The Story of Zacchaeus

Posted: July 29, 2012 in Sermon
Tags: , , , , ,

20120729-111247.jpg

Kisah Zakheus

Minggu, 29 Juli 2012 di GMS my home saya menyampaikan khotbah dalam bentuk creative preaching yang diinspirasikan oleh peristiwa yang dialami oleh Zakheus dalam Injil Lukas 19:1-10. Cukup menarik, Zakheus merupakan salah satu nama yang dicatat di dalam Injil yang tentunya merupakan sebuah catatan sejarah yang cukup berpengaruh untuk dapat kita pelajari hingga di masa kini dalam menjalani iman Kekristenan. Latar belakang mengenai Zakheus ini dikisahkan bahwa dia adalah seorang kepala pemungut cukai yang kaya raya (ayat 2). Profesi yang dijalani ini bukanlah sesuatu yang mudah, sekalipun penghasilannya begitu berlimpah. Profesi sebagai pemungut cukai (tax collector) pada waktu itu di zaman penjajahan pemerintah Roma memang sengaja diambil dari antara orang-orang Yahudi sendiri, salah satunya adalah Zakheus. Seringkali pemungut cukai memeras rakyat sebangsanya sendiri untuk menguntungkan diri sendiri, sehingga mereka disebut sama dengan orang berdosa. Terlebih lagi, mereka dibenci oleh orang-orang Yahudi lainnya dan dianggap sebagai pengkhianat negara maupun agama. Sekalipun memiliki kekayaan yang melimpah, Zakheus sangat tidak disukai banyak orang, apalagi dia bukan sekedar pemungut cukai biasa namun seorang kepala dari para pemungut cukai. Saya dapat membayangkan betapa dibencinya Zakheus oleh banyak orang pada waktu itu. Sebagai orang kaya, Zakheus tentunya sangat dikenal oleh masyarakat; dikenal oleh orang banyak yang telah dirugikan olehnya dan sangat dibenci tentunya.

Apa yang membuat hidup Zakheus berubah? Di akhir kisahnya dalam ayat ke-8 diceritakan bahwa Zakheus berjanji kepada Tuhan Yesus untuk memberikan setengah dari miliknya kepada orang miskin dan mengembalikan sebanyak empat kali lipat dari orang-orang yang pernah diperasnya. Apa yang membuat kepala cukai ini berubah dari seorang pemeras menjadi pemurah? Perjumpaan dengan Tuhan Yesuslah yang membuat hidupnya diubahkan sedemikian rupa. Apakah jawaban Anda juga seperti ini? Beberapa kisah dalam Injil juga diceritakan mengenai beberapa orang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus namun hidupnya tidak diubahkan. Sebut saja 9 orang kusta dari 10 orang kusta yang telah disembuhkan Yesus tidak diketahui lagi bagaimana kabarnya, Pilatus dan Herodes pernah berjumpa dengan Yesus namun hidupnya tidak berubah, belum lagi salah satu penjahat yang disalibkan bersama Yesus juga tidak mengalami pertobatan. Bahkan, murid-Nya sendiripun yang bernama Yudas justru berbalik mengkhianati Yesus dan tidak bertobat hingga akhirnya mati dengan cara menggantung diri. Bukan sekedar perjumpaan dengan Yesus, namun ada sesuatu yang begitu esensial yang dimiliki oleh Zakheus sehingga hidupnya benar-benar diubahkan. Saya mengajak kita memandang secara ‘flashback’ (kilas balik) mengenai peristiwa yang mengubahkan Zakheus untuk selamanya ini.

Zakheus adalah manusia biasa yang juga memiliki ‘kekosongan’ di dalam jiwanya dan kekosongan tersebut tidak dapat dipuaskan dengan jabatan yang tinggi maupun harta yang begitu melimpah. Bagian yang kosong ini hanya dapat dipuaskan oleh pribadi Tuhan sendiri. Sebagai orang yang sangat kaya, dengan sangat mudah dia dapat memperoleh informasi bahwa Tuhan Yesus sedang memasuki kotanya, Yerikho. Tentu saja, nama Yesus bukanlah sebuah nama yang asing bagi Zakheus yang telah dikenal dengan pengajaran-Nya, mujizat, maupun tanda-tanda yang telah diadakan-Nya.

Zakheus pernah mendengar tentang Yesus ini dari apa kata orang, bagaimana Dia melakukan perkara-perkara ajaib dan mengajarkan Kerajaan Sorga. Namun Zakheus belum pernah mengalami perjumpaan dengan Yesus secara pribadi dan menyadari bahwa dia adalah seorang berdosa yang membutuhkan seorang juruselamat untuk bisa masuk Kerajaan Sorga. Dia sangat membutuhkan Yesus! Sayangnya, untuk melihat Yesus saja Zakheus tidak mampu karena badannya pendek. Bukankah ilustrasi mengenai Zakheus ini acapkali merupakan gambaran dari kerohanian kita? Kita tidak lagi atau belum pernah mengalami pengalaman pribadi bersama dengan Tuhan secara pribadi, namun hanya sebatas mendengar tentang Yesus dari kesaksian orang lain. Saat kita berusaha untuk menyaksikan kuasa Yesus bekerja dalam diri kita, kita tidak sanggup karena – seperti Zakheus – kita pendek secara rohani, atau penuh keterbatasan untuk bertumbuh. Bahkan, mungkin Anda juga menyadari bahwa Anda juga seorang pribadi yang tidak disukai atau dibenci banyak orang karena dosa-dosa pribadi yang sulit Anda hindari. Keberadaan Anda di lingkungan Anda begitu menyulitkan sehingga tidak seorangpun peduli di saat Anda sedang ingin melihat Yesus seperti Zakheus.

Ada satu hal yang cukup menarik perhatian Tuhan dari Zakheus ini. Bukan karena Zakheus seorang yang kaya sehingga Yesus mau menumpang di rumahnya, namun karena ada sebuah ‘gairah’ untuk mencari dia sekalipun pamor Zakheus adalah orang berdosa, sekalipun badannya pendek dan penuh keterbatasan. Zakheus tidak menyerah untuk mencari Yesus! Inilah yang dia lakukan, perhatikan ayat ke-4 yang tertulis “Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus”. Seberapa banyak dari kita yang begitu sungguh-sungguhnya mencari Tuhan Yesus sehingga kita harus berlari mendahului yang lain? Seberapa gigih kita untuk mengalami Tuhan lebih lagi sehingga bila perlu kita harus memanjat sebuah pohon ara? Zakheus tidak lagi mempedulikan statusnya sebagai seorang kepala pemungut cukai. Seberapa banyak dari kita yang masih mengeraskan hati untuk berjumpa dengan Yesus hanya karena kita merasa punya jabatan penting? Zakheus menanggalkan semua rasa malu dan statusnya hanya untuk dapat melihat Yesus. Dengan iman semacam inilah yang membuat Yesus tertarik sehingga Yesus melihat ke arah pohon yang dipanjat Zakheus dan memanggilnya turun. Di saat itulah, Zakheus menerima Yesus dengan sukacita. Saya percaya, saat kita menerima Yesus dalam hidup kita, kita akan mengalami sukacita yang luar biasa.

Anda rindu Tuhan Yesus menumpang di rumah Anda (atau katakanlah dalam hidup Anda) hari ini? Mari belajar dari Zakheus! Dengan rasa haus dan lapar akan pribadi Yesus, kejarlah hadirat-Nya lebih lagi, jangan pedulikan apa kata orang, tanggalkan semua perasaan yang menghalangi Anda baik itu berupa kebanggaan akan jabatan maupun kekayaan tertentu! Saya percaya saat dari dasar hati Anda yang terdalam berseru, “Yesus! Aku membutuhkan-Mu! Hatiku haus dan lapar akan Engkau! Aku hanya menginginkan pribadi-Mu lebih lagi!” Anda akan mengalami Tuhan Yesus secara pribadi! Terimalah hadirat-Nya yang akan senantiasa menyertai Anda mulai saat ini!

Perjumpaan dengan Tuhan Yesus karena Anda begitu menginginkan-Nya dengan begitu gigih akan mengubahkan hidupmu… dan hidup ini tidak akan pernah sama lagi! Tuhan Yesus memberkati!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s