Mission Night day #2: City Church

Posted: July 23, 2011 in Event
Tags: , , , , , , , , ,

Hari kedua Mission Night di GMS my home diawali dengan tarian tradisional Aceh dan Melayu, sebagai perwakilan suku-suku bangsa di Pulau Sumatra yang memuliakan nama Tuhan. Sebelum Ps. Yosep Moro Wijaya menyampaikan Firman Tuhan, sebuah drama singkat disajikan dengan menampilkan tim dari Creative Ministry. Drama yang ditampilkan menyiratkan bahwa di saat kita memberikan persembahan di hadapan Tuhan maka hendaknya kita memberi dengan sebuah visi, harapan, dan iman.

Drama tersebut menceritakan kisah sekelompok orang yang tinggal di suatu daerah yang sedang kesulitan air sehingga air menjadi kebutuhan yang sangat berharga. Diutuslah seorang anak muda untuk mencari pertolongan keluar dari kampungnya. Di tengah perjalanan, anak muda tadi kehabisan air sehingga saat dahaga menyerangnya, dia jatuh pingsan. Tak jauh dari sana, ada sebuah pohon yang begitu suburnya menghasilkan buah yang segar. Seseorang menolong anak muda tadi dengan diberinya makan buah yang segar lalu diberikannya benih pohon tadi agar anak muda ini dapat menanamnya di kampungnya. Sesampainya anak muda itu kembali ke kampungnya, dia segera menanam benih pohon tadi dan mengajak penduduk untuk bersama-sama menyiram benihnya. Namun, penduduk yang mengharapkan anak muda ini kembali dengan membawa banyak air begitu kecewa sehingga tidak seorang pun yang memberikan air untuk menyirami benih tersebut. Meskipun persediaan airnya terbatas, anak muda ini tetap tekun menyirami benih itu dengan air yang dimilikinya. Beberapa waktu kemudian, benih itu mulai tumbuh menjadi sebuah bakal pohon, namun anak muda tersebut sudah kekurangan air untuk menyiraminya. Akhirnya, penatua desa mengajak segenap penduduk agar mereka turut memberikan air sebagai satu-satunya kebutuhan yang paling berharga agar pohon itu bisa tumbuh dengan baik dan penduduk pun merelakan air untuk menyirami pohon tersebut. Beberapa waktu kemudian, hasilnya mulai terlihat. Pohon itu mulai bertumbuh besar dan menghasilkan banyak buah yang dapat menolong penduduk dari kekeringan dan kelaparan.

Inti dari ilustrasi drama tersebut adalah mengenai mengorbankan air yang berharga di masa kekeringan. Anak muda tersebut mengorbankan air bukan supaya mendapatkan air lebih banyak, namun supaya dapat menumbuhkan pohon yang bisa memberi buah dan dimakan orang lain. Sebuah prinsip yang bisa ditangkap melalui dari drama ini bahwa “memberi dari hati akan mendatangkan kelimpahan”. Ketika kita memberi, Tuhan akan melipatgandakannya. Kita tidak bicara soal berkatnya sewaktu kita memberi. Namun, apa yang kita persembahkan suatu saat akan menjadi pohon kehidupan bagi banyak orang. Ketika kita bicara soal “City Church”, maka ada tiga komponen pokok sehingga cara kita melihat area ini berubah:

1. Cara kita memandang kota di mana kita tinggal di dalamnya
“Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel, kepada semua orang buangan yang diangkut ke dalam pembuangan dari Yerusalem ke Babel: Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya; ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang! Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” (Yeremia 29:4-7)
Ketika kita menerima visi “City Church” maka yang pertama kali harus kita ubah adalah cara pandang terhadap kota tersebut. Bila kita datang di suatu kota, bukan untuk sekedar menggali potensi dan sumber daya maupun potensi kekayaan yang terkandung di dalam kota tersebut. Namun hendaknya kita harus memiliki sebuah maksud yang lebih tinggi untuk mensejahterakan kota di mana kita tinggal. Misalnya, dari hal yang sederhana: tidak membuang sampah sembarangan, tidak ugal-ugalan saat mengendarai mobil, dsb. Gereja sebesar apapun itu belum tentu membawa perubahan bagi kota apabila tidak mengubah cara pandangnya terhadap kota tersebut. GMS bertujuan memperlengkapi jemaat agar jemaat rindu untuk mengusahakan kesejahteraan kotanya, karena sejahtera kota adalah sekahtera kita.

“Saya mengasihi Medan bukan karena saya lahir di Medan, tetapi karena Medan lahir di hati saya.” ~ Ps. Yosep Moro Wijaya

2. Cara pandang terhadap jemaat – ‘Batu yang hidup’: pribadi yang punya fungsi
“Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.” (1 Petrus 2:5)
‘Batu yang hidup’ artinya bukan sekedar datang ke gereja, namun sebagai jemaat yang menemukan fungsinya dalam Gereja sehingga bertumbuh dalam panggilannya. Jemaat adalah pahlawan-pahlawan rohani yang diutus kembali ke tengah-tengah masyarakat, di dalam market place untuk menjadi saksi berita Injil; ke sana untuk menggarami dunia.

3. Cara pandang terhadap gereja
“Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Matius 16:18-19)
Gereja bukanlah institusi yang lemah dan dipandang sebelah mata. Mungkin selama ini orang memandang gereja hanya sebatas lembaga spiritual saja yang namun tidak membawa dampak apapun bagi kotanya. Gereja adalah sebuah tempat di mana ‘tentara-tentara Tuhan’ dilatih seperti orang-orang yang dilatih dalam goa Adulam pada zaman Raja Daud. Orang-orang yang kepahitan, terlilit hutang, kesusahan dan sebagainya diubahkan menjadi orang-orang yang gagah perkasa. Dari gereja ini, akan lahir orang-orang yang menggarami dunia pemerintahan, dunia seni, dunia pendidikan, dan lain-lain di kotanya!
Gereja yang kuat bukan karena ada politikus atau pejabat berjemaat di dalamnya, melainkan karena ada Yesus di dalamnya dan mengubahkan hati dan kehidupan jemaat di dalamnya.
Dalam 1 Raj. 10:1-9 diceritakan mengenai Ratu Syeba yang terkagum-kagum dengan hikmat Salomo yang berasal dari Tuhan, juga dengan rumah yang didirikan, makanan yang disajikan, cara berpakaian, etika pegawainya, dan sebagainya. Dalam ayat 9 dituliskan bahwa Ratu Syeba memuliakan nama Tuhan karena hikmat Salomo yang didengarnya dan akan apa yang dibangun oleh Raja Salomo! Ratu Syeba memuliakan Tuhan seperti permohonan Raja Salomo pada Tuhan. Karena Tuhan yang luar biasa ada di tengah kita, kita percaya bahwa semua produk yang kita lahirkan juga luar biasa!

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s