Pada hari Sabtu, tanggal 22 Mei tahun 2004 di sebuah gedung yang berlokasi di Jln. Putri Merak Jingga 13A, Medan – diresmikanlah berdirinya Gereja Mawar Sharon. Sekitar 180 orang memadati ruang ibadah utama pada waktu itu dengan penuh antusias dan sukacita karena merasakan kehadiran Tuhan dalam ibadah. Ps. Jusuf Soetanto selaku Gembala Sinode Gereja Mawar Sharon dan Ps. Philip Mantofa, BRE., selaku asisten Gembala Sinode Gereja Mawar Sharon bidang Kerohanian turut meresmikan keberadaan gereja ini yang hingga hari ini disebut pula dengan nama “my home”. Tepat di tanggal yang sama pada hari ini, GMS my home merayakan ulang tahun ke-12. Dari tahun ke tahun, Tuhan menyertai dari kemuliaan hingga kemuliaan yang semakin besar hingga hari ini. Kami terus menaikkan segala pujian dan ucapan syukur kepada Tuhan karena Dia telah mempercayakan banyak hal bagi kami hingga saat ini.


Dalam serangkaian ibadah perayaan ulang tahun ke-12 GMS my home ini diawali dengan tarian pembukaan dan permainan cahaya yang mengesankan untuk menggambarkan tema “A Greater Glory” yang diusung dalam perayaan ulang tahun ini. Selanjutnya, team Praise and Worship dari golongan anak-anak muda menaikkan lagu pujian “Nothing’s Gonna Stop Us Now” dengan aransemen yang kreatif. 
Dalam penyampaian Firman Tuhan kali ini, Ps. Yosep Moro selaku Gembala GMS Regional Sumatra menyampaikan dari nats 2 Kor. 3:18 “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.”. Semakin hari semenjak kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan, Dia mengubahkan kita dalam kemuliaan yang semakin besar. Kemuliaan yang dialami bukan hanya berubah dari kehidupan yang tidak percaya Yesus lalu bertobat dan percaya kepada Yesus. Kemuliaan bisa bertambah semakin besar bila kita memiliki komitmen untuk terus diubahkan. Berikut pesan yang Ps. Moro sampaikan dalam ibadah perayaan ulang tahun GMS my home yang ke-12 ini:

1. Cintailah Rumah Tuhan

Kemuliaan Tuhan juga dinyatakan melalui Rumah-Nya. Daud menuliskan kecintaannya kepada Rumah Tuhan, “TUHAN, aku cinta pada rumah kediaman-Mu dan pada tempat kemuliaan-Mu bersemayam.” (Mazmur 26:8). Untuk mengalami kemuliaan Tuhan yang semakin besar, kita harus belajar untuk semakin mencintai Rumah Tuhan, karena di dalam Rumah-Nya kemuliaan Tuhan bersemayam. Melalui Rumah Tuhan ada tuntunan Tuhan, di dalam Rumah-Nya ada kemuliaan Tuhan, dan Daud menyadari hal tersebut sehingga menuliskan kesaksian-Nya mengenai Rumah Tuhan dalam Mazmur 27:4-5 sebagai berikut,

4) Satu hal telah kuminta kepada TUHAN,

itulah yang kuingini:

diam di rumah TUHAN

seumur hidupku,

menyaksikan kemurahan TUHAN

dan menikmati bait-Nya.

5) Sebab Ia melindungi aku dalam pondok-Nya

pada waktu bahaya;

Ia menyembunyikan aku dalam persembunyian di kemah-Nya,

Ia mengangkat aku ke atas gunung batu.


Kita hidup di tengah-tengah generasi yang kemungkinan besar dalam budaya yang kurang menghargai gereja sehingga muncul kekecewaan terhadap gereja, menolak aturan gereja, tersinggung dengan kepempinan manusia di dalam gereja. Dari generasi ke generasi, yang memimpin di dalam Rumah Tuhan, atau yang disebut sebagai Bait Suci hingga Gereja pada hari ini adalah manusia. Tuhan menetapkan Musa untuk menjadi pemimpin umat Israel hingga keluar dari tanah Mesir. Di sisi yang lain, Musa adalah pribadi yang memiliki kelemahan sehingga bisa saja orang lain bersungut-sungut kepada Musa. Namun, Tuhan tetap mempercayakan kepemimpinan di dalam Rumah-Nya kepada manusia, sekalipun manusia tetap memiliki kelemahan maupun kekurangan. Sekalipun manusia yang juga punya kelemahan dan kekurangan memimpin umat Tuhan di dalam gereja, Tuhan yang sempurna akan menyatakan kemuliaan-Nya di tengah-tengah umat-Nya.


Cinta akan rumah Tuhan akan menuntun kita kepada sebuah karakter untuk tunduk kepada sebuah otoritas. Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus juga disebut sebagai “Anak Daud”… Mengapa tidak disebut “Anak Abraham” atau “Anak Ishak” atau “Anak Israel”, dan sebagainya? Di hadapan Tuhan, seolah-olah Daud begitu ‘spesial’, sekalipun Daud juga manusia biasa yang punya kelemahan dan pernah melakukan kesalahan. Karena kecintaan Daud kepada Rumah Tuhan, sekalipun Daud adalah seorang raja, namun ketika Daud jatuh di dalam dosa, dia bersedia ditegor oleh nabi Natan. Kerendahan hati Daud terbentuk karena kecintaannya kepada Rumah Tuhan. Daud menghormati otoritas yang Tuhan letakkan di dalam Rumah Allah.

2. Bersaksilah tentang kemuliaan Tuhan

Mazmur 96:3

“Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa

dan perbuatan-perbuatan yang ajaib di antara segala suku bangsa.”

3. Kembalikanlah kemuliaan itu kepada Tuhan!

Efesus 3:20-21

“Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.”


Untuk memasuki kemuliaan yang semakin besar, maka kita harus bersedia untuk diubahkan; artinya bersedia untuk melepaskan apa yang selama ini kita pertahankan. Mengakhiri khotbah yang disampaikan, Ps. Moro mengajak segenap fulltimer untuk bersama-sama maju ke depan dan melepaskan berkat bagi jemaat. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus Kristus! GMS my home siap untuk melaju lebih lagi dalam kemuliaan yang lebih besar!

KKR CG India “Savior”

Posted: September 18, 2015 in Event
Tags: , , , , , ,

  

Wanakem! Malam ini (17/9) sekitar pkl. 19.30 WIB diselenggarakan KKR khusus bagi keluarga dari etnis India dengan tema “Savior”. Dimulai dengan puji-pujian dalam bahasa Tamil, beberapa penari dengan kostum ala India menari untuk memuliakan Tuhan. Suasana keakraban yang begitu hangat ketika ibadah berlangsung. 

Dalam KKR ini selain keluarga dari etnis India yang hadir, beberapa jemaat dan anggota CG dari etnis yang lain pun turut hadir untuk mendukung dan melayani bersama-sama. Hadirat Tuhan sangat dirasakan ketika bersama-sama kami mengangkat pujian dan menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.  
Sebelum penyampaian Firman Tuhan, Bapak James, salah satu jemaat CG family 07 menyampaikan kesaksian mengenai perubahan hidup yang dialaminya semenjak bergabung di Gereja Mawar Sharon. Sedari muda, Bapak James memang telah menerima Yesus sebagai juruselamat pribadi. Setelah berumah tangga dengan istrinya (yang dahulu belum di dalam Tuhan), Bapak James beribadah di sebuah gereja khusus bagi etnis India di kota Medan. Namun sayangnya, setelah anak-anak bertumbuh remaja, mereka tidak bisa beribadah menetap di satu tempat. Kadang-kadang mereka beribadah di gereja yang berlainan, bahkan pernah juga tidak beribadah sama sekali. Bapak James sebagai kepala keluarga tidak ingin keluarganya menjauh dari Tuhan. Hingga suatu ketika, tahun lalu Bapak James mengajak keluarganya beribadah ke Gereja Mawar Sharon. Di sinilah Pak James mengalami penerimaan, karena sebelumnya pernah merasa bahwa di GMS ini kehadiran etnis India hanya minoritas. Penerimaan dan nuansa kekeluargaan membuat Pak James terus mengajak istri dan anaknya beribadah di GMS, bahkan akhirnya puterinya bersedia dibaptis selam. Selain itu, istrinya yang semula kurang aktif ke gereja pun kini telah menerima baptisan Roh Kudus. 

  
Kesaksian kedua disampaikan oleh ibu Shri dan Pak Illenggo. Dari 3 tahun yang lalu, ibu Shri telah berjemaat di GMS dan memberi diri dibaptis selam atas kemauan sendiri, tanpa ada yang mengajaknya. Pada waktu itu, suaminya belum bertobat dan mereka sedang mengalami krisis keuangan hingga terancam kebangkrutan. Bu Shri tetap setia dan melakukan doa puasa hingga dalam jangka waktu 6 bulan. Seringkali pada pukul 3 pagi bu Shri berdoa dan menyembah Tuhan. Dalam tangisan dan keputusasaan, bu Shri berseru memohon pertolongan Tuhan. Akhirnya, Tuhan Yesus memberi pernyataan bahwa Dia mencintainya dan memberinya petunjuk agar suaminya menerima Tuhan Yesus sebagai juruselamat. Inilah yang menguatkan ibu Shri, sesegera mungkin melalui tulisan, bu Shri menuliskan kepada suaminya agar menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat pribadi. Hati pak Illenggo mulai terbuka dan karena kasihnya kepada sang istri, pak Illenggo menanggapi dengan baik. Setelah sekian kali diajak ke gereja, pak Illenggo akhirnya mau berangkat juga. Ketika beribadah, pak Illenggo menitikkan air mata karena mengalami jamahan Tuhan. Sekalipun demikian, pak Illenggo tidak langsung memberi diri dibaptis. Masih ada proses yang harus dilalui dan… tepat di hari ulang tahunnya pak Illenggo memberi diri dibaptis. Puji Tuhan, hingga kini pasangan suami istri ini sekalipun masih menghadapi masalah demi masalah namun tetap kuat dalam pengharapan dan tekun dalam doa sehingga menjadi kesaksian bagi banyak orang. 

  
Ps. Moro menyampaikan Firman Tuhan melalui Injil Luk. 19:1-10 tentang kisah pertobatan Zakheus. Dikisahkan, Zakheus berusaha mencari cara untuk bisa melihat Yesus, bahkan sampai memanjat pohon. Ketika Tuhan Yesus melihatnya, justru Tuhan Yesus yang mencarinya untuk berkunjung ke rumahnya. Sebenarnya, sebelum kita yang mencari Tuhan, Tuhan Yesus telah terlebih dahulu mencari orang yang terhilang. Semenjak Zakheus berjumpa dengan Yesus, hidupnya berubah! Karena itu, di ayat ke-8 Zakheus berjanji kepada Tuhan Yesus untuk membagi-bagikan harta miliknya kepada orang miskin, bahkan apa yang pernah diperasnya dari orang lain akan dikembalikannya empat kali lipat. Sebagai pemungut cukai, orientasi Zakheus selalu uang. Namun, sejak hatinya diubahkan, orientasinya bukan lagi uang. Ketika seseorang hanya dihadapkan dengan ‘tuhan’ yang sebenarnya bukanlah ‘TUHAN’ yang hidup, maka yang ditemuinya hanyalah aturan ini dan itu, larangan ini dan itu, sehingga seringkali banyak dicengkeram ketakutan demi ketakutan. Namun, Tuhan Yesus adalah TUHAN yang hidup! Ketika pribadi kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang hidup, maka tiada lagi ketakutan, namun damai sejahtera dan sukacitalah yang akan dialami. Perjumpaan dengan Tuhan yang hidup akan membuat hidup ini berubah! Dia akhir khotbahnya, Ps. Moro memberi ajakan kepada segenap hadirin untuk membuka hatinya menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat pribadi.

KKR “Roh Kudus Datanglah 3”

Posted: September 12, 2015 in Event
Tags: , , , , ,

 

Roh Kudus hendak melawat anak-anak di kota Medan! Dari beberapa bulan lalu, jemaat GMS my home mempersiapkan sebuah acara yang memang dikhususkan bagi anak-anak, yaitu KKR “Roh Kudus Datanglah”. KKR ini merupakan acara yang diselenggarakan untuk ketiga kalinya, karena sebelumnya telah dilakukan di kota-kota lain. Dalam mempersiapkan KKR ini, anak-anak kecil yang setiap hari Minggunya beribadah di ibadah anak “EagleKidz” GMS my home dilatih untuk mendoakan orang lain. Mereka mendoakan baik teman-teman mereka sendiri yang mengalami sakit-penyakit, maupun orang-orang dewasa yang mengalami kelemahan secara fisik, memiliki pergumulan dalam hidup, dan lain-lain. Di setiap akhir ibadah hari Minggu, terdapat area khusus yang disebut “iPray” agar setiap orang dapat didoakan oleh anak-anak (dengan didampingi pembimbing) dan beberapa di antaranya mengalami kesembuhan ilahi. 

  
Hari ini, di Regale International Convention Center – Medan, ratusan anak dari usia berkisar 4 hingga 12 tahun berdatangan untuk mengikuti acara KKR ini. Selain itu, puluhan orang sakit dari berbagai usia; dari anak-anak, deasa hingga orang tua juga berdatangan untuk didoakan secara khusus oleh para pendoa. Tak heran apabila dalam KKR ini orang-orang sakit turut berdatangan karena KKR ini bagaikan ‘FKA versi anak’. Total kehadiran mencapai angka 1650 orang (beserta para volunteer yang melayani).

  
KKR “Roh Kudus Datanglah” dimulai tepat pukul 18.00 WIB, dibuka dengan Pujian dan Penyembahan bagi Tuhan. Anak-anak pun dengan antusias keluar dari antara tempat duduk untuk ikut menyanyi dan menari ke area depan mendekati panggung sebagai ekspresi pujian kepada Tuhan. Sembari pujian penyembahan terus dinaikkan, para pendoa yang terdiri dari anak-anak maupun remaja dan orang dewasa dengan antusias mendoakan orang-orang sakit yang hadir. Tim paduan suara yang terdiri dari anak-anak juga tampil dengan menyanyikan pujian “Holy Spirit rain down”. Suasana KKR menjadi sangat indah dengan semakin dirasakannya kehadiran Roh Kudus.

Tibalah saatnya Ps. Philip Mantofa, BRE. menyampaikan Firman Tuhan. Sebelumnya, beliau menyampaikan pesan Roh Kudus “Aku rindu sekali menjamah anak-anak kecil ini… anak-anaklah yang akan terlebih dahulu masuk ke Ruang Mahakudus.” Lalu, Ps. Philip Mantofa terlebih dahulu mengajak anak-anak di bawah usia 15 tahun bangkit berdiri dan menyembah Tuhan, disusul oleh semua yang berusia di atas 15 tahun beserta orang-orang dewasa berdiri menyembah Tuhan sambil menyanyikan lagu, “Allah Roh Kudus, jamah hatiku dengan urapan-Mu… rindu selalu dekat dengan-Mu… tinggal di hadirat-Mu.”

Dalam penyampaian khotbahnya, Ps. Philip menjelaskan Firman Tuhan dari Injil Yoh. 7:37-39. Roh Kudus, siapakah Dia? Dalam Firman Tuhan diajarkan bahwa Roh Kudus telah dijanjikan oleh Tuhan Yesus untuk menjadi penolong bagi kita setelah Dia naik ke sorga. Yang dibutuhkan saat ini adalah memiliki sikap hati yang haus akan Firman Tuhan dan percaya kepada Tuhan Yesus. Roh Kudus selalu datang di dalam nama Tuhan Yesus, bukan di dalam nama yang lain. Kemudian Ps. Philip memberi kesaksian sebagai berikut. Pada tahun 1994, atau sekitar 20 tahun yang lalu, Ps. Philip memperoleh sebuah penglihatan di saat beliau berkhotbah. Dari jauh terlihat sosok Roh Kudus dalam rupa burung merpati terbang ke arahnya. Dari jauh terlihat amat sangat indah, begitu anggun dan mulia, namun ketika semakin mendekat, terlihat sosok-Nya terluka. Ketika Ps. Philip bertanya, “Siapakah Engkau?”, Dia menjawab, “Inilah Roh-Ku…”. Ketika Ps. Philip menanyakan mengapa Dia terluka, Dia menjawab, “Aku terluka oleh karena anak-anak-Ku tidak hidup di dalam kebenaran.”

Sosok Roh Kudus dalam rupa burung merpati mewakili sifat-Nya yang lembut, sosok yang begitu indah dan mulia. Namun di balik kelembutan-Nya sebenarnya Dia adalah pribadi yang penuh kuasa. Setelah mengalami penglihatan tersebut, Ps. Philip menyadari bahwa Roh Kudus adalah pribadi yang nyata. 
Bagaikan merpati pos yang mengirimkan surat, Roh Kudus juga menyampaikan pesan Bapa, yaitu Firman-Nya. Ps. Philip mengajak semua anak-anak untuk rajin membaca dan merenungkan Alkitab. Di saat tidak mengerti bagian tertentu dari Alkitab, bisa berdoa dan memohon petunjuk Roh Kudus. Roh Kudus juga dapat dirasakan bagaikan tiupan angin kencang, karena Dia Mahakuasa. Malam ini pun Dia hadir dalam KKR ini dan hendak melawat semua orang. 

  
Dalam ayat dalam Injil Yohanes ini, Roh Kudus digambarkan seperti aliran air. Di mana Dia mengalir, di sanalah terjadi kesembuhan dan kuasa mujizat dinyatakan. Setelah mengakhiri khotbahnya, Ps. Philip mengajak semua yang hadir berdiri dan bergandengan tangan sementara beliau berdoa serta menyembah Tuhan agar semua orang dapat mengalami pribadi Roh Kudus. Di saat bergandengan tangan, manifestasi Roh Kudus dinyatakan, kesembuhan mulai terjadi, dan banyak orang mengalami lawatan-Nya. Kemudian, Ps. Philip mendoakan semua orang yang hadir, – khususnya anak-anak – untuk menerima baptisan dalam Roh Kudus dengan tanda berkata-kata dalam bahasa roh. Banyak di antara yang hadir menerima baptisan Roh Kudus ini, sehingga mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka. 

Kesaksian mulai bergulir, diawali oleh seorang ibu yang mengalami jamahan Tuhan ketika didoakan oleh seorang anak kecil. Ibu ini mengalami kecelakaan 5 tahun lalu, menurut dokter tulang belakangnya bergeser sehingga selama 5 tahun ketika berjalan terasa sakit & harus memakai alat bantu di bagian pinggang dan tidak berani jongkok. Puji Tuhan setelah didoakan bisa berjalan tidak sakit lagi sekalipun tanpa alat bantu di pinggang dan jg sudah bisa jongkok dengan baik.  Bahkan, beberapa anak yang bersaksi mengalami lawatan Roh Kudus secara pribadi, ada yang digerakkan untuk berdoa, ada yang mengalami tegoran Tuhan agar menghormati orang tuanya, mendengarkan suara Tuhan, bahkan menerima baptisan Roh Kudus, sekalipun duduk di area paling belakang. Anak-anak dari usia dini terus mengalami Tuhan secara pribadi, apalagi di saat altar call untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat pribadi, banyak anak berhamburan maju ke depan. Biarlah pengalaman mereka di masa kecil ini akan mempengaruhi perjalanan hidup mereka kelak. Ketika dari masa kecil mereka telah menyerahkan hidup kepada Tuhan Yesus, pastinya Roh Kudus akan menjagai mereka seumur hidupnya hingga kekekalan. Generasi muda semakin dinangkitkan dan akan terus dipakai-Nya bagi kemuliaan Allah, Bapa! Tuhan Yesus semakin ditinggikan dan… Roh Kudus, datanglah! 



Wanakem! Inilah seruan salam dalam bahasa Tamil yang menjadi sapaan jemaat GMS my home satu sama lain dalam ibadah spesial “Heart of Mission” pada hari Sabtu dan Minggu, 7 dan 8 Maret 2015. Kali ini, jalannya ibadah diatur sedemikian rupa menjadi nuansa ala India. Di area Entry Hall, tampak jemaat yang berfoto dengan dekorasi yang berukiran nuansa India sebagai latar belakangnya. Jemaat dari etnis India yang hadir dengan penuh sukacita berpenampilan dengan mengenakan kostum khas India, sementara dari jemaat lainnya yang tidak berasal dari etnis India, beberapa di antaranya juga turut mengenakan kostum maupun asesoris ala India.

Lagu pujian dan penyembahan di dalam rangkaian ibadah raya pun diaransemen ala India. Dengan penuh antusias, Worship Leader maupun para singer mengajak jemaat untuk ikut menaikkan pujian sambil menari dengan penuh sukacita. Sebelum penyampaian Firman Tuhan, beberapa jemaat dari etnis India mempersembahkan choir dengan menyanyikan lagu pujian dalam bahasa Tamil. Tidak hanya itu, penampilan selanjutnya diramaikan oleh penari-penari dengan diiringi lagu pengagungan kepada Tuhan dalam bahasa Tamil.

Dalam ibadah ini, Ps. Yosep Moro Wijaya menyampaikan Firman Tuhan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada jemaat Korintus pasal 9 ayat 19-23. Dari pengalaman Rasul Paulus yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus sehingga ia mengalami pertobatan, Tuhan memiliki rencana untuk memakai Rasul Paulus menjadi alat pilihan-Nya untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa non-Yahudi. Belajar dari Rasul Paulus yang menerima panggilan Tuhan, Ps. Moro mengingatkan jemaat bahwa keberadaan GMS my home di kota Medan ialah untuk menjadi “city church” atau gereja yang berdampak bagi kota. GMS my home memiliki panggilan di dalam kasih karunia Tuhan Yesus. Injil perlu terus diberitakan melalui Gereja-Nya sehingga Kota Medan ini diberkati. Beberapa prinsip yang harus kita hidupi seiring panggilan Tuhan bagi GMS my home sebagai “city church” adalah sebagai berikut
1. Segala hal yang kita lakukan alasannya adalah oleh karena Injil (1Kor 9:23). Injil yang memanggil Paulus, sehingga kasih karunia Tuhan Yesus yang mengubah kehidupan Paulus. 
2. Injil memberi tujuan bagi hidup kita.
3. Injil mengubahkan hidup kita dan saat kita hidup di dalamnya, maka hidup kita akan mencerminkan Injil itu sendiri. Kekristenan adalah perubahan hidup, bukan hanya sekedar status di KTP. 

Paulus hidup melimpah di dalam kasih karena Injil telah memberinya tujuan dan mengubahkan hidupnya. Paulus bisa melayani baik orang Yahudi maupun orang non-Yahudi semata-mata karena Injil yang memampukannya untuk mencintai orang-orang yang berada dalam panggilannya. Jemaat GMS my home terpanggil untuk menjadi berkat bagi kota, menggembalakan kota Medan dengan penuh kasih. Berita Injil yang telah mengubahkan kehidupan jemaat juga akan memampukan jemaat untuk semakin mengasihi kota ini, mengasihi setiap penduduknya sekalipun berbeda suku, kaum, dan budaya. Tuhan mengasihi semua manusia ciptaan-Nya, yang diciptakan-Nya dalam keanekaragaman. Inilah saatnya Gereja Tuhan tidak lagi memandang perbedaan sebagai sebuah alasan untuk memecah-belah, melainkan sama seperti Tuhan mengasihi semua suku, kaum, dan bahasa, demikian pula kita mengasihi dan menerima mereka.

IMG_5361
Betapa indahnya ketika saudara-saudara seiman dapat berkumpul bersama tanpa memandang perbedaan. Tuhan menciptakan manusia dengan keunikannya masing-masing dan memiliki perbedaan satu sama lain. Namun, perbedaan bukan menjadi alasan untuk satu sama lain tidak dapat bersatu. Di tengah-tengah keragaman jemaat yang digembalakan di Gereja Mawar Sharon ‘my home’ Medan, kami mengumpulkan komunitas jemaat dari etnis India. Sebenarnya, mereka dilahirkan di Indonesia, berbahasa Indonesia, dan berkebangsaan Indonesia namun tidak dapat dipungkiri bahwa mereka adalah keturunan India. Kerinduan kami adalah agar mereka dapat digembalakan dengan baik dan menerima porsi makanan rohani yang menuntun pada perubahan hidup dan pertumbuhan iman karena mereka juga memiliki Tuhan Yesus yang sama, yang telah menebus dosa-dosa mereka dan menjadi juruselamat mereka.

Hari Rabu, 4 Februari 2015 diselenggarakanlah Connect Group perdana bagi komunitas India ini. Dengan penuh semangat, kami semua menaikkan pujian penyembahan di hadapan Tuhan yang telah mempertemukan dan mempersatukan kami. Beberapa di antara yang hadir merasa sangat gembira, karena sangat merindukan untuk bisa berkumpul dalam komunitas ini. Saat itu, saya membagikan mengenai kehidupan Rasul Paulus yang kehidupan rohaninya bertumbuh secara luar biasa sehingga dipakai Tuhan secara luar biasa pula. Sebagian besar dari Perjanjian Baru merupakan buah tulisannya yang sangat mempengaruhi banyak orang dan menuntun pertumbuhan iman umat Kristiani hingga di masa kini. Sebelum mengalami pertobatan, Rasul Paulus yang mulanya bernama Saulus adalah penganiaya pengikut Kristus. Namun, setelah mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus secara pribadi, Saulus tidak langsung menjadi salah satu rasulnya. Dalam Kisah Rasul pasal 9, saya hendak membagikan beberapa hal yang dialami oleh Saulus pada awal pertobatannya hingga kehidupan rohaninya terus bertumbuh.

Dia ayat 19b, judul perikopnya adalah “Saulus dalam Lingkungan Saudara-saudara”. Beberapa hal yang dapat kita pelajari dari Rasul Paulus adalah:
1. Tinggal bersama dengan murid-murid
Ayat ke-19b dituliskan, “Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik.”. Tinggal dalam komunitas sesama saudara-saudara seiman akan membuat iman kita bertumbuh. Apalagi, ketika CG komunitas India ini dimulai untuk pertama kalinya, dibutuhkan komitmen satu sama lain agar secara berkala tetap memiliki waktu berkumpul. Di awal pertobatannya, Saulus segera menggabungkan dirinya dengan murid-murid Kristus lainnya. Di sinilah Saulus belajar untuk semakin dibangun imannya, saling mengasihi dan melayani seorang dengan lainnya. Bahkan, di kala ada ancaman pembunuhan terhadap Saulus, murid-murid turut menolongnya untuk melarikan diri (ayat 23-25)

2. Mengalami penerimaan
Saulus melarikan diri ke Yerusalem, namun dia tetap berkomitmen untuk selalu menggabungkan diri dengan murid-murid lainnya di sana. Sayang sekali, semua murid di Yerusalem masih mencurigai Saulus karena masa lalunya adalah seorang pembenci pengikut Kristus. Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceriterakan kepada mereka, bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara dengan dia dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus (ayat 27). Penerimaan Barnabas terhadap latar belakang Saulus membuatnya semakin diteguhkan dan imannya terus bertumbuh. Di dalam komunitas CG, semua anggota diterima dengan baik tanpa memandang latar belakang atau masa lalunya. Di dalam iman kepada Tuhan Yesus, sekalipun bisa berbeda secara suku maupun ras, rekan-rekan dari etnis India diterima apa adanya. Harapan kami adalah mereka semua mengalami pertumbuhan iman yang semakin dewasa sehingga kelak juga akan dilahirkan pemimpin-pemimpin rohani dari antara mereka.

3. Tetap bersama-sama di Yerusalem
Dalam ayat 28 dituliskan bahwa Saulus tetap tinggal di Yerusalem. Yerusalem adalah pusat ibadah dan penyembahan kepada Tuhan di Bait Suci pada waktu itu bagi orang-orang Yahudi. Prinsip yang dapat diterapkan adalah, untuk mengalami pertumbuhan iman yang semakin meningkat, seseorang harus tetap memiliki sebuah komitmen untuk tertanam di sebuah gereja lokal.

4. Bersaksi dan menjangkau jiwa
Saulus yang telah menemukan komunitas murid-murid, mengalami penerimaan, serta tetap berkomitmen tinggal di Yerusalem akhirnya melakukan panggilan Tuhan bagi dirinya untuk memberitakan Injil. CG komunitas India ini dibentuk agar setiap anggota di dalamnya juga bersaksi dan menjangkau jiwa-jiwa.
IMG_5363
Kami rindu, agar Firman Tuhan ini akan digenapi dalam kehidupan Connect Group ini:
“Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.” (Kis. 9:31).
Terus maju dalam pertumbuhan dan semakin berapi-api dalam melayani Tuhan, Connect Group 07 – komunitas keluarga India!