Posts Tagged ‘anak’


20131006-125408.jpg

Bulan April tahun 2012 yang lalu, Ibadah Jumat Agung yang diselenggarakan GMS my home mempersembahkan sebuah creative preaching dengan menampilkan Pdt. Robert Tedjasukmana, S.Sn. sebagai ‘anak bungsu’ sekaligus menyampaikan salah satu perumpamaan Tuhan Yesus yang terkenal tentang “Anak yang Hilang”. Dengan tidak mengubah inti ceritanya berdasarkan catatan Injil yang telah ditulis oleh Lukas, Creative Ministry ‘menghidupkan’ perumpamaan ini menjadi sebuah penampilan semi-drama di panggung, tentu saja dengan penyesuaian latar belakang masa kini. Untuk menarik perhatian, acara ini diberi judul “LOST” atau “terhilang”. Terinspirasi dari perkembangan creative preaching yang dipadukan dengan drama modern, sinematografi serta pagelaran panggung, Pdt. Robert bekerja sama dengan Creative Ministry berusaha menghidupkan perumpamaan ini menjadi sebuah penampilan yang menarik dengan tetap menekankan pesan Injil.

“Petualangan anak yang hilang adalah sebuah imajinasi sorga dan segenap tim Creative Ministry telah mewujudkannya perumpamaan dengan cara yang unik, kreatif, dan luar biasa!”

Melalui proses ‘brainstorming’ antara Pdt. Robert dan Creative Ministry team, dikisahkan bahwa anak bungsu ini berasal dari sebuah keluarga yang sangat kaya raya, sehingga dekorasi yang dibangun di panggung gereja juga menampilkan nuansa ruang tamu yang mewah. Selanjutnya, pemilihan karakter-karakter pendukung seperti bapak, ibu, si sulung, juragan babi, pelayan rumah, dan lain-lain pun dilakukan serta mulai berlatih rutin sekitar 1 bulan sebelum acara untuk bisa mewujudkan penampilan yang ada. Mata dari segenap jemaat yang hadir dalam acara ini seolah tidak sempat berkedip karena menyaksikan sebuah penyampaian Firman Tuhan yang berbeda dari biasanya. Dimulai dari anak bungsu yang meninggalkan rumah dan berfoya-foya, menikmati gaya hidup pesta pora, hingga akhirnya kehabisan uang dan suasana menjadi sangat mencekam saat dihajar oleh segerombolan preman. Bahkan ada adegan yang cukup mengundang tawa dari segenap hadirin di saat sinar lampu menyorot juragan babi yang sedang memotong daging. Dengan logat Hokkien yang khas disertai kata-kata yang kasar terhadap si bungsu, sungguh menjadikan karakter juragan babi ini begitu hidup.

Pelayanan di gereja tidak lagi terlepas dari seni dan kreativitas. Penyampaian pesan melalui mimbar gereja tidak lagi menjadi hal yang biasa-biasa saja, namun dengan adanya Creative Ministry Department di GMS my home akan menjadikan penyampaian sebuah pesan begitu menarik dan berkesan. Tuhan telah memberikan kreativitas dalam kehidupan manusia yang diciptakan-Nya. Mengembangkan seni dan kreativitas dalam menyampaikan pesan Injil merupakan salah satu jenis pelayanan yang unik. Dengan menggali potensi dari setiap jemaat serta mewujudkannya dalam kreativitas yang tanpa batas akan sangat mendukung sebuah gereja lokal dalam mencapai tujuannya.

Tahun ini, dengan tetap mengacu pada alur cerita yang sama dari perumpamaan tentang anak yang hilang, Creative Ministry bekerja sama dengan penggembalaan EagleKidz kembali menampilkan Pdt. Robert dalam KKR “LOST” yang dikhususkan bagi anak-anak berusia 4-12 tahun. Tentu saja, penampilan Pdt. Robert dan Creative Ministry team saat membawakan “LOST” kali ini akan disesuaikan dengan segmen anak-anak. Gaya bahasa dan penampilan di panggung juga akan diarahkan semakin menarik perhatian dan menekankan penyampian Firman Tuhan dengan gaya yang lucu, menarik, dan bahasa yang sederhana. Ingin tahu lebih lanjut mengenai KKR “LOST ini”? Anda bisa menghubungi contact person EagleKidz dengan ibu Novi di (061) 4501295 atau (061) 4501297 dan bawalah anak-anak Anda ke KKR “LOST” ini pada hari Jumat, tanggal 18 Oktober 2013 mendatang di Ruang Ibadah Utama GMS my home – Sun Plaza lt. Roof, Medan. Tuhan Yesus merindukan setiap anak-anak untuk datang kepada-Nya, seperti yang tertulis dalam Injil Matius, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mat. 19:14). Tuhan Yesus memberkati!

Advertisements

20130918-155131.jpg

Setelah sukses dengan KKR Jumat Agung bertema “LOST” atau ‘terhilang’ pada 6 April 2012 yang lalu, kali ini Creative Ministry dan penggembalaan EagleKidz Gereja Mawar Sharon my home Medan hendak menampilkan sebuah KKR yang khusus ditujukan bagi anak-anak berusia 4 hingga 12 tahun dengan tema yang sama. Kali ini, “LOST” dikemas dengan begitu kreatif, menarik, dan atraktif bagi anak-anak. Jalur cerita dari acara KKR ini diambil dari salah satu perumpamaan Tuhan Yesus yang sangat terkenal dari Injil Lukas pasal 15 mengenai anak yang hilang. Sekalipun dikemas bagi anak-anak, tokoh anak laki-laki yang hilang tetap diperankan oleh Pdt. Robert Tedjasukmana sekaligus membawakan creative preaching. Dengan didukung oleh Silvia Halim, Bapak Jaya Ng, Bapak Chalik Zhang, Edy Saputra, Ibu Yan Phing, Suhartono dan lain-lain tentunya menjadikan penampilan “LOST” ini akan semakin menarik dan mudah disimak oleh anak-anak.

Melalui KKR Anak “LOST” ini, kami percaya bahwa banyak jiwa-jiwa yang ‘terhilang’ dari kalangan anak-anak yang masih berusia 4 hingga 12 tahun akan ditemukan kembali dan berjumpa dengan Tuhan Yesus sebagai juruselamat pribadi. KKR ini diselenggarakan pada hari Jumat tanggal 18 Oktober 2013 pada pukul 19.00 WIB di mainhall GMS my home, Sun Plaza lt. 4C-17A (Roof) Jln. H. Zainul Arifin no. 7, Medan. Jangan lewatkan kesempatan ini untuk mengajak anak-anak Anda, mereka yang ‘terhilang’, maupun yang belum mengenal kasih Bapa dalam usia yang masih relatif kecil. Tuhan Yesuspun mengasihi anak-anak. Biarkan mereka datang kepada-Nya dan mengalami perubahan hidup!


Hari Jumat, 6 April 2012 merupakan hari yang istimewa karena segenap umat Kristiani mengadakan peringatan Jumat Agung, peristiwa pengorbanan Tuhan Yesus Kristus hingga wafat di kayu salib. Kali ini, Gereja Mawar Sharon ‘my home’ menyelenggarakan ibadah Jumat Agung dengan menyajikan tema “LOST” atau “TERHILANG”. Acara ini dihadiri sekitar 2700 jemaat yang terbagi dalam tiga kali ibadah.

Pujian dan penyembahan kepada Tuhan sebagai bentuk ucapan syukur, pengagungan dan penghormatan dinaikkan dengan penuh semangat oleh setiap jemaat yang hadir. Dalam acara ini, saya menyampaikan pesan Tuhan dalam peringatan Jumat Agung untuk mengenang peristiwa kematian Yesus di kayu salib sekitar 2000 tahun yang lalu. Tema “LOST” ini diinspirasikan dari Injil Lukas 15:11-22, menceritakan salah satu perumpamaan Tuhan Yesus yang sangat terkenal. Hari ini, saya dan segenap my home creative ministry berusaha ‘menghidupkan’ perumpamaan tersebut dalam bentuk kotbah dan penampilan pertunjukan di panggung.

Saya membuka kisah ini dengan menceritakan seorang bapak yang memiliki dua orang anak laki-laki. Saya menceritakan perumpamaan itu dari sudut pandang anak bungsu dari bapak tersebut. Didukung dengan dekorasi yang bernuansa ruang tamu sebuah rumah, saya mengisahkan kehidupan anak ini yang bergelimpangan harta, hidup dalam kemewahan, dan apapun yang diperlukan selalu terpenuhi. Sayangnya, sebagai seorang anak, saya tidak puas dengan keadaan seperti itu sehingga terus-menerus saya berusaha untuk membujuk sang ayah untuk membagi harta kekayaan yang seharusnya menjadi hak saya. Karena hati sang ayah begitu mengasihi anak-anaknya, akhirnya diapun setuju untuk membagi harta kekayaannya dan sayapun menerima bagian milik saya.

Dengan segera, saya menjual segala harta benda dan kekayaan yang dimiliki kemudian bepergian ke luar negeri. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang anak muda yang tiba-tiba menjadi seorang yang sangat kaya raya? Anak muda ini mulai berfoya-foya dan menghabiskan uangnya, katakanlah dengan membeli gadget canggih terbaru, mengenakan fashion model terkini dan membeli segala barang-barang mewah yang mahal. Bersama dengan teman-teman lainnya, anak muda ini menghabiskan waktunya untuk berjudi, ke diskotik, main perempuan, dan mulai terikat dengan obat-obatan terlarang. Semua harta kekayaan dihabiskan dengan cara yang boros sehingga akhirnya anak ini menjadi melarat. Gaya hidup anak bungsu ini ditampilkan begitu rupa oleh performance creative ministry sehingga jemaat yang hadir pun dapat membayangkan maksud yang hendak disampaikan Tuhan Yesus dalam perumpamaan tersebut. Untuk sementara, ketika hidup seseorang sudah jauh dari Bapa dan hidup dalam dosa, seolah-olah kesenangan duniawi begitu nikmat untuk dinikmati…. hingga akhirnya ketika kehabisan uang, anak ini mulai melarat. Tidak satupun yang mau berteman dengannya.

Dalam perumpamaan tersebut dikisahkan, akhirnya negeri itu mengalami krisis yang cukup parah sehingga ditimpa bencana kelaparan. Dalam kondisi melarat, jatuh miskin akibat gaya hidup foya-foya dan ditinggalkan teman-temannya, saya memerankan kondisi anak muda ini yang mulai berusaha untuk mencari pekerjaan. Susah memang mencari pekerjaan di tengah situasi sulit dan krisis ekonomi yang dialami sehingga sekalipun berusaha untuk mencari pekerjaan demi pekerjaan, selalu ditolak. Kondisi menjadi semakin gawat ketika muncul sekelompok orang tak dikenal mulai mencari-cari kesempatan untuk merampok anak muda ini. Apapun yang dimiliki, sekalipun sudah tidak punya uang lagi… semuanya dijarah! Bukan itu saja, bahkan dengan tidak segan-segan preman-preman ini memukul tanpa ampun sehingga babak belur dan membiarkan saya tergeletak tanpa daya.

Suasana hening sejenak… sambil menghela nafas, segenap jemaat yang terpaku menyaksikan pertunjukan di panggung menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Keheningan dipecahkan dengan suara sayatan pisau…. Ada seorang juragan babi yang rupanya dari kejauhan sedang memotong-motong daging babi. Anak muda ini terkesiap dan memandang kepada juragan tersebut dengan penuh pengharapan. Paling tidak, saya berusaha untuk mendekati juragan ini dan memohon dengan sangat agar diberikan sebuah pekerjaan untuk dapat bertahan hidup. Sekalipun disambut dengan nada yang keras dan kasar, paling tidak juragan babi ini memberikan pekerjaan untuk menjaga babi di ladangnya. Juragan babi ini diperankan dengan sangat baik oleh Bapak Jaya Ng, dengan bahasa dan logat ‘Hokkien’ yang cukup kental saat menyuruh saya bekerja di kandang babi membuat suasana menjadi segar dan hidup.

Mulailah saya tinggal di ladang tersebut untuk menjadi penjaga babi, memelihara babi, membersihkan babi beserta kandangnya sehingga harus mengalami hidup yang benar-benar melarat serta penuh penderitaan. Inilah buah kehidupan yang dialami akibat dosa… terjebak dalam kubangan dosa! Sama seperti kondisi di kandang babi yang kotor, jorok, bau… demikian pula keadaan kita ketika terikat dengan dosa. Dosa membuat kehidupan kita menjadi begitu menjijikkan, najis, kotor, dan penuh dengan cela. Saat kita berusaha untuk meninggalkan kehidupan yang terikat dosa, apa daya kita tidak sanggup apabila melakukannya dengan kekuatan kita sendiri! Setiap kali kita berusaha melangkah keluar dari dosa, dosa itu kembali menarik kehidupan kita; karena kita sedang terikat dengan dosa yang suatu saat akan membuahkan maut!

Di kala kelaparan, juragan babi ini dengan seenaknya melemparkan makanan-makanan sisa untuk menjadi makanan bagi ternak babi tersebut ke kandang sementara saya tidak mendapatkan apa-apa. Sambil memelas dengan sangat untuk meminta makanan karena kelaparan, juragan babi justru marah-marah dan menolak untuk memberikan makanan. Bahkan, sekalipun saya memohon untuk bisa makan dari ampas makanan babipun tidak diberikannya. Sebuah situasi yang paling tidak nyaman di kala kelaparan melanda, sementara saya harus tinggal di tempat yang paling hina – sebuah titik terendah dalam kehidupan seseorang!

Itulah keadaan yang dialami ketika kehidupan seseorang terikat dengan dosa. Seolah-olah semua kesulitan hidup yang dialami tidak ada penyelesaian maupun jalan keluarnya. Mungkin kondisi yang kita hadapi saat ini tidak separah yang dialami anak bungsu tersebut sehingga harus mengalami penderitaan dan kemelaratan. Namun, inilah kondisi kerohanian seseorang yang hidup dalam dosa, yaitu tidak dapat mengalami terobosan apapun dalam hidup sehingga apapun yang berusaha dilakukan selalu mengalami kerugian dan kegagalan.

Ayat ke-17 dari Injil Lukas pasal 15 merupakan sebuah titik balik dari kisah anak bungsu ini. Anak ini mulai menyadari keadaannya. Saya merindukan suasana di kala masih berada di rumah bapa, ketika semua fasilitas dan kenyamanan hidup masih dapat diraih. Ketika membandingkan diri dengan para pegawai upahan orang tua yang berlimpah dengan makanan dan minuman, sedangkan dalam kondisi sekarang saya justru kelaparan hingga hampir mati… akhirnya saya memutuskan untuk pulang. Saya menggambarkan kerinduan anak bungsu ini untuk kembali kepada bapa dengan mengilustrasikannya dalam sebuah film singkat, di kala kehidupan dari masa kecil hingga beranjak dewasa senantiasa mengalami kelimpahan berkat dari bapa.

Ya! Saya harus kembali kepada bapa! Saya harus pulang! Namun, keragu-raguan mulai muncul di dalam hati tatkala merasa tidak layak, apalagi dipenuhi rasa bersalah karena telah meninggalkan rumah bapa dan menikmati hidup dalam dosa yang sia-sia. Saya mempersiapkan sebuah kalimat untuk disampaikan kepada bapa seandainya dapat berjumpa kembali, saya akan berkata kepadanya, “Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa…” (Lukas 15:18-19).

Saya mengajak segenap jemaat yang hadir untuk merenungkan kembali keadaan rohani dalam batin masing-masing. Sekalipun saat ini tidak benar-benar dalam kondisi yang susah seperti di kandang babi, ataupun masih bisa menikmati dosa dalam kesenangan-kesenangan duniawi seperti perjudian, perselingkuhan, mabuk, pesta pora, dan lain-lain namun kondisi hati kita bisa saja ‘sejorok’ kandang babi yang bau tersebut karena juga dipenuhi pikiran-pikiran jahat maupun percabulan, perzinahan, dan kepahitan. Ajakan untuk meninggalkan kandang babi ini saya tujukan bagi mereka yang ‘terhilang’. Performance yang ditampilkan kali ini bukanlah sekedar menceritakan perumpamaan yang Yesus ajarkan, namun menceritakan kondisi hati dari beberapa pengunjung hadir saat ini. Ketika saya dan segenap tim creative ministry membawa perumpamaan Tuhan Yesus mengenai “anak yang hilang” menjadi ‘hidup’, beberapa pengunjung yang hadir mulai mengerti; bahwa merekalah yang dimaksudkan dalam perumpamaan tersebut.

Dari sekian banyak kehadiran di acara ini, setiap jiwa-jiwa yang benar-benar ‘terhilang’ mulai meresponi untuk membuka hatinya kepada kasih Bapa. “Untuk meninggalkan kubangan dosa yang begitu jorok, kotor, dan hina seperti kandang babi ini, dibutuhkan kekuatan kasih karunia Tuhan, karena setiap orang yang berusaha dengan kekuatannya sendiri untuk meninggalkan dosa justru akan semakin terseret dan jatuh ke dalam dosa yang lebih dalam…” demikian saya ungkapkan di tengah-tengah jemaat yang sangat antusias menyimak Firman Tuhan. Kita tidak bisa meninggalkan dosa-dosa kita dengan mengandalkan kekuatan kita sendiri karena itu kita membutuhkan kekuatan kasih karunia Tuhan! Di kala kita mulai melangkah, percayalah Tuhan akan memberi kekuatan untuk membuat Anda kembali pada-Nya!

Saya memutuskan untuk kembali pulang kepada bapa sekalipun harus menempuh jarak yang begitu jauh. Sepanjang perjalanan yang kita tempuh untuk kembali kepada Bapa mungkin tidaklah mudah… karena dosa senantiasa menggoda kita dan menyeret ke dalam ikatan yang mendatangkan maut dan penderitaan. Dalam Injil Yohanes 14:6 dituliskan perkataan Tuhan Yesus, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Untuk seseorang datang kepada Bapa, harus menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat atas hidupnya. Kisah ini saya akhiri dengan berjalan pulang sambil mengitari jemaat yang hadir, dan berbalik kembali ke rumah bapa; sementara dari kejauhan pribadi Bapa yang baik itu telah menantikan kedatangan setiap mereka yang terhilang.

Diiringi lagu pujian “So You Would Come” (Hillsong Australia) yang memiliki lirik “Come to the Father…” saya mengundang segenap jiwa-jiwa yang merasa dirinya ‘terhilang’ dari hadapan Bapa untuk maju ke depan dan menerima kasih Bapa dengan jalan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. Hari ini, sekitar 230 orang mengalami pemulihan hubungan dengan Bapa Sorgawi dan 43 orang memberi dirinya dibaptis selam untuk memeteraikan pertobatan mereka di hadapan Tuhan. Mereka yang terhilang telah ditemukan kembali. Saya percaya, Bapa di Sorga pun bersukacita, bahkan malaikat-malaikat-Nya pun bersorak-sorai karena banyak jiwa yang diselamatkan dalam Kristus Yesus Tuhan. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus!

Posted with WordPress for BlackBerry.


Jemaat Youth GMS my home mengadakan youth camp yang kali ini temanya terdengar rada unik; “L Hora” yang diambil dari bahasa Yunani, L merupakan angka lima puluh sedangkan hora berarti jam. Lima puluh jam dalam rangkaian kegiatan youth camp ini diharapkan dapat membakar kembali semangat anak-anak muda agar berapi-api kembali bagi Tuhan Yesus. Lima puluh jam ini akan menjadi waktu yang menentukan sehingga pemulihan dan terobosan hidup akan terjadi secara luar biasa. Retreat ini memang diatur sedemikian rupa oleh panitia sehingga keseluruhan acara berlangsung 50 jam, dalam waktu 3 hari 2 malam di Gelora Kasih, Sibolangit pada tanggal 21-23 Juni 2011.

Dengan tagline “Cause time never waits” sekitar 211 anak-anak muda hadir sebagai peserta youth camp kali ini. Saya mendapat kesempatan untuk mengisi salah satu sesi dalam youth camp ini, yaitu sesi “Hati Bapa”. Dalam kitab Maleakhi 4:5-6 tertulis, “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.”. Mengakhiri Perjanjian Lama, tersirat kehendak Tuhan kerinduan-Nya akan pemulihan hubungan antara generasi bapa dengan generasi anak agar bumi tidak terkena murka-Nya.

Hari-hari ini banyak anak-anak muda yang kehilangan figur seorang bapa yang baik, sekalipun ayah mereka masih hidup dan tinggal bersama mereka. Anak-anak muda yang dilayani dalam youth camp ini sebagian besar mengatakan tidak pernah mendengar pernyataan “Aku mencintaimu” dan kurang mendapat sentuhan fisik seperti pelukan dari ayah mereka. Bahkan, ketika saya menanyakan apakah ayah mereka pernah meminta maaf kepada anaknya, hanya sekitar 20 anak yang menjawab pernah. Anak-anak muda yang terlanjur disakiti hatinya oleh ayah mereka ini sebenarnya ingin sekali dipeluk oleh ayah mereka sebagai ungkapan kasih sayang dan ingin mendengar ayah mereka mengatakan cinta kepada mereka.

Hari ini saya berhadapan dengan sekitar 211 anak muda dan mengatakan kepada mereka bahwa lewat youth camp ini bukan hati ayah mereka yang diubahkan, namun hati anak-anak muda ini terlebih dahulu yang diubahkan. Sekalipun hati mereka telah disakiti, bukan menjadi sebuah alasan untuk membenci ayah mereka. Para generasi ayah kita adalah produk masa lalu, mungkin mereka juga menyimpan kepahitan, kekecewaan, bahkan kebencian dengan orang tua mereka pula sehingga hari ini, terbentuklah karakter dan pribadi ayah yang dirasa begitu jauh dengan anaknya.

Rusaknya hubungan antara anak dengan bapa jasmani mereka membuat figur Allah Bapa menjadi ‘kabur’ dalam diri anak-anak muda ini sehingga mereka menjadi pribadi yang haus akan kasih sayang. Dalam Yohanes 14:8 tertulis, “Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.”“. Filipus mewakili kita semua dengan meminta kepada Tuhan Yesus agar menunjukkan pribadi Bapa kepadanya, karena dengan mengenal pribadi Bapa itulah hati kita dipuaskan.

Di akhir sesi ini saya mengajak seluruh peserta youth camp untuk melepaskan pengampunan kepada ayah mereka di hadapan Tuhan. Selain itu, setelah youth camp ini berakhir dan di saat semua anak akan kembali ke orang tuanya, saya meminta agar mereka melakukan rekonsiliasi, baik dengan cara meminta maaf, memeluk mereka, mengutarakan terima kasih, dan sebagainya. Banyak anak muda meneteskan air mata saat saya mendoakan mereka dan mengatakan bahwa Allah Bapa sungguh mengasihi mereka. Saya berusaha mewakili para ayah mereka dan memohonkan maaf kepada mereka atas kesalahan yang pernkah dilakukan ayah mereka selama ini. Air mata anak-anak muda semakin tidak terbendung sehingga semakin banyak yang menangis mengalami jamahan kasih Allah Bapa.

Saya senang sekali, youth camp “L Hora” ini tidak hanya terdiri dari sesi-sesi ibadah saja, namun juga ada beberapa permainan. Salah satunya adalah lomba yel-yel antarkelompok dan permainan outdoor. Kegembiraan dan keceriaan menghiasi wajah setiap peserta. Gunakan waktu yang ada untuk melakukan yang terbaik bagi Tuhan Yesus. Jadikan 50 jam di youth camp “L Hora” ini sebagai waktu yang paling berharga sebagai titik balik kebangunan rohani dalam hidupmu! Revival for youth!

Posted with WordPress for BlackBerry.

Happy Father’s Day 2011

Posted: June 19, 2011 in Event
Tags: , , , ,

Minggu, 19 Juni 2011 dalam ibadah umum GMS my home, merupakan hari yang begitu luar biasa. Di tengah-tengah ibadah, anak-anak dari penggembalaan EagleKidz maju ke depan panggung dan menyanyikan sebuah lagu Mandarin yang dilantunkan sebagai ungkapan rasa cinta kepada orang tua. Lagu ini berjudul “Sui zhe sui yue Zeng Zhang de ai” atau dalam bahasa Inggrisnya “Ever growing love” yang berarti cinta yang makin bertumbuh. Isi lagu ini merupakan ungkapan syukur anak-anak karena memiliki ayah dan ibu yang baik dan memperhatikan mereka.

Dengan gaya anak-anak yang begitu lucu dan polos, mereka melantunkan lagu tersebut dengan penuh semangat. Bukan hanya menaikkan lantunan lagu yang menarik, anak-anak EagleKidz juga menari dengan gerakan khas anak-anak yang begitu manis sehingga membuat sebagian orang tua terharu.

Happy Father’s Day untuk semua kaum ayah di manapun Anda berada. Hari ini, saya teringat sebuah ayat dalam Firman Tuhan yang tertulis demikian, “Anak yang bijak mendengarkan didikan ayahnya…” (Amsal 13:1a). Melalui ayat ini, kita belajar peranan seorang ayah terhadap anaknya, yaitu untuk mendidiknya. Seringkali kaum ayah melupakan peranan mereka akan hal ini. Segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan anak baik dari makanan, pakaian, pelajaran sekolah, dan lain-lain sebagian besar diserahkan kepada seorang ibu, termasuk urusan untuk mengajak bermain, mengajari sesuatu, mendidik dan meluangkan waktu. Para ayah kebanyakan berfokus untuk bekerja supaya mendapatkan penghasilan agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk anak-anak. Untuk memperhatikan, meluangkan waktu bahkan mendidik seringkali dihindari seorang ayah sehingga hubungan anak dan ayah seringkali terputus. Dalam moment “Father’s Day” kali ini, mari kita – sebagai kaum ayah – belajar untuk lebih lagi meluangkan waktu bersama anak, mengajari mereka melakukan banyak hal dan mendidik mereka dalam kebenaran.

Para ayah, mari kita mendidik generasi anak-anak kita. Didikan seorang ayah akan menghasilkan generasi anak-anak yang bijak!
Once again, Happy FATHER’S DAY!

Posted with WordPress for BlackBerry.