Posts Tagged ‘Bapa’


20140406-001445.jpg

Shalom,
Memasuki bulan April 2014 ini yang menjadi sebuah dorongan kuat di dalam batin saya adalah untuk mengajak segenap jemaat GMS my home untuk berdoa. Saya yakin dan percaya, bahwa semua umat Tuhan pastilah berdoa. Namun, sangat besar kerinduan di dalam hati saya untuk sekali lagi mengingatkan jemaat untuk berdoa. Bukan sekedar doa-doa rutinitas yang kita panjatkan, doa yang sekedar didorong oleh kebutuhan saja, namun doa yang dilandaskan oleh kerinduan untuk senantiasa bersekutu intim dengan Roh Kudus sehingga senantiasa menikmati kasih karunia Tuhan Yesus yang berlimpah di dalam kasih Bapa. Menjelang diselenggarakannya acara Sumatra for Jesus pada bulan Mei 2014 mendatang, maka bulan April ini kita dedikasikan bersama sebagai bulan doa. Bagi kita semua yang telah memiliki kehidupan doa yang baik, tentunya akan lebih lagi kita tingkatkan. Namun, bagi yang merasa kehidupan doanya berantakan, baiklah menanggapi panggilan Tuhan di dalam bulan ini untuk kembali membangun mezbah doa.

Semua orang tentu ingin agar permohonan-permohonannya di dalam doa terjawab. Namun, doa bukanlah sekedar permohonan. Doa adalah hubungan. Untuk memulai suatu hubungan dengan Tuhan di dalam doa terkadang banyak orang mengalami kendala. Saya hendak meletakkan dasar hubungan dengan Tuhan dalam doa melalui renungan berikut ini di dalam 1 Yoh. 3:19-22.

1. Tenangkan hati
Ayat 19: Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah,
Untuk mengawali sebuah doa, tenangkan hati kita terlebih dahulu. Adakalanya hati kita begitu kacau, dipenuhi dengan berbagai macam pikiran-pikiran negatif, kekecewaan, bahkan sekalipun dipenuhi dengan kepuasan diri bisa menimbulkan tinggi hati, mengandalkan diri sendiri, dan akhirnya timbul rada malas untuk berdoa. Terimalah panggilan dari Sorga untuk sungguh-sungguh berdoa. Tenangkan diri, fokuskan hati, pikiran, dan seluruh aktivitas kita hanya kepada Tuhan.

2. Bebas dari rasa tertuduh
Ayat 20: sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu.
Di saat berusaha fokus kepada Tuhan dan menenangkan hati, apa yang Anda rasakan? Seolah-olah kita mulai mendengar ada suara-suara yang timbul dari dalam hati dan melontarkan tuduhan demi tuduhan yang mengatakan bahwa kita tidak layak, pecundang, munafik, pemalas, pendosa, dan segala hal yang negatif ditujukan kepada kita. Fokusnya bukan kepada diri kita sendiri. Kebenarannya adalah kita adalah manusia yang penuh dengan kelemahan, kekurangan, dan masih memiliki potensi untuk berbuat dosa. Perhatikan bahwa di ayat ini tertulis, ‘Allah adalah lebih besar dari pada hati kita’. Serahkan semua tuduhan-tuduhan dari dalam hati kepada Allah yang besar, berfokuslah kepada Dia yang melebihi tuduhan-tuduhan hati kita dan mulailah untuk membuka diri bagi-Nya. Akui segala dosa dan kelemahan, maka Dia akan mengampuni kita.

3. Mendekat kepada Tuhan
Ayat 21: Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah,
Sekarang, tuduhan-tuduhan dari dalam hati kita tidak lagi terdengar apabila kita telah bersungguh-sungguh menerima kasih karunia pengampunan-Nya. Dengan penuh keberanian, dekatkan diri kita kepada Tuhan. Ini adalah sebuah undangan spesial bagi Anda! Dia telah menantikan Anda untuk berdoa, membangun hubungan yang intim bersama-Nya!

4. Berkenan kepada-Nya
Ayat 22: dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.
Bagian yang terakhir ini mungkin yang paling menyenangkan bagi Anda – ‘memperoleh dari Tuhan untuk apa saja yang kita minta’? Tentu saja hal ini akan terjadi apabila kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya. Sekali lagi, doa bukanlah sekedar permohonan. Yang terutama dalam sebuah doa bukanlah daftar permohonan kita sehingga pribadi kitalah yang menjadi sorotan utamanya. Di dalam doa, bagaimana Anda membangun hubungan dengan Tuhan, itulah yang terpenting. Bedakan antara ‘berdoa’ dan ‘kehidupan doa’. Saat Anda ‘berdoa’, inilah waktu yang secara khusus Anda berikan kepada Tuhan untuk lebih lagi mengenal-Nya dan mengerti kehendak-Nya. Namun, sebuah ‘kehidupan doa’ adalah ketika Anda menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya. Bukan terkabulnya sebuah permohonan doa yang kita utamakan sewaktu kita berdoa, namun kejarlah perkenanan Tuhan, dengan berbuat apa yang menyenangkan hati-Nya… percayalah bahwa Dia sanggup menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan… bahkan melebihi yang kita harapkan serta melampaui yang dapat kita pikirkan.

Selamat menjalani hari yang luar biasa dengan kehidupan doa yang berkenan di hadapan Tuhan Yesus!

Advertisements

Gereja Mawar Sharon my home menyelenggarakan sebuah acara khusus bagi anak-anak dalam jangka usia 4-12 tahun pada hari Jumat, 18 Oktober yang lalu. Bersama Creative Ministry dan para pelayan anak EagleKidz, saya membawakan salah satu perumpamaan Tuhan Yesus secara kreatif untuk dikhotbahkan kepada anak-anak. Dikemas dalam bentuk KKR Anak, acara ini memperoleh tanggapan yang luar biasa baik dari anak-anak maupun para orang tua.

20131030-115620.jpg

Ini adalah pertama kalinya saya menjadi pembicara KKR di hadapan anak-anak kecil dari kisaran usia 4 hingga 12 tahun. LOST diambil dari ‘Perumpamaan tentang Anak yang Hilang’ yang ditulis dalam Injil Lukas pasal 15 – menceritakan tentang seorang bapa yang memiliki dua anak laki-laki. Dengan gaya dan tata bahasa yang disesuaikan bagi anak-anak, secara creative preaching saya memerankan sang anak bungsu yang memaksa bapanya untuk membagi harta warisan kepada anak-anaknya. Setelah memperoleh bagian harta warisannya, anak bungsu langsung menjual seluruh bagiannya untuk membeli jaket baru, berbagai gadget, tas, dan sepeda baru seperti yang kebanyakan diingini oleh anak-anak. Tidak hanya itu, sebagai anak bungsu saya juga mengajak teman-teman dugem untuk menari bersama sambil menghamburkan uang. Hubungan yang terjalin atas dasar harta yang dimiliki semata tidak pernah berlangsung lama. Dalam waktu singkat, harta warisan anak bungsu segera habis dan satu per satu teman-temannya mulai meninggalkan dia. Keadaan menjadi begitu memburuk ketika di negeri itu mulai terjadi bencana kelaparan sehingga perekonomian menjadi sangat memburuk dan sulit untuk memperoleh pekerjaan. Tak disangka, dalam kondisi seperti itu, datang segerombolan preman yang hendak merampas semua yang dimiliki anak bungsu. Dengan gaya pertengkaran bak anak kecil, saya dan para pemeran ‘preman’ melakukan adegan perkelahian yang lucu sehingga mengundang tawa anak-anak yang hadir. Pastinya, karena kalah secara jumlah, sang anak bungsu pun terjatuh dan dibiarkan terkapar tak berdaya lalu ditinggalkan sendirian.

Masih dalam keadaan lemah dan lapar, saya bangkit berdiri untuk melanjutkan perjalanan hingga akhirnya berjumpa dengan seorang juragan babi yang sedang memotong-motong sayur. Dengan logat Hokkien yang khas, juragan babi itu dengan kasar menyuruh saya untuk bekerja di kandang babinya setelah dengan sangat saya meminta makan. Di hadapan sekitar 400 anak-anak yang hadir, saya menggambarkan kandang babi dan baunya yang sangat busuk sebagai gambaran hati manusia yang dipenuhi dengan dosa dan kebiasaan buruk. Dalam kondisi yag seperti itu, sang anak bungsu mulai menyadari keadaannya dan memutuskan untuk pulang. “Harus ada langkah pertobatan untuk kembali kepada Bapa di Sorga agar dosa kita diampuni”, demikian saya sampaikan bagi anak-anak agar mereka mulai membuka hatinya dan mulai menyadari bahwa dosa tidak bisa dibiarkan, namun perlu mendapatkan pengampunan dosa. Anak bungsu yang terhilang ini akhirnya kembali kepada bapanya yang selama ini selalu menantikan kepulangan anaknya. Sekalipun kembali dalam kondisi yang kotor akibat dosa, Bapa Sorgawi tetap mau menerima semua orang yang mau bertobat. Tidak hanya penerimaan, bapa yang baik ini juga mengenakan jubah terbaru bagi sang anak bungsu. Mengakhiri cerita ini, saya mengajak anak-anak untuk berdoa, memohon pengampunan dosa kepada Bapa dan membuka hati kepada Tuhan Yesus agar menjadi anak-anak-Nya. Luar biasa, 98% dari anak-anak yang hadir maju ke depan untuk menyatakan pertobatan mereka di hadapan Tuhan. Anak-anak pun bisa mengalami Tuhan secara pribadi, ketika mereka berdoa pun beberapa di antara mereka ada yang menangis. Saya percaya, kuasa Tuhan tidak dapat dibatasi oleh usia. Biarlah lawatan Tuhan dialami oleh anak-anak juga dan generasi anak juga mengalami kebangunan rohani. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus!

Kuasa Urapan

Posted: March 31, 2013 in Event
Tags: , , , , , ,

20130331-111118.jpg

Paskah merupakan hari yang diperingati umat Kristiani untuk merayakan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus setelah mengalami kematian di kayu salib. Hari ini, 31 Maret 2013 saya mendapat sebuah kesempatan untuk menyampaikan kebenaran Firman Tuhan dalam ibadah Paskah di GMS my home, Medan.

Dalam Surat Petrus yang pertama dituliskan demikian:
“yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu. Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.” (1 Ptr. 1:2-5)

Setiap orang yang percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat adalah orang-orang pilihan yang dimaksudkan oleh Petrus. Setiap umat pilihan-Nya dikuduskan oleh Roh Allah agar taat kepada Yesus, karena mereka telah menerima percikan darah-Nya yang menyucikan. Pada ayat kedua ini dijelaskan bahwa Roh Kudus bekerja untuk menyucikan orang-orang pilihan-Nya. Pada ayat berikutnya, ditekankan bahwa kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang matilah yang memungkinkan agar seseorang dilahirkan kembali. Inilah makna kebangkitan Yesus; tidak seorangpun dapat menerima karunia keselamatan apabila Yesus tidak bangkit dari kematian-Nya! Kita patut bersyukur karena kuasa kebangkitan-Nya membuat semua orang yang mau percaya kepada-Nya dapat dilahirkan kembali.

Bukan itu saja, kuasa kebangkitan-Nya juga menuntun kita pada sebuah hidup yang penuh pengharapan dan pada ayat ke-4 dituliskan: untuk menerima bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Kata ‘bagian’ ini dalam sebagian besar Alkitab versi bahasa Inggris dituliskan sebagai inheritance yang berarti warisan. Warisan kerajaan Sorga ini akan diberikan kepada setiap orang percaya yang sungguh-sungguh menjaga iman selama menantikan keselamatan yang dinyatakan pada akhir zaman (seperti khotbah penginjilan yang saya sampaikan dalam Ibadah Jumat Agung; The End of TIME).

Roh Kudus telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati dan oleh kuasa kebangkitan-Nya kita dilahirkan kembali untuk memperoleh hidup yang penuh dengan pengharapan. Luar biasanya, kita juga beroleh suatu warisan rohani yang kekal, tidak dapat binasa, tidak dapat layu, dan tidak dapat cemar yang telah tersimpan di sorga bagi kita.

Mengenai warisan, dalam Surat Rasul Paulus kita menemukan pesan sebagai berikut: “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (Roma 8:17)

Warisan yang diterima oleh anak Allah berupa janji-janji Allah. Ya! Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus hendak memberikan warisan janji-janji Allah bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Salah satu janji Bapa yang disampaikan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya setelah Dia bangkit tercatat dalam Kis. 1:4-5, “Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang — demikian kata-Nya — “telah kamu dengar dari pada-Ku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.” Baptisan Roh Kudus merupakan warisan yang kekal dan tersimpan di Sorga bagi kita semua!

Apakah guna Roh Kudus bagi orang percaya?

Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu. (Roma 8:11 )

Dalam Kis. 1:8 tertulis, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”. Sebelum kita membahas tentang kuasa, terlebih dahulu kita perlu mengenal Pribadi di balik kuasa tersebut, yaitu Roh Kudus. Roh Kuduslah yang memberi kuasa dalam urapan yang kita terima dan Dia akan menyertai kita secara spesifik untuk melaksanakan kehendak-Nya, yaitu untuk bersaksi.

Beberapa orang Kristen merasa kesulitan untuk memberitakan Injil karena mereka merasa bukan lulusan sekolah teologia, tidak memiliki gelar pendeta, dan lain sebagainya. Memberitakan Injil bukan soal seberapa pandai kita mengupas Alkitab, berkhotbah, atau apakah kita memiliki gelar kependetaan atau tidak, namun memberitakan Injil juga dilakukan dengan bersaksi. Kesaksian yang kita sampaikan merupakan pengalaman pribadi bersama Tuhan, baik bagaimana Tuhan mengampuni dosa kita, menyelamatkan kita, memulihkan, menyembuhkan kita, menolong kita, maupun melakukan perbuatan ajaib bagi kita, dan sebagainya. Kesaksian yang kita sampaikan kepada orang lain akan menjadi kesaksian yang penuh kuasa apabila kita diurapi oleh Roh Kudus. Roh Kudus akan mengurapi umat-Nya yang senantiasa memiliki kerinduan untuk menjadi saksi Tuhan Yesus!

Untuk bersaksi atau memberitakan Injil dengan penuh kuasa, kita perlu menerima urapan Roh Kudus. Hal ini telah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya sekitar 2700 tahun yang lalu sebagai berikut:
“Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena Tuhan telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung, untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar, supaya orang menyebutkan mereka “pohon tarbantin kebenaran”, “tanaman Tuhan ” untuk memperlihatkan keagungan-Nya.” (Yesaya 61:1-3)

Urapan Roh Kudus akan memampukan umat Tuhan untuk memberitakan Injil (kabar baik) kepada orang-orang yang masih tertawan oleh dosa dan sengsara akibat kesalahan mereka. Urapan Roh Kudus juga akan melenyapkan beban seseorang, seperti yang dicatatkan dalam Yesaya 10:27, “It shall come to pass in that day That his burden will be taken away from your shoulder, And his yoke from your neck, And the yoke will be destroyed because of the anointing oil.” (Isaiah 10:27 NKJV). Terjemahan bebas bagi ayat ini adalah sebagai berikut, “akan datang harinya bahwa beban itu akan diangkat dari bahumu, dan kuk itu dari lehermu, dan kuk itu akan dihancurkan oleh urapan minyak”. Urapan Roh Kudus di dalam diri kita akan mematahkan setiap belenggu dosa dan melenyapkan beban alam maut yang mengikat orang-orang berdosa saat mereka menerima pemberitaan Injil dari kita!

Mari kita memaknai peringatan kebangkitan Yesus ini dengan menerima pengurapan Roh Kudus-Nya yang telah diwariskan bagi kita! Pengurapan Roh Kudus yang kita terima akan memampukan kita untuk memberitakan Injil maupun bersaksi dengan penuh kuasa! Selamat Paskah 2013! Tuhan Yesus memberkati!


20130120-171840.jpg

Sukacita memenuhi segenap jemaat Gereja Mawar Sharon my home pada hari ini… Ya! Kehadiran Gembala Sidang dan Ketua Sinode Gereja Mawar Sharon dari Surabaya yaitu Ps. Jusuf S. Soetanto dan istri sungguh memperoleh sambutan hangat dari seluruh pengerja, pelayan Tuhan, maupun jemaat GMS my home. Kehadiran beliau kali ini di kota Medan adalah secara khusus hendak meresmikan peluncuran buku pertama beliau yang berjudul “The JOURNEY of GRACE” atau perjalanan kasih karunia. Buku ini mengisahkan hidup dan pelayanan Ps. Jusuf S. Soetanto sendiri dari semasa mudanya hingga kini – Tuhan telah mempercayakan pelayanan penggembalaan di Gereja Mawar Sharon hingga puluhan ribu jemaat.

Bagi saya secara pribadi, figur Pak Jusuf (demikian sapaan akrab saya pada beliau) adalah seorang hamba Tuhan dan bapa rohani yang sangat rendah hati. Sekalipun memegang pucuk kepemimpinan tertinggi di Gereja Mawar Sharon, namun beliau tidak segan-segan untuk menyapa semua jemaat yang hadir di gereja dan selalu memberikan senyuman yang ramah. Dengan berbesar hati, beliau juga memberi kesempatan kepada setiap anak muda yang digembalakan di Gereja Mawar Sharon untuk bertumbuh memenuhi panggilan hidupnya untuk menjadi berhasil di dunia marketplace, melayani Tuhan, menjadi pemimpin rohani, bahkan didukung untuk menjadi hamba Tuhan. Tak heran, di Gereja Mawar Sharon banyak bermunculan hamba-hamba Tuhan dari usia muda yang memiliki talenta untuk melayani dan memimpin jemaat.

20130120-172959.jpg

Dalam ibadah spesial Book Launching “The JOURNEY of GRACE” ini, dalam setiap ibadah umum ditampilkan performance a capella yang terdiri dari 7 orang singer dengan pembagian suara yang luar biasa saat menaikkan pujian “Amazing Grace”. Ps. Yosep Moro selaku gembala GMS Regional Sumatra menyampaikan kata sambutan di hadapan jemaat sehubungan dengan peluncuran buku ini di GMS my home sekaligus mengundang Pak Jusuf untuk menyampaikan pesan-pesan khusus bagi jemaat. Pak Jusuf terus menguatkan jemaat dalam memasuki tahun 2013 ini sebagai “the Year of Maturity and Multiplication” untuk terus berdoa dan semakin dekat dengan Tuhan agar semakin bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa, karena melalui kematangan akan menghasilkan pelipatgandaan.

Sungguh sebuah kehormatan, sebagai salah satu anak rohani Pak Jusuf, saya memperoleh kesempatan untuk menyampaikan Firman Tuhan dalam salah satu ibadah book launching “The JOURNEY of GRACE” yaitu dalam ibadah Army of God youth. Mengawali Firman Tuhan yang saya sampaikan, saya mengajak segenap jemaat yang hadir – dengan didominasi oleh anak-anak muda – merenungkan ayat sebagai berikut:

“Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu.” (1 Korintus 4:15)

Rasul Paulus menjelaskan kepada jemaat Korintus bahwa mereka membutuhkan bapak rohani bagi pertumbuhan rohani mereka, bukan sekedar pendidik. Terdapat banyak pendidik-pendidik rohani dalam jemaat Korintus pada waktu itu, namun tidak sepenuhnya berperan sebagai ‘bapa’ dalam hidup kerohaniaan mereka. Tuhan Yesus memberi teladan mengenai ketergantungan-Nya terhadap Bapa sorgawi dan menyiratkan bahwa figur bapa begitu penting dalam pertumbuhan rohani. Ada perbedaan antara pendidik dan bapa. Pendidik cenderung melakukan tugasnya sebatas ruang lingkup pekerjaannya, sementara menjadi ‘bapa rohani’ lebih memiliki kedekatan hubungan seperti ayah dan anak melalui pemuridan, keteladanan, dan membagi nilai-nilai kehidupan. Seorang bapak rohani akan turut bertanggung jawab atas pertumbuhan anak-anak rohaninya. Generasi muda dewasa ini banyak yang mengalami kehilangan figur seorang bapa dalam hidupnya sehingga kurang mengalami kemajuan dalam segala hal yang dilakukan, bahkan menemui kegagalan.

Yosua menjadi prajurit yang tangguh untuk memasuki tanah Kanaan karena memiliki bapa rohani yang luar biasa, yaitu Musa. Daud terpanggil menjadi raja atas Israel dan secara khusus dimuridkan oleh bapa rohaninya; nabi Samuel. Elisa memiliki urapan kenabian yang luar biasa karena memiliki Elia sebagai bapa rohani. Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus menjadi bapa rohani bagi beberapa orang, dan di antaranya adalah Timotius dan Titus. Untuk mengalami pertumbuhan rohani di dalam Tuhan, setiap orang percaya membutuhkan mentor yang secara rohani lebih senior dari pada dirinya sendiri, dan inilah yang kita sebut sebagai bapa rohani. Memang, bapa rohani juga adalah seorang manusia yang penuh kelemahan dan tidak bisa selalu menyertai kita selama 24 jam sehari. Di sela-sela kesibukan pelayanan dan panggilannya, Rasul Paulus mengirimkan surat kepada anak-anak rohaninya untuk mengajar, menguatkan, dan membapaki mereka dalam Kristus. Warisan yang diberikan oleh seorang bapa rohani kepada anak-anaknya ialah warisan “kasih karunia”. Titus adalah salah satu anak rohani Rasul Paulus (Tit. 1:4), sekalipun berasal dari keturunan orang Yunani tak bersunat, bukan berasal dari keturunan Yahudi (bersunat). Anak rohani tidak mesti memiliki latar belakang yang sama, budaya yang sama, namun harus memiliki iman yang sama dalam Kristus Yesus. Kasih karunia adalah pemberian Allah secara cuma-cuma kepada manusia meskipun manusia tidak layak menerimanya. Dalam suratnya kepada Titus pasal 2:11-14, Rasul Paulus menjelaskan fungsi kasih karunia sebagai berikut:

1. Kasih karunia menyelamatkan kita
Ayat 11: Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata.
Keselamatan merupakan kasih karunia Tuhan bagi hidup kita. Lagu pujian “Amazing Grace” sangat tepat untuk menggambarkan kasih karunia Allah yang menyelamatkan umat manusia. Lagu yang ditulis dari semula dalam bentuk hymne oleh John Newton pada tahun 1779 terus berkembang hingga saat ini dalam berbagai aransemen musik dan penambahan syair lagu.

Amazing grace! How sweet the sound
That saved a wretch like me.
I once was lost, but now am found,
Was blind but now I see

2. Kasih karunia mendidik kita dalam kebenaran
Ayat 12: Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini

Dengan mengandalkan kemampuan kita sendiri, kita tidak akan sanggup menghadapi segala sesuatu di dalam hidup ini. Kasih karunia akan mendidik kita agar kita mengandalkan Tuhan untuk meninggalkan dosa, kefasikan, dan keinginan-keinginan dunia ini. Tanpa kasih karunia yang mendidik kita, kita akan menjadi pribadi yang rapuh dan hidup dalam kebimbangan.

3. Kasih karunia memberi kekuatan
Ayat 13: dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus,

Dalam penantian, dibutuhkan kekuatan, dan kasih karunialah yang memberi kita kekuatan selama kita menantikan kedatangan-Nya! Kasih karunia juga dapat diartikan sebagai kemampuan yang Tuhan berikan kepada kita supaya sanggup melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan dengan kemampuan kita sendiri. Hal ini juga dialami oleh Rasul Paulus saat mengalami ‘duri dalam daging’ dan saat tiga kali berseru kepada Tuhan, Rasul Paulus mendapat jawaban sebagai berikut:

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku (2 Korintus 12:9)

Kasih Karunia datangnya dari Tuhan Yesus, seperti yang tercantum dalam Yohanes 1:17; “sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.” Apabila kita menanggapi kasih karunia Allah dengan IMAN dalam Yesus Kristus, maka semua fungsi kasih karunia Allah akan bekerja dalam hidup kita! Tuhan Yesus memberkati!


20130103-235352.jpg

Hari ini kami sekeluarga pergi ke Pantai Cermin beserta beberapa jemaat CG Gereja Mawar Sharon. Sambil menikmati liburan tahun baru, kami juga melakukan fellowship bersama para anggota CG yang juga turut mengajak keluarga dan anak-anak. Sekitar 25 orang dewasa dan 15 anak-anak dalam rombongan kami meluangkan waktu untuk santai, ngobrol, berkenalan, bermain pasir, menceburkan diri ke dalam air, mencari kerang, berfoto, dan lain-lain. Kami tiba sekitar pukul 12.30 WIB setelah menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam dari kota Medan. Puji Tuhan, cuaca di area pantai yang kami datangi cukup bersahabat; tidak terlalu panas juga tidak terlalu mendung. Angin pantai bertiup sepoi-sepoi membuat suasana semakin ceria.

Setelah menikmati makan siang dan berfoto bersama, seorang bapak dari rombongan kami membawa anak lelakinya yang berusia sekitar 4 tahun menuju ke arah laut untuk bermain air dan menikmati deru ombak. Sesaat ketika saya menyaksikan pemandangan tersebut, seolah-olah Tuhan berbisik di dalam batin saya; bahwa Dia adalah Bapa yang baik dan senantiasa memperhatikan dan menjaga anak-Nya. Saya dapat menyaksikan bagaimana anak itu ketakutan ketika gelombang ombak mulai menyapu dirinya, namun dengan sigap sang ayah selalu melindungi anaknya. Gelombang ombak terus berdatangan silih berganti seolah-olah berusaha menghempaskan semua yang berusaha merintanginya.

Hal semacam ini yang juga kita alami dalam hidup, gelombang ombak pencobaan dan penderitaan selalu berusaha menerpa kehidupan kita. Dalam Mark. 4:37-39, murid-murid Yesus juga mengalami hal yang sama. Perahu yang mereka tumpangi dilanda taufan yang dahsyat sehingga ombak menyembur ke dalam perahu dan perahunya menjadi penuh dengan air. Ketakutan dan kekuatiran juga mulai menghinggapi diri kita di saat kita mengalami berbagai terpaan ombak kehidupan ini. Kembali saya melayangkan pandangan ke arah laut dan menyaksikan, sekalipun deru ombak menerpa kian deras, namun dengan sekuat tenaga bapak itu melindungi anaknya sehingga sang anak merasa tenang. Tidak sesaat pun anak ini lepas dari perhatian sang ayah, bahkan sang ayah terus menggandeng erat sang anak agar tidak terseret ombak.

Tuhan Yesuspun melindungi kehidupan kita! Takkan dibiarkannya kita sendiri, dan di tengah-tengah deru ombak pencobaan maupun penderitaan yang berusaha menghempaskan kehidupan kita, tangan-Nya akan tetap teguh menopang kita. Sama seperti anak kecil itu yang terus berharap kepada ayahnya dan percaya sepenuhnya bahwa ayahnya tidak akan membiarkannya celaka, mari kita menggantungkan harapan kita lebih lagi kepada Allah Bapa kita dan percaya kepada-Nya dengan sepenuhnya. Tidak untuk selama-lamanya kita akan menghadapi badai dan ombak dalam hidup ini, namun suatu saat Tuhan Yesus akan menghardik angin bagi kita dan berkata, “Diam! Tenanglah!” (Mark. 4:39). Jangan takut dan kuatir ketika kita sedang menghadapi deru ombak pencobaan dan penderitaan dalam hidup ini, selama iman kita tetap teguh kepada Tuhan Yesus, kita aman dalam perlindungan-Nya senantiasa! Selamat menjalani hari yang luar biasa dan menghadapi ombak kehidupan bersama-Nya!

Posted with WordPress for BlackBerry.