Desa St. Catherine – Gunung Sinai

Posted: December 10, 2011 in Holy Land Tour
Tags: , , ,


Rombongan Holy Land trip yang diakomodasi oleh Rhema Tours tiba di desa St. Catherine sekitar pukul 17.30 waktu setempat dan kami langsung menuju penginapan di Hotel St. Catherine. Hawa dingin sangat terasa ketika kami keluar dari bus dan menginjakkan kaki di depan hotel. Sebelum waktunya makan malam, beberapa di antara kami menyempatkan diri untuk berbelanja beberapa keperluan untuk mendaki ke gunung Sinai dan sedikit souvenir. Di area lobby hotel tersebut berjajar toko-toko souvenir yang juga menjual keperluan mendaki gunung seperti senter dengan berbagai varian, tongkat, topi kupluk, sarung tangan, kaos kaki, jaket, dan lan-lain. Selain itu, sebagai kenang-kenangan perjalanan kami di Mesir, kami juga membeli beberapa souvenir seperti pajangan patung unta, piramida, kalung, gelang, kipas, dan sebagainya. Begitu kami selesai melakukan check-in di kamar hotel, sekitar pukul 7 malam kami menikmati makan malam beserta semua rombongan. Udara malam itu begitu dingin hingga banyak di antara kami yang mengenakan pakaian berlapis-lapis dan jaket tebal. Bahkan, untuk berjalan di area terbuka dari kamar hotel menuju restoran kami harus mengenakan topi dan sarung tangan agar tidak menggigil kedinginan. Memang, di bulan November ini Mesir sudah memasuki musim dingin.

Seusai menikmati makan malam, tour leader kami dari Rhema Tours – Tabitha – menghimbau agar kami segera beristirahat karena pukul 00.00 dini hari kami akan dibangunkan untuk melakukan perjalanan mendaki Gunung Sinai. Jadi, malam itu kami beristirahat sekitar 4 jam lalu mempersiapkan diri untuk berkumpul di lobby hotel pada pukul 1 pagi. Udara pagi itu amat dingin, sehingga agar tidak menggigil kami semua mengenakan pakaian berlapis-lapis dengan ditutup jaket beserta topi dan sarung tangan. Rombongan kami keluar dari hotel St. Catherine dengan mengendarai bus menuju Biara St. Catherine yang terletak di kaki Gunung Sinai. Pagi itu begitu gelap sehingga saat kami berjalan kaki menuju perhentian unta dari Biara St. Catherine harus diterangi dengan lampu senter. Kami harus berhati-hati berjalan kaki karena jalan yang tidak rata dan berbatu-batu.
Kami tiba di tempat perhentian unta sekitar pukul 2 pagi waktu setempat dan mulai menunggangi unta masing-masing dengan dipandu orang-orang suku Beduin. Dari tempat itu, kami melakukan perjalanan sekitar 300 meter melalui jalan yang tidak rata dengan diterangi lampu senter menuju perhentian unta. Di sekitar daerah tersebut banyak terdapat suku Beduin yang memelihara unta dan menyewakannya untuk kami tunggangi.

Suku Beduin sangat senang melayani rombongan kami dari Indonesia, karena sebagian besar yang menunggangi unta menuju lereng Gunung Sinai adalah orang Indonesia, sementara peziarah dari negara-negara lain memilih untuk berjalan kaki. Bagi saya, menunggang unta menuju Gunung Sinai merupakan pengalaman tersendiri dan patut dicoba. Perjalanan menuju lereng Gunung Sinai ditempuh sambil menunggang unta dalam kegelapan sekitar satu setengah jam dalam kegelapan dan jalan yang berliku-liku ke atas. Unta dapat mendaki ke lereng gunung tanpa penerangan, karena apabila disorot lampu malah unta tersebut marah dan berhenti melanjutkan perjalanan. Pemandangan di angkasa sungguh indah karena saat menunggang unta tersebut saya dapat melihat bintang-bintang bertaburan dengan cantiknya. Saat kami menunggang unta di tengah kegelapan, kami tidak bisa saling melihat rekan-rekan dari rombongan kami satu sama lain. Menunggung unta sungguh sebuah pengalaman tersendiri saat mendaki gunung Sinai yang berkelok-kelok. Tentunya dibutuhkan keberanian dan niat yang sungguh-sungguh untuk mencapai ke puncak! Perjalanan menuju puncak Gunung Sinai dengan mengendarai unta kami tempuh selama sekitar satu setengah jam. Selama perjalanan, saat saya melihat ke atas, tampak langit yang begitu cerah dan bertaburan bintang-bintang yang sangat indah. Sambil mengagumi keagungan Tuhan, saya bersenandung,
“Bila kupandang bulan dan bintang
Ajaib dan mulialah karya-Mu
Kujatuh tersungkur…
Di bawah kaki-Mu Tuhan
Kusembah Kau Yesus, kusembah Kau…”

Satu setengah jam berlalu, kami tiba di sebuah warung tempat perhentian, di mana unta-unta juga ditambatkan karena perjalanan selanjutnya menuju puncak tidak mungkin dilakukan dengan mengendarai unta. Kami beristirahat di sebuah warung untuk sekedar menghangatkan diri dan menikmati minuman panas maupun mie instan panas. Harga makanan dan minuman di warung tersebut naik beberapa kali lipat namun tetap saja laris karena banyak yang membutuhkan minuman hangat maupun mie instan yang hangat. Untuk menempuh berjalanan selanjutnya, kami harus berjalan kaki karena jalan yang akan kami lalui selanjutnya tidak dapat dilewati unta. Kami harus mendaki sekitar 758 tangga alami dari gunung batu, tanpa pegangan, dengan ukuran yang berbeda-beda dan kecuraman yang berbeda pula berkelok-kelok hingga menuju puncak. Inilah yang disebut mencari Tuhan bukan hanya dengan segenap hati dan jiwa, tapi juga dengan segenap kekuatan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s