Berdoa Bagi Penggenapan Janji Tuhan

Posted: August 13, 2012 in Sermon
Tags: , , , , , ,

20120813-001256.jpg

“Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya.” (Yakobus 5:17-18)

Surat Yakobus menyinggung salah satu peristiwa yang terjadi di zaman kerajaan Israel kuno dalam pemerintahan Raja Ahab. Pada waktu itu, hujan tidak turun selama tiga setengah tahun berdasarkan pesan Tuhan melalui Nabi Elia (1 Raj. 17:1). Kerajaan Israel pada masa pemerintahan Raja Ahab telah mendukakan hati Tuhan karena melakukan penyembahan kepada Baal dan seluruh bangsa Israel menjauhi Tuhan. Namun, Tuhan tidak melupakan umat-Nya dan ingin memulihkan tanah Israel dengan mencurahkan hujan. Sebelum hujan dicurahkan kembali ke atas tanah Israel, Tuhan menyatakan janji-Nya terlebih dahulu melalui Nabi Elia (1 Raj. 18:1).

Inilah situasi yang adakalanya kita hadapi dalam kehidupan ini. Ada masa-masa di mana kita merasa perjalanan iman kita begitu berat, sehingga kita mulai menjauh dari Tuhan. Namun percayalah satu hal, sesulit apapun perkara yang sedang kita hadapi saat ini, Tuhan rindu memulihkan umat-Nya! Saat kita berdoa, seringkali kita memperoleh janji-janji Tuhan yang luar biasa, namun kita belum memperoleh penggenapannya. Ada pelajaran yang dapat kita tarik saat Tuhan mulai berjanji untuk memberi hujan di tanah Israel.

Mezbah doa yang diperbaiki
Sebelum Tuhan memulihkan tanah Israel dan menurunkan hujan, Tuhan ingin agar umat-Nya kembali berpaling kepada-Nya dan meninggalkan Baal. Melalui nabi Elia, bangsa Israel diperhadapkan kepada pilihan untuk menyembah Tuhan; Allah Israel atau tetap menyembah Baal (1 Raj. 18:21). Elia dan para nabi Baal bersama-sama mendirikan mezbah untuk mempersembahkan lembu jantan dengan persetujuan; apabila mezbah Baal yang disambar api, berarti memang Baal menjadi allah atas Israel, namun apabila mezbah yang didirikan oleh nabi Elia yang disambar api, berarti hanya Tuhanlah satu-satunya Allah bagi Israel (1 Raj. 18:23-24).

Saat sekitar 450 nabi Baal berseru-seru memanggil Baal, api tidak kunjung menyambar korban di atas mezbah yang mereka dirikan. Akhirnya tiba giliran nabi Elia untuk mempersembahkan korban bagi Tuhan. Sebelum melakukan hal ini, Elia terlebih dahulu memperbaiki mezbah Tuhan yang telah runtuh (1 Raj. 18:30). Penggenapan janji Tuhan sudah begitu dekat dengan Anda, mari perbaiki kehidupan doa kita secara pribadi dengan Tuhan. Berdoa bukanlah sekedar rutinitas, namun sebuah jalinan hubungan intim dengan-Nya agar semakin mengenal pribadi Tuhan.

Korban menunjukkan kesungguhan hati terhadap Tuhan
Pada waktu kisah dalam Kitab Raja-Raja ini ditulis, bangsa Israel berada dalam masa kekeringan yang amat sangat karena selama tiga setengah tahun tidak turun hujan. Air menjadi kebutuhan yang sangat langka waktu itu. Untuk menunjukkan kesungguhan Elia dalam mencari Tuhan, Elia mempersembahkan air di parit sekeliling mezbah sebanyak 12 buyung (1 Raj. 18:34). Bagi orang kebanyakan, air sebanyak itu sangat disayangkan untuk dituangkan di atas korban bakaran dan kayu api di atas mezbah. Bayangkan, mezbah yang telah basah dengan air bagaimana dapat terbakar dengan api? Namun, Elia mengerti benar bagaimana cara mempersembahkan korban di hadapan Tuhan. Air yang dianggap sebagai kebutuhan yang sangat berharga pada masa itu dipersembahkan kepada Tuhan yang sanggup melakukan perkara-perkara mustahil. Apa yang menurut kita paling berharga dalam hidup ini, persembahkanlah itu kepada Tuhan! Api yang menyambar korban bakaran, kayu api hingga air di mezbah yang didirikan oleh Elia menggambarkan doa yang berkenan di hadapan Tuhan sehingga Dia menunjukkan kemuliaan-Nya.

Tanpa kita sadari sepenuhnya, di dalam diri kita terdapat kecenderungan hati untuk menyembah hal-hal lain selain Tuhan. Kita terlalu memuja pekerjaan kita, pelayanan kita, pangkat/ kedudukan/ jabatan, maupun harta benda yang kita miliki. Dalam Kitab Raja-Raja, hal ini digambarkan dengan penyembahan kepada Baal. Segera setelah Tuhan menyatakan keberadaan-Nya di hadapan bangsa Israel dengan membakar habis korban bakaran, Elia langsung bertindak untuk membinasakan para nabi Baal dengan cara menyembelihnya di Sungai Kison (1 Raj. 18:40). Tindakan berikutnya setelah memperbaiki mezbah doa dan mempersembahkan yang terbaik di hadapan Tuhan adalah dengan ‘menyembelih’ kedagingan yang cenderung menjauhi Tuhan untuk mencari kesenangan-kesenangan dunia sehingga memberhalakan apa yang dibanggakan di mata dunia. Daud adalah seorang penyembah yang tahu benar bagaimana mempersembahkan korban sembelihan yang benar bagi Tuhan sehingga dia menuliskannya dalam Mazmur sebagai berikut:

Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur;
hati yang patah dan remuk
tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

(Mazmur 51:19)

Berdoalah dengan cara yang tidak seperti biasanya
“Lalu Ahab pergi untuk makan dan minum. Tetapi Elia naik ke puncak gunung Karmel, lalu ia membungkuk ke tanah, dengan mukanya di antara kedua lututnya.” (1 Raja-raja 18:42)
Raja Ahab melambangkan kehidupan Kekristenan yang dipengaruhi oleh kedagingan dan hawa nafsu dunia. Ketika Raja Ahab menantikan janji Tuhan digenapi, yang dilakukannya adalah makan dan minum. Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Elia yang melambangkan kehidupan Kekristenan yang dipimpin oleh Roh. Sekalipun menerima janji yang sama bahwa Tuhan akan segera menurunkan hujan, nabi Elia justru tidak sempat bersenang-senang untuk kemudian makan dan minum. Yang dilakukannya adalah semakin sungguh-sungguh berdoa. Sikap doa yang dilakukan oleh Nabi Elia sungguh di luar kebiasaan pada umumnya dengan membungkuk ke tanah dan muka di antara kedua lututnya.

Saat kita percaya bahwa kita akan segera menerima penggenapan janji Tuhan, baik secara pribadi kita mendengarkan suara Tuhan maupun melalui sebuah penglihatan, nubuatan, maupun peneguhan dari berbagai pihak, jangan terburu-buru senang dan menikmati hidup ini dengan makan dan minum. Inilah saatnya untuk BERDOA dengan sangat serius hingga janji Tuhan digenapi! Saya perlu menegaskan hal ini karena banyak orang begitu gembiranya menerima janji Tuhan sehingga tidak lagi berdoa melainkan bersenang-senang saja dan akhirnya kecewa karena tidak pernah mengalami penggenapan janji Tuhan. Berdoalah lebih sungguh lagi dengan cara yang tidak seperti biasanya! Bila perlu, berpuasalah! Berserulah kepada Tuhan lebih lagi, tambah jam doa Anda, buat sebuah komitmen untuk mengisi menara doa, dan sebagainya. Saat pertama kalinya Elia berdoa hujan tidak langsung turun, hingga pada ketujuh kalinya barulah nampak awan kecil sebesar telapak tangan timbul dari laut. Tujuh merupakan angka sempurna. Kita tidak pernah tahu kapan doa kita akan dijawab, hingga doa kita mencapai kesempurnaan di hadapan Tuhan. Saat Anda berdoa dengan sungguh-sungguh dan mulai melihat tandanya berupa ‘awan kecil sebesar telapak tangan’, persiapkan diri Anda baik-baik, karena penggenapan janji-janji Tuhan akan segera menghujani Anda dengan sangat deras!

Selamat menjalani hari yang luar biasa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s