Posts Tagged ‘firman’


20140318-020649.jpg

Hari yang luar biasa di hari Minggu, 16 Maret 2014 ini ketika saya dan isteri, Yesika Suryani memperoleh kesempatan untuk sekali lagi memperlengkapi keluarga-keluarga untuk melayani Tuhan di bulan keluarga ini. Dengan mengangkat tema “As for me and my house we will serve the Lord”, kami menyampaikan pesan Tuhan secara bergantian kepada segenap jemaat yang hadir. Saya berharap, melalui tulisan berikut ini akan semakin menguatkan kehidupan Anda – baik yang telah berkeluarga maupun yang akan menikah maupun yang sedang menantikan jodoh dari Tuhan – untuk mengalami penggenapan janji Tuhan yang luar biasa! Secara khusus, saya dan isteri memiliki kerinduan agar jemaat Gereja Mawar Sharon ‘my home’ dibangun berdasarkan kebenaran Firman Tuhan agar mengalami pemulihan, pertumbuhan, dan diberkati. Hubungan yang harmonis antara anggota keluarga akan menguatkan kehidupan seseorang untuk menjalani panggilannya di dalam Tuhan. Setiap anggota keluarga perlu menyadari pentingnya semakin bertumbuh di dalam iman dan hadirat Tuhan sehingga akhirnya menemukan panggilan untuk melayani Tuhan bersama-sama.

Kali ini, kita akan mempelajari kehidupan keluarga Abram dan Sarai dalam Kejadian pasal 12. Di ayat pertama dituliskan perintah Tuhan kepada Abram agar meninggalkan Haran, tempat tinggalnya bersama keluarga dan sanak saudaranya. Perintah Tuhan ini menggunakan kata “Pergilah…”, yang berarti Abram perlu meninggalkan zona nyaman untuk meraih penggenapan janji Tuhan di tanah yang dijanjikan-Nya, di Kanaan. Keluarga Abram mewakili kehidupan keluarga kita saat ini, Tuhan yang sama juga memerintahkan kita agar keluar dari ‘zona nyaman’ kehidupan ini. Tinggalkan zona nyaman yang menghalangi hidupmu dan keluargamu untuk bisa mendekat dan melayani Tuhan! Sudah terlalu banyak orang yang terjebak di dalam zona nyaman kehidupan ini dan membiarkan hidupnya berputar-putar dalam rutinitas pekerjaan sehari-hari, sudah mulai nyaman menikmati berkat Tuhan sehingga melupakan Dia yang memberikan berkat. Adapula suami-isteri membiarkan suatu konflik dan tidak pernah ada penyelesaian karena bagi mereka penyelesaian konflik itu akan sedikit menyakitkan, menimbulkan keributan dan pertengkaran sehingga akhirnya dibiarkan begitu saja sehingga hubungan yang ‘dingin’ juga menjadi sebuah zona nyaman. Inilah gambaran zona nyaman yang bisa kita alami dalam hidup ini. Tuhan menghendaki agar kita meninggalkan zona nyaman dan membenahi hubungan dalam keluarga. Apabila keluarga kita dipulihkan, bukankah kita akan lebih maksimal di dalam melayani Tuhan?

Dalam ayat kedua dan ketiga tersirat panggilan Tuhan yang spesifik bagi Abram, apabila kita menangkap dengan sungguh-sungguh maknanya bagi kita berarti Tuhan memiliki rencana bagi setiap keluarga kita. Tuhan memerintahkan Abram untuk pindah ke Kanaan yang merupakan lambang dari penggenapan janji atau rencana Allah. Rencana-Nya adalah agar keluarga kita diberkati, akan tetapi berkat itu tidak hanya untuk mengendap bagi keluarga kita saja, namun kita diberkati untuk menjadi berkat. Di ayat 4 dan 5 diceritakan mengenai ketaatan Abram terhadap panggilan Tuhan sehingga Sarai, isterinya dan Lot, anak saudaranya mengikuti Abram. Bukan suatu hal yang mudah untuk meninggalkan zona nyaman dan mulai berkomitmen untuk mengikuti kehendak Tuhan. Sebagai seorang isteri, Sarai berusaha mendukung suaminya dan tidak menghalangi panggilan Tuhan bagi Abram. Untuk mencapai penggenapan janji Tuhan, inilah saatnya bersama keluarga kita membuat sebuah komitmen untuk melayani-Nya.

Sekalipun akhirnya mereka mencapai Kanaan – tempat yang diperintahkan Tuhan agar Abram mengalami penggenapan janji-Nya – bukan berarti masalah tidak akan terjadi. Pada waktu itu justru kelaparan sedang melanda sehingga akhirnya mereka harus pergi ke Mesir (ayat 10). Ketika mulai melangkah untuk melayani Tuhan, terkadang ada saja halangannya, misalnya berupa masalah yang terjadi di sekeliling kita sehingga menimbulkan konflik dalam rumah tangga. Dalam hal ini, tanah Mesir bagaikan kondisi konflik yang bisa timbul dalam hubungan suami dan isteri. Didorong rasa takut terhadap orang-orang Mesir, Abram meminta agar Sarai jangan mengaku sebagai isterinya, namun sebagai adiknya (ayat 12-13). Bagaimana perasaan seorang isteri ketika menghadapi hal ini? Dapat dibayangkan, betapa kecewanya perasaan seorang wanita yang tidak lagi dianggap sebagai isteri oleh suaminya. Namun, oleh karena keadaan apa boleh buat. Untuk situasi seperti inipun Sarai terpaksa memenuhi permintaan Abram. Akibatnya, Sarai dibawa ke istana dan hendak diperisteri Firaun.
20140318-023459.jpg
Pelajaran yang dapat kita petik dari masa konflik ini adalah jangan sekali-kali mengabaikan status pernikahan, baik sebagai suami atau isteri. Apapun masalahnya, hadapilah bersama-sama. Pasangan Anda bukanlah lawan Anda dalam menghadapi masalah. Hadapilah masalah sebagai satu tim, dipenuhi dengan kasih dan rasa saling menghargai. Konflik pasti bisa terjadi dalam kehidupan pasangan suami-isteri, karena pernikahan itu menyatukan perbedaan antara pria dan wanita. Konflik terjadi karena adanya perbedaan. Sewaktu mengalami konflik, bentuk rasa menghargai yang paling sederhana dapat ditunjukkan dengan cara mendengarkan pasangan ketika mulai mengutarakan pendapat. Sediakan telinga untuk mendengar, jangan melakukan hal yang lain; hanya mendengar… apalagi ketika pasangan sedang menyampaikan pendapat dengan penuh kasih.

Belajar dari kesalahaan Abram; akibat mengabaikan statusnya sebagai suami Sarai, mungkin untuk sementara waktu hidupnya mengalami kelegaan dari kelaparan karena Firaun mengingini Sarai, dan Abram mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, budak laki-laki dan perempuan, keledai betina dan unta (ayat 16). Namun, betapa pedihnya hati Sarai ketika dia harus dipisahkan dari Abram dan hendak diperisteri Firaun. Abram memperoleh kesejahteraan hidup namun hendak mengorbankan isterinya. Tuhan tidak tinggal diam, oleh sebab itu tulah menimpa Firaun dan seisi istananya (ayat 17). Tuhan menghendaki agar Abram dan Sarai tetap bersatu, tetap melayani-Nya sebagai suami-isteri yang sah dan mengalami penggenaoan rencana-Nya. Jangan menghadapi masalah sendirian, sebagai suami-isteri hadapilah masalah bersama-sama, tetap ada di pihak yang sama dan tetap andalkan Tuhan. Hadapi masalah yang ada dengan kejujuran, karena tanpa kejujuran justru akan menimbulkan masalah yang lain. Tetaplah melayani Tuhan. Apabila hingga saat ini Anda belum memulainya bersama keluarga Anda, ambil sebuah komitmen dan berdoalah; mohon petunjuk kepada Tuhan dan bergabunglah dalam sebuah pelayanan di dalam komunitas gereja, dimulai dari sebuah kelompok kecil seperti Connect Group. Mari turut ambil bagian bersama keluarga untuk melayani Tuhan bersama-sama dan alamilah penggenapan rencana Tuhan bagi hidup Anda, hidup yang semakin diberkati untuk menjadi berkat!

Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN! – Yosua 24:15

Advertisements

Yang Terutama

Posted: December 8, 2013 in Daily Devotion
Tags: , , ,

20131208-015134.jpgSebentar lagi kita akan mengakhiri tahun 2013; satu tahun lagi akan segera berlalu. Di penghujung tahun, biasanya setiap orang akan melakukan perenungan pribadi untuk mengevaluasi apa yang telah dicapai tahun ini ini, harapan-harapan apa saja yang belum tercapai, hingga merencanakan apa yang hendak dilakukan tahun depan. Sebelum kita terlalu sibuk untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawab kita hingga tutup tahun mendatang, mari luangkan waktu sejenak untuk membaca renungan Firman Tuhan berikut.

“Jawab Yesus kepadanya: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mat. 22:37-39).

Pertama, kita hendaknya mencermati; apakah sepanjang tahun ini kita telah mengerjakan kehendak TUHAN sepenuhnya bagi kehidupan kita atau belum. Apa yang kita kerjakan semasa hidup di dunia ini bukanlah semata-mata mengejar perkara-perkara duniawi belaka, sebab suatu saat nanti semua orang harus mempertanggungjawabkan kehidupannya di hadapan TUHAN. Tuhan memiliki rencana yang mulia bagi Anda saat Anda diciptakan-Nya untuk hidup di bumi ini. Untuk mengenal kehendak-Nya di dalam kehidupan kita, hendaklah kita membangun hubungan yang intim secara pribadi dengan TUHAN. Seringkali, banyak orang melupakan hal ini sehingga hanya memperhatikan perkara-perkara yang duniawi sehingga mulai meninggalkan kehidupan spiritualnya. Padahal, kehidupan rohani merupakan inti kehidupan manusia; segala sesuatu yang berusaha diperoleh seperti uang, harta dan kekayaan, pangkat maupun jabatan tinggi hanyalah merupakan tambahan belaka dalam hidup ini. Mari kita fokuskan diri kita untuk kembali menyelami kehendak Tuhan. Luangkan waktu lebih lagi bersama Tuhan dan belajar untuk semakin mengasihi-Nya dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dan dengan segenap akal budi.

Kedua, baiklah kita memperhatikan; apakah kita sudah menjalin hubungan yang baik dengan sesama – baik dengan keluarga maupun rekan-rekan kita. Hubungan dengan sesama tidak dapat ditukar dengan uang dan kekayaan. Terkadang, demi memperoleh keuntungan lebih, seseorang justru memilih untuk merusak hubungan dengan seseorang. Dalam menjalin hubungan dengan seseorang, kenakanlah perintah Tuhan yang mengajarkan kita untuk mengasihi; kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Apabila kita mulai menyadari ada seseorang yang pernah kita kecewakan, merasa sakit hati dengan pernyataan kita, atau mungkin kita pernah menyimpan dendam dengan orang lain… marilah kita mulai memikirkan langkah untuk berdamai. Dalam Injil Matius 5:25 dituliskan demikian, “Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.”

Dengan memahami perintah Tuhan mengenai mengasihi Allah dan mengasihi sesama, akan lebih mudah bagi kita untuk memprioritaskan mana ‘yang terutama’ dalam hidup ini. Yang terutama dalam kehidupan ini bukanlah kepentingan pribadi kita yang harus terwujud, bukan perkara-perkara duniawi yang harus kita kejar, melainkan kenehdak Tuhanlah yang harus terlaksana. Selamat membuat resolusi di akhir tahun ini. See you in the greater glory!

Jaga Pikiran Anda!

Posted: September 17, 2013 in Daily Devotion
Tags: , , , , ,

20130917-114207.jpg

Semua manusia yang hidup di atas muka bumi ini dianugerahi akal budi oleh Tuhan yang telah menciptakan kita, sehingga itulah yang membedakan kita dari makhluk hidup lainnya, baik itu hewan maupun tumbuhan. Akal budi yang dimiliki oleh manusia memungkinkan kita untuk memiliki daya pikir, daya ingat, maupun imajinasi dengan tingkat kecerdasan yang tiada bandingannya sekalipun di masa kini banyak bermunculan teknologi-teknologi canggih buatan manusia. Salah satu kemampuan manusia yang sangat luar biasa adalah kemampuannya untuk berpikir. Hingga saat ini, belum pernah ada teknologi yang memungkinkan seseorang dapat membaca pikiran sesamanya. Daya pikir manusia diciptakan oleh Tuhan begitu rupa sehingga hanya Tuhan saja dan orang itu sendiri yang dapat mengetahui isi pikirannya.

Pikiran berasal dari hati
Apa yang Anda pikirkan saat ini dipengaruhi oleh kondisi spiritual di dalam hati Anda, sehingga pikiran Anda juga dapat mempengaruhi keputusan yang akan Anda ambil hari ini. Hati yang dimaksud di sini adalah ‘sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian’ (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Di dalam hati inilah yang menentukan apa yang terpancar keluar dari seseorang. Dalam Injil Matius 15:19, Tuhan Yesus pernah memperingatkan, “Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.”. Apabila kondisi hati kita sedang ‘jauh’ dari Tuhan, pikiran kita akan mudah dipengaruhi oleh hal-hal yang negatif seperti kekuatiran, hawa nafsu, kejahatan, dan dosa. Keputusan apapun yang akan kita ambil juga bergantung pada pikiran kita.

Memelihara kondisi spiritual
Mari kita berusaha untuk membenahi hati kita, dimulai dengan menyadari kelemahan-kelemahan diri kita dan segala kecenderungan dosa yang kita miliki lalu kita serahkan kepada Tuhan. Hanya Tuhan Yesus yang sanggup mengampuni segala dosa dan kesalahan kita serta mampu memberikan kekuatan agar kita senantiasa menang terhadap pencobaan-pencobaan dunia. Kita perlu menjaga kondisi spiritual yang senantiasa tunduk akan kehendak Roh dan menjauhi keinginan-keinginan daging. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera (Roma 8:6). Dengan memelihara kondisi spiritual tetap berkenan kepada Tuhan, akan menjadikan segala keputusan yang akan kita ambil hari ini tetap berada di dalam kehendak-Nya dan mendatangkan damai sejahtera bagi kehidupan Anda!

Menjaga Pikiran
Pikiran adalah medan pertempuran bagi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi diri kita, entah itu positif maupun negatif. Sekalipun kondisi spiritual kita dalam kondisi yang baik, tetap pikiran ini perlu dijaga. Apabila tidak dijaga dengan baik, pikiran kita bisa menjadi celah bagi masuknya hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan. Oleh karena itu, pikiran kita perlu diisi dengan pengetahuan akan kebenaran Firman Tuhan dan memikirkan hal-hal yang sesuai isi hati-Nya. Dalam Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi 4:8 dituliskan, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”
See you in the greater glory!

TEMPAT PERHENTIAN BAGI JIWA

Posted: July 24, 2013 in Daily Devotion
Tags: , ,

20130724-172649.jpg

“Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku.” (Ibrani 4:1)

Penulis surat kepada orang Ibrani memperingatkan agar kita senantiasa waspada. Waspada adalah sebuah tindakan untuk meningkatkan kesadaran diri akan sesuatu yang tidak terduga, yang mungkin akan terjadi di masa yang akan datang. Kewaspadaan yang dimaksud di sini bukanlah waspada akan hal-hal yang akan terjadi di sekitar kita, namun waspada terhadap sebuah ajakan secara spiritual dari Tuhan untuk memasuki tempat perhentian-Nya (Ingg: His rest) atau peristirahatan-Nya. Tuhan paling mengerti akan kebutuhan umat-Nya. Selain kebutuhan-kebutuhan secara materi yang perlu untuk dipenuhi, manusia juga memerlukan ‘istirahat’ secara rohani dan berhenti dari segala pekerjaannya untuk sesaat dan memfokuskan diri kepada Tuhan. Untuk itulah, Tuhan mengundang umat-Nya untuk memasuki tempat perhentian-Nya agar dapat meneduhkan jiwa bersama-Nya. Segala aktivitas yang kita lakukan secara rutin, menghadapi permasalahan hidup, dan berbagai kesibukan bukan hanya membuat tubuh kita lelah, namun secara spiritual juga membuat roh kita lemah. Tuhan menyediakan tempat peristirahatan-Nya bagi setiap jiwa yang letih lesu dan berbeban berat.

Firman yang bertumbuh karena iman
“Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka, tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya.” (Ibrani 4:2)
Untuk menanggapi Firman Tuhan yang memberitakan ajakan sukacita untuk memasuki tempat perhentian-Nya dibutuhkan iman. Apabila Firman Tuhan diresponi dengan iman, maka iman itu akan bertumbuh. Iman dan Firman memiliki hubungan yang saling terkait satu dengan yang lain. Dalam Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma kita mempelajari bahwa iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus (Rom. 10:7). Setelah iman timbul dan bertumbuh dalam diri kita, maka setiap kali kita mendengarkan Firman Tuhan, iman tersebut akan membuat Firman bertumbuh. Firman yang bertumbuh dalam diri kita akan mengaktifkan kuasa Allah bekerja secara luar biasa. Namun, bagi yang tidak menanggapi Firman Tuhan dengan iman untuk masuk ke tempat perhentian-Nya merupakan sebuah sikap ketidaktaatan.
“Jadi sudah jelas, bahwa ada sejumlah orang akan masuk ke tempat perhentian itu, sedangkan mereka yang kepadanya lebih dahulu diberitakan kabar kesukaan itu, tidak masuk karena ketidaktaatan mereka.” (Ibrani 4:6)
Iman dan ketaatan itulah yang akan menuntun kita memasuki tempat perhentian-Nya.

Perhentian Bagi Jiwa
Tempat perhentian-Nya bagi jiwa kita dapat dicapai dengan iman dan ketaatan melalui doa. Semua orang perlu menemukan tempat perhentian-Nya agar dapat beristirahat secara maksimal, lepas dari segala aktivitas dan kesibukan rutin untuk sementara waktu. Percayalah, hal ini akan menyegarkan jiwa Anda. Di tempat perhentian-Nya akan ditemukan damai sejahtera yang berlimpah, kasih, dan perlindungan-Nya yang ajaib. Yang terutama, kita akan menemukan Sang Pemilik tempat perhentian tersebut, yaitu Tuhan Yesus yang akan mengatakan, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28). See you in the greater glory!

Kemenangan Sejati

Posted: June 23, 2013 in Daily Devotion
Tags: , ,

Kemenangan SejatiSebelum terlahir sebagai manusia, embrio yang terbentuk di dalam rahim seorang ibu berawal dari ratusan juta sel sperma seorang pria yang berusaha keras untuk bersaing menuju sel telur. Dalam menempuh perjalanan ini, ada yang gugur di tengah jalan, kehilangan arah ke sana kemari, hingga akhirnya tersisa beberapa dan… hanya satu sel sperma saja yang akhirnya ‘muncul sebagai pemenang’ untuk membuahi sel telur. Anda pun terlahir sebagai pemenang di dunia ini karena telah mengalahkan sekian ratus juta ‘calon’ penduduk dunia. Semua orang yang lahir di dunia memiliki karakter seorang pemenang, karena itu kita senantiasa terpacu untuk menjadi yang terbaik dan menjadi posisi teratas atau peringkat pertama.

Jadilah yang terbaik!
Sebagai bibit unggul yang terlahir di dunia ini, tentunya saya dan Anda dapat mencapai yang terbaik dalam aspek kehidupan yang telah Tuhan percayakan bagi kita, baik dalam hubungan keluarga, pekerjaan, karir, bisnis, keuangan, dan sebagainya. Ya, untuk menjadi yang terbaik kita harus menyadari bahwa potensi ‘terbaik’ itu telah ada dalam diri kita, karena sudah menjadi bawaan lahir. Dengan penuh tanggung jawab, kita juga perlu terus mengembangkan potensi tersebut dengan belajar, tekun, berusaha sampai bisa dan melakukan segala sesuatu dengan teliti. Sebuah perusahaan memperoleh penghargaan terbaik karena memberikan pelayanan yang terbaik, baik bagi karyawannya maupun bagi pelanggannya; bukan sekedar sehat secara keuangan belaka atau karena berhasil mengejar keuntungan setinggi-tingginya saja. Firman Allah juga memotivasi kita untuk melakukan yang terbaik sebagai berikut, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kol. 3:23). Apa yang dapat kita kerjakan bagi pencipta kita? Tentunya kita akan melakukannya sebaik mungkin, bukan? Sekalipun kita bekerja di antara manusia, lakukanlah yang terbaik seperti kita melakukannya untuk Tuhan.

Lebih dari pemenang
Semua yang terlahir di dunia ini adalah para pemenang! Hal ini dapat kita rasakan dalam seluruh peredaran darah maupun denyut nadi kita. Semangat untuk menang, gairah untuk berkompetisi, keinginan untuk bersaing, semuanya melekat di dalam jiwa kita. Kita diciptakan untuk mengalahkan dunia (1 Yoh. 5:4a)! Kemenangan yang kita raih hendaknya bukan untuk merugikan seseorang, persaingan yang kita menangkan bukan untuk mematikan usaha orang lain, menjadi juara dalam kompetisi juga bukan karena disulut oleh dendam. Jiwa seorang pemenang sejati adalah membangun, bukan merusak atau menghancurkan sesamanya. Kemenangan sejati pasti disertai oleh kasih. Orang-orang yang meraih kemenangannya atas dasar kasih adalah orang-orang yang lebih dari pemenang, seperti tertulis dalam Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma sebagai berikut, “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Rom. 8:37).

Dalam bidang kehidupan apapun yang sedang Anda jalani saat ini, seolah-olah berada dalam perlombaan lari menuju ke sebuah garis finish. Selama masih ada waktu dan kesempatan, pergunakanlah sebaik mungkin untuk meraih kemenangan. Adakalanya seseorang dapat mengalami kegagalan, namun jangan takut… kegagalan tidak membuat Anda menjadi seorang pecundang, bukan? Kegagalan merupakan rintangan yang harus dilewati oleh pemenang sejati. Raihlah kemenangan Anda dalam hidup ini! See you in the greater glory!