Posts Tagged ‘hadirat’


20120729-111247.jpg

Kisah Zakheus

Minggu, 29 Juli 2012 di GMS my home saya menyampaikan khotbah dalam bentuk creative preaching yang diinspirasikan oleh peristiwa yang dialami oleh Zakheus dalam Injil Lukas 19:1-10. Cukup menarik, Zakheus merupakan salah satu nama yang dicatat di dalam Injil yang tentunya merupakan sebuah catatan sejarah yang cukup berpengaruh untuk dapat kita pelajari hingga di masa kini dalam menjalani iman Kekristenan. Latar belakang mengenai Zakheus ini dikisahkan bahwa dia adalah seorang kepala pemungut cukai yang kaya raya (ayat 2). Profesi yang dijalani ini bukanlah sesuatu yang mudah, sekalipun penghasilannya begitu berlimpah. Profesi sebagai pemungut cukai (tax collector) pada waktu itu di zaman penjajahan pemerintah Roma memang sengaja diambil dari antara orang-orang Yahudi sendiri, salah satunya adalah Zakheus. Seringkali pemungut cukai memeras rakyat sebangsanya sendiri untuk menguntungkan diri sendiri, sehingga mereka disebut sama dengan orang berdosa. Terlebih lagi, mereka dibenci oleh orang-orang Yahudi lainnya dan dianggap sebagai pengkhianat negara maupun agama. Sekalipun memiliki kekayaan yang melimpah, Zakheus sangat tidak disukai banyak orang, apalagi dia bukan sekedar pemungut cukai biasa namun seorang kepala dari para pemungut cukai. Saya dapat membayangkan betapa dibencinya Zakheus oleh banyak orang pada waktu itu. Sebagai orang kaya, Zakheus tentunya sangat dikenal oleh masyarakat; dikenal oleh orang banyak yang telah dirugikan olehnya dan sangat dibenci tentunya.

Apa yang membuat hidup Zakheus berubah? Di akhir kisahnya dalam ayat ke-8 diceritakan bahwa Zakheus berjanji kepada Tuhan Yesus untuk memberikan setengah dari miliknya kepada orang miskin dan mengembalikan sebanyak empat kali lipat dari orang-orang yang pernah diperasnya. Apa yang membuat kepala cukai ini berubah dari seorang pemeras menjadi pemurah? Perjumpaan dengan Tuhan Yesuslah yang membuat hidupnya diubahkan sedemikian rupa. Apakah jawaban Anda juga seperti ini? Beberapa kisah dalam Injil juga diceritakan mengenai beberapa orang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus namun hidupnya tidak diubahkan. Sebut saja 9 orang kusta dari 10 orang kusta yang telah disembuhkan Yesus tidak diketahui lagi bagaimana kabarnya, Pilatus dan Herodes pernah berjumpa dengan Yesus namun hidupnya tidak berubah, belum lagi salah satu penjahat yang disalibkan bersama Yesus juga tidak mengalami pertobatan. Bahkan, murid-Nya sendiripun yang bernama Yudas justru berbalik mengkhianati Yesus dan tidak bertobat hingga akhirnya mati dengan cara menggantung diri. Bukan sekedar perjumpaan dengan Yesus, namun ada sesuatu yang begitu esensial yang dimiliki oleh Zakheus sehingga hidupnya benar-benar diubahkan. Saya mengajak kita memandang secara ‘flashback’ (kilas balik) mengenai peristiwa yang mengubahkan Zakheus untuk selamanya ini.

Zakheus adalah manusia biasa yang juga memiliki ‘kekosongan’ di dalam jiwanya dan kekosongan tersebut tidak dapat dipuaskan dengan jabatan yang tinggi maupun harta yang begitu melimpah. Bagian yang kosong ini hanya dapat dipuaskan oleh pribadi Tuhan sendiri. Sebagai orang yang sangat kaya, dengan sangat mudah dia dapat memperoleh informasi bahwa Tuhan Yesus sedang memasuki kotanya, Yerikho. Tentu saja, nama Yesus bukanlah sebuah nama yang asing bagi Zakheus yang telah dikenal dengan pengajaran-Nya, mujizat, maupun tanda-tanda yang telah diadakan-Nya.

Zakheus pernah mendengar tentang Yesus ini dari apa kata orang, bagaimana Dia melakukan perkara-perkara ajaib dan mengajarkan Kerajaan Sorga. Namun Zakheus belum pernah mengalami perjumpaan dengan Yesus secara pribadi dan menyadari bahwa dia adalah seorang berdosa yang membutuhkan seorang juruselamat untuk bisa masuk Kerajaan Sorga. Dia sangat membutuhkan Yesus! Sayangnya, untuk melihat Yesus saja Zakheus tidak mampu karena badannya pendek. Bukankah ilustrasi mengenai Zakheus ini acapkali merupakan gambaran dari kerohanian kita? Kita tidak lagi atau belum pernah mengalami pengalaman pribadi bersama dengan Tuhan secara pribadi, namun hanya sebatas mendengar tentang Yesus dari kesaksian orang lain. Saat kita berusaha untuk menyaksikan kuasa Yesus bekerja dalam diri kita, kita tidak sanggup karena – seperti Zakheus – kita pendek secara rohani, atau penuh keterbatasan untuk bertumbuh. Bahkan, mungkin Anda juga menyadari bahwa Anda juga seorang pribadi yang tidak disukai atau dibenci banyak orang karena dosa-dosa pribadi yang sulit Anda hindari. Keberadaan Anda di lingkungan Anda begitu menyulitkan sehingga tidak seorangpun peduli di saat Anda sedang ingin melihat Yesus seperti Zakheus.

Ada satu hal yang cukup menarik perhatian Tuhan dari Zakheus ini. Bukan karena Zakheus seorang yang kaya sehingga Yesus mau menumpang di rumahnya, namun karena ada sebuah ‘gairah’ untuk mencari dia sekalipun pamor Zakheus adalah orang berdosa, sekalipun badannya pendek dan penuh keterbatasan. Zakheus tidak menyerah untuk mencari Yesus! Inilah yang dia lakukan, perhatikan ayat ke-4 yang tertulis “Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus”. Seberapa banyak dari kita yang begitu sungguh-sungguhnya mencari Tuhan Yesus sehingga kita harus berlari mendahului yang lain? Seberapa gigih kita untuk mengalami Tuhan lebih lagi sehingga bila perlu kita harus memanjat sebuah pohon ara? Zakheus tidak lagi mempedulikan statusnya sebagai seorang kepala pemungut cukai. Seberapa banyak dari kita yang masih mengeraskan hati untuk berjumpa dengan Yesus hanya karena kita merasa punya jabatan penting? Zakheus menanggalkan semua rasa malu dan statusnya hanya untuk dapat melihat Yesus. Dengan iman semacam inilah yang membuat Yesus tertarik sehingga Yesus melihat ke arah pohon yang dipanjat Zakheus dan memanggilnya turun. Di saat itulah, Zakheus menerima Yesus dengan sukacita. Saya percaya, saat kita menerima Yesus dalam hidup kita, kita akan mengalami sukacita yang luar biasa.

Anda rindu Tuhan Yesus menumpang di rumah Anda (atau katakanlah dalam hidup Anda) hari ini? Mari belajar dari Zakheus! Dengan rasa haus dan lapar akan pribadi Yesus, kejarlah hadirat-Nya lebih lagi, jangan pedulikan apa kata orang, tanggalkan semua perasaan yang menghalangi Anda baik itu berupa kebanggaan akan jabatan maupun kekayaan tertentu! Saya percaya saat dari dasar hati Anda yang terdalam berseru, “Yesus! Aku membutuhkan-Mu! Hatiku haus dan lapar akan Engkau! Aku hanya menginginkan pribadi-Mu lebih lagi!” Anda akan mengalami Tuhan Yesus secara pribadi! Terimalah hadirat-Nya yang akan senantiasa menyertai Anda mulai saat ini!

Perjumpaan dengan Tuhan Yesus karena Anda begitu menginginkan-Nya dengan begitu gigih akan mengubahkan hidupmu… dan hidup ini tidak akan pernah sama lagi! Tuhan Yesus memberkati!

Advertisements

20120729-104812.jpg


“Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.” (Yesaya 6:1)

Hadirat Tuhan akan memenuhi umat-Nya; hanya… kita yang harus siap! Yesaya memperoleh penglihatan akan kehadiran Tuhan di tahun matinya Raja Uzia. Raja Uzia adalah gambaran kedagingan kita (Baca: 2 Taw. 26:1-23). Raja Uzia memang memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan, banyak melakukan perbuatan baik, melayani Tuhan sepenuh hati, namun akhirnya menjadi tinggi hati sehingga mulai berubah setia dan menjauh dari Tuhan hingga hari kematiannya.

Kedagingan dalam iman Kekristenan kita dapat menjadikan kita tinggi hati (2 Taw. 26:16) sehingga tidak lagi hidup di dalam takut akan Tuhan. Pelajaran yang dapat kita petik dari peristiwa ini adalah: matikan perbuatan daging sehingga kita dapat mengalami Tuhan lebih lagi!

Yesaya melihat Tuhan duduk di takhta yang tinggi dan menjulang, artinya kita harus bisa menempatkan Tuhan kembali di posisi yang seharusnya, tempat tertinggi di dalam hidup kita. Hal ini semata-mata dapat kita lakukan apabila kita telah berhasil mematikan kedagingan kita. Tujuan kita beribadah adalah untuk memperoleh hadirat-Nya, pribadi-Nya, bukan sebatas ibadah secara liturgis atau agamawi. Hadirat Tuhan di dalam hidup kita inilah yang akan memulihkan segala aspek hidup kita, memberkati kita, bahkan menyembuhkan sakit-penyakit kita!
Saya mengajak kita banyak berdoa dan menginginkan hadirat-Nya lebih lagi!

Selamat menjalani hari yang luar biasa!

Posted with WordPress for BlackBerry.


20111220-122004.jpg
Setelah melalui pendakian melalui jalan yang berbatu-batu, akhirnya kami tiba di puncak gunung Sinai. Matahari belum terbit ketika kami memulai ibadah singkat di puncak Gunung Sinai. Sekitar 80 orang memuji dan menyembah Tuhan dengan segenap hati pagi itu. Secara pribadi, saya sangat merasakan kehadiran Tuhan di puncak Gunung Sinai. Sambil menangis tersedu-sedu, saya terus menyembah Tuhan, paling tidak hadirat-Nya yang pernah dinyatakan kepada Musa ribuan tahun yang lalu di tempat yang sama juga saya rasakan. Sekalipun diselimuti dengan udara dingin, namun kami tetap memuji dan menyembah Tuhan dengan sangat antusias. Sebagian besar dari antara kami menangis karena mengalami jamahan Tuhan.

Pagi itu, saya menyampaikan perenungan Firman Tuhan dari Kitab Keluaran 33 yang menceritakan bagaimana Musa rindu untuk mengalami penyertaan Tuhan dan ingin melihat kemuliaan-Nya saat menghadap ke Gunung Sinai untuk menemui Tuhan. Di awal pertobatan saya ketika membaca kisah Musa ini, saya sangat tertarik untuk mengalami apa yang dialami oleh Musa ketika Musa meminta kepada Tuhan, “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku.” (Keluaran 33:18). Namun, Tuhan menjawab Musa, “Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani.” (Keluaran 33:19). Saya sangat kagum dengan pengalaman Musa sehingga saya merasa, untuk mengalami pengalaman seperti Musa benar-benar butuh kasih karunia, namun pada waktu itu saya merasa tidak layak untuk memperoleh kasih karunia tersebut. Ketika saya berada di puncak Gunung Sinai waktu itu, saya merasakan dan menyadari bahwa kasih karunia-Nya sungguh besar dalam hidup saya!

Saat kita membaca Kel. 34:4, “Lalu Musa memahat dua loh batu sama dengan yang mula-mula; bangunlah ia pagi-pagi dan naiklah ia ke atas gunung Sinai, seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya, dan membawa kedua loh batu itu di tangannya…”; kita membacanya dalam hitungan detik. Namun untuk mencapai puncak Gunung Sinai, dibutuhkan waktu berjam-jam seperti yang kami lakukan. Untuk menghadap Tuhan, Musa melakukannya dengan sungguh-sungguh, seperti yang tertulis dalam Ibrani 11:6, “Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” saat dengan kesungguhanhati kita mencari Tuhan, maka Tuhan akan melawat dan memenuhi kita dengan hadirat-Nya, dengan segenap kemuliaan-Nya! Itulah yang saya dan isteri saya harapkan saat kami mendaki ke puncak Gunung Sinai! Kami tidak mengharapkan berkat-Nya, tidak sekedar mencari foto yang indah di puncak gunung, bukan untuk menikmati pemandangan alam, namun kami hanya mengharapkan hadirat-Nya memenuhi kehidupan kami dan kami mengalami kemuliaan-Nya! Bahkan, kami tidak meminta agar Tuhan harus mengabulkan doa-doa kami dengan segera. Saya berpesan melalui renungan Firman Tuhan yang saya sampaikan bahwa saat kita berdoa, sesungguhnya doa kita tidak akan mengubah Tuhan dan kedaulatan-Nya namun saat kita memanjatkan doa-doa kita, saat kita memilki iman dan motivasi hati yang benar, sesungguhnya kitalah yang diubahkan-Nya!

Usai kami beribadah pagi itu dengan diiringi terbitnya matahari, kami semua berdoa dan setiap kepala keluarga mendoakan isterinya maupun anaknya yang turut serta serta memanjatkan pokok-pokok doa di hadapan Tuhan. Hadirat Tuhan sungguh luar biasa di tempat ini dan kami semua masing-masing mengalami pengalaman secara pribadi dengan Tuhan. Saat kami menuruni Gunung Sinai, barulah tampak di bebatuan yang kami lalui sebelumnya ternyata dilapisi bunga es tipis. Hal ini disebabkan suhu udara yang cukup dingin sehingga embunnya membeku dan membentuk lapisan es. Kami menuruni anak tangga yang berbatu-batu untuk kemudian melanjutkan perjalanan kami sekali lagi dengan menunggangi unta menuju ke tempat perhentian yang pertama – Biara St. Catherine.

Sekitar 3 jam yang kami lalui saat kami turun dari puncak gunung Sinai menuju ke Biara St. Catherine. Begitu seluruh rombongan sudah berkumpul, kami kembali ke tempat penginapan kami di Hotel St. Catherine untuk melanjutkan perjalanan kami berikutnya, yaitu untuk makan siang dan menuju perbatasan Taba untuk meninggalkan Mesir dan memasuki Tanah Perjanjian: Israel!


Hari ini, Minggu 11 September 2011 saya berkesempatan untuk melayani di salah satu gereja lokal Mawar Sharon yang terdapat di kota Pekanbaru. Ini merupakan pertama kalinya perjalanan saya ke kota Pekanbaru untuk melayani Tuhan dan membangun jemaat lokal. Pukul 09.15 WIB saya dijemput oleh seorang jemaat untuk diantar ke Hotel Grand Zuri di Jl. Teuku Umar no.80A – tempat yang selama ini digunakan untuk beribadah oleh jemaat GMS Pekanbaru.
Sebelum tiba di lokasi, kami terlebih dahulu menjemput seorang anak dan ibunya untuk bersama-sama beribadah. Nama anak ini Ciau Hui, usianya baru sekitar 4 tahun namun pembawaannya sungguh supel dan banyak memotivasi orang lain untuk berdoa. Selain itu, Ciau Hui suka menyanyi sehingga di ibadah EagleKidz pun anak ini turut memimpin pujian.

EagleKidz GMS Pekanbaru

Sekalipun hujan turun rintik-rintik dari pagi hari, tidak mengurangi antusiasme jemaat untuk beribadah di hari Minggu ini. Sekitar pukul 10, ibadah pun dimulai dengan pujian penyembahan yang dipimpin oleh Ibu Elvi Edward – worship leader dari GMS my home, Medan. Setelah melangsungkan perjamuan kudus, saya menyampaikan isi hati Tuhan bagi jemaat GMS Pekanbaru agar membangun kehidupan yang intim bersama-Nya di dalam hadirat Tuhan. Saya mengajak jemaat untuk menguji kehidupan kerohanian yang kita jalani selama ini apakah sudah dipimpin oleh Roh atau daging kita. Dalam Yoh. 3:6 tertulis, “Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.” Daging yang dimaksudkan di sini adalah keadaan manusia yang dipenuhi kelemahan sehingga cenderung untuk berbuat dosa. Yang dimaksud dengan daging dilahirkan dari daging adalah apabila kerohanian kita dipimpin oleh ‘daging’, maka sesungguhnya hidup kita sedang menuju maut. Sedangkan yang dimaksud dengan roh dilahirkan dari Roh adalah apabila kerohanian kita dipimpin oleh ‘Roh’, maka sesungguhnya kita menuju hidup dan damai sejahtera (Rom. 8:6).
Dalam Why. 11:1-2, Rasul Yohanes mendapatkan pernyataan Tuhan mengenai observasi-Nya terhadap Gereja-Nya – jemaat yang dikasihi-Nya sebagai berikut:
Kemudian diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya, dengan kata-kata yang berikut: “Bangunlah dan ukurlah Bait Suci Allah dan mezbah dan mereka yang beribadah di dalamnya. Tetapi kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya.”

Yohanes diberikan sebuah alat pengukur untuk mengukur 3 bagian ini:
1. Bait Suci Allah
Perintah untuk mengukur di sini bukanlah untuk mengukur seberapa besar ukuran sebuah gereja, namun yang diukur adalah kualitas rohani Gereja Tuhan di mata-Nya.
‘Bait Suci Allah’ mewakili keberadaan Gereja Tuhan secara koorporat di atas muka bumi ini. Segala jenis penyelenggaraan ibadah yang kita lakukan, semuanya ‘diukur’ oleh Tuhan. Tentu saja, ibadah yang dilakukan secara kedagingan (dengan motivasi yang salah) tidak akan berkenan kepada Tuhan. Ibadah yang sejati adalah saat kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah (Rom. 12:1)

2. Mezbah
Mezbah yang terdapat di dalam Bait Suci adalah Mezbah pembakaran ukupan yang biasanya digunakan oleh para imam untuk mempersembahkan korban berupa dupa yang harum dan wewangian di hadapan Tuhan. Asap dupa yang naik ke atas melambangkan doa, pujian, dan penyembahan kita di hadapan-Nya. Inipun termasuk bagian yang diukur! Tuhan tidak menilai seberapa baik kita bisa berdoa atau seberapa bagus suara kita saat menyanyi, namun yang diutamakan di sini apakah doa, pujian, dan penyembahan kita berasal dari dorongan ‘daging’ atau berasal dari ‘roh’.

3. Mereka yang beribadah di dalamnya
Yang diukur dan diperhitungkan oleh Tuhan adalah jemaat yang beribadah di dalam Bait Suci! Sedangkan jemaat yang berada di pelataran tidak diperhitungkan. Sekali lagi, yang dimaksudkan di sini bukan secara harafiah, namun secara rohani. Yang dihitung juga bukan berapa banyak jumlah jemaat sebuah gereja, namun kualitas kerohanian setiap jemaat yang percaya kepada Tuhan Yesus. Tipikal jemaat yang kerohaniannya berada di pelataran Bait Suci adalah orang-orang yang telah percaya kepada Tuhan Yesus namun kurang mengalami pertumbuhan rohani sehingga enggan rasanya untuk hidup dipimpin Roh. Hal ini menjadikan kehidupannya ‘kedagingan’ sehingga tidak lapar dan haus akan hadirat Tuhan dan menjadikan mereka kurang menyukai kegiatan-kegiatan maupun perkara-perkara yang bersifat rohani, bahkan seringkali jatuh bangun di dalam dosa. Bagi mereka yang masih berada di pelataran ini, bahkan oleh Tuhan ‘diberikan kepada bangsa-bangsa lain yang juga menginjak-injak Kota Suci’, maksudnya kehidupan mereka diserahkan kepada permasalahan demi permasalahan dan kehidupan ini rasanya diinjak-injak oleh pergumulan silih berganti sehingga tidak mengalami kemenangan demi kemenangan.

Ibadah GMS Pekanbaru

Sedangkan tipikal jemaat yang beribadah di dalam Bait Suci adalah orang-orang percaya yang senantiasa membangun hubungan intim dengan Tuhan dilandaskan dengan rasa lapar dan haus akan hadirat-Nya. Mereka senantiasa menginginkan perkara-perkara rohani terjadi dalam kehidupan rohani dan mengandalkan Tuhan dalam setiap permasalahan dan pergumulan sehingga selalu mengalami kemenangan demi kemenangan dan bahkan menjadi lebih dari pemenang. Bagi yang ingin masuk ke beribadah di dalam Bait Suci ini hanya dibutuhkan rasa haus dan lapar akan Tuhan, bukan sekedar rutinitas kita menghadiri ibadah karena kewajiban agama. Rasa haus dan lapar itu saya gambarkan sebagai berikut; andaikata sudah 3 hari saya kelaparan dan saya melihat Anda lewat sambil membawa makanan dan minuman yang lezat, tentunya saya akan menghampiri Anda untuk memohon agar Anda memberikan makanan tersebut. Mungkin Anda tidak akan langsung memberikannya kepada saya, maka saya akan memelas. Saat Anda menolak secara halus, saya akan mulai merengek, bahkan berlutut di depan Anda… ketika Anda akhirnya mulai ragu untuk memberikannya kepada saya atau tidak, saya sudah tersungkur di depan Anda agar Anda berbagi dengan saya. Dengan sikap haus dan lapar akan Tuhan seperti yang saya ilustrasikan di atas, saya percaya TUHAN akan berkenan lalu mencurahkan hadirat-Nya bagi kita. Seringkali, yang menghalangi seseorang untuk merasakan hadirat-Nya adalah dosa pribadi (tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu – Yes. 59:2). Selain itu, kecenderungan daging juga membuat kita tidak lagi merindukan hadirat-Nya baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam pertemuan ibadah sekalipun kita rutin datang ke gereja. Dengan bertobat dan merendahkan diri serta membangun kehidupan yang haus dan lapar akan hadirat Tuhan, kita akan menjadi jemaat yang terhitung sebagai ‘mereka yang beribadah di dalam Bait Suci’.

Di akhir ibadah ini, lawatan Roh Kudus melanda jemaat GMS Pekanbaru sehingga beberapa di antaranya menerima baptisan dalam Roh Kudus untuk pertama kalinya dengan tanda berkata-kata dalam bahasa roh dan yang lain mengalami pembaharuan pengalaman pribadi di dalam hadirat Tuhan. Milikilah roh yang lapar dan haus akan Tuhan, maka Dia akan menuntun kehidupan kita dari kemuliaan yang satu kepada kemuliaan yang lebih besar!

Sumatra for Jesus!


Priscilla Shirer adalah seorang pembicara wanita yang diurapi Tuhan, berbicara dengan penuh keyakinan, gairah dan hikmat. Di hari kedua sesi yang kedua, beliau mengawali sesi yang dipimpinnya dengan mengatakan bahwa lebih baik berada bersama dengan 40 orang yang serius memuji Tuhan dan ingin melihat mujizat yang lebih besar serta mempunyai kapasitas yang besar untuk melayani orang lain daripada bersama 40 ribu orang yang tidak serius dalam Tuhan.

Beliau mengupas Yoh. 11:55-56 mengenai orang-orang berkumpul dan mengharapkan kehadiran Tuhan Yesus. Beberapa hari sebelumnya, Yesus telah melakukan mujizat. Orang-orang ini tdk mencari kaum Farisi dan Saduki, namun mencari Yesus. Demikian pula saat kita sebagai pemimpin mengadakan pertemuan/ konferensi, kita harus memastikan supaya setiap orang mencari dan mendapatkan Yesus, bukan pembicaranya! Ilustrasi sederhana mengenai kebenaran ini semisal kita pergi ke Starbuck namun tidak mendapati kopi hangat, saat pergi ke Dunkin Donuts namun kita tidak menemukan donat, buat apa…? Demikian pula saat kita datang ke gereja apabila kita tidak menemukan Tuhan, ibadah tidak akan ada artinya.

Priscilla Shirer juga menceritakan pengalamannya saat melayani di ‘pre-seeker church’ di mana organiser acaranya memberitahukan kepadanya apabila jemaat tersebut tidak tahu tentang Yesus. Yang diharapkan adalah; supaya Priscilla Sarah berkotbah tetapi tidak terlalu mengutamakan Yesus… Justru kebalikannya yang hendak dilakukan oleh Priscilla Shirer, semakin orang tidak mengenal Yesus, dia akan memberitakan pengorbanan Yesus, karena itulah yang dia tahu!

Dalam ayat 56 dituliskan bahwa Yesus berjalan keluar kota, berlawanan arah dengan pesta Paskah yang sedang diadakan. “Religoius presence did not guarantee His presence” ~ tempat yang religius tidak menjamin bahwa hadirat Tuhan pasti ada di situ; bahkan dalam kumpulan pemimpin gereja juga tidak menggaransi kehadiran Tuhan di dalamnya. Kita harus berfokus pada poin terpenting yaitu Tuhan menginginkan hidup banyak orang berubah. Orang-orang butuh kehadiran Tuhan dan keyakinan bahwa Tuhan hadir, bukan sekedar menikmati acara. Saat mempersiapkan acara dengan excellent dan menarik, harus dipastikan juga kehadiran Tuhan dalam acara tersebut.

Sekali kita merasakan pengalaman dengan Tuhan, kita akan semakin menginginkannya. Pelayanan Yohanes Pembaptis dalam Yoh. 1: 35-36 tertulis bahwa Yohanes pembaptis menunjukkan kepada murid-muridnya bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah. Saat kita mengarahkan seseorang kepada Yesus, itulah itulah pelayanan yang sebenarnya! Pelayanan itu mengarahkan orang pada Yesus, bukan pada kita. Buah dari pelayanan adalah orang-orang yang dilayani pada akhirnya akan mencari Tuhan dan hadirat-Nya.

Kenapa Yesus tidak ada di pesta itu? Jawabannya terletak pada ayat 47 dan 53, karena pemimpin-pemimpin rohani pada waktu itu hendak menghancurkan/ membunuh kuasa Tuhan. Kunci kehadiran Tuhan terletak pada pemimpin yang hendak menerima kehadiran Tuhan atau tidak. Sebagai penutup, Priscilla Shirer menyampaikan bahwa kita adalah pelayan dari kehadiran Tuhan.

We are the steward of God’s own presence ~ Priscilla Shirer

Posted with WordPress for BlackBerry.