Mara – Rafidim

Posted: December 4, 2011 in Holy Land Tour
Tags: , , , ,


Hari ketiga di Mesir, segenap rombongan Holy Land tour mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan yang akan ditempuh sepanjang hari dengan menggunakan bus Khattab travel. Tujuan kami hari ini adalah menuju desa St. Catherine di kaki gunung Sinai. Perjalanan yang ditempuh akan memakan waktu yang sangat lama, sekitar 8 jam. Sepanjang perjalanan meninggalkan Kairo, kami melihat bangunan-bangunan rumah yang dibangun di Mesir ini terkesan seadanya dan seperti rumah yang belum sepenuhnya selesai dibangun atau tanpa finishing.

Bahkan, di bagian atap rumah dibiarkan begitu saja besi-besi cor didirikan tanpa dilanjutnya pembangunannya. Menurut tour guide lokal kami, di Mesir hal tersebut biasa dilakukan untuk menghindari pajak. Penduduk wajib membayar pajak kepada pemerintah apabila menempati rumah yang sudah terkesan jadi sepenuhnya. Tampak luar rumah-rumah di Mesir sepertinya belum selesai, namun rupanya di bagian dalam interiornya cukup bagus. Tekanan perekonomian yang membuat mental sebagian besar penduduk Mesir melakukan hal ini. Tak heran, di negara yang cukup kaya ini justru penduduknya rata-rata mengalami kesulitan dalam perekonomian.

Di siang harinya sekitar pukul 11.00 waktu setempat, rombongan kami tiba di suatu lokasi persinggahan bangsa Israel ketika keluar dari Mesir yaitu di Mara. Di Mara inilah bangsa Israel bersungut-sungut kepada Musa karena sumber air yang ditemukan di sana ternyata pahit. Namun, ketika Musa berseru-seru kepada Tuhan, maka Tuhan menunjukkan kepada Musa sepotong kayu yang kemudian dilemparkan Musa ke dalam air itu sehingga air tersebut menjadi manis. Di tempat ini, rombongan ziarah dari kelompok bus yang lain, yaitu dari GMS Surabaya turut bergabung dan kami mengadakan ibadah singkat yang dipimpin oleh Ps. Surya Onggo Sanusi dan Ps. Sumiati Supit. Di sekitar Mara tinggal sekelompok penduduk suku bangsa Beduin, yang biasanya bertahan hidup dengan beternak dan bertani serta menjual souvenir kepada pengunjung yang hadir. Di lokasi ini juga mulai nampak dari kejauhan pemandangan Laut Merah (Red Sea). Asal mula nama Red Sea adalah sebagai berikut; di sekitar laut tersebut banyak tumbuh teberau (alang-alang). Dalam bahasa Inggrisnya, disebut ‘reed’ atau disederhanakan menjadi ‘red’ sehingga apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Laut Merah. Namun, pada umumnya kita menyebutnya sebagai Laut Teberau.

Sejenak setelah beribadah di Mara, kami berhenti di sebuah restoran untuk menikmati makan siang bersama. Sepanjang perjalanan yang kami lihat hanyalah tanah tandus dan gersang, sangat jarang terdapat semak belukar. Memang, di negara ini curah hujan sangat rendah, dan kebutuhan akan air dicukupkan dari Laut Teberau maupun dari Sungai Nil.

Selanjutnya, saat meneruskan perjalanan ke Desa St. Catherine, di perjalanan kami berhenti sesaat untuk memperhatikan lokasi ketika bangsa Israel mengalahkan bangsa Amalek di Rafidim.

Ada sebuah bukit yang pada waktu peperangan tersebut, Musa memantau peperangan antara bangsa Israel yang dipimpin oleh Yosua melawan bangsa Amalek. Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek. Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain, sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam. Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang. (Keluaran 17:11-13).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s