Hadirat Tuhan di Puncak Gunung Sinai

Posted: December 20, 2011 in Holy Land Tour
Tags: , , , , ,

20111220-122004.jpg
Setelah melalui pendakian melalui jalan yang berbatu-batu, akhirnya kami tiba di puncak gunung Sinai. Matahari belum terbit ketika kami memulai ibadah singkat di puncak Gunung Sinai. Sekitar 80 orang memuji dan menyembah Tuhan dengan segenap hati pagi itu. Secara pribadi, saya sangat merasakan kehadiran Tuhan di puncak Gunung Sinai. Sambil menangis tersedu-sedu, saya terus menyembah Tuhan, paling tidak hadirat-Nya yang pernah dinyatakan kepada Musa ribuan tahun yang lalu di tempat yang sama juga saya rasakan. Sekalipun diselimuti dengan udara dingin, namun kami tetap memuji dan menyembah Tuhan dengan sangat antusias. Sebagian besar dari antara kami menangis karena mengalami jamahan Tuhan.

Pagi itu, saya menyampaikan perenungan Firman Tuhan dari Kitab Keluaran 33 yang menceritakan bagaimana Musa rindu untuk mengalami penyertaan Tuhan dan ingin melihat kemuliaan-Nya saat menghadap ke Gunung Sinai untuk menemui Tuhan. Di awal pertobatan saya ketika membaca kisah Musa ini, saya sangat tertarik untuk mengalami apa yang dialami oleh Musa ketika Musa meminta kepada Tuhan, “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku.” (Keluaran 33:18). Namun, Tuhan menjawab Musa, “Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani.” (Keluaran 33:19). Saya sangat kagum dengan pengalaman Musa sehingga saya merasa, untuk mengalami pengalaman seperti Musa benar-benar butuh kasih karunia, namun pada waktu itu saya merasa tidak layak untuk memperoleh kasih karunia tersebut. Ketika saya berada di puncak Gunung Sinai waktu itu, saya merasakan dan menyadari bahwa kasih karunia-Nya sungguh besar dalam hidup saya!

Saat kita membaca Kel. 34:4, “Lalu Musa memahat dua loh batu sama dengan yang mula-mula; bangunlah ia pagi-pagi dan naiklah ia ke atas gunung Sinai, seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya, dan membawa kedua loh batu itu di tangannya…”; kita membacanya dalam hitungan detik. Namun untuk mencapai puncak Gunung Sinai, dibutuhkan waktu berjam-jam seperti yang kami lakukan. Untuk menghadap Tuhan, Musa melakukannya dengan sungguh-sungguh, seperti yang tertulis dalam Ibrani 11:6, “Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” saat dengan kesungguhanhati kita mencari Tuhan, maka Tuhan akan melawat dan memenuhi kita dengan hadirat-Nya, dengan segenap kemuliaan-Nya! Itulah yang saya dan isteri saya harapkan saat kami mendaki ke puncak Gunung Sinai! Kami tidak mengharapkan berkat-Nya, tidak sekedar mencari foto yang indah di puncak gunung, bukan untuk menikmati pemandangan alam, namun kami hanya mengharapkan hadirat-Nya memenuhi kehidupan kami dan kami mengalami kemuliaan-Nya! Bahkan, kami tidak meminta agar Tuhan harus mengabulkan doa-doa kami dengan segera. Saya berpesan melalui renungan Firman Tuhan yang saya sampaikan bahwa saat kita berdoa, sesungguhnya doa kita tidak akan mengubah Tuhan dan kedaulatan-Nya namun saat kita memanjatkan doa-doa kita, saat kita memilki iman dan motivasi hati yang benar, sesungguhnya kitalah yang diubahkan-Nya!

Usai kami beribadah pagi itu dengan diiringi terbitnya matahari, kami semua berdoa dan setiap kepala keluarga mendoakan isterinya maupun anaknya yang turut serta serta memanjatkan pokok-pokok doa di hadapan Tuhan. Hadirat Tuhan sungguh luar biasa di tempat ini dan kami semua masing-masing mengalami pengalaman secara pribadi dengan Tuhan. Saat kami menuruni Gunung Sinai, barulah tampak di bebatuan yang kami lalui sebelumnya ternyata dilapisi bunga es tipis. Hal ini disebabkan suhu udara yang cukup dingin sehingga embunnya membeku dan membentuk lapisan es. Kami menuruni anak tangga yang berbatu-batu untuk kemudian melanjutkan perjalanan kami sekali lagi dengan menunggangi unta menuju ke tempat perhentian yang pertama – Biara St. Catherine.

Sekitar 3 jam yang kami lalui saat kami turun dari puncak gunung Sinai menuju ke Biara St. Catherine. Begitu seluruh rombongan sudah berkumpul, kami kembali ke tempat penginapan kami di Hotel St. Catherine untuk melanjutkan perjalanan kami berikutnya, yaitu untuk makan siang dan menuju perbatasan Taba untuk meninggalkan Mesir dan memasuki Tanah Perjanjian: Israel!

Comments
  1. timothy tandy says:

    Sungguh mengagumkan hadirat-Nya di gunung-Nya yang kudus………… saya mau kesana dan mengalami apa yang Bpk/ Ibu alami di sana. Thks atas reportnya ini, sangat memberkati. JBU

    Like

  2. sellairene says:

    Shalom Ps. Robert, senang membaca blog anda. Salam kasih dari GMS Surabaya🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s