Tuhan menyingkapkan pengertian-pengertian yang indah sehingga saya merenungkannya hingga ke beberapa ayat berikutnya.
(7) Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya,
(8) janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun,
(9) di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya.
(10) Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku,
(11) sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.”

Surat kepada orang Ibrani ini ditujukan bagi setiap orang Kristen yang mulai mengalami goncangan dalam imannya. Saat ini adalah akhir zaman dan banyak orang Kristen mulai mengalami kemunduran dalam hidup rohaninya. Penulis Surat Ibrani ini menegaskan dan mengingatkan kembali pentingnya kehidupan spiritual kita sebagai orang Kristen. Pengertian 5 ayat di atas (kutipan dari Mazmur 95:7-11) dibahas di beberapa ayat berikutnya:
(12) Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup.
(13) Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan “hari ini”, supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa.
(14) Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula.

Di ayat 12, melalui Roh Kudus penulis Surat Ibrani mengingatkan kita agar mewaspadai supaya di hari-hari ini kita tidak memiliki sikap hati sebagai berikut:
1. hatinya jahat
2. tidak percaya
3. murtad dari Allah yang hidup.

Namun, bila masih bisa kita menikmati “hari ini”, berarti masih ada kesempatan untuk kita menerima nasihat dari Roh Kudus dengan mendengarkan suara-Nya. Roh Kudus akan mengarahkan agar kita berpegang teguh pada iman kepercayaan kita sampai kepada akhirnya. Iman kepercayaan kita apabila tidak kita renungkan kembali jangan-jangan bisa mengalami pergeseran nilai-nilai seiring berjalannya waktu. Bahkan, dengan banyaknya berkat, promosi, maupun pelayanan yang kita terima hingga saat ini pun tidak menjamin bahwa keyakinan iman kita akan semakin kuat. Keyakinan iman merupakan hal yang teramat mendasar dalam kehidupan kita sebagai murid Kristus. Ada baiknya kita renungkan kembali keyakinan iman kita dalam diri kita dengan mengakui bahwa Allah yang kita sembah adalah TRITUNGGAL yang terdiri dari pribadi Bapa, Tuhan Yesus, dan Roh Kudus. Kita memiliki Satu Allah dengan tiga pribadi dan tidak bisa mengakui sebagian pribadi saja. Pribadi Yesus Kristus dikandung oleh Roh Kudus dan dilahirkan dari seorang perawan yang bernama Maria. Yesus Kristus adalah sepenuhnya pribadi Allah dan sepenuhnya pribadi manusia. Yesus Kristus mengalami penderitaan, sengsara hingga di kayu salib, mengalami kematian dan bangkit di hari ketiga untuk menebus dosa umat manusia. Kita mengakui dengan iman yang teguh bahwa keselamatan di dalam Yesus hanya diperoleh semata-mata karena kasih karunia Allah, bukan karena usaha manusia. Bukan karena berapa banyaknya amal atau sumbangan kita, perbuatan sosial kita, bukan karena perbuatan baik kita yang kita usahakan agar lebih banyak dari perbuatan dosa kita.

Kemudian, dalam ayat ke-15 dituliskan: Tetapi apabila pernah dikatakan: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman”. Kata “mengeraskan hati” ini dapat kita peroleh pengertiannya dari ayat-ayat selanjutnya sebagai berikut:
(16) siapakah mereka yang membangkitkan amarah Allah, sekalipun mereka mendengar suara-Nya? Bukankah mereka semua yang keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa?
(17) Dan siapakah yang Ia murkai empat puluh tahun lamanya? Bukankah mereka yang berbuat dosa dan yang mayatnya bergelimpangan di padang gurun?
(18) Dan siapakah yang telah Ia sumpahi, bahwa mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Nya? Bukankah mereka yang tidak taat?
(19) Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka.

Dari ayat-ayat di atas, jelaslah bahwa orang yang mengeraskan hati akan membangkitkan amarah Allah karena mereka:
1. Berbuat dosa. Contohnya seperti: mencuri, menipu, terikat dengan pornografi, selingkuh, membenci, memfitnah, dan sebagainya.
2. Tidak taat. Contohnya seperti: tidak mengembalikan persepuluhan, tidak taat untuk menghadiri ibadah di gereja. Tuhan membisikkan di dalam hati kita agar mengampuni orang lain, namun tidak mau taat, dan sebagainya.
3. Tidak percaya, mulai dengan melakukan penyembahan terhadap kuasa-kuasa lain seperti patung, pergi ke dukun, paranormal, ramalan dengan kartu, tarot, bintang, memakai jimat, dan lain-lain.

Tujuan kita menaati Dia dengan mendengarkan suara-Nya adalah supaya kita bisa masuk ke tempat perhentian-Nya (bahasa Inggris – HIS Rest: tempat peristirahatan-Nya), suatu situasi kehidupan di mana semua janji Allah sudah digenapi dalam hidup kita, visi hidup kita dari Tuhan Yesus telah tercapai dan hidup kita tetap mempertahankan iman kepada YESUS! Tidak ada lagi yang mau kita raih dalam hidup ini sehingga kita bisa berkata seperti Paulus:
“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” ~ 2 Tim. 4:7 .

Bagaimana caranya masuk tempat perhentian? Khususnya dalam menjalankan doa puasa kita ini, kita melakukan tindakan sebaliknya agar tidak membangkitkan murka Allah dengan cara:
1. Bertobat dari segala dosa dan tindakan yang tidak berkenan kepada Tuhan.
2. Belajar taat saat Roh Kudus membisikkan perintah-Nya ke dalam hati nurani kita, dan
3. Belajar untuk semakin percaya kepada Yesus, tidak mengandalkan kuasa yang lain selain kuasa Tuhan Yesus.

Semoga renungan ini berguna bagi kita bersama. Selamat menjalani puasa se-Sinode Gereja Mawar Sharon! Kerendahan hati mendahului kehormatan. Tuhan Yesus memberkati!


/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/759/20799442/files/2015/01/img_5159.jpg
Hari Kamis tanggal 25 Desember 2014, jemaat GMS my home merayakan Natal bersama di Regale International Convention Center dalam dua kali ibadah, yaitu pada pukul 10.00 dan 14.00 WIB. Sekitar 4500 jemaat memadati ruang ibadah pada hari itu. Kali ini, dalam ibadah Natal GMS my home disertai dengan penampilan drama musikal dengan judul “Noel”. Noel adalah nama seorang pemuda yang menjadi tokoh sentral dalam kisah ini. Dimulai dengan setting Kota Brightmond yang sedang dilanda Perang Dunia I pada tahun 1917, Noel dan keluarganya sedang berencana untuk mengungsi apabila keadaan benar-benar sudah tidak aman lagi.

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/759/20799442/files/2015/01/img_5154.jpg
Natal yang biasanya dirayakan dengan penuh sukacita dan kedamaian diwarnai dengan perasaan takut dan terancam akan serangan musuh. Kedua orang tua Noel, Noel, dan empat saudaranya beserta seorang pengasuh memutuskan untuk berkemas-kemas dan semuanya tidur di ruang tamu pada suatu malam. Sayangnya, Noel susah untuk memejamkan matanya sehingga dia berpindah di sisi ruangan yang lain untuk tidur dan mengenakan penutup telinga hingga akhirnya terlelap. Malam itu, sirene tanda bahaya digaungkan di mana-mana sehingga keluarga Noel dengan sigap terbangun dan segera berangkat untuk menuju pengungsian. Sementara itu, Noel masih tertidur lelap dan tidak menyadari apabila keluarganya telah meninggalkannya.

Setibanya di Kota Fort Worth (tempat pengungsian), orang tua Noel baru menyadari bila Noel tidak lagi bila bersama mereka. Hal ini membuat mereka begitu kuatir dan ibunya dirundung duka yang begitu mendalam. Noel yang tertidur nyenyak akhirnya terbangun dari tidurnya, sesaat kemudian dengan penuh rasa terkejut, dia tidak menemukan keluarganya lagi di ruang tamu rumahnya. Noel mulai panik dan ketakutan, ditambah lagi tiba-tiba ada sepasukan tentara yang hendak masuk ke rumahnya. Serta-merta Noel mencari tempat persembunyian di salah satu sudut ruangan. Ternyata, sepasukan tentara berhasil menemukan Noel di tempat persembunyiannya dan untunglah Kolonel yang memimpin pasukan tersebut melindungi dan kemudian membawa Noel besertanya. Saat hendak meninggalkan kediaman keluarga Noel, Sang Kolonel membawa serta foto keluarganya sebagai satu-satunya kenangan bagi Noel akibat terpisah dengan keluarganya.

15 tahun kemudian, di Kota Fresno pada tahun 1932 Noel yang diadopsi oleh Sang Kolonel berencana menjadi seorang dokter di Brightmond karena tenaga medis di sana sangat minim. Akhirnya, pada tahun 193 Noel melayani si sebuah Rumah Sakit di Kota Brightmond bersama dengan beberapa rekan-rekannya. Kembali ke kota Brightmond, membuat Noel terkenang kembali dengan keluarganya. Noel tetap memanjatkan doa untuk keluarganya sambil memandangi satu-satunya foto keluarga yang masih sempat dimilikinya.
Ternyata, di saat yang bersamaan ibunda Noel dan kakak laki-laki Noel juga sedang mencari-cari Noel sambil menunjukkan foto Noel kepada orang-orang di sekitar Rumah Sakit. Sayang sekali, mereka tidak saling berjumpa.

Perang dunia II kemudian meletus di tahun 1940. Penduduk banyak menjadi korban akibat perang dan Rumah Sakit tempat Noel bekerja turut diserang. Akhirnya Noel dan rekannya tertangkap musuh dan dimasukkan dalam penjara sebagai tahanan. Sementara itu, keluarga korban perang tengah mencari-cari orang yang mereka kasihi karena terpisah akibat perang. Tak ketinggalan, ibunda Noel terus berusaha mencari. Di tengah pencarian, bapak angkat Noel yang sedang bertugas sebagai Kolonel juga tengah mencari dan mendapatkan informasi bahwa Noel tertangkap tentara musuh dan dipenjarakan. Sementara di dalam penjara, Noel mengalami keadaan yang sungguh menyedihkan. Rekannya akhirnya meninggal, namun Noel tetap bersandar pada Tuhan. Dia yakin, dalam kondisi terburuk yang sedang dihadapinya, Tuhan memiliki rencana yang lebih baik. Luapan hati Noel ini dinyatakan dalam sebuah lagu dengan salah satu liriknya “You know better than I”. Memang, Tuhan mengetahui yang lebih baik daripada kita.

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/759/20799442/files/2015/01/img_5180.jpg
Tak lama kemudian, Sang Kolonel bersama tentaranya berhasil menembus pertahanan musuh dan membebaskan Noel yang sedang pingsan di penjara. Dengan penuh kasih, Sang Kolonel menunggui Noel yang terbaring di Rumah Sakit untuk pemulihan kesehatannya. Begitu Noel sadar, Sang Kolonel menghiburnya dengan memberikan kata-kata yang menguatkan karena Tuhan itu baik. Bukan itu saja kebaikan Tuhan yang telah ditunjukkan-Nya bagi Noel, Dia juga mempertemukan Noel kembali dengan keluarganya. Itulah sekilas kisah drama Natal “Noel” yang dipersembahkan oleh Tim Creative Ministry GMS my home.

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/759/20799442/files/2015/01/img_5205.jpg
Di hadapan sekitar 4500 jemaat yang hadir dalam dua kali ibadah Natal kali ini, Ps. Yosep Moro – Gembala Gereja Mawar Sharon Regional Sumatra – mengajak semua yang hadir untuk merenungkan Firman Tuhan dari Injil Lukas 1:26-3. Dari kisah “Noel”, kita mempelajari bahwa ternyata di dalam perjalanan hidup kita tidak semua peristiwa terjadi sesuai dengan yang kita harapkan atau inginkan. Adakalanya kita telah mempersiapkan sesuatu bagi masa depan kita, namun bisa jadi ada kendala yang menghalangi rancangan yang telah kita buat. Dalam kitab Injil, dituliskan bahwa berita kelahiran Yesus tidak hanya disampaikan kepada Maria, namun juga disampaikan kepada gembala-gembala domba, dan juga kepada orang-orang Majus dari Timur.

Setelah Maria menerima salam dari malaikat, ia mengalami kebingungan sehingga dalam hatinya bertanya-tanya apakah arti salam tersebut. Tanpa disangkanya, melalui malaikat Gabriel, Maria menerima kabar sukacita bahwa melalui rahimnya akan terlahir Juruselamat dunia. Tanggapan Maria sangatlah wajar ketika ia menanyakan, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?. Situasi hidup yang kita alami kadang tak dapat kita pahami, bahkan ketika dengan sungguh-sungguh kita mengiring Tuhan Yesus, namun ada saja hal-hal yang kita alami seolah-olah di luar rencana kita. Hal inipun dialami baik oleh Maria yang tiba-tiba menerima kabar dari Malaikat bahwa ia akan mengandung oleh Roh Kudus.

Seperti kisah Noel yang mengawali perayaan Natal ini, semua peristiwa yang dialami oleh Noel seolah-olah tidak ada campur tangan Allah di dalamnya. Namun, ternyata melalui segala peristiwa yang terjadi, akhirnya kita bisa memahami bahwa Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebajikan bagi mereka yang mengasihi-Nya. Memang, dari segala peristiwa yang terjadi, baik atau tidak baik hal tersebut… kita memang tidak bisa mengerti mengapa semuanya harus terjadi. Ketika Allah turut bekerja, banyak perkara yang bagi otak kita itu ‘mustahil’, namun dalam pesan Natal yang disampaikan oleh Ps. Moro hari ini sekali lagi kita diingatkan dengan Firman Tuhan, “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk. 1:37). Untuk menerima penggenapan janji Allah dan mengalami perkara yang bagi manusia mustahil, Maria pun berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Maria benar-benar menempatkan posisi Tuhan sebagai Tuhan, sehingga dia tidak mengizinkan logikanya melebihi otoritas Firman Tuhan. Terkadang kita bisa kecewa terhadap Tuhan apabila rencana kita tidak terlaksana atau ketika doa kita tidak terjawab. Namun, ketika kita menempatkan posisi Tuhan benar-benar sebagai Tuhan… Dia adalah Tuhan, Raja, Allah atas seluruh kehidupan kita, maka kita akan belajar mensyukuri bahwa segala peristiwa yang terjadi atas kehidupan kita adalah seturut kehendak-Nya. Andaikata doa kita saat ini belum terjawab, itu artinya Dia pasti akan menyediakan yang lebih baik, rencana-Nya sungguh lebih baik dari rencana kita – “You know better than I”.

Selamat Natal 2014 dan tahun baru 2015!