Posts Tagged ‘jemaat’


20130406-185452.jpg

Dalam Perjanjian Lama, kita mengetahui kisah Yunus yang terkenal dengan pengalamannya ditelan oleh seekor ikan besar. Seharusnya Yunus tidak perlu mengalami peristiwa yang begitu mencekam di dalam perut ikan seandainya Yunus taat pada perintah Tuhan. Nama Yunus memiliki arti sebagai ‘burung merpati’. Burung merpati digambarkan sebagai lambang perdamaian, memiliki karakter yang setia, lembut, polos, dan tidak mudah kecewa atau kepahitan karena tidak memiliki empedu. Selain itu, Roh Allah yang turun di atas Tuhan Yesus sewaktu dibaptis oleh Yohanes juga seperti burung merpati (Yoh. 3:16). Yunus merupakan gambaran dari orang percaya yang dipenuhi oleh Roh Allah dan dituntun oleh Roh. Disebutkan pula, Yunus adalah anak Amitai; Amitai memiliki arti ‘kebenaran-Ku’. Setiap orang yang hidupnya dipenuhi dan dituntun oleh Roh Kudus harus hidup sebagai seorang anak yang dididik dalam kebenaran Allah. Pada waktu itu, Yunus menerima Firman Tuhan agar berangkat ke kota Niniwe untuk menyerukan pertobatan bagi setiap penduduknya, karena kejahatan kota tersebut telah sampai pada Tuhan (Yun. 1:2).

Niniwe adalah ibukota Asyur dan bukan termasuk wilayah Kerajaan Israel maupun Yehuda. Perintah Allah bagi Yunus sebenarnya menunjukkan belas kasihan Allah bagi bangsa-bangsa lain yang terhilang. Memang, Israel merupakan bangsa pilihan Tuhan, namun pada waktu itu Kerajaan Israel hidup di dalam pemberontakan terhadap Allah, sehingga Allah pun mengutus nabi-nabi-Nya untuk menyerukan pertobatan bagi Israel. Allah tetap panjang sabar terhadap bangsa Israel dan menahan murka-Nya sewaktu Israel tidak mau berbalik kepada Tuhan hingga akhirnya Israel harus ditundukkan di bawah kerajaan Babel. Sekalipun Israel adalah bangsa pilihan Allah, Dia tetap mengasihi bangsa-bangsa lain, bahkan di hati-Nya telah mencintai Indonesia, sekalipun pada waktu Tuhan mengadakan perjanjian dengan Yakub (cikal bakal bangsa Israel) Indonesia belum terlahir sebagai sebuah negara; di hati Tuhan juga telah mencintai Sumatra sekalipun pada waktu itu Sumatera belum dilahirkan!

Sama seperti Tuhan mengasihi kota Niniwe yang penuh dengan kejahatan, terlebih lagi Tuhan mencintai Pulau Sumatera! Kota Niniwe memiliki luas wilayah tiga hari perjalanan jauhnya. Yunus memasuki sepertiga bagian dari kota Niniwe (Yun. 3:3-4) dan berseru: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.”. Respon hati penduduk Niniwe yang percaya kepada Allah mengakibatkan mereka berpuasa dan mengenakan kain kabung sebagai tanda merendahkan diri dan menyesali dosa.

Gereja lokal hadir di sebuah kota untuk menjadi berkat bagi setiap penduduknya dan mempengaruhi agar transformasi (pertobatan) terjadi!

Yunus baru saja menjalani sepertiga dari kota Niniwe yang besar dan menyerukan pertobatan, namun menyebabkan sebuah transformasi yang luar biasa bagi sebuah kota! Raja kota tersebut juga mendengarkan berita pertobatan yang terjadi di antara sepertiga penduduk Niniwe sehingga sang raja turut merendahkan diri dan bertobat (Yun. 3:6). Bukan itu saja, sebagai penguasa kota yang memiliki otoritas, Raja Niniwe memerintahkan seluruh penduduknya untuk berpuasa, berkabung, dan berbalik dari kelakuannya yang jahat. Hal ini membuat Allah membatalkan niat-Nya untuk menimpakan malapetaka bagi kota tersebut (Yun 3:7-10).

Seorang Yunus sanggup mempengaruhi lebih dari 120 ribu penduduk Niniwe (Yun. 4:11) untuk bertobat dan terhindar dari murka Allah. Bayangkan, bila seluruh jemaat dalam gereja lokal dipenuhi Roh Kudus dan dituntun oleh Roh, saya percaya akan dapat mempengaruhi minimal sepertiga penduduk dari sebuah kota, yang juga sanggup menggapai lapisan pemerintahan di sebuah kota. Apabila ada pemimpin atau penguasa kota yang diubahkan, transformasi sebuah kota akan terjadi! GMS my home juga memiliki kerinduan untuk terus memenangkan Sumatera bagi Yesus dan terus berusaha mengembangkan gereja-gereja lokal di setiap propinsi maupun kota-kota yang ada di pulau ini. Bila sepertiga kota Niniwe mendengarkan seruan pertobatan mengakibatkan satu kota bertobat, tiada yang mustahil bagi Allah apabila melalui Gereja-Nya terus-menerus memenangkan jiwa hingga melampaui sepertiga dari pulau ini, maka pertobatan akan terjadi bagi seluruh Pulau Sumatra! Ya, inilah kerinduan kami untuk terus mengobarkan semangat penjangkauan jiwa-jiwa yang terhilang di Pulau Sumatera. Kami rindu memperlengkapi Tubuh Kristus untuk menangkap isi hati Tuhan lebih lagi, sehingga pada bulan Mei mendatang, kami menyelenggarakan “Sumatra for Jesus” conference and crusade. Saya dan seluruh jemaat GMS my home sangat menantikan Anda dalam konferensi dan KKR yang luar biasa ini. Mari ambil bagian untuk menangkap api kebangunan rohani yang sedang melanda pulau ini dan saya percaya, kehidupan Anda tidak akan pernah sama lagi! Informasi lebih lanjut mengenai konferensi dan KKR Sumatra for Jesus atau yang disingkat Sum4Je ini, silakan klik di sini. Sumatra for Jesus!

— Ringkasan khotbah Konser Doa 5 April 2013 mendukung konferensi dan KKR “Sumatra for Jesus” —

Advertisements

Hari ini, Minggu 11 September 2011 saya berkesempatan untuk melayani di salah satu gereja lokal Mawar Sharon yang terdapat di kota Pekanbaru. Ini merupakan pertama kalinya perjalanan saya ke kota Pekanbaru untuk melayani Tuhan dan membangun jemaat lokal. Pukul 09.15 WIB saya dijemput oleh seorang jemaat untuk diantar ke Hotel Grand Zuri di Jl. Teuku Umar no.80A – tempat yang selama ini digunakan untuk beribadah oleh jemaat GMS Pekanbaru.
Sebelum tiba di lokasi, kami terlebih dahulu menjemput seorang anak dan ibunya untuk bersama-sama beribadah. Nama anak ini Ciau Hui, usianya baru sekitar 4 tahun namun pembawaannya sungguh supel dan banyak memotivasi orang lain untuk berdoa. Selain itu, Ciau Hui suka menyanyi sehingga di ibadah EagleKidz pun anak ini turut memimpin pujian.

EagleKidz GMS Pekanbaru

Sekalipun hujan turun rintik-rintik dari pagi hari, tidak mengurangi antusiasme jemaat untuk beribadah di hari Minggu ini. Sekitar pukul 10, ibadah pun dimulai dengan pujian penyembahan yang dipimpin oleh Ibu Elvi Edward – worship leader dari GMS my home, Medan. Setelah melangsungkan perjamuan kudus, saya menyampaikan isi hati Tuhan bagi jemaat GMS Pekanbaru agar membangun kehidupan yang intim bersama-Nya di dalam hadirat Tuhan. Saya mengajak jemaat untuk menguji kehidupan kerohanian yang kita jalani selama ini apakah sudah dipimpin oleh Roh atau daging kita. Dalam Yoh. 3:6 tertulis, “Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.” Daging yang dimaksudkan di sini adalah keadaan manusia yang dipenuhi kelemahan sehingga cenderung untuk berbuat dosa. Yang dimaksud dengan daging dilahirkan dari daging adalah apabila kerohanian kita dipimpin oleh ‘daging’, maka sesungguhnya hidup kita sedang menuju maut. Sedangkan yang dimaksud dengan roh dilahirkan dari Roh adalah apabila kerohanian kita dipimpin oleh ‘Roh’, maka sesungguhnya kita menuju hidup dan damai sejahtera (Rom. 8:6).
Dalam Why. 11:1-2, Rasul Yohanes mendapatkan pernyataan Tuhan mengenai observasi-Nya terhadap Gereja-Nya – jemaat yang dikasihi-Nya sebagai berikut:
Kemudian diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya, dengan kata-kata yang berikut: “Bangunlah dan ukurlah Bait Suci Allah dan mezbah dan mereka yang beribadah di dalamnya. Tetapi kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya.”

Yohanes diberikan sebuah alat pengukur untuk mengukur 3 bagian ini:
1. Bait Suci Allah
Perintah untuk mengukur di sini bukanlah untuk mengukur seberapa besar ukuran sebuah gereja, namun yang diukur adalah kualitas rohani Gereja Tuhan di mata-Nya.
‘Bait Suci Allah’ mewakili keberadaan Gereja Tuhan secara koorporat di atas muka bumi ini. Segala jenis penyelenggaraan ibadah yang kita lakukan, semuanya ‘diukur’ oleh Tuhan. Tentu saja, ibadah yang dilakukan secara kedagingan (dengan motivasi yang salah) tidak akan berkenan kepada Tuhan. Ibadah yang sejati adalah saat kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah (Rom. 12:1)

2. Mezbah
Mezbah yang terdapat di dalam Bait Suci adalah Mezbah pembakaran ukupan yang biasanya digunakan oleh para imam untuk mempersembahkan korban berupa dupa yang harum dan wewangian di hadapan Tuhan. Asap dupa yang naik ke atas melambangkan doa, pujian, dan penyembahan kita di hadapan-Nya. Inipun termasuk bagian yang diukur! Tuhan tidak menilai seberapa baik kita bisa berdoa atau seberapa bagus suara kita saat menyanyi, namun yang diutamakan di sini apakah doa, pujian, dan penyembahan kita berasal dari dorongan ‘daging’ atau berasal dari ‘roh’.

3. Mereka yang beribadah di dalamnya
Yang diukur dan diperhitungkan oleh Tuhan adalah jemaat yang beribadah di dalam Bait Suci! Sedangkan jemaat yang berada di pelataran tidak diperhitungkan. Sekali lagi, yang dimaksudkan di sini bukan secara harafiah, namun secara rohani. Yang dihitung juga bukan berapa banyak jumlah jemaat sebuah gereja, namun kualitas kerohanian setiap jemaat yang percaya kepada Tuhan Yesus. Tipikal jemaat yang kerohaniannya berada di pelataran Bait Suci adalah orang-orang yang telah percaya kepada Tuhan Yesus namun kurang mengalami pertumbuhan rohani sehingga enggan rasanya untuk hidup dipimpin Roh. Hal ini menjadikan kehidupannya ‘kedagingan’ sehingga tidak lapar dan haus akan hadirat Tuhan dan menjadikan mereka kurang menyukai kegiatan-kegiatan maupun perkara-perkara yang bersifat rohani, bahkan seringkali jatuh bangun di dalam dosa. Bagi mereka yang masih berada di pelataran ini, bahkan oleh Tuhan ‘diberikan kepada bangsa-bangsa lain yang juga menginjak-injak Kota Suci’, maksudnya kehidupan mereka diserahkan kepada permasalahan demi permasalahan dan kehidupan ini rasanya diinjak-injak oleh pergumulan silih berganti sehingga tidak mengalami kemenangan demi kemenangan.

Ibadah GMS Pekanbaru

Sedangkan tipikal jemaat yang beribadah di dalam Bait Suci adalah orang-orang percaya yang senantiasa membangun hubungan intim dengan Tuhan dilandaskan dengan rasa lapar dan haus akan hadirat-Nya. Mereka senantiasa menginginkan perkara-perkara rohani terjadi dalam kehidupan rohani dan mengandalkan Tuhan dalam setiap permasalahan dan pergumulan sehingga selalu mengalami kemenangan demi kemenangan dan bahkan menjadi lebih dari pemenang. Bagi yang ingin masuk ke beribadah di dalam Bait Suci ini hanya dibutuhkan rasa haus dan lapar akan Tuhan, bukan sekedar rutinitas kita menghadiri ibadah karena kewajiban agama. Rasa haus dan lapar itu saya gambarkan sebagai berikut; andaikata sudah 3 hari saya kelaparan dan saya melihat Anda lewat sambil membawa makanan dan minuman yang lezat, tentunya saya akan menghampiri Anda untuk memohon agar Anda memberikan makanan tersebut. Mungkin Anda tidak akan langsung memberikannya kepada saya, maka saya akan memelas. Saat Anda menolak secara halus, saya akan mulai merengek, bahkan berlutut di depan Anda… ketika Anda akhirnya mulai ragu untuk memberikannya kepada saya atau tidak, saya sudah tersungkur di depan Anda agar Anda berbagi dengan saya. Dengan sikap haus dan lapar akan Tuhan seperti yang saya ilustrasikan di atas, saya percaya TUHAN akan berkenan lalu mencurahkan hadirat-Nya bagi kita. Seringkali, yang menghalangi seseorang untuk merasakan hadirat-Nya adalah dosa pribadi (tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu – Yes. 59:2). Selain itu, kecenderungan daging juga membuat kita tidak lagi merindukan hadirat-Nya baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam pertemuan ibadah sekalipun kita rutin datang ke gereja. Dengan bertobat dan merendahkan diri serta membangun kehidupan yang haus dan lapar akan hadirat Tuhan, kita akan menjadi jemaat yang terhitung sebagai ‘mereka yang beribadah di dalam Bait Suci’.

Di akhir ibadah ini, lawatan Roh Kudus melanda jemaat GMS Pekanbaru sehingga beberapa di antaranya menerima baptisan dalam Roh Kudus untuk pertama kalinya dengan tanda berkata-kata dalam bahasa roh dan yang lain mengalami pembaharuan pengalaman pribadi di dalam hadirat Tuhan. Milikilah roh yang lapar dan haus akan Tuhan, maka Dia akan menuntun kehidupan kita dari kemuliaan yang satu kepada kemuliaan yang lebih besar!

Sumatra for Jesus!


Malam ini segenap jemaat GMS my home berkumpul dalam acara Mission Night karena hendak menggenapi panggilan Tuhan bagi Pulau Sumatra. Ps. Yosep Moro Wijaya selaku Gembala Distrik Sumatra menyampaikan pesan Tuhan dengan membuka 1 Yoh. 5:3-5.
Beliau menyampaikan bahwa kemenangan yang besar diraih apabila Tuhan memberikan mimpi, visi, hukum, perintah, rhema, janji dalam hidup kita. Bagian kita adalah melakukan perintah-Nya dengan iman karena perintah-Nya itu tidak berat. Tidak sekedar punya iman tapi tidak tahu apa yang harus dikerjakan, juga tidak sekedar mengerjakan sesuatu tetapi tanpa iman. Iman bekerja sama dengan mimpi, impian, visi dari Tuhan. Apapun yang kita lakukan sekalipun baik belum tentu berasal dari Tuhan apabila kita melakukannya tanpa iman. Tuhan Yesus tidak melakukan segala sesuatu selama Dia berada di atas muka bumi ini, bahkan masa pelayanan-Nya hanya tiga setengah tahun namun yang dikerjakan-Nya benar-benar berfokus pada perintah Bapa-Nya. Yang mengalahkan dunia ini bukanlah suara dominan terbanyak atau sistem demokrasi, namun yang mengalahkan dunia ini adalah IMAN. Gereja yang kuat adalah gereja yang dipimpin oleh visi dan jemaatnya memiliki iman untuk melakukannya dan menggapainya bersama-sama. Kita tidak dipanggil untuk melakukan semua hal yang baik, namun kita dipanggil untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan visi yang Tuhan berikan kepada gereja-Nya. Kita tidak perlu iri dengan apa yang orang lain kerjakan dan kita juga tidak perlu menyombongkan diri dengan apa yang kita kerjakan.

Visi Gereja Mawar Sharon di pulau Sumatra adalah “Sumatra for Jesus”; hingga seluruh Pulau Sumatra dimenangkan bagi Tuhan Yesus. Yang menjadi pesan utama dalam Mission Night di hari pertama adalah sebagai berikut:
1. Mengalahkan dunia dengan iman kita.
Suatu waktu, Ps. Moro yang pada waktu itu sedang mengkoordinir perintisan gereja lokal di kota Pekanbaru mendengarkan suara Tuhan di suatu ibadah Minggu, “Pekanbaru itu bukan tugasmu, tetapi itu isi hati-Ku, engkau hanya perlu menyediakan iman untuk menyelesaikan apa yang Kuperintahkan.” Selanjutnya, Ps. Moro menyaksikan bagaimana Tuhan bekerja secara luar biasa dalam perintisan GMS di Pekanbaru. Minggu lalu dalam pelayanannya ke Pekanbaru dalam sebuah ibadah tengah minggu, seharian hujan turun. Tim perintisan pada waktu itu menyediakan kursi sebanyak 100 buah dan puji Tuhan, sekalipun turun hujan yang datang sekitar 80 orang. Siang harinya ada beberapa jemaat yang dibaptis dan beberapa orang menerima Yesus untuk pertama kalinya dalam ibadah tersebut.

Ps. Moro memohon dukungan setiap jemaat untuk melepaskannya agar dapat mengelilingi seluruh Pulau Sumatra agar Injil semakin diberitakan. Beliau menyampaikan bahwa panggilan itu lebih tinggi daripada kedagingan kita, lebih dari kenyamanan yang bisa dinikmati. Bila Sumatra for Jesus menjadi visi kita, doakan semua kota-kota yang ada di pulau ini dan ikuti Mission Trip saat ada pelayanan di kota-kota tersebut.

2. Semua yang lahir dari Allah mengalahkan dunia.
“Sumatra for Jesus” seharusnya menjadi sebuah visi yang ‘lahir’ dalam hidup kita. Visi untuk memberitakan Injil ‘lahir’ di hati Rasul Paulus saat dia mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus. Oleh karena itu, dalam sekejap rasul Paulus berubah dari seseorang yang menganiaya Kekristenan menjadi seseorang yang berkobar-kobar untuk memberitakan keselamatan dalam Tuhan Yesus (Kis. 9:14-15). Saat visi itu lahir di hatinya, rasul Paulus meninggalkan semua kenyamaanan dan kehidupannya yang lalu untuk rela berkorban bagi Injil; mengalami berbagai siksaan, kapal karam, bahkan dipenjara demi memberitakan nama Yesus. Yesaya mengakui bahwa dirinya najis bibir dalam hadirat Tuhan dan ketika Tuhan meletakkan bara api pada lidahnya, dia menjadi seorang nabi yang dipakai Tuhan secara luar biasa. Abraham meninggalkan segala kenyamanan di kampungnya untuk menggenapi panggilan Tuhan sebagai “Bapa orang beriman”. Musa meninggalkan bangsa Mesir dan segala kenyamanannya untuk membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan.

Inilah janji Tuhan bagi orang-orang yang mengerjakan visi dan tinggal dalam panggilannya: Tuhan akan memberikan peningkatan bagi hidup kita seiring berkembang dan meningkatnya visi “Sumatra for Jesus” di hati kita!

Pulau Sumatra akan dimenangkan oleh orang-orang Sumatra sendiri! Bila visi “Sumatra for Jesus” lahir di hati kita, kitalah yang harus ‘memberi makan’ bagi semua jiwa-jiwa yang ada di Sumatra! Seperti nabi Samuel saat datang ke rumah Isai untuk mencari seseorang agar diurapi menjadi raja, padahal dia belum tahu siapa yang akan menjadi raja, demikian pula Tuhan akan membangkitkan misionaris-misionaris yang diurapi dari tengah-tengah jemaat untuk merintis gereja-gereja lokal di Sumatra dari tengah-tengah jemaat di Sumatra sendiri!

Biarkan “Sumatra for Jesus” lahir di hati kita dan biarkan panggilan itu semakin kuat! ~ Ps. Yosep Moro Wijaya

Posted with WordPress for BlackBerry.


Hari Minggu, 22 Mei 2011 dalam pelayanan saya di ibadah umum Gereja Mawar Sharon ‘my home’, saya menyampaikan pesan Tuhan dalam membangun Gereja-Nya. Sungguh, saya berharap setiap jemaat dibangun imannya untuk menemukan fungsi dan panggilannya sebagai Tubuh Kristus dalam pembangunan rumah rohani bagi kerajaan-Nya.

Komunitas
Manusia adalah makhluk sosial. Tak seorangpun dapat bertahan hidup sendiran tanpa keberadaan orang lain. Di mana pun, pasti ada sekelompok orang yang membentuk komunitas sebagai sarana pergaulan dalam kehidupan sehari-hari. Saat Tuhan menciptakan manusia, manusia pun tidak diciptakan seorang diri. Manusia pertama – Adam – pun tidak baik apabila seorang diri saja, karena itu TUHAN Allah menjadikan seorang perempuan sebagai penolongnya, sehingga dapat bereproduksi dan… memenuhi muka bumi ini dengan komunitas manusia ciptaan TUHAN!
Sedari lahir, manusia akan tinggal dalam komunitas tertentu, dimulai dari komunitas keluarga, tetangga, teman, lingkungan sekitar, sekolah, tempat kerja, hobby, dan lain-lain. Namun, seiring pertumbuhan usia dan kebutuhan, kita dapat memilih dan menentukan komunitas mana yang paling tepat bagi kita untuk berada di dalamnya.

Dalam I Korintus 15:33 tertulis, “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”

Seorang bijak pernah mengatakan, “Tunjukkan kepada saya siapa sahabat-sahabatmu dan aku akan menunjukkan masa depanmu!”. Dengan siapa kita bergaul, akan menentukan kita akan menjadi seperti apa karena kita mudah terpengaruh dan beradaptasi dengan pola hidup di mana komunitas kita berada. Bila kita tinggal di suatu di komunitas dengan lingkungan yang baik, rajin, disiplin, dan suka bekerja keras, kita akan termotivasi untuk memiliki kebiasaan yang baik, rajin, disiplin, dan bekerja keras pula. Demikian pula sebaliknya, apabila kita tinggal di suatu komunitas dengan lingkungan yang kurang baik, malas, dan sering terlambat, kita pun akan terpengaruh untuk menjadi pribadi yang tidak produktif.

Perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan Yesus merupakan langkah awal yang baik untuk menuju hidup yang kekal. Namun, seberapa banyak orang Kristen yang kemudian ‘terhilang’ lagi karena tidak memiliki komunitas yang benar? Sekalipun sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat bahkan telah memberi diri dibaptis, namun lingkungan komunitas sekitar tetap akan berpengaruh terhadap perjalanan iman seseorang. Bagaimana kita dapat memiliki sikap hidup yang positif dan berkemenangan apabila kita tetap tinggal di suatu komunitas yang selalu memperkatakan kata-kata negatif dan melemahkan iman?

“Aku akan mendirikan Gereja-Ku dan alam maut tidak dapat menguasainya.”
Di manakah sebenarnya kita dapat menemukan sebuah komunitas rohani agar kehidupan iman kita terpelihara? Gereja seharusnya menjadi jawaban bagi kebutuhan sosiologis manusia akan komunitas rohani, sebab hal ini telah dicetuskan oleh Tuhan Yesus sendiri 2000 tahun yang lalu pada saat Dia bersabda, “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat. 16:18)
Dalam terjemahan Alkitab bahasa Indonesia, Anda tidak akan menemukan kata ‘Gereja’ karena kata ‘Church’ (Inggris) atau ‘gereja’ diterjemahkan dengan kata ‘jemaat’. Ayat tersebut dalam bahasa Inggrisnya tertulis, “I will build my church;…”

Itulah sebabnya paradigma yang agak menyimpang masa kini seringkali beranggapan bahwa gereja itu adalah sebuah gedung, sebuah bangunan secara fisik. Kita harus dapat membedakan istilah ini dengan jeli – antara ‘gedung gereja’ dan ‘Gereja’. Yang Tuhan Yesus maksudkan dengan Gereja-Nya adalah kita sebagai umat-Nya, bukan mengenai gedung gerejanya. Yesus hendak mendirikan Gereja – yaitu umat Tuhan yang hidup – bukan mendirikan ‘gedung gereja’ di atas muka bumi ini.

Kata ‘Gereja’ diambil dari bahasa Yunani ‘EKKLESIA’ yang berarti ‘dipanggil keluar’. Kata ini merupakan gabungan dari kata depan ‘ek’ yang berarti keluar (out) dan kata kerja ‘kaleo’ (klesia) yang berarti dipanggil (called). Secara khusus kata ini digunakan untuk menggambarkan kelompok orang yang dipanggil keluar untuk tujuan yang khusus dan pasti. Melalui pemahaman ini, saya harap paradigma kita berubah terhadap ‘Gereja’. Gereja bukanlah benda mati, namun Gereja itu hidup! Kita secara pribadi pun disebut sebagai Gereja-Nya! Sebagai Gereja – Tubuh Kristus – maka kita harus menyadari peran dan fungsi kita. Semua anggota Tubuh Kristus yang hidup akan bergerak, berkoordinasi, dan beraktivitas karena menerima perintah dari Kepala yaitu untuk pekerjaan pelayanan.

Seringkali, pelayanan dipandang sebagai tugas dari hamba-hamba Tuhan seperti gembala atau pendeta saja. Namun, dalam Ef. 4:11-12 tertulis, “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,”. Hamba-hamba Tuhan yang diberikan oleh Tuhan Yesus bagi Gereja-Nya bukanlah melulu untuk disibukkan melakukan tugas pelayanan yang tiada habis-habisnya, melainkan tugas utama mereka adalah untuk memperlengkapi jemaat; agar jemaat menemukan dan menyadari kembali fungsinya untuk melayani Tuhan dan membangun Tubuh Kristus.

Connect Group
Connect Group (CG) merupakan sebuah komunitas penggembalaan dan pemuridan agar iman Anda senantiasa mengalami pertumbuhan. Tujuan utama dibentuknya CG adalah sebagai komunitas rohani – tempat untuk tertanam, berubah (transformasi), dan bertumbuh. Banyak orang Kristen yang tidak menyadari bahwa kehidupan mereka secara rohani perlu diarahkan, dituntun, diajar, dimuridkan atau digembalakan. Akibatnya, mereka menganggap bahwa dengan hadir saja dalam ibadah raya setiap hari Minggu di gedung gereja saja sudah cukup. Padahal pada kenyataannya, saat menghadapi masalah barulah mereka menyadari bahwa hal tersebut diizinkan Tuhan agar kita dapat mengkaji ulang kerohanian kita. Bagi seseorang yang taat dan setia berada dalam jalurnyaTuhan, sekalipun ada pencobaan, masalah, dan pergumulan menghadang, tetap percaya bahwa bersama Tuhan akan dapat menyelesaikan perkara tersebut. Namun, bagi orang-orang yang tidak digembalakan dengan baik, hal ini sulit dipahami sehingga mereka kebingungan untuk mencari pertolongan dan jalan keluar untuk menyelesaikan pergumulan mereka. Inilah kondisi yang menjadi ‘sasaran empuk’ bagi iblis karena “Lawanmu, si iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (I Petrus 5:8).

Connect Group merupakan bagian terkecil dari Tubuh Kristus – lebih jelasnya lagi CG merupakan ‘sel’ – yaitu bagian terkecil; yang paling inti – dari Tubuh Kristus. Tubuh Kristus terdiri dari banyak anggota tubuh, namun anggota tubuh inipun merupakan susunan dari sel-sel yang menyatu satu dengan lainnya. Kehidupan inti sel tidak dapat diremehkan, karena sel yang sehat akan mengalami pertumbuhan, membelah dan menyusun jaringan tubuh yang kuat. Sebagai individu jemaat, kitapun merupakan bagian terkecil dari kehidupan sel. Apabila iman kita bertumbuh dengan sehat, hidup kita makin diperlengkapi, maka kita akan membentuk jaringan Tubuh Kristus yang kuat untuk melayani Kristus, yang adalah Kepala.

Posted with WordPress for BlackBerry.


Hari Rabu malam, 23 Maret 2011 hujan rintik-rintik sempat mengguyur sepanjang perjalanan antara kota Medan menuju Binjai. Berharap agar cuaca segera membaik agar tidak menghalangi perjalanan jemaat Connect Group yang hendak menghadiri PokSar (Kelompok Besar) CG di Wisma Betlehem, Binjai. Poksar ini merupakan acara gabungan antara CG di kota Binjai dan CG di KM 13. Menempuh jarak sekitar 26 km dari Medan menuju Binjai, memakan waktu sekitar 1 jam karena sempat terjebak kemacetan di daerah Kampung Lalang.

Puji Tuhan, hujan tidak mengurangi antusiasme jemaat yang hadir di Poksar CG malam hari ini! Dengan semangat, pujian dan penyembahan dinaikkan di hadapan Tuhan dipimpin oleh salah satu fasilitator CG di kota Binjai, Bapak Salmon Manik.

Pada kesempatan Poksar CG ini, di hadapan sekitar 40 jemaat yang hadir, saya menyampaikan pesan Tuhan mengenai motivasi hati untuk “menjadi yang terbesar”. Motivasi seperti ini bahkan sudah ditemui sejak lama dalam kurun pelayanan Tuhan Yesus di atas muka bumi. Pada waktu itu, murid-murid Yesus pernah bertengkar satu sama lain dan mempersoalkan siapa yang terbesar di antara mereka. (Luk. 22:24-26). Tuhan Yesus sedang memikirkan jiwa-jiwa, perlu konsentrasi dalam melayani, bahkan sedang dalam masa penantian untuk menjadi tebusan di kayu Salib, di satu sisi malah murid-murid-Nya memperkarakan siapa yang terbesar di antara mereka; bukannya ikut mendukung Yesus untuk meringankan beban-Nya. Tuhan Yesus menegor mereka dengan berkata, “Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung. Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.” (Lukas 22:25-26).

Setiap kita memiliki panggilan untuk melayani, harus beranjak ke level yang lebih tinggi; bukan untuk dilayani! Tuhan Yesus hadir di atas muka bumi untuk mendirikan jemaat-Nya, bukan mendirikan gedung gereja. Jemaat Kristus berfungsi sebagai Tubuh Kristus. Semua anggota Tubuh Kristus bergerak, berkoordinasi, beraktivitas karena menerima perintah dari Kepala, yaitu Kristus Yesus sendiri. Jemaat harus memiliki paradigma yang benar akan hal ini, dengan kata lain jemaat harus kembali pada fungsinya semula sebagai Gereja/ Tubuh Kristus yaitu untuk menjalankan perintah dari Kepala (Kristus) untuk melayani.

Seringkali, pelayanan dipandang sebagai tugas dari hamba-hamba Tuhan seperti gembala atau pendeta saja. Namun, dalam Ef. 4:11-12 tertulis, “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,”

Hamba-hamba Tuhan yang diberikan oleh Tuhan Yesus bagi Gereja-Nya bukanlah melulu untuk disibukkan melakukan tugas pelayanan yang tiada habis-habisnya, melainkan tugas utama mereka adalah untuk memperlengkapi jemaat; agar jemaat menemukan dan menyadari kembali fungsinya untuk melayani Tuhan dan membangun Tubuh Kristus.

Seusai menyampaikan Firman Tuhan, saya mengajak segenap jemaat Connect Group untuk membentuk kelompok-kelompok kecil yang terdiri dua atau tiga orang untuk praktik saling melayani dalam doa. Jemaat Connect Group begitu antusias meresponi Firman Tuhan yang disampaikan dan dalam kelompoknya masing-masing, mereka saling melayani dengan mendoakan dan saling menguatkan.

All glory for Jesus!

Posted with WordPress for BlackBerry.