Bisakah Kita Sungguh-Sungguh Dipercaya?

Posted: May 18, 2013 in Daily Devotion
Tags: , , ,

20130518-162934.jpg

Salah satu krisis yang dialami oleh masyarakat pada umumnya selain krisis ekonomi adalah krisis kepercayaan. Seorang suami atau istri dapat mencurigai pasangannya, atasan mencurigai bawahan, pengusaha mencurigai partnernya, masyarakat tidak lagi menaruh kepercayaan kepada pemerintah, dan sebagainya. Norma-norma kejujuran di masyarakat apabila tidak dipertahankan akan meruntuhkan kepercayaan yang diberikan oleh seseorang. Bagaimana kita bersikap dalam masyarakat akan menentukan apakah kita seseorang yang bisa sungguh-sungguh dipercaya atau tidak. Ketika kita menghadapi kesulitan dan kenyataan hidup yang seringkali menyudutkan, kita tergoda untuk berniat menghindar, mencari kambing hitam, menutupinya dengan kebohongan, dan melepas tanggung jawab. Seharusnya, sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berakal budi dan memiliki pekerti yang mulia kita berani menghadapi masalah yang kita hadapi dengan bertanggung jawab. Masalah yang timbul bisa jadi karena kelalaian yang kita perbuat, akibat pelanggaran moral dan dosa pribadi yang kita lakukan, atau bahkan karena seseorang memang berusaha menjatuhkan dan merugikan kita.

Beberapa waktu yang lalu seorang pengusaha bersaksi kepada saya mengenai usahanya yang sedang mengalami kerugian. Klien dari pengusaha ini adalah langganan tetap dan menyerahkan sebuah proyek di bidang tertentu. Merasa tidak sanggup melakukannya sendiri, pengusaha ini menggandeng rekannya untuk menjadi mitra dalam menyelesaikan proyek tersebut. Tidak disangka, partner kerja pengusaha ini mengambil uang proyek, tidak menyelesaikan tanggung jawab pekerjaannya dan melarikan diri serta tidak dapat dihubungi lagi. Sementara, sang klien telah menetapkan batas waktu penyelesaian proyek. Pengusaha ini begitu terpukul dengan sikap partnernya yang tidak bertanggung jawab sehingga harus menanggung kerugian proyek. Sebenarnya ada celah bagi pengusaha ini untuk melarikan diri, melepas tanggung jawab dan menyalahkan partnernya. Namun, dia belajar suatu hal bahwa kepercayaan itu sangat mahal harganya. Sekalipun harus menanggung kerugian yang sangat besar, dia harus menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh kliennya. Saya sangat diberkati ketika dia berucap, “Sepertinya kita mengerjakan proyek ini rugi, namun kita tetap memperoleh kepercayaan dari orang lain, dan itu lebih bernilai daripada kerugian yang harus ditanggung.”. Prinsip inilah yang membuat hati nuraninya tenang, dapat fokus dalam menyelesaikan tanggung jawab dan melepaskan pengampunan kepada mitra kerjanya yang sudah pergi entah ke mana.

“Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.” (1 Kor. 4:2).

Menjadi bagian hidup dalam masyarakat, kita perlu memancarkan karakter ilahi dalam diri kita dengan menjaga kepercayaan orang lain terhadap kita. Tuhan Yesus juga pernah bersabda bahwa umat-Nya diutus ke dunia yang penuh tantangan seperti yang tertulis dalam Injil Matius 10:16, “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”. Memang, dalam menghadapi tantangan dan kesulitan hidup kita perlu cerdik, bukan licik dan merugikan orang lain; namun, hati kita tetap setulus merpati. See you in the greater glory!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s