de café 15 Maret 2012

Posted: March 16, 2012 in Event
Tags: , , , , , ,

Hari yang spesial di pertengahan bulan Maret 2012, khususnya di hari Kamis, 15 Maret ini karena GMS my home sekali lagi menyelenggarakan acara de café. Ya, de café atau the couple and family enhancement ini memang sebuah acara yang dikhususkan bagi para pasangan suami dan isteri agar kehidupan pernikahan mereka sekali lagi disegarkan dalam hadirat Tuhan. Sekitar lebih dari 100 pasang suami-isteri hadir di hari pertama acara de café ini. Semenjak pukul 6 sore waktu setempat, pasangan suami-isteri telah tiba untuk melakukan foto bersama dengan pasangan masing-masing dan menikmati makan malam bersama.

Acara ini disegarkan dengan adanya permainan singkat yang bertujuan untuk menguji sejauh mana pengenalan suami terhadap isterinya sebelum Firman Tuhan disampaikan. Dalam acara de café di malam pertama ini, saya dan isteri menyampaikan sebuah tema “Focus on the family: Quality Time”. Kehidupan pernikahan yang kita jalani selama ini tentunya membutuhkan penyegaran setelah sekian waktu dijalani. Adakalanya karena kesibukan, baik dalam pekerjaan maupun pelayanan, kita kurang meluangkan waktu yang berkualitas. Melalui acara ini, biarlah sekali lagi kehidupan pernikahan pasangan suami-isteri kembali dibangkitkan sehingga menjadi semakin kuat dalam Kristus. “Quality Time” yang perlu dibangun adalah sebagai berikut:
1. Kualitas waktu bersama TUHAN
Dalam Hagai 1:5 tertulis, “Oleh sebab itu, beginilah firman TUHAN semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu!”. Dalam moment acara ini, setiap pasangan suami-isteri bersama-sama merenungkan kembali keadaan pernikahan yang telah dijalani selama ini dengan memperhatikan kembali bagaimana kondisi hubungan yang mereka miliki bersama Tuhan. Sebelumnya, di ayat 4 juga tercantum, “…sedang ‘Rumah’ ini tetap menjadi reruntuhan”. Perlu untuk sejenak kita memperhatikan pesan Tuhan dalam rumah tangga kita. Kita bisa saja membangun pernikahan dengan segala usaha terbaik yang bisa kita lakukan, namun ‘Rumah TUHAN’ dalam rumah tangga kita menjadi reruntuhan. Yang dimaksud dengan ‘Rumah TUHAN’ ini adalah kehidupan rohani, hadirat Tuhan atau mezbah doa keluarga dalam pernikahan. Sekalipun kita dapat menghadiri seminar-seminar keluarga maupun mendengarkan banyak kotbah mengenai pernikahan, tanpa membangun kembali ‘reruntuhan’ Rumah TUHAN dalam keluarga kita, maka juga diperingatkan dalam ayat 6 sebagai berikut:
“Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang!”
Membangun kehidupan kerohanian dan mengutamakan Tuhan terlebih dari segalanya adalah sangat penting dalam kehidupan rumah tangga sehingga kehidupan kita berkenan kepada-Nya.
2. Kualitas waktu bersama pasangan
Waktu yang diluangkan antara suami dan isteri merupakan waktu-waktu yang sangat berharga untuk dilalui bersama, baik dalam waktu suka maupun duka. Namun, di tengah kebersamaan antara pasangan suami-isteri belum tentu dijalani dengan berkualitas. Kualitas waktu bersama pasangan dapat dibangun, salah satunya dengan mengenali bahasa kasih masing-masing. Mengutip dari Buku ‘5 Love Languages’ tulisan Dr. Gary Chapman, disebutkan bahwa bahasa kasih tersebut antara lain: perkataan membangun, kebersamaan, pemberian, tindakan melayani, dan sentuhan fisik.
3. Kualitas waktu bersama anak
Seringkali sebagai orang tua, kita mengabaikan urusan anak. Sekalipun orang tua dapat memberikan fasilitas hidup yang terbaik bagi anak-anak kita, namun belum tentu dapat menanamkan nilai-nilai kehidupan bagi mereka.
Dalam Amsal 1:8 tertulis, “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu”
Melalui ayat ini, dapat kita pelajari bahwa seorang ayah memberikan didikan kepada anaknya sedangkan seorang ibu mengajar anaknya. Mendidik dalam pengertian seorang ayah menanamkan didikan karakter yang baik serta memberikan teladan yang baik kepada anaknya sementara ibu mengajarkan secara rinci bagaimana seorang anak harus berperilaku.

Tuhan juga memiliki kehendak agar melalui sebuah kesatuan pernikahan dihasilkan keturunan ilahi, seperti tertulis dalam Maleakhi 2:15-16, “Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.”
Melalui ayat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk menghasilkan keturunan ilahi ada beberapa prinsip yang harus kita pahami:
1. Setia dengan pasangan
2. Perceraian bukanlah solusi dalam menyelesaikan konflik
3. Kekerasan dalam rumah tangga harus dihindari
4. Jangan mengkhianati pasangan

Di akhir acara malam ini, segenap pasangan suami-isteri saling bergandengan tangan, saling mendoakan dan berpelukan satu sama lain. Hadirat Tuhan memenuhi setiap keluarga. Saya dan isteri percaya bahwa ketika setiap pasangan suami-isteri kembali memperhatikan keadaan masing-masing di hadapan Tuhan dan membenahinya, kehidupan pernikahan akan semakin disegarkan dan semakin baik. Kerinduan kami adalah melihat rumah tangga-rumah tangga Kristiani semakin dipenuhi hadirat Tuhan, dipulihkan dalam segala aspek kehidupan sehingga menjadi berkat bagi orang lain.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s