Archive for the ‘Daily Devotion’ Category

Dengar dan Taati Firman-Nya

Posted: January 10, 2015 in Daily Devotion

2015/01/img_5318.jpg
Hari ini, dalam saat menjalani doa puasa dalam gerakan doa puasa Sinode Gereja Mawar Sharon yang menjadi pokok renungan diambil dari Ibrani pasal 3:7-8. Tuhan menyingkapkan pengertian-pengertian yang indah sehingga saya merenungkannya hingga ke beberapa ayat berikutnya.
(7) Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya,
(8) janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun,
(9) di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya.
(10) Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku,
(11) sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.”

Surat kepada orang Ibrani ini ditujukan bagi setiap orang Kristen yang mulai mengalami goncangan dalam imannya. Saat ini adalah akhir zaman dan banyak orang Kristen mulai mengalami kemunduran dalam hidup rohaninya. Penulis Surat Ibrani ini menegaskan dan mengingatkan kembali pentingnya kehidupan spiritual kita sebagai orang Kristen. Pengertian 5 ayat di atas (kutipan dari Mazmur 95:7-11) dibahas di beberapa ayat berikutnya:
(12) Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup.
(13) Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan “hari ini”, supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa.
(14) Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula.

Di ayat 12, melalui Roh Kudus penulis Surat Ibrani mengingatkan kita agar mewaspadai supaya di hari-hari ini kita tidak memiliki sikap hati sebagai berikut:
1. hatinya jahat
2. tidak percaya
3. murtad dari Allah yang hidup.

Namun, bila masih bisa kita menikmati “hari ini”, berarti masih ada kesempatan untuk kita menerima nasihat dari Roh Kudus dengan mendengarkan suara-Nya. Roh Kudus akan mengarahkan agar kita berpegang teguh pada iman kepercayaan kita sampai kepada akhirnya. Iman kepercayaan kita apabila tidak kita renungkan kembali jangan-jangan bisa mengalami pergeseran nilai-nilai seiring berjalannya waktu. Bahkan, dengan banyaknya berkat, promosi, maupun pelayanan yang kita terima hingga saat ini pun tidak menjamin bahwa keyakinan iman kita akan semakin kuat. Keyakinan iman merupakan hal yang teramat mendasar dalam kehidupan kita sebagai murid Kristus. Ada baiknya kita renungkan kembali keyakinan iman kita dalam diri kita dengan mengakui bahwa Allah yang kita sembah adalah TRITUNGGAL yang terdiri dari pribadi Bapa, Tuhan Yesus, dan Roh Kudus. Kita memiliki Satu Allah dengan tiga pribadi dan tidak bisa mengakui sebagian pribadi saja. Pribadi Yesus Kristus dikandung oleh Roh Kudus dan dilahirkan dari seorang perawan yang bernama Maria. Yesus Kristus adalah sepenuhnya pribadi Allah dan sepenuhnya pribadi manusia. Yesus Kristus mengalami penderitaan, sengsara hingga di kayu salib, mengalami kematian dan bangkit di hari ketiga untuk menebus dosa umat manusia. Kita mengakui dengan iman yang teguh bahwa keselamatan di dalam Yesus hanya diperoleh semata-mata karena kasih karunia Allah, bukan karena usaha manusia. Bukan karena berapa banyaknya amal atau sumbangan kita, perbuatan sosial kita, bukan karena perbuatan baik kita yang kita usahakan agar lebih banyak dari perbuatan dosa kita.

Kemudian, dalam ayat ke-15 dituliskan: Tetapi apabila pernah dikatakan: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman”. Kata “mengeraskan hati” ini dapat kita peroleh pengertiannya dari ayat-ayat selanjutnya sebagai berikut:
(16) siapakah mereka yang membangkitkan amarah Allah, sekalipun mereka mendengar suara-Nya? Bukankah mereka semua yang keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa?
(17) Dan siapakah yang Ia murkai empat puluh tahun lamanya? Bukankah mereka yang berbuat dosa dan yang mayatnya bergelimpangan di padang gurun?
(18) Dan siapakah yang telah Ia sumpahi, bahwa mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Nya? Bukankah mereka yang tidak taat?
(19) Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka.

Dari ayat-ayat di atas, jelaslah bahwa orang yang mengeraskan hati akan membangkitkan amarah Allah karena mereka:
1. Berbuat dosa. Contohnya seperti: mencuri, menipu, terikat dengan pornografi, selingkuh, membenci, memfitnah, dan sebagainya.
2. Tidak taat. Contohnya seperti: tidak mengembalikan persepuluhan, tidak taat untuk menghadiri ibadah di gereja. Tuhan membisikkan di dalam hati kita agar mengampuni orang lain, namun tidak mau taat, dan sebagainya.
3. Tidak percaya, mulai dengan melakukan penyembahan terhadap kuasa-kuasa lain seperti patung, pergi ke dukun, paranormal, ramalan dengan kartu, tarot, bintang, memakai jimat, dan lain-lain.

Tujuan kita menaati Dia dengan mendengarkan suara-Nya adalah supaya kita bisa masuk ke tempat perhentian-Nya (bahasa Inggris – HIS Rest: tempat peristirahatan-Nya), suatu situasi kehidupan di mana semua janji Allah sudah digenapi dalam hidup kita, visi hidup kita dari Tuhan Yesus telah tercapai dan hidup kita tetap mempertahankan iman kepada YESUS! Tidak ada lagi yang mau kita raih dalam hidup ini sehingga kita bisa berkata seperti Paulus:
“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” ~ 2 Tim. 4:7 .

Bagaimana caranya masuk tempat perhentian? Khususnya dalam menjalankan doa puasa kita ini, kita melakukan tindakan sebaliknya agar tidak membangkitkan murka Allah dengan cara:
1. Bertobat dari segala dosa dan tindakan yang tidak berkenan kepada Tuhan.
2. Belajar taat saat Roh Kudus membisikkan perintah-Nya ke dalam hati nurani kita, dan
3. Belajar untuk semakin percaya kepada Yesus, tidak mengandalkan kuasa yang lain selain kuasa Tuhan Yesus.

Semoga renungan ini berguna bagi kita bersama. Selamat menjalani puasa se-Sinode Gereja Mawar Sharon! Kerendahan hati mendahului kehormatan. Tuhan Yesus memberkati!

Advertisements

Happy Easter 2014!

Posted: April 27, 2014 in Daily Devotion, Sermon
Tags: , , , ,

20140427-174952.jpg

Dari pembacaan ayat-ayat dalam Injil Yohanes pasal 20:19-22, ada makna Paskah yang perlu kita hayati dan renungkan bersama di tahun ini. Paskah adalah peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus dan di kala kita memperingatinya, kita belajar untuk semakin memahami makna berita Injil agar iman kita semakin bertumbuh dan menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Murid-murid Tuhan Yesus pada masa itu dirundung duka yang begitu mendalam, hati yang penuh dengan kesedihan, serta depresi karena mereka kehilangan Tuhan dan Guru yang telah mengajarkan kebenaran. Belum lagi, kebingungan melanda mereka semua karena setelah menempuh perjalanan ke kubur Yesus, mereka mendapati bahwa kubur tersebut telah kosong dengan kain kapan terletak di tanah dan kain peluh sudah tergulung tergeletak di samping. Di hari ketiga setelah kematian-Nya, Tuhan Yesus hendak menunjukkan kepada murid-murid-Nya bahwa Dia telah bangkit seperti yang pernah difirmankan-Nya sebelumnya bahwa Dia akan bangkit di hari ketiga dari antara orang mati; sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati (Yoh. 20:9).

Damai sejahtera
Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu, Tuhan Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” (ayat 19 dan 21). Kebangkitan-Nya mendatangkan damai sejahtera bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Damai sejahtera itulah yang menyebabkan murid-murid-Nya begitu bersukacita. Inilah yang Tuhan Yesus kehendaki dalam kehidupan saya dan Anda; agar damai sejahtera-Nya kita alami karena Dia sudah bangkit. Tidak ada lagi kekuatiran, rasa takut, keraguan maupun kebimbangan ketika kita dengan sungguh-sungguh beriman bahwa Tuhan Yesus telah bangkit! Kita memiliki Allah yang hidup. Faktanya adalah, sekalipun Dia telah mengalami kematian akibat menanggung sengsara untuk menebus dosa-dosa kita, namun tidak untuk seterusnya Dia mati. Kita akan menjadi orang paling mengenaskan selama hidup di dunia ini apabila Tuhan Yesus tidak pernah bangkit dari kematian. Namun, bersyukurlah karena Dia hidup! Kita memiliki Allah yang hidup untuk selama-lamanya dan Dia juga menyertai kita, mengerti akan pergumulan kita, menyediakan kebutuhan kita, senantiasa peduli ketika kita di dalam permasalahan, dan kuasa-Nya selalu tersedia saat kita menyerukan nama-Nya. Damai sejahtera yang diberikan-Nya kepada kita adalah damai sejahtera ilahi yang melampaui segala akal, dan damai sejahtera tersebut memelihara hati dan pikiran kita senantiasa dalam Kristus Yesus (Flp. 4:7). Tuhan Yesus bangkit karena hendak memberikan damai sejahtera-Nya kepada kita.

Pengutusan
Seusai Tuhan Yesus menyampaikan salam damai sejahtera-Nya, Dia berkata, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”. Makna dalam kebangkitan Kristus tersirat sebuah misi pengutusan bagi setiap kita sebagai murid-murid-Nya. Dengan jelas Tuhan Yesus mengatakan bahwa Bapalah yang mengutus-Nya, kini dengan kuasa kebangkitan-Nya Dia juga hendak mengutus kita. Sebagai ‘utusan’ memiliki arti bahwa kita ini menjadi perwakilan-Nya untuk menyampaikan kabar baik; keselamatan dan pengampunan dosa bagi setiap orang-orang yang terhilang. Bila Anda sungguh-sungguh hendak menghayati kebangkitan Kristus di dalam hidup ini, bukalah hati dan terimalah perintah-Nya yang mengutus kita untuk bersaksi dan memberitakan Injil keselamatan. Bisa jadi, kita diutus kepada keluarga kita sendiri, sahabat-sahabat kita, lingkungan kerja, rekan studi, masyarakat, bahkan hingga ke bangsa-bangsa. Berilah diri Anda diutus oleh-Nya dan beritakan bahwa Tuhan Yesus telah bangkit.

Roh Kudus
Di ayat 22 tertulis, “Ia mengembusi mereka dan berkata: ‘Terimalah Roh Kudus.'”. Tuhan Yesus hendak membekali setiap orang yang bersedia untuk diutus dengan Roh Kudus. Siapakah pribadi Roh Kudus ini? Dalam Roma 8:11 dijelaskan mengenai pribadi Roh Kudus sehubungan dengan kebangkitan Yesus sebagai berikut, “Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.”. Roh Kudus adalah salah pribadi Allah Tritunggal yang membangkitkan Tuhan Yesus dari antara orang mati! Kabar baiknya adalah… Roh Kudus juga berdiam di dalam kita, karena tanpa Roh Kudus di dalam kita, kita tidak mungkin berkata, “ya Abba, ya Bapa!” (Rom. 8:15). Melalui Roh Kudus di dalam kita, sebagai utusan-Nya kita dimampukan untuk melakukan perkara-perkara yang luar biasa dalam melayani-Nya, seperti tertulis dalam Injil Markus 16:17-18, “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

Terimalah damai sejahtera Tuhan Yesus, berilah diri Anda untuk diutus-Nya dan terimalah Roh Kudus dalam kehidupan Anda! Tuhan Yesus memberkati dan SELAMAT PASKAH!


20140406-001445.jpg

Shalom,
Memasuki bulan April 2014 ini yang menjadi sebuah dorongan kuat di dalam batin saya adalah untuk mengajak segenap jemaat GMS my home untuk berdoa. Saya yakin dan percaya, bahwa semua umat Tuhan pastilah berdoa. Namun, sangat besar kerinduan di dalam hati saya untuk sekali lagi mengingatkan jemaat untuk berdoa. Bukan sekedar doa-doa rutinitas yang kita panjatkan, doa yang sekedar didorong oleh kebutuhan saja, namun doa yang dilandaskan oleh kerinduan untuk senantiasa bersekutu intim dengan Roh Kudus sehingga senantiasa menikmati kasih karunia Tuhan Yesus yang berlimpah di dalam kasih Bapa. Menjelang diselenggarakannya acara Sumatra for Jesus pada bulan Mei 2014 mendatang, maka bulan April ini kita dedikasikan bersama sebagai bulan doa. Bagi kita semua yang telah memiliki kehidupan doa yang baik, tentunya akan lebih lagi kita tingkatkan. Namun, bagi yang merasa kehidupan doanya berantakan, baiklah menanggapi panggilan Tuhan di dalam bulan ini untuk kembali membangun mezbah doa.

Semua orang tentu ingin agar permohonan-permohonannya di dalam doa terjawab. Namun, doa bukanlah sekedar permohonan. Doa adalah hubungan. Untuk memulai suatu hubungan dengan Tuhan di dalam doa terkadang banyak orang mengalami kendala. Saya hendak meletakkan dasar hubungan dengan Tuhan dalam doa melalui renungan berikut ini di dalam 1 Yoh. 3:19-22.

1. Tenangkan hati
Ayat 19: Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah,
Untuk mengawali sebuah doa, tenangkan hati kita terlebih dahulu. Adakalanya hati kita begitu kacau, dipenuhi dengan berbagai macam pikiran-pikiran negatif, kekecewaan, bahkan sekalipun dipenuhi dengan kepuasan diri bisa menimbulkan tinggi hati, mengandalkan diri sendiri, dan akhirnya timbul rada malas untuk berdoa. Terimalah panggilan dari Sorga untuk sungguh-sungguh berdoa. Tenangkan diri, fokuskan hati, pikiran, dan seluruh aktivitas kita hanya kepada Tuhan.

2. Bebas dari rasa tertuduh
Ayat 20: sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu.
Di saat berusaha fokus kepada Tuhan dan menenangkan hati, apa yang Anda rasakan? Seolah-olah kita mulai mendengar ada suara-suara yang timbul dari dalam hati dan melontarkan tuduhan demi tuduhan yang mengatakan bahwa kita tidak layak, pecundang, munafik, pemalas, pendosa, dan segala hal yang negatif ditujukan kepada kita. Fokusnya bukan kepada diri kita sendiri. Kebenarannya adalah kita adalah manusia yang penuh dengan kelemahan, kekurangan, dan masih memiliki potensi untuk berbuat dosa. Perhatikan bahwa di ayat ini tertulis, ‘Allah adalah lebih besar dari pada hati kita’. Serahkan semua tuduhan-tuduhan dari dalam hati kepada Allah yang besar, berfokuslah kepada Dia yang melebihi tuduhan-tuduhan hati kita dan mulailah untuk membuka diri bagi-Nya. Akui segala dosa dan kelemahan, maka Dia akan mengampuni kita.

3. Mendekat kepada Tuhan
Ayat 21: Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah,
Sekarang, tuduhan-tuduhan dari dalam hati kita tidak lagi terdengar apabila kita telah bersungguh-sungguh menerima kasih karunia pengampunan-Nya. Dengan penuh keberanian, dekatkan diri kita kepada Tuhan. Ini adalah sebuah undangan spesial bagi Anda! Dia telah menantikan Anda untuk berdoa, membangun hubungan yang intim bersama-Nya!

4. Berkenan kepada-Nya
Ayat 22: dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.
Bagian yang terakhir ini mungkin yang paling menyenangkan bagi Anda – ‘memperoleh dari Tuhan untuk apa saja yang kita minta’? Tentu saja hal ini akan terjadi apabila kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya. Sekali lagi, doa bukanlah sekedar permohonan. Yang terutama dalam sebuah doa bukanlah daftar permohonan kita sehingga pribadi kitalah yang menjadi sorotan utamanya. Di dalam doa, bagaimana Anda membangun hubungan dengan Tuhan, itulah yang terpenting. Bedakan antara ‘berdoa’ dan ‘kehidupan doa’. Saat Anda ‘berdoa’, inilah waktu yang secara khusus Anda berikan kepada Tuhan untuk lebih lagi mengenal-Nya dan mengerti kehendak-Nya. Namun, sebuah ‘kehidupan doa’ adalah ketika Anda menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya. Bukan terkabulnya sebuah permohonan doa yang kita utamakan sewaktu kita berdoa, namun kejarlah perkenanan Tuhan, dengan berbuat apa yang menyenangkan hati-Nya… percayalah bahwa Dia sanggup menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan… bahkan melebihi yang kita harapkan serta melampaui yang dapat kita pikirkan.

Selamat menjalani hari yang luar biasa dengan kehidupan doa yang berkenan di hadapan Tuhan Yesus!

Welcome 2014

Posted: January 6, 2014 in Daily Devotion
Tags: , , , , ,

20140222-091249.jpg

Happy New Year 2014, selamat memasuki tahun yang baru dengan pengharapan yang senantiasa diperbaharui dalam Tuhan Yesus Kristus. Hendaklah kita senantiasa di dalam kondisi menanti-nantikan Roh Kudus dalam kehidupan kita, karena di dalam penantian akan Dia, ada kekuatan yang baru! Inilah yang saya renungkan sewaktu pergantian tahun. Secara sederhana, agar mudah mengingatnya untuk sepanjang tahun saya menyingkatnya sebagai “3S”, mari kita pelajari.

1. Selaras dengan Firman-Nya
“Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” (Yos. 1:8)
Untuk menempuh perjalanan hidup sepanjang tahun ini, biarlah Firman Tuhan yang menuntun kita. Keputusan yang hendak kita ambil dan tindakan kita hendaknya selaras dengan Firman Tuhan. Firman Tuhan akan membimbing kita untuk menikmati keberhasilan demi keberhasilan dan juga keberuntungan.

2. Sepakat
Kesepakatan perlu dibangun dan disengaja, baik dengan pasangan (suami-istri), orang tua dan anak, keluarga, anggota CG, rekan kerja, rekan bisnis, maupun atasan dan bawahan. Kerjakan visi bersama di 2014 ini, sepakat dengan visi gereja, khususnya saat kita memasuki periode kedua dari “the year of Maturity and Multiplication”. Kematangan dan Multiplikasi merupakan visi Tuhan bagi kehidupan Anda. Sepakat dengan Firman-Nya, maka Dia yang akan menggenapinya dalam kehidupan kita. Bukan sekedar sibuk dengan urusan rumah tangga atau pribadi saja, namun prioritaskan keluarga kita untuk dapat melayani Tuhan dan membangun Rumah-Nya – membangun visi gereja – agar perkenanan Tuhan melimpah dalam kehidupan kita.

3. Semangat
Semangat bukan sekedar perasaan, namun dinyatakan melalui tindakan dan perkataan. Dalam Injil Yoh. 14:26 tertulis, “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Kata ‘Penghibur’ dari bahasa aslinya tertulis sebagai ‘Parakletos’ yang memiliki: pendamping, pembela, pemberi nasihat, pendukung, pemberi semangat! Roh Kuduslah pemberi semangat dalam hidup kita sebagai orang percaya.

Saya sedikit pengalaman pribadi mengenai hal ini. Hampir sepanjang waktu saya selalu berjumpa dengan orang lain yang berbeda pandangan, berbeda pola pikir maupun pola kerja dan seringkali terlibat dalam kerja sama. Dalam beberapa situasi, saya akan menemukan hal-hal yang tidak memuaskan dari hasil kerja mereka. Mulanya, mulai banyak masukan-masukan saya berikan dengan nada sinis dan menunjukkan ketidakpuasan saya. Hal ini berlangsung terus-menerus namun hingga suatu waktu saya tidak menemukan perubahan apapun. Hasil yang didapat tidak memuaskan, bahkan sempat mengecewakan. Setiap kali saya memikirkannya, selalu menjadi ganjalan di hati dan perasaan menjadi berbeban berat. Akhirnya, saya bawa di dalam doa dan Roh Kudus – Sang Penghibur; Sang Pemberi Semangat – memunculkan kata sederhana ini dari dalam batin saya, “Semangat… semangat!!!”

Saya mempelajari hal yang baru. Di saat kita menunjukkan ketidakpuasan kita terhadap kinerja seseorang dan hasil karya orang lain kemudian kita menyampaikannya dengan emosional, sebenarnya kita sedang membagikan emosi yang negatif. Emosi negatif yang diterima oleh orang tersebut akan mempengaruhi dirinya sehingga apapun yang dilakukannya menjadi tidak lebih baik. Namun, kali ini saya mengubah perilaku saya. Roh Kudus telah memberi semangat bagi saya. Setiap kali saya berjumpa dengan rekan-rekan kerja saya, kali ini saya tidak menunjukkan ketidakpuasan terlebih dahulu terhadap hasil yang ada, saya memberikan senyuman dan benar saja… tetap saja ada hal-hal yang tidak memuaskan menurut saya dan… saya memberi mereka semangat! Semangat untuk memperbaiki pekerjaan yang tidak memuaskan, semangat untuk bekerja lebih rajin, semangat untuk lebih rapi, lebih bersih dan semangat untuk melakukan yang terbaik! Hasilnya, saya tidak lagi membagikan emosi yang negatif, melainkan emosi positif yang saya bagikan kepada mereka rupanya mendorong mereka untuk melakukan pekerjaan dengan hasil yang lebih baik, bahkan… TERBAIK!

Selaras, Sepakat, Semangat dalam memasuki dan menjalani 2014! See you in the greater glory!

Yang Terutama

Posted: December 8, 2013 in Daily Devotion
Tags: , , ,

20131208-015134.jpgSebentar lagi kita akan mengakhiri tahun 2013; satu tahun lagi akan segera berlalu. Di penghujung tahun, biasanya setiap orang akan melakukan perenungan pribadi untuk mengevaluasi apa yang telah dicapai tahun ini ini, harapan-harapan apa saja yang belum tercapai, hingga merencanakan apa yang hendak dilakukan tahun depan. Sebelum kita terlalu sibuk untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawab kita hingga tutup tahun mendatang, mari luangkan waktu sejenak untuk membaca renungan Firman Tuhan berikut.

“Jawab Yesus kepadanya: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mat. 22:37-39).

Pertama, kita hendaknya mencermati; apakah sepanjang tahun ini kita telah mengerjakan kehendak TUHAN sepenuhnya bagi kehidupan kita atau belum. Apa yang kita kerjakan semasa hidup di dunia ini bukanlah semata-mata mengejar perkara-perkara duniawi belaka, sebab suatu saat nanti semua orang harus mempertanggungjawabkan kehidupannya di hadapan TUHAN. Tuhan memiliki rencana yang mulia bagi Anda saat Anda diciptakan-Nya untuk hidup di bumi ini. Untuk mengenal kehendak-Nya di dalam kehidupan kita, hendaklah kita membangun hubungan yang intim secara pribadi dengan TUHAN. Seringkali, banyak orang melupakan hal ini sehingga hanya memperhatikan perkara-perkara yang duniawi sehingga mulai meninggalkan kehidupan spiritualnya. Padahal, kehidupan rohani merupakan inti kehidupan manusia; segala sesuatu yang berusaha diperoleh seperti uang, harta dan kekayaan, pangkat maupun jabatan tinggi hanyalah merupakan tambahan belaka dalam hidup ini. Mari kita fokuskan diri kita untuk kembali menyelami kehendak Tuhan. Luangkan waktu lebih lagi bersama Tuhan dan belajar untuk semakin mengasihi-Nya dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dan dengan segenap akal budi.

Kedua, baiklah kita memperhatikan; apakah kita sudah menjalin hubungan yang baik dengan sesama – baik dengan keluarga maupun rekan-rekan kita. Hubungan dengan sesama tidak dapat ditukar dengan uang dan kekayaan. Terkadang, demi memperoleh keuntungan lebih, seseorang justru memilih untuk merusak hubungan dengan seseorang. Dalam menjalin hubungan dengan seseorang, kenakanlah perintah Tuhan yang mengajarkan kita untuk mengasihi; kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Apabila kita mulai menyadari ada seseorang yang pernah kita kecewakan, merasa sakit hati dengan pernyataan kita, atau mungkin kita pernah menyimpan dendam dengan orang lain… marilah kita mulai memikirkan langkah untuk berdamai. Dalam Injil Matius 5:25 dituliskan demikian, “Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.”

Dengan memahami perintah Tuhan mengenai mengasihi Allah dan mengasihi sesama, akan lebih mudah bagi kita untuk memprioritaskan mana ‘yang terutama’ dalam hidup ini. Yang terutama dalam kehidupan ini bukanlah kepentingan pribadi kita yang harus terwujud, bukan perkara-perkara duniawi yang harus kita kejar, melainkan kenehdak Tuhanlah yang harus terlaksana. Selamat membuat resolusi di akhir tahun ini. See you in the greater glory!