Posts Tagged ‘Ayub’


Dari kisah Ayub yang saya renungkan, saya mengambil kesimpulan bahwa Tuhan menjanjikan pemulihan hidup secara total dalam hidup kita. Pemulihan kehidupan Ayub seperti dikisahkan dalam Kitab Ayub pasal 42 terjadi sebagai berikut:
1. Mengalami Tuhan secara pribadi (ayat 5)

“Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau,
tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”

2. Merendahkan diri, bertobat (mencabut perkataan), dan menyesali perbuatan dosa (ayat 6)
Setelah kita mengalami-Nya secara pribadi dan merendahkan diri untuk bertobat di hadapan-Nya seperti doa Ayub:

“Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku
dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.”

Apakah selama ini kata-kata yang kita ucapkan baik secara sadar maupun tidak sadar telah menyakiti hati Tuhan? Bisa saja kita menuduh Tuhan telah berlaku tidak adil kepada kita; dengan perkataan, kita juga bersungut-sungut kepada-Nya. Ayub menyadari hal tersebut dan diapun mencabut perkataannya lalu menyesali perbuatannya.
Di saat kita merendahkan diri, bertobat, dan menyesali dosa kita, Tuhan akan membela kita di hadapan orang-orang yang pernah menjelek-jelekkan kehidupan kita seperti yang dialami Ayub (Ayub 42:7-8).

3. Mendoakan mereka yang berprasangka buruk kepada kita (ayat 10)

“Lalu Tuhan memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan Tuhan memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu.”

Percayalah, Tuhan berada di pihak orang benar! Terhadap orang yang berprasangka buruk kepada kita bahkan telah menyakiti hati kita, lepaskanlah berkat dan pengampunan serta doakanlah mereka. Pemulihan yang dialami Ayub terjadi setelah Ayub mendoakan sahabat-sahabatnya.

Terimalah janji Tuhan Yesus yang hendak memulihkan hidup Anda hari ini! Selamat menjalani hari yang luar biasa!

Advertisements

Ayub adalah seorang yang hidup takut akan Allah namun Allah mengizinkan Ayub menderita dan mengalami pencobaan sehingga teman-teman dekatnya salah mengerti akan keberadaan Ayub dan secara halus menuduhnya telah berbuat dosa. Berdasarkan pengalaman hidup kerohaniannya, Ayub berusaha membela diri di hadapan Allah dan menyatakan tidak bersalah. Namun, ekspresi pembelaan Ayub terhadap Allah yang keluar dari rasa depresi akibat tekanan penderitaan yang begitu berat justru membuat Allah menantangnya sehingga Ayub mengerti bahwa tidak seorangpun tidak dapat menyelami pikiran-Nya maupun mengatur tindakan-Nya.

Dari pengalaman penderitaan Ayub yang diizinkan Tuhan terjadi dalam kehidupan Ayub, membuat Ayub benar-benar mengalami Tuhan secara pribadi. Situasi sulit apakah yang sedang Anda hadap saat ini? Mungkin ini adalah cara-Nya untuk membuat kita belajar agar mengenal-Nya secara pribadi, seperti pernyataan Ayub berikut ini:

“Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau,
tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”

(Ayub 42:5)

Mungkin kita belum pada tahap mengalami Tuhan secara pribadi semenjak kita menjadi orang percaya. Namun saya percaya, Tuhan mengizinkan penderitaan maupun badai hidup terjadi dalam kehidupan kita karena DIA dapat berbicara sekalipun dalam badai bergelora (Ayub 40:1). Ini saatnya untuk mendengarkan suara-Nya di tengah badai hidup dan mengalami Dia secara pribadi. Kita sudah seringkali mendengar kesaksian orang-orang lain yang mengalami Tuhan dalam hidupnya; namun bagaimana dengan diri kita sendiri? Sudahkah kita mengalami Dia secara pribadi?

Saya berdoa, agar di tengah badai kesulitan hidup yang sedang Anda alami – mungkin di saat Anda membaca renungan ini keadaan Anda tidak seburuk Ayub – Anda akan mengalami Tuhan secara pribadi! Ya! Sudah saatnya Anda mengalami pengalaman bersama Tuhan secara pribadi dan melihat kemuliaan-Nya, bukan sebatas percaya kepada-Nya karena mendengar apa kata orang, namun kita sungguh-sungguh mengalami-Nya sehingga dapat bersaksi kepada banyak orang bahwa Yesus adalah Tuhan yang hidup dan nyata! Tuhan Yesus memberkati hidup Anda!

Selamat menjalani hari yang luar biasa!

Taat dan Melayani DIA

Posted: June 22, 2012 in Daily Devotion
Tags: , , ,

Pagi ini, dalam penantian di Polonia International Airport untuk berangkat ke Manado saya merenungkan Firman Tuhan dari kitab Ayub 36:11 yang tertulis demikian, “Jikalau mereka mendengar dan takluk, maka mereka hidup mujur sampai akhir hari-hari mereka dan senang sampai akhir tahun-tahun mereka.” Ayat ini begitu kuat menarik perhatian saya dan sangat memberikan pencerahan bagi jiwa saya. Siapa yang tidak ingin memiliki hidup yang mujur dan senang senantiasa sampai akhir hayat? Ayat ini memberikan sebuah petunjuk bagi kita. Ada dua kata kerja di sini yang disinggung untuk mengalami hidup seperti itu, yaitu kata ‘mendengar’ dan ‘takluk’.

Di dalam salah satu terjemahan bahasa Inggris, ayat ini dituliskan demikian, “If they obey and serve Him, They shall spend their days in prosperity, And their years in pleasures.” (Job 36:11 NKJV). Kata ‘mendengar’ dan ‘takluk’ dalam versi ini dituliskan sebagai berikut:
1. Obey; taat
Menjalani kehidupan Kekristenan kita sehari-hari, kita belajar taat untuk mendengarkan dan melakukan semua perintah-Nya. Ketaatan kepada Tuhan kita tunjukkan dengan segenap hati untuk melakukan Firman-Nya tanpa menunda ataupun meragukannya. Selain itu, ketaatan kita kepada Tuhan juga dapat kita ekspresikan saat kita taat kepada pemimpin rohani yang meng-cover kehidupan kita di dalam Tuhan. Ketaatan akan menjadikan kita sebagai pribadi yang mudah dibentuk untuk dipakai menjadi alat bagi kemuliaan-Nya.

2. Serve Him; melayani Dia
Langkah kedua setelah ketaatan ternyata adalah melayani Dia. Mengapa dalam terjemahan bahasa Indonesia dituliskan kata ‘takluk’? Saya baru menyadari bahwa untuk melayani-Nya, kita harus sungguh-sungguh menaklukkan hati kita seturut dengan kehendak Tuhan yang kita sembah. Kita tidak dapat pilih-pilih pelayanan sesuai dengan apa yang kita sukai, namun kita melayani-Nya harus seturut dengan kehendak-Nya. Sudahkah kita melayani Dia dengan mengembangkan ketaatan maupun sikap hati yang telah takluk untuk dibentuk sesuai kehendak Tuhan? Saya percaya, Tuhan telah memberikan kita talenta yang dapat dikembangkan untuk melayani Dia. Bila Anda belum melayani Tuhan, mari membuat sebuah komitmen untuk melayani-Nya!

Saya percaya, apabila kita hidup dengan sikap hati yang taat untuk mendengarkan Firman-Nya dan melayani Dia dengan kesungguhan hati, hidup kita berada dalam pemeliharaan-Nya senantiasa; hidup mujur dan senang sepanjang masa. Selamat bearktivitas dan menjalani hari yang luar biasa!

Jangan Takut!

Posted: May 19, 2012 in Daily Devotion
Tags: , , ,

20120519-145833.jpg

“Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.” (Ayub 3:25).

Ayub adalah seorang yang takut akan Tuhan dan hidup dalam kelimpahan berkat Tuhan yang luar biasa. Namun, Tuhan mengizinkan Ayub mengalami penderitaan yang amat sangat ketika dicobai iblis; Ternak-ternaknya dirampas dan binasa, anak-anaknya tewas karena bencana bahkan sekujur tubuhnya tertimpa barah busuk. Mengapa Ayub mengalami hal-hal seperti ini? Ternyata sekalipun Ayub hidup dalam takut akan Tuhan, Ayub menyimpan rasa takut dan cemas, sehingga apa yang ditakutkan itu justru terjadi dalam kehidupannya meskipun Tuhan tidak akan sekali-kali meninggalkannya.

Dari pengalaman Ayub, kita belajar bahwa ketakutan itu bagaikan sebuah medan magnet yang menarik segala sesuatu yang negatif ke dalam hidup kita. Mari kita gantikan rasa cemas dan takut kita dengan kekuatan, kasih, dan ketertiban yang berasal dari Allah.
“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1:7).
Rasa takut atau dalam bahasa Inggrisnya: FEAR (False Evidence Appearing Real) hanyalah perasaan yang secara wajar dapat dialami manusia seolah-olah nyata padahal belum tentu terjadi. Karena hal yang ditakutkan itu sebenarnya belum tentu terjadi, sebaiknya kita memagari perasaan kita dengan Firman Tuhan yang memberi kita keberanian!

Selamat menjalani hari yang luar biasa!