Perjalanan Ziarah di Yerusalem hari ke-3

Posted: January 13, 2012 in Holy Land Tour
Tags: , , ,

20120616-224600.jpg

Pagi hari di hari ketiga kami berada di Yerusalem, kami mengunjungi Tembok Ratapan. Tembok Ratapan atau juga dikenal dengan ‘Tembok Barat’ merupakan bagian bangunan Bait Allah yang paling suci bagi umat Yahudi di seluruh dunia. Tembok ini merupakan peninggalan terakhir dari Bait Allah yang terakhir dibangun. Tembok Barat ini adalah bagian tembok yang tersisa yang dibangun oleh Herodes di sekeliling Bait Allah yang kedua sewaktu dibangun pada tahun 20 SM. Memasuki area doa di tembok ini, antara kaum pria dan kaum wanita dipisahkan dengan sebuah sekat. Banyak penduduk Yahudi setempat yang berdoa menghadap ke arah tembok ini yang dipercaya bahwa di balik tembok ini merupakan lokasi dari Bait Suci di zaman dahulu. Selain itu, para peziarah yang berdoa dari berbagai negara turut menyelipkan carikan-carikan kertas berisi permohonan dan pokok-pokok doa karena ingin doanya dijawab.

Akibat peperangan dan perebutan kekuasaan, bangunan Bait Suci dan sekitarnya menjadi tertimbun, bahkan berada di bawah tanah sekitar empat generasi kota yang berada di atasnya. Akhirnya dilakukanlah penggalian-penggalian di sepanjang Tembok Ratapan ini. Penggalian yang dilakukan menjadi jalur terowongan yang sangat panjang dan kami pun memasukinya. Dalam Tunnel/ terowongan tersebut kami dapat melihat kondisi jalan-jalan dan batu-batu besar yang disusun untuk menjadi bangunan Bait Suci yang sangat megah. Sungguh merupakan pengalaman yang tak terlupakan bagi saya secara pribadi dapat memasuki bagian dalam Bait Suci ini sekalipun hanya di bagian luar dindingnya. Di sepanjang Tunnel tersebut masih dilakukan penggalian dan diberi penanda untuk mengidentifikasi lokasi yang telah ditemukan beserta keterangannya. Kami berhenti di sebuah aula kecil untuk mendapatkan presentasi singkat bagaimana proses pembangunan Bait Suci di zaman pemerintahan Raja Salomo yang sebenarnya terletak di puncak gunung Moria tempat Abraham hendak mempersembahkan Ishak, anaknya kepada Tuhan (Kej. 22:2; 2 Taw. 3:1).

Selain itu, juga ditampilkan video bagaimana proses pengangkutan batu-batu besar dari pegunungan menuju Yerusalem untuk kemudian disusun hingga menjadi bangunan Bait Suci yang begitu indah. Pintu keluar dari Tunnel ini adalah Kota Tua Yerusalem, di sepanjang jalan-jalan yang telah kami lalui sehari sebelumnya saat mengadakan Via Dolorosa.

20120618-115934.jpg
Kami melanjutkan perjalanan kami menuju ke Garden Tomb, sebuah situs yang dipercaya umat Kristen sebagai lokasi asli tempat penyaliban Tuhan Yesus dan tidak jauh dari situ terdapat kubur kosong tempat jenazah Tuhan Yesus pernah dibaringkan. Situs ini berada di bagian utara Gerbang Damaskus. Pada tahun 1883, Jenderal Charles Gordon dari Inggris mengamati lembah berbatu ini yang bentuknya menyerupai tengkorak manusia dan mengasumsikan bahwa tempat ini kemungkinan memang Kalvari. Adanya makam dengan belahan batu besar di sekitar lokasi ini dipercaya berasal dari abad pertama, menguatkan asumsi sebelumnya mengenai situs ini. Rombongan lainnya dari Surabaya, Hong Kong dan Taiwan juga turut bergabung di tempat ini, karena kami akan melakukan ibadah bersama dan perjamuan kudus yang dipimpin oleh Ps. Philip Mantofa.

20120625-171059.jpg
Perjalanan ziarah berikutnya adalah menuju ke Yerikho, yang merupakan bagian dari negara Palestina dalam kawasan negara Israel. Tidak beberapa lama memasuki Yerikho, kami singgah di sebuah taman yang cukup ramai dikunjungi peziarah karena terdapat pohon ara yang dikenal sebagai pohon Zakheus. Pohon ini telah menjadi saksi sejarah sekitar 2000 tahun di saat Zakheus berusaha melihat Yesus dengan cara memanjatnya karena badannya pendek (Luk. 19:3-4).

20120625-171327.jpg
Tidak jauh dari lokasi pohon ara ini, kami melanjutkan perjalanan menuju sebuah photo-spot untuk menyaksikan Mount of Temptation atau Gunung Pencobaan, tempat Tuhan Yesus dicobai oleh iblis setelah dibaptis. Di tempat tersebut, kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama lalu melanjutkan perjalanan ke “Temptation Restaurant” untuk menikmati makan siang. Menu utama yang disajikan di restoran ini adalah steak domba, sebagai sajian khas yang benar-benar menggugah selera. Ternyata, lokasi restoran ini tepat berada di Elisha Spring Fountain atau mata air Elisa, seperti yang dikisahkan dalam 2 Raj. 2:19-22 di saat Elisa menyehatkan air di Yerikho. Di tempat ini juga terdapat pusat perbelanjaan “AHAVA” salah satu merk terkenal untuk produk kecantikan dan kosmetik yang diolah dari Laut Mati.

20120625-180023.jpg
Selanjutnya, kami menuju Qumran; 14,4 km di sebelah selatan Yerikho, sebuah lokasi dekat Laut Mati yang dikenal sebagai tempat ditemukannya gulungan Naskah Laut Mati. Memasuki pintu utama di “The Secret of Qumran”, kami langsung menyaksikan sebuah video dokumentasi singkat mengenai keberadaan Qumran dalam bahasa Spanyol dan text terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Lokasi ini merupakan tempat pengasingan kaum Eseni dari dunia luar untuk mengkhususkan diri mereka tetap dalam kesucian untuk menyalin naskah Perjanjian Lama. Di tempat ini banyak ditemukan pecahan-pecahan piring dan gelas yang terbuat dari tanah liat sehingga sempat diduga bahwa lokasi ini merupakan sebuah tempat pembuatan tembikar. Ternyata, untuk menjaga kesucian hidup, kaum Eseni ini selain memisahkan diri dengan dunia luar juga membuat piring dari tanah liat lalu memecahkan dan membuang peralatan makan tersebut setelah digunakan untuk makan. Menurut dokumentasi yang ditayangkan, disebutkan pula bahwa Yohanes Pembaptis pernah bergabung dengan kelompok ini sebelum menjadi ‘suara yang berseru-seru di padang gurun’.

Gulungan Naskah Laut Mati yang di dalamnya terdapat kitab Yesaya ditemukan tahun 1947, oleh seorang gembala Bedouin. Dikisahkan, waktu itu gembala tersebut sedang menggembalakan dombanya di wilayah Qumran hingga suatu ketika, gembala ini kehilangan salah satu dombanya dan mulai mencari-cari. Untuk memudahkan pencarian, gembala ini melempar-lemparkan batu ke arah lereng bebatuan dengan harapan apabila mengenai dombanya, akan bersuara. Ternyata, salah satu batu yang dilemparnya masuk ke salah satu gua dan mengenai periuk yang berisi Gulungan Naskah Laut Mati ini. Gulungan ini dijual kepada pedagang barang antik yang kebetulan anggota gereja di Suriah. Orang ini menjualnya kepada Anastasius Samuel, dari gereja “the Metropolitan of the Syrian Orthodox Church” di Yerusalem Timur. Mar Samuel membawanya ke Amerika Serikat dengan harapan menjualnya di sana bersama 3 gulungan lainnya. Lalu, empat gulungan ini dibeli oleh arkelolog Israel, Yigael Yadin, senilai $250.000 pada tahun 1954 dan dibawa kembali ke Israel. Akhir perjalanan ziarah kami di sore harinya adalah ke situs Laut Mati, di sini rombongan dapat berenang sambil mengapung maupun melapisi kulitnya dengan lumpur Laut Mati sebagai kosmetik alami.

Comments
  1. Martono says:

    how you go there bro, aku tertarik untuk pergi kesana.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s