I Love Sumatra

Posted: May 24, 2013 in Event
Tags: , , , ,

20130524-165252.jpg

Senang sekali bisa berbagi dalam sesi perdana di hari ini dalam konferensi “Sumatra for Jesus” 2013. Berikut saya tuliskan di blog ini isi hati Tuhan yang saya tangkap untuk saya bagikan kepada semua peserta konferensi maupun Anda semua yang membacanya. Dari masa lalu hingga masa kini, Tuhan berbicara kepada umat-Nya dengan berbagai cara melalui hamba-hamba-Nya. Tuhan juga ingin menyampaikan rasa cintanya kepada pulau ini dengan berbagai cara karena Yesus mengasihi Sumatra! JESUS LOVEs SUMATRA! Event Sumatra for Jesus ini merupakan sebuah acara untuk sekali lagi Dia menunjukkan bahwa JESUS LOVEs Sumatra. Apakah kita sungguh-sungguh mengasihi pulau ini? Kita perlu mengetahui bahwa masih banyak di antara mereka yang masih belum kita ketahui, belum kita kenal, dan belum kita doakan!

20130524-155241.jpg

GOD wants to change your heart for this island
Tuhan ingin mengubah hatimu bagi pulau ini. Bila hati kita dipenuhi dengan kebencian terhadap seseorang, sudah pasti kita tidak bisa melayani orang tersebut. Bila kita juga pernah merasa benci terhadap pulau ini, menyesal telah dilahirkan di pulau ini, merasa tidak suka dengan orang-orang di kota di mana kita ditempatkan, SUDAH PASTI kita tidak bisa melayani pulau ini dengan maksimal. Kita perlu mengasihi pulau ini! Tuhan akan mengubah hati kita bagi pulau ini! Melalui konferensi ini, izinkan Tuhan menjamah hati setiap kita agar hati kita diubahkan-Nya untuk: (1) mengerti hati-Nya bagi pulau Sumatra, (2) melalui gereja-Nya mewarnai dan memenangkan pulau ini, (3) dan hasilnya, kita memiliki rasa cinta (LOVE) untuk Sumatra. Cinta menggerakkan diri kita untuk untuk melakukan yang terbaik. Cinta membuat seseorang lebih bersemangat dalam menjalankan hidupnya. Seseorang bisa memiliki hubungan tanpa cinta, namun hal itu tidak akan bernilai/ berarti. Cinta pada pasangan/ keluarga akan membuat kita mau dan rela melakukan apa saja bagi pasangan atau keluarga kita. Cinta pada pekerjaan akan membuat kita begitu antusias dalam bekerja, datang tepat waktu, bersemangat kejar target, dan rajin. Bayangkan kalau seseorang tidak mencintai pekerjaannya… apapun yang dikerjakannya tidak akan maksimal. Segala sesuatu; apapun itu bentuknya: karya seni, lukisan, musik, bangunan arsitektur, dll juga akan tercipta dengan baik apabila didorong oleh cinta. Pelayanan kita kepada Tuhan dan terhadap sesama akan membuahkan hasil yang berarti bila kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan sesama. Cinta pada kota dan masyarakat akan membuat kita menghargai fasilitas umum, memelihara, merawat, menjaga kebersihan dan tidak sembarangan membuang sampah, tidak memperkatakan hal-hal yang negatif seputar pemerintahan, pejabat pemerintah, tidak mengutuki kota di mana kita tinggal, tidak memandang rendah mereka yang berbeda suku dengan kita, dan sebagainya. Cinta pada pulau ini akan membuat kita bangga bahwa kita born, live, and love SUMATRA; membuat kita cinta dengan budayanya, merasa banyak saudara dari berbagai rumpun suku bangsa, ikut merasa memiliki seni dan budaya Sumatra yang tampak pada bangunan-bangunan budaya, tari-tarian, alat-alat musik, dan pakaian adat seperti yang kita saksikan di malam pembukaan kemarin.

Kasih tidak pernah gagal, LOVE never Fails (1 Kor. 13:8 – NIV) – bila kita mengasihi pulau Sumatra seperti cara Tuhan mengasihi pulau ini, cara pandang kita akan diubahkan. Bukan keburukan-keburukan maupun halhal negatif yang selalu kita keluhkan dari pulau ini, namun kita akan mulai mendoakan pulau ini, mempelajari pulau ini, bangga dengan pulau ini, menggali potensi dan mengapresiasi budaya pulau ini. LOVE never fails! Keberadaan kita di pulau ini berdampak! (katakan buat rekan di sebelah kanan kirimu!) Entah kita dilahirkan di Sumatra, atau karena pindahan, keberadaan kita di pulau ini bukan suatu kebetulan! Tuhan ingin agar keberadaan kita di pulau ini berdampak. Jangan pernah berpikir, “Mengapa aku tidak dilahirkan atau dipindahkan di sebuah kota yang banyak orang Kristennya saja. Di kota/ pulau ini imanku tertekan.” — kabar baik bagi Anda, karena inilah dinamika iman Kekristenan sejati! Semakin ditindas, semakin dianiaya, iman Kekristenan semakin tersebar luas dan bertumbuh!

Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. (Kis 8:1b)

Iman bertumbuh dalam penganiayaan dan dalam pembacaan Kitab Suci (Judul perikop 2 Tim. 3:10)

Mungkin keberadaan kita kita di pulau ini membuat kita merasa seperti ‘orang buangan’; karena tidak ada kesempatan untuk berada di kota/ pulau/ negara lain. Kita tinggal di tengah-tengah masyarakat yang kebanyakan dari antara penduduknya seperti orang buangan. Kebanyakan dari penduduknya bukan dari tanah asli Sumatra. Selain suku-suku asli, ada suku Melayu, India, Pujakesuma (Jawa), Chinese, dan lain-lain. Banyak di antaranya dari zaman nenek moyang memang sengaja datang ke Indonesia untuk berdagang, adapula karena transmigrasi, ada yang karena penugasan kerja hingga menetap. Mari kita belajar dari Yeremia 29:4-7 Judul perikopnya adalah “Surat kiriman kepada orang-orang buangan di Babel”.

Dari antara orang-orang terpelajar dari kaum Israel seperti Daniel, Sadrakh, Mesakh, Abednego dilatih, dididik dan diberi jabatan di kerajaan Babilonia. Mereka diasimilasikan/ dibaurkan agar belajar tulisan dan bahasa orang Kasdim, memiliki nilai-nilai, pengetahuan, kecerdasan, hikmat, pandangan, budaya, bahkan diberi nama seperti dewa Babel (Daniel diberi nama Beltsazar; Dan. 4:8) dengan harapan mereka juga menyembah dewa Babel.

BERTAMBAH BANYAK DAN JANGAN BERKURANG!
4 “Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel, kepada semua orang buangan yang diangkut ke dalam pembuangan dari Yerusalem ke Babel: 5 Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya; 6 ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang! (Yeremia 29:4-7)

Ayat ke-6 ini dalam salah satu Alkitab versi Bahasa Inggris dituliskan, “multiply there and do not decrease! (NASB)” – berlipat ganda dan jangan berkurang! Dengan menjajah Israel, Babel berharap bangsa Israel semakin berkurang. Penguasa kegelapan yang mempengaruhi Sumatra ini ingin agar Kekristenan semakin berkurang. Mungkin tidak dengan sebuah pengusiran atau serangan langsung untuk menaklukkan, namun dengan cara pembauran. Iblis membaurkan nilai-nilai dunia ini seperti perzinahan; baik perzinahan rohani dalam bentuk penyembahan berhala maupun dalam arti melakukan hubungan di luar pernikahan yang sah. Degradasi moral juga diasimilasikan oleh iblis ke dalam kehidupan keluarga seperti perpecahan dan perceraian.

Babel ingin orang-orang buangan dari Israel berbaur, berasimilasi dengan budaya Babel, mempelajari tulisan dan bahasa Kasdim, kawin campur dengan orang Babel, dan menjadi seperti orang Babel dan menyembah dewa Babel. iblis ingin agar semua orang – termasuk Gereja – terasimilasi dengan budaya neraka! Hal ini mengakibatkan semakin berkurangnya orang-orang yang sungguh-sungguh dengan Tuhan, karena terasimilasi (terbaur) dengan dosa. Iblis menginginkan agar jumlah orang benar berkurang. Namun, Tuhan menginginkan agar kita bermultiplikasi dan jangan berkurang! Gereja harus terus bertumbuh, mengalami peningkatan dalam jumlah, berlipat ganda dan jangan pernah berkurang di pulau Sumatra ini!

LOVE THIS ISLAND!
CINTAILAH PULAU INI! Orang-orang Israel yang berada dalam pembuangan menyimpan perasaan duka yang begitu mendalam dan bisa jadi menyimpan kebencian dan dendam terhadap kerajaan Babel. Hati mereka begitu disakiti melihat sanak keluarga yang disiksa bahkan dibunuh. Mereka tentunya berharap untuk bisa memberontak, bahkan membalas dendam atas perlakuan yang mereka terima. Sebisa mungkin, dalam masa pembuangan mereka akan memberontak, merusak, melakukan aksi demonstrasi, membakar ban di depan gedung-gedung pemerintah, melempari gedung-gedung fasilitas umum dengan batu, mengambil sebanyak mungkin sumber daya Babel, mengutuki Babel dengan kata-kata negatif dan menjatuhkan, dan lain-lain. Akan tetapi, pikiran Allah berbeda dengan pikiran manusia. Rancangan-Nya jauh melebihi rancangan manusia. Tuhan justru berfirman:
“5 Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya; 6 ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang! 7 Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”

Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk mendirikan tempat tinggal, buat kebun anggur dan nikmati hasilnya, serta berkeluarga… berarti tinggal sebagai ‘orang buangan’ dalam waktu yang sangat lama. Terus berlipat ganda dan jangan berkurang. Satu lagi di ayat ke-7… Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang… berdoalah untuk kota itu… Apa? Bisa saja bangsa Israel berkata kepada Tuhan, “tangan mereka masih berlumuran darah dari keluargaku yang telah mereka bunuh…” Namun Tuhan tetap tahu yang terbaik. Dendam, pemberontakan, dan balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah. Kasih menutupi banyak sekali pelanggaran dan kasih tidak pernah gagal. Bagaimana kita bisa mensejahterakan pulau ini? Sekali lagi, dimulai dengan CINTA… I LOVE my CITY, I LOVE my ISLAND! Cintailah pulau ini! Jangan sekedar pindah ke salah satu kota di pulau ini hanya untuk mengambil keuntungan dari pulau ini, mengeksploitasi pulau ini, merusak pulau ini dan menjelek-jelekkan pulau ini! Atau… bahkan negative thinking tentang pulau ini. Bukan sekedar berkeluarga, study atau bekerja dan melayani di pulau Sumatra ini, tapi milikilah cinta untuk mensejahterakan pulau ini. Orang-orang yang tidak memiliki cinta terhadap pulau ini hanya sekedar mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, kalau bisa sebanyak mungkin yang ada di pulau ini dia ambil. Hanya mencari keuntungan dengan membangun ini dan itu, tanpa memperhatikan tata kota dan estetika/ keindahan kota. Sudah saatnya orang-orang benar tampil untuk menunjukkan cinta bagi pulau ini. Orang seperti ini datang ke Sumatra hanya untuk mengambil, mengambil, dan mengambil… sebanyak apapun yang bisa diambil akan diambil sebagai keuntungan! Kenapa kita perlu mengasihi pulau ini? Apa alasan kita mencintai pulau ini? Dalam Surat Yohanes yang pertama tertulis, “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” 1 Yohanes 4:19 Cinta itu memberi. Definisi kasih adalah keinginan untuk menguntungkan orang lain dengan memberi, bahkan rela berkorban. Orang yang mengasihi Sumatra memiliki prinsip: aku ada di pulau ini, mungkin terlahir di pulau ini, tinggal di pulau ini, belajar di pulau ini, bekerja/ membangun bisnis di pulau ini, berarti aku ada untuk memberi yang terbaik bagi pulau ini! Yer. 29:7 : berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. Babel adalah merupakan negeri musuh bagi orang-orang Israel yang terbuang. Sangat berat bagi mereka untuk bisa mendoakan kota ini, apalagi untuk mengusahakan kesejahteraannya. Namun, Tuhan berfirman, “kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” – Kesejahteraan SUMATRA adalah kesejahteraan KITA semua!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s