Membangun Rasa Lapar dan Haus Akan Hadirat TUHAN

Posted: September 11, 2011 in Sermon
Tags: , , , , , , , , , ,

Hari ini, Minggu 11 September 2011 saya berkesempatan untuk melayani di salah satu gereja lokal Mawar Sharon yang terdapat di kota Pekanbaru. Ini merupakan pertama kalinya perjalanan saya ke kota Pekanbaru untuk melayani Tuhan dan membangun jemaat lokal. Pukul 09.15 WIB saya dijemput oleh seorang jemaat untuk diantar ke Hotel Grand Zuri di Jl. Teuku Umar no.80A – tempat yang selama ini digunakan untuk beribadah oleh jemaat GMS Pekanbaru.
Sebelum tiba di lokasi, kami terlebih dahulu menjemput seorang anak dan ibunya untuk bersama-sama beribadah. Nama anak ini Ciau Hui, usianya baru sekitar 4 tahun namun pembawaannya sungguh supel dan banyak memotivasi orang lain untuk berdoa. Selain itu, Ciau Hui suka menyanyi sehingga di ibadah EagleKidz pun anak ini turut memimpin pujian.

EagleKidz GMS Pekanbaru

Sekalipun hujan turun rintik-rintik dari pagi hari, tidak mengurangi antusiasme jemaat untuk beribadah di hari Minggu ini. Sekitar pukul 10, ibadah pun dimulai dengan pujian penyembahan yang dipimpin oleh Ibu Elvi Edward – worship leader dari GMS my home, Medan. Setelah melangsungkan perjamuan kudus, saya menyampaikan isi hati Tuhan bagi jemaat GMS Pekanbaru agar membangun kehidupan yang intim bersama-Nya di dalam hadirat Tuhan. Saya mengajak jemaat untuk menguji kehidupan kerohanian yang kita jalani selama ini apakah sudah dipimpin oleh Roh atau daging kita. Dalam Yoh. 3:6 tertulis, “Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.” Daging yang dimaksudkan di sini adalah keadaan manusia yang dipenuhi kelemahan sehingga cenderung untuk berbuat dosa. Yang dimaksud dengan daging dilahirkan dari daging adalah apabila kerohanian kita dipimpin oleh ‘daging’, maka sesungguhnya hidup kita sedang menuju maut. Sedangkan yang dimaksud dengan roh dilahirkan dari Roh adalah apabila kerohanian kita dipimpin oleh ‘Roh’, maka sesungguhnya kita menuju hidup dan damai sejahtera (Rom. 8:6).
Dalam Why. 11:1-2, Rasul Yohanes mendapatkan pernyataan Tuhan mengenai observasi-Nya terhadap Gereja-Nya – jemaat yang dikasihi-Nya sebagai berikut:
Kemudian diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya, dengan kata-kata yang berikut: “Bangunlah dan ukurlah Bait Suci Allah dan mezbah dan mereka yang beribadah di dalamnya. Tetapi kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya.”

Yohanes diberikan sebuah alat pengukur untuk mengukur 3 bagian ini:
1. Bait Suci Allah
Perintah untuk mengukur di sini bukanlah untuk mengukur seberapa besar ukuran sebuah gereja, namun yang diukur adalah kualitas rohani Gereja Tuhan di mata-Nya.
‘Bait Suci Allah’ mewakili keberadaan Gereja Tuhan secara koorporat di atas muka bumi ini. Segala jenis penyelenggaraan ibadah yang kita lakukan, semuanya ‘diukur’ oleh Tuhan. Tentu saja, ibadah yang dilakukan secara kedagingan (dengan motivasi yang salah) tidak akan berkenan kepada Tuhan. Ibadah yang sejati adalah saat kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah (Rom. 12:1)

2. Mezbah
Mezbah yang terdapat di dalam Bait Suci adalah Mezbah pembakaran ukupan yang biasanya digunakan oleh para imam untuk mempersembahkan korban berupa dupa yang harum dan wewangian di hadapan Tuhan. Asap dupa yang naik ke atas melambangkan doa, pujian, dan penyembahan kita di hadapan-Nya. Inipun termasuk bagian yang diukur! Tuhan tidak menilai seberapa baik kita bisa berdoa atau seberapa bagus suara kita saat menyanyi, namun yang diutamakan di sini apakah doa, pujian, dan penyembahan kita berasal dari dorongan ‘daging’ atau berasal dari ‘roh’.

3. Mereka yang beribadah di dalamnya
Yang diukur dan diperhitungkan oleh Tuhan adalah jemaat yang beribadah di dalam Bait Suci! Sedangkan jemaat yang berada di pelataran tidak diperhitungkan. Sekali lagi, yang dimaksudkan di sini bukan secara harafiah, namun secara rohani. Yang dihitung juga bukan berapa banyak jumlah jemaat sebuah gereja, namun kualitas kerohanian setiap jemaat yang percaya kepada Tuhan Yesus. Tipikal jemaat yang kerohaniannya berada di pelataran Bait Suci adalah orang-orang yang telah percaya kepada Tuhan Yesus namun kurang mengalami pertumbuhan rohani sehingga enggan rasanya untuk hidup dipimpin Roh. Hal ini menjadikan kehidupannya ‘kedagingan’ sehingga tidak lapar dan haus akan hadirat Tuhan dan menjadikan mereka kurang menyukai kegiatan-kegiatan maupun perkara-perkara yang bersifat rohani, bahkan seringkali jatuh bangun di dalam dosa. Bagi mereka yang masih berada di pelataran ini, bahkan oleh Tuhan ‘diberikan kepada bangsa-bangsa lain yang juga menginjak-injak Kota Suci’, maksudnya kehidupan mereka diserahkan kepada permasalahan demi permasalahan dan kehidupan ini rasanya diinjak-injak oleh pergumulan silih berganti sehingga tidak mengalami kemenangan demi kemenangan.

Ibadah GMS Pekanbaru

Sedangkan tipikal jemaat yang beribadah di dalam Bait Suci adalah orang-orang percaya yang senantiasa membangun hubungan intim dengan Tuhan dilandaskan dengan rasa lapar dan haus akan hadirat-Nya. Mereka senantiasa menginginkan perkara-perkara rohani terjadi dalam kehidupan rohani dan mengandalkan Tuhan dalam setiap permasalahan dan pergumulan sehingga selalu mengalami kemenangan demi kemenangan dan bahkan menjadi lebih dari pemenang. Bagi yang ingin masuk ke beribadah di dalam Bait Suci ini hanya dibutuhkan rasa haus dan lapar akan Tuhan, bukan sekedar rutinitas kita menghadiri ibadah karena kewajiban agama. Rasa haus dan lapar itu saya gambarkan sebagai berikut; andaikata sudah 3 hari saya kelaparan dan saya melihat Anda lewat sambil membawa makanan dan minuman yang lezat, tentunya saya akan menghampiri Anda untuk memohon agar Anda memberikan makanan tersebut. Mungkin Anda tidak akan langsung memberikannya kepada saya, maka saya akan memelas. Saat Anda menolak secara halus, saya akan mulai merengek, bahkan berlutut di depan Anda… ketika Anda akhirnya mulai ragu untuk memberikannya kepada saya atau tidak, saya sudah tersungkur di depan Anda agar Anda berbagi dengan saya. Dengan sikap haus dan lapar akan Tuhan seperti yang saya ilustrasikan di atas, saya percaya TUHAN akan berkenan lalu mencurahkan hadirat-Nya bagi kita. Seringkali, yang menghalangi seseorang untuk merasakan hadirat-Nya adalah dosa pribadi (tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu – Yes. 59:2). Selain itu, kecenderungan daging juga membuat kita tidak lagi merindukan hadirat-Nya baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam pertemuan ibadah sekalipun kita rutin datang ke gereja. Dengan bertobat dan merendahkan diri serta membangun kehidupan yang haus dan lapar akan hadirat Tuhan, kita akan menjadi jemaat yang terhitung sebagai ‘mereka yang beribadah di dalam Bait Suci’.

Di akhir ibadah ini, lawatan Roh Kudus melanda jemaat GMS Pekanbaru sehingga beberapa di antaranya menerima baptisan dalam Roh Kudus untuk pertama kalinya dengan tanda berkata-kata dalam bahasa roh dan yang lain mengalami pembaharuan pengalaman pribadi di dalam hadirat Tuhan. Milikilah roh yang lapar dan haus akan Tuhan, maka Dia akan menuntun kehidupan kita dari kemuliaan yang satu kepada kemuliaan yang lebih besar!

Sumatra for Jesus!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s