Posts Tagged ‘city church’


Hari kedua Mission Night di GMS my home diawali dengan tarian tradisional Aceh dan Melayu, sebagai perwakilan suku-suku bangsa di Pulau Sumatra yang memuliakan nama Tuhan. Sebelum Ps. Yosep Moro Wijaya menyampaikan Firman Tuhan, sebuah drama singkat disajikan dengan menampilkan tim dari Creative Ministry. Drama yang ditampilkan menyiratkan bahwa di saat kita memberikan persembahan di hadapan Tuhan maka hendaknya kita memberi dengan sebuah visi, harapan, dan iman.

Drama tersebut menceritakan kisah sekelompok orang yang tinggal di suatu daerah yang sedang kesulitan air sehingga air menjadi kebutuhan yang sangat berharga. Diutuslah seorang anak muda untuk mencari pertolongan keluar dari kampungnya. Di tengah perjalanan, anak muda tadi kehabisan air sehingga saat dahaga menyerangnya, dia jatuh pingsan. Tak jauh dari sana, ada sebuah pohon yang begitu suburnya menghasilkan buah yang segar. Seseorang menolong anak muda tadi dengan diberinya makan buah yang segar lalu diberikannya benih pohon tadi agar anak muda ini dapat menanamnya di kampungnya. Sesampainya anak muda itu kembali ke kampungnya, dia segera menanam benih pohon tadi dan mengajak penduduk untuk bersama-sama menyiram benihnya. Namun, penduduk yang mengharapkan anak muda ini kembali dengan membawa banyak air begitu kecewa sehingga tidak seorang pun yang memberikan air untuk menyirami benih tersebut. Meskipun persediaan airnya terbatas, anak muda ini tetap tekun menyirami benih itu dengan air yang dimilikinya. Beberapa waktu kemudian, benih itu mulai tumbuh menjadi sebuah bakal pohon, namun anak muda tersebut sudah kekurangan air untuk menyiraminya. Akhirnya, penatua desa mengajak segenap penduduk agar mereka turut memberikan air sebagai satu-satunya kebutuhan yang paling berharga agar pohon itu bisa tumbuh dengan baik dan penduduk pun merelakan air untuk menyirami pohon tersebut. Beberapa waktu kemudian, hasilnya mulai terlihat. Pohon itu mulai bertumbuh besar dan menghasilkan banyak buah yang dapat menolong penduduk dari kekeringan dan kelaparan.

Inti dari ilustrasi drama tersebut adalah mengenai mengorbankan air yang berharga di masa kekeringan. Anak muda tersebut mengorbankan air bukan supaya mendapatkan air lebih banyak, namun supaya dapat menumbuhkan pohon yang bisa memberi buah dan dimakan orang lain. Sebuah prinsip yang bisa ditangkap melalui dari drama ini bahwa “memberi dari hati akan mendatangkan kelimpahan”. Ketika kita memberi, Tuhan akan melipatgandakannya. Kita tidak bicara soal berkatnya sewaktu kita memberi. Namun, apa yang kita persembahkan suatu saat akan menjadi pohon kehidupan bagi banyak orang. Ketika kita bicara soal “City Church”, maka ada tiga komponen pokok sehingga cara kita melihat area ini berubah:

1. Cara kita memandang kota di mana kita tinggal di dalamnya
“Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel, kepada semua orang buangan yang diangkut ke dalam pembuangan dari Yerusalem ke Babel: Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya; ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang! Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” (Yeremia 29:4-7)
Ketika kita menerima visi “City Church” maka yang pertama kali harus kita ubah adalah cara pandang terhadap kota tersebut. Bila kita datang di suatu kota, bukan untuk sekedar menggali potensi dan sumber daya maupun potensi kekayaan yang terkandung di dalam kota tersebut. Namun hendaknya kita harus memiliki sebuah maksud yang lebih tinggi untuk mensejahterakan kota di mana kita tinggal. Misalnya, dari hal yang sederhana: tidak membuang sampah sembarangan, tidak ugal-ugalan saat mengendarai mobil, dsb. Gereja sebesar apapun itu belum tentu membawa perubahan bagi kota apabila tidak mengubah cara pandangnya terhadap kota tersebut. GMS bertujuan memperlengkapi jemaat agar jemaat rindu untuk mengusahakan kesejahteraan kotanya, karena sejahtera kota adalah sekahtera kita.

“Saya mengasihi Medan bukan karena saya lahir di Medan, tetapi karena Medan lahir di hati saya.” ~ Ps. Yosep Moro Wijaya

2. Cara pandang terhadap jemaat – ‘Batu yang hidup’: pribadi yang punya fungsi
“Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.” (1 Petrus 2:5)
‘Batu yang hidup’ artinya bukan sekedar datang ke gereja, namun sebagai jemaat yang menemukan fungsinya dalam Gereja sehingga bertumbuh dalam panggilannya. Jemaat adalah pahlawan-pahlawan rohani yang diutus kembali ke tengah-tengah masyarakat, di dalam market place untuk menjadi saksi berita Injil; ke sana untuk menggarami dunia.

3. Cara pandang terhadap gereja
“Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Matius 16:18-19)
Gereja bukanlah institusi yang lemah dan dipandang sebelah mata. Mungkin selama ini orang memandang gereja hanya sebatas lembaga spiritual saja yang namun tidak membawa dampak apapun bagi kotanya. Gereja adalah sebuah tempat di mana ‘tentara-tentara Tuhan’ dilatih seperti orang-orang yang dilatih dalam goa Adulam pada zaman Raja Daud. Orang-orang yang kepahitan, terlilit hutang, kesusahan dan sebagainya diubahkan menjadi orang-orang yang gagah perkasa. Dari gereja ini, akan lahir orang-orang yang menggarami dunia pemerintahan, dunia seni, dunia pendidikan, dan lain-lain di kotanya!
Gereja yang kuat bukan karena ada politikus atau pejabat berjemaat di dalamnya, melainkan karena ada Yesus di dalamnya dan mengubahkan hati dan kehidupan jemaat di dalamnya.
Dalam 1 Raj. 10:1-9 diceritakan mengenai Ratu Syeba yang terkagum-kagum dengan hikmat Salomo yang berasal dari Tuhan, juga dengan rumah yang didirikan, makanan yang disajikan, cara berpakaian, etika pegawainya, dan sebagainya. Dalam ayat 9 dituliskan bahwa Ratu Syeba memuliakan nama Tuhan karena hikmat Salomo yang didengarnya dan akan apa yang dibangun oleh Raja Salomo! Ratu Syeba memuliakan Tuhan seperti permohonan Raja Salomo pada Tuhan. Karena Tuhan yang luar biasa ada di tengah kita, kita percaya bahwa semua produk yang kita lahirkan juga luar biasa!

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Wow! 7 tahun sudah GMS my home berdiri di kota Medan. Hari ini, Minggu 29 Mei 2011 GMS my home mengadakan ibadah perayaan sebagai ucapan syukur untuk ulang tahun ke-7. Saat pagi-pagi saya dan beberapa fulltimer datang ke gereja, kami begitu antusias untuk mempersiapkan ibadah, doa pagi, dan melayani Tuhan. Sungguh, saya boleh merasakan dampak dari berdirinya GMS my home di kota ini selama tujuh tahun. Beberapa keluarga hidupnya dipulihkan melalui gereja ini, anak-anak muda menerima keselamatan dan hidupnya diubahkan, yang putus asa memperoleh pengharapan yang baru, yang dulunya tidak memiliki tujuan hidup saat ini begitu antusias dan melayani Tuhan, yang dulu hidupnya terpuruk saat ini diberkati, yang semula hidupnya tertutup saat ini memimpin kehidupan jemaat sebagai pemimpin Connect Group, dan… banyak sekali yang telah Tuhan kerjakan melalui gereja ini!

Dalam ibadah ini, Pdt. Yosep Moro Wijaya, S.E. menyampaikan Firman Tuhan dari 1 Kor. 1:4-9.
Ucapan syukur
“Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus. Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang telah diteguhkan di antara kamu. Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karuniapun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus. Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus. Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.”

Melalui pembacaan Firman Tuhan di atas, Pdt. Yosep Moro menyampaikan pesan sebagai berikut:
1. Mengucap syukur atas apa yang Tuhan sudah kerjakan bagi kita karena Tuhan telah ‘memperkaya’ hidup kita. Kekayaan yang Tuhan berikan bukan hanya secara materi namun Tuhan mengerjakan di dalam kita: karakter kita, mentalitas kita, perkataan, dan pengetahuan kita sehingga menjadikan kita sebagai pribadi yang ‘kaya’ atau utuh.

2. Mengucap syukur karena kita masih dapat setia melayani Tuhan. Pdt. Moro memberi kesaksian betapa bersyukurnya beliau ketika pelayanannya di GMS Jakarta beberapa waktu lalu, beliau masih menjumpai kawan-kawan lamanya yang tetap setia melayani Tuhan. Kita adalah orang-orang yang terpanggil dalam pelayanan ladang-Nya! Selama kurang lebih 20 tahun Pdt. Moro melayani Tuhan, beliau menemukan beberapa temannya masih begitu “on fire” namun ada juga beberapa yang apinya sudah padam. Pdt. Moro juga memotivasi jemaat untuk melayani Tuhan lebih lagi, dan bagi yang sudah melayani, tetaplah melayani. Dalam kesempatan ini, secara resmi Pdt. Yosep Moro menyampaikan terima kasih untuk semua jemaat yang telah melayani di GMS my home selama ini. Beliau menyampaikan terima kasih kepada segenap Fulltimer dan staff GMS my home, pemimpin-pemimpin Connect Group, para volunteer baik dalam departemen maupun event, sponsor, maupun Jemaat yang turut mendukung baik dalam doa, dana, tenaga sebagai pahlawan-pahlawan iman dalam market place saat membawa pesan Injil.

3. Ayat 8 dituliskan, “meneguhkan sampai kepada kesudahannya…” Saat kita dengan setia berjalan dengan visi bersama dengan Tuhan, maka pada suatu waktu Tuhan akan membukakan visi yang lebih besar. Tuhan membawa kita pada level yang lebih tinggi, berdampak lebih luas, diangkat pada kemuliaan yang satu pada kemuliaan yang lebih besar!
Di tahun ke-7 ini, Tuhan memberikan visi “City Church” bagi GMS my home. Seiring pertumbuhan jemaat-Nya, Tuhan menuntun dan meneguhkan Gereja-Nya kepada visi yang semakin besar. Sudah saatnya kita menjadi semakin berdampak dan menjadi teladan bagi kota ini.

Di akhir ibadah ini, segenap pemimpin-pemimpin Connect Group berdiri di depan mimbar untuk bersama-sama mendoakan dan melepaskan berkat Jemaat GMS my home. Kami bersyukur atas penyertaan Tuhan bagi Gereja-Nya selama 7 tahun ini dan akan terus bergerak maju untuk menggenapi visi yang diberikan-Nya sebagai CITY CHURCH.

Posted with WordPress for BlackBerry.


Malam kedua Apostolic Night yang diadakan di Gereja Mawar Sharon my home, Medan merupakan sebuah impartasi iman yang luar biasa dari Ps. Philip Mantofa, BRE untuk menjadikan gereja sebuah “city church”/ gereja kota.

Dihadiri secara antusias oleh sekitar 1050 jemaat di ruang utama dan 127 jemaat di ruang over-flow, dalam ibadah ini benar-benar dapat dirasakan pengurapan Tuhan dan hadirat-Nya yang luar biasa.

Malam kedua “Apostolic Night” ini Ps. Philip menampilkan sebuah tayangan di mana beliau diangkat menjadi kepala suku kehormatan dari suku Amis di Taiwan dan melalui tayangan tersebut menyampaikan bahwa Sumatra for Jesus adalah peperangan rohani kita bersama.

Tuhan hendak memberikan visi yang besar bagi umat-Nya melalui gereja-Nya “Gereja demi jemaat, bukan jemaat demi gereja”

Jadikan visi “Sumatra for Jesus” sebagai visi pribadi, baik dalam pendidikan, usaha, bisnis, dan semua aspek hidupmu.

Utamakan Kerajaan Allah, maka segala sesuatu akan ditambahkan bagimu. Bila kita melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan, maka Tuhan pun akan berkarya dalam kehidupan kita. Bila kita membangun keluarga Tuhan, maka Tuhan akan membangun keluarga kita.

Kisah Para Rasul 6:1-7
Judul kotbah ini adalah “Sumatra for Jesus”

Ayat 1:
“Pada masa itu…” menggambarkan masa perintisan gereja mula-mula, dan Allah hendak ‘dealing’ dengan umat Tuhan agar mereka keluar dari fase ‘perintisan’ menjadi ‘Gereja yang memenangkan kota’. Gereja adalah tempat di mana ada kuasa, senantiasa terkoneksi dengan kuasanya Tuhan! Gereja yang luar biasa akan menjadikan jemaat yang luar biasa, jemaat yang luar biasa akan menghasilkan Gereja yang luar biasa! Gereja Mawar Sharon my home akan menjadi Gereja yang memenangkan kota lewat jemaatnya!

“Jumlah murid makin bertambah…” Jumlah jemaat di Yerusalem pada waktu itu sekitar 5000an namun dalam 20 tahun ke depan menjadi ratusan ribu. Jumlah jemaat dalam hitungan ribuan bisa menjadi berkat atau menjadi kutuk. Tuhan harus mengoyakkan ‘kebiasaan’ jemaat agar menjadi jemaat yang siap untuk memenangkan kota. Sebagai jemaat harus memperbesar kapasitas hatinya agar siap menampung berkat besar yang disediakan Tuhan.
“Timbullah sungut-sungut…” Yaitu antara orang-orang Yahudi dan orang-orang Ibrani, padahal kedua bangsa ini sama, orang Yahudi adalah Ibrani, orang Ibrani adalah orang Yahudi. Demikian pula suku Batak, suku Jawa, suku Nias, dan semua suku lain adalah 1 bangsa Indonesia. Perbedaan jangan menjadi pemicu perpecahan. Perbedaan adalah potensi kekuatan, dan harus bisa dikelola. Cara pandang terhadap 30ribu jemaat bisa berbeda, cara pandang yang didasari kepahitan dan trauma akan berkata, “30ribu jemaat merupakan 30ribu masalah” namun Ps. Philip menyatakan atas dasar kasih dan iman bahwa, “30ribu jemaat merupakan 30ribu murid, memang pada awalnya membawa masalah saat datang ke gereja namun mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan dimuridkan sehingga menjadi problem solver“.

Ayat 2:
“Kami tidak merasa puas sampai Yesus ditinggikan atas Sumatra, sampai seluruh sektor masyarakat mengalami Yesus, sampai kami mempersembahkan Sumatra bagi Yesus!”

Ibr. 12:26 Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: “Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga.”

Pulau Sumatra dilalui dua jalur gunung berapi di bawah dasar laut, demikian pula antara Pulau Jawa dengan Benua Australia dilalui 2 titik jalur gunung berapi di bawah dasar laut.

Alasan diadakan Surabaya for Jesus karena selalu ada hal-hal negatif hendak terjadi di kota tersebut senantiasa diluputkan. Mari belajar di kota Surabaya dalam event ini untuk menangkap api kebangunan rohani dan pengurapan Roh Kudus.

Ayat 7:
Pada waktu Gereja Tuhan menangkap isi hati Tuhan, urapan Tuhan bukan hanya mengalir pada pemimpin jemaat, namun juga pada jemaat dan seluruh isi keluarganya sehingga para rasul semakin dipakai Tuhan dan lebih luas jangkauannya. Ketika jemaat bangkit, hamba-hamba Tuhannya semakin dipakai luar biasa! Sekalipun dipakai Tuhan secara luar biasa, tetaplah rendah hati, karena kita akan menjadi orang-orang kuat bagi Sumatra!
Sumatra for Jesus!

Posted with WordPress for BlackBerry.