Ibadah Yang Sejati

Posted: October 2, 2013 in Daily Devotion
Tags: , , , , ,

20131002-160819.jpg

Di zaman modern ini, kesadaran seseorang terhadap perkara-perkara spiritual cenderung semakin berkurang karena dianggap tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman. Ibadah yang seharusnya menjadi salah satu kebutuhan rohani bagi orang yang mengakui bahwa dirinya beragama malah terkadang dianggap remeh, kurang menjawab kebutuhan, membosankan, dianggap sudah kuno, dan sebagainya. Namun, ada juga orang yang rajin beribadah, namun tidak mengalami perubahan dalam hidupnya, secara spiritual pun juga tidak bertumbuh. Suatu kali, saya pernah membaca artikel sebagai berikut:

Seorang Nasrani menulis surat kepada Editor sebuah surat kabar dan mengeluhkan kepada para pembaca bahwa dia merasa sia-sia pergi ke gereja setiap Minggunya. Dia menulis demikian, “Saya sudah pergi ke gereja selama 30 tahun dan selama itu saya telah mendengar sekitar 2000 khotbah. Tapi selama hidup, saya tidak bisa mengingat satu khotbah pun. Jadi saya rasa saya telah memboroskan begitu banyak waktu – demikian pula para pendeta itu telah memboroskan waktu mereka dengan khotbah-khotbah itu.”
Surat itu menimbulkan perdebatan yang hebat dalam kolom pembaca. Perdebatan itu berlangsung berminggu-minggu sampai akhirnya ada seseorang yang menulis demikian: “Saya sudah menikah selama 30 tahun. Selama ini istri saya telah memasak beribu-ribu jenis masakan. Selama hidup, saya tidak bisa mengingat satu pun jenis masakan itu yang dibuat istri saya. Tapi saya tahu bahwa masakan-masakan itu telah memberi saya kekuatan yang saya perlukan untuk bekerja. Seandainya istri saya tidak memberikan makanan itu kepada saya, maka saya sudah lama meninggal.” Sejak itu tak ada lagi komentar tentang khotbah yang diberitakan di gereja.

Seseorang yang tidak memahami makna sebuah ibadah dan khotbah yang disampaikan di gereja akan menyimpulkan bahwa ibadah itu tidak berguna. Dalam suratnya yang pertama kepada Timotius, Rasul Paulus menuliskan sebagai berikut, “Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” (1 Tim. 4:7-8). Kata ‘ibadah’ dalam ayat tersebut dalam salah satu terjemahan Alkitab bahasa Inggris (Amplified Bible) dituliskan sebagai ‘spiritual training’ atau latihan rohani. Untuk beribadah, kita harus melatih dan mendisiplin diri kita untuk tekun melakukannya. Ibadah adalah sebuah latihan bagi manusia roh kita agar semakin bertumbuh dewasa dalam Kristus, mengenal isi hati Tuhan, mengalami kedekatan dengan pribadi Tuhan Yesus melalui Roh Kudus, dan selalu berada dalam penyertaan dan kuasa Allah yang berlimpah.

Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. (Ibrani 10:25)

Apabila Anda menyadari makna dan kuasa dari sebuah ibadah, pasti Anda tidak akan melewatkan setiap bagian ibadah, sesibuk apapun diri Anda! Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Rasul Paulus menerangkan arti ibadah yang sejati sebagai berikut, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Rom. 12:1).

Beribadah bukanlah soal menerima sesuatu dari Tuhan, namun bagaimana kita dengan sepenuh hati mempersembahkan tubuh ini sebagai persembahan yang hidup kepada-Nya. Mengapa TUHAN menghendaki tubuh kita? Mengapa tidak dituliskan, “Persembahkanlah rohmu”? Karena tanpa tubuh, kita tidak dapat melakukan apa-apa di dunia ini. Tuhan menginginkan tubuh kita yang hidup ini untuk menjadi persembahan bagi Dia dengan penyembahan yang keluar dari dalam hati kita.

Kata ‘kudus’ di ayat ini dalam bahasa Yunaninya dituliskan dengan kata ‘hagios’ yang memiliki arti:
a. Pemisahan secara moral dan rohani dari dosa dan segala sesuatu yang bertentangan dengan Firman Allah.
B. Mendekatkan diri kepada Tuhan dalam persekutuan yang intim.
Saat kita beribadah dengan tubuh kita ini, kita memastikan bahwa tubuh yang hendak kita persembahkan kepada Tuhan ini dipisahkan dari dosa untuk semakin mendekat pada-Nya. Kekudusan dalam hidup ini terjadi melalui pertobatan, lalu dengan segenap hati mengambil keputusan untuk memisahkan diri dari dosa dan segala sesuatu yang bertentangan dengan Firman-Nya. Saat kita semakin mendekat pada-Nya, maka Tuhan akan semakin menguduskan diri kita karena kita ini adalah milik-Nya.

Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. (2 Kor. 5:9)

Saat kita hidup sungguh-sungguh sesuai dengan kebenaran Firman-Nya dan terus-menerus berusaha menjauhi dosa, akan mendatangkan perkenanan Tuhan bagi diri kita. Tuhan menghendaki agar setiap orang percaya menyadari hal ini; pentingnya melakukan ibadah yang sejati bukan sekedar rutinitas agamawi belaka. Apabila kita bisa memahami ibadah yang sejati adalah penyerahan tubuh kita kepada Tuhan, maka kita akan mempersiapkan diri kita sebaik mungkin dengan menjaga kekudusan dan berusaha selalu berkenan kepada-Nya. Bila Tuhan menerima tubuh kita ini sebagai ibadah yang sejati, saya percaya, Dia akan senantiasa menyertai kita, memberkati hidup kita, memakai kita sebagai alat-Nya, dan menyatakan kuasa-Nya dalam segala aspek hidup kita. Kesimpulan saya, ibadah adalah sebuah sarana penyerahan diri kita kepada Tuhan, sehingga menjadikan kita ini sebagai milik-Nya, yang akan mengalami kuasa penyertaan-Nya dalam hidup kita. See you in the greater glory!

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s