Posts Tagged ‘Musa’

Menyeberangi Laut Teberau

Posted: January 11, 2013 in Daily Devotion
Tags: , , , ,

Rabu, 9 Januari 2013 yang lalu saya sekeluarga dan segenap rombongan God’s Dream Team Sumatra dari Gereja Mawar Sharon Regional Sumatra melakukan city-tour bersama di Kuala Lumpur. Kami baru saja menginap satu malam di Radius International Hotel, berdekatan dengan Jln. Alor yang terkenal sebagai kawasan kuliner di Bukit Bintang. Tujuan kami hari ini adalah menuju KLCC, yang terdapat gedung Petronas dan terkenal dengan Twin Towernya. Perjalanan kami tempuh dengan taxi dari hotel selama kurang lebih 10 menit dan rombongan kami yang berkisar 50 orang terbagi dalam beberapa kelompok karena per taxi hanya bisa memuat hingga 4 orang dewasa.

Beberapa di antara kami baru pertama kalinya bepergian ke luar negri, sekaligus baru pertama kalinya menginjakkan kaki di Suria KLCC. Kami berkumpul di Taman Suria KLCC untuk pengambilan foto bersama lalu melanjutkan tour di dalam gedung Suria KLCC sesuai dengan kelompok rombongan masing-masing. Setelah makan siang, rombongan keluarga yang membawa anak-anak memilih untuk masuk ke Aquaria. Anak-anak kamipun dengan sangat riangnya memasuki Aquaria untuk menikmati beragam jenis ikan, hewan amfibi, dan hewan melata lainnya. Tepat pukul tiga waktu setempat, diadakan pertunjukan memberi makan ikan hiu di salah satu sisi ruang pertunjukan Aquaria. Kami pun menyempatkan diri untuk menyaksikan pertunjukan tersebut.

Perjalanan di dalam Aquaria kami lanjutkan dengan melalui sebuah terowongan aquarium yang dilapisi dinding kaca yang begitu tebal sehingga kami dapat menyaksikan segala aktivitas makhluk air yang ada di dalamnya. Sisi kiri, kanan, dan atas semuanya terbuat dari kaca dan kami menyaksikan ikan-ikan berlalu lalang, benar-benar menakjubkan! Di sela menikmati keindahan makhluk-makhluk air ciptaan Tuhan di dalam terowongan aquarium tersebut, saya membayangkan seolah-olah kami seperti bangsa Israel yang melewati Laut Teberau yang terbelah meninggalkan tanah perbudakan Mesir, yang tercatat dalam Kel. 14:1-31.

Pada waktu itu bangsa Israel diliputi rasa takut yang begitu mencekam sewaktu meninggalkan Mesir. Mesir merupakan lambang perbudakan dosa, dan hal ini mesti ditinggalkan. Adakalanya ketika kita telah dilahirkan kembali dalam Roh, ikatan-ikatan dosa di masa lalu seolah-olah terus mengejar dan dan hendak mengikat kita sehingga hidup kita kembali diperbudak oleh dosa. Firaun berseru kepada seluruh pasukannya untuk mengejar bangsa Israel dan hendak menangkapnya kembali agar dijadikan budak. Rasa takut yang mengancam bangsa Israel memang sungguh beralasan; ketika mereka menoleh ke belakang, Firaun dan pasukannya mengejar mereka, sementara di hadapan mereka terbentang lautan yang begitu luas dan tak terseberangi.

Tuhan adalah Allah yang membebaskan umat-Nya! Dia yang memerintahkan agar bangsa Israel meninggalkan Mesir, ketika bangsa ini diperhadapkan dengan laut Teberau maka Tuhan hendak menunjukkan kemuliaan-Nya! Percayalah kepada Tuhan sungguh-sungguh! Apabila kita sungguh-sungguh hidup dalam pertobatan dan meninggalkan ikatan-ikatan dosa kita, maka Dia akan menyatakan kemuliaan-Nya! Tuhan yang menciptakan jalan sekalipun tiada jalan. Ketika Musa mengulurkan tangan ke atas laut, maka semalam-malaman Tuhan menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering sehingga air itu terbelah. Orang Israel segera bergegas berjalan di tengah-tengah laut pada permukaan tanah yang kering; sedang di kiri dan kanan mereka air laut itu menjadi tembok bagi mereka. Saya dapat membayangkan, bangsa Israel mengalami kemuliaan Tuhan yang luar biasa sambil menyaksikan makhluk-makhluk air berlalu lalang di balik air laut yang terbelah itu. Tidak berhenti di situ, Firaun memerintahkan agar pasukannya mengejar bangsa Israel. Namun Tuhan turut bekerja untuk melindungi umat-Nya dan benar-benar menuntun umat-Nya untuk meninggalkan perbudakan dosa. Para tentara Mesir dikacaukan-Nya sehingga roda kereta yang mereka kendarai menjadi miring dan berat, bahkan ketika pasukan itu hendak menyusul bangsa Israel maka dengan perantaraan Musa yang mengulurkan tangannya ke atas laut Tuhan membuat air laut yang terbelah itu kembali seperti semula dan mencampakkan orang Mesir ke tengah-tengah laut.

Mari tingkatkan kondisi rohani Anda saat ini, putuskan untuk sungguh-sungguh bertobat dan meninggalkan ikatan dosa yang dapat memperbudak kehidupan dosa Anda untuk selamanya! Berdoalah meminta pengampunan dari Tuhan Yesus dan berseru untuk memohon pertolongan dari Roh Kudus agar Dia memampukan kita terlepas dari ikatan dosa. Saya percaya, Tuhan Yesus akan menuntun Anda melewati ‘Laut Teberau’ dengan menunjukkan kemuliaan-Nya sehingga Anda akan benar-benar terbebas dari perbudakan dosa. Sama seperti Dia telah membawa bangsa Israel berjalan di tengah-tengah dasar laut yang airnya terbelah, demikian pula Tuhan akan membawa Anda untuk menyaksikan mukjizat-Nya dan perkara-perkara yang ajaib apabila kita sungguh-sungguh percaya. Selamat menjalani hari yang luar biasa!

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

20111220-122004.jpg
Setelah melalui pendakian melalui jalan yang berbatu-batu, akhirnya kami tiba di puncak gunung Sinai. Matahari belum terbit ketika kami memulai ibadah singkat di puncak Gunung Sinai. Sekitar 80 orang memuji dan menyembah Tuhan dengan segenap hati pagi itu. Secara pribadi, saya sangat merasakan kehadiran Tuhan di puncak Gunung Sinai. Sambil menangis tersedu-sedu, saya terus menyembah Tuhan, paling tidak hadirat-Nya yang pernah dinyatakan kepada Musa ribuan tahun yang lalu di tempat yang sama juga saya rasakan. Sekalipun diselimuti dengan udara dingin, namun kami tetap memuji dan menyembah Tuhan dengan sangat antusias. Sebagian besar dari antara kami menangis karena mengalami jamahan Tuhan.

Pagi itu, saya menyampaikan perenungan Firman Tuhan dari Kitab Keluaran 33 yang menceritakan bagaimana Musa rindu untuk mengalami penyertaan Tuhan dan ingin melihat kemuliaan-Nya saat menghadap ke Gunung Sinai untuk menemui Tuhan. Di awal pertobatan saya ketika membaca kisah Musa ini, saya sangat tertarik untuk mengalami apa yang dialami oleh Musa ketika Musa meminta kepada Tuhan, “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku.” (Keluaran 33:18). Namun, Tuhan menjawab Musa, “Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani.” (Keluaran 33:19). Saya sangat kagum dengan pengalaman Musa sehingga saya merasa, untuk mengalami pengalaman seperti Musa benar-benar butuh kasih karunia, namun pada waktu itu saya merasa tidak layak untuk memperoleh kasih karunia tersebut. Ketika saya berada di puncak Gunung Sinai waktu itu, saya merasakan dan menyadari bahwa kasih karunia-Nya sungguh besar dalam hidup saya!

Saat kita membaca Kel. 34:4, “Lalu Musa memahat dua loh batu sama dengan yang mula-mula; bangunlah ia pagi-pagi dan naiklah ia ke atas gunung Sinai, seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya, dan membawa kedua loh batu itu di tangannya…”; kita membacanya dalam hitungan detik. Namun untuk mencapai puncak Gunung Sinai, dibutuhkan waktu berjam-jam seperti yang kami lakukan. Untuk menghadap Tuhan, Musa melakukannya dengan sungguh-sungguh, seperti yang tertulis dalam Ibrani 11:6, “Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” saat dengan kesungguhanhati kita mencari Tuhan, maka Tuhan akan melawat dan memenuhi kita dengan hadirat-Nya, dengan segenap kemuliaan-Nya! Itulah yang saya dan isteri saya harapkan saat kami mendaki ke puncak Gunung Sinai! Kami tidak mengharapkan berkat-Nya, tidak sekedar mencari foto yang indah di puncak gunung, bukan untuk menikmati pemandangan alam, namun kami hanya mengharapkan hadirat-Nya memenuhi kehidupan kami dan kami mengalami kemuliaan-Nya! Bahkan, kami tidak meminta agar Tuhan harus mengabulkan doa-doa kami dengan segera. Saya berpesan melalui renungan Firman Tuhan yang saya sampaikan bahwa saat kita berdoa, sesungguhnya doa kita tidak akan mengubah Tuhan dan kedaulatan-Nya namun saat kita memanjatkan doa-doa kita, saat kita memilki iman dan motivasi hati yang benar, sesungguhnya kitalah yang diubahkan-Nya!

Usai kami beribadah pagi itu dengan diiringi terbitnya matahari, kami semua berdoa dan setiap kepala keluarga mendoakan isterinya maupun anaknya yang turut serta serta memanjatkan pokok-pokok doa di hadapan Tuhan. Hadirat Tuhan sungguh luar biasa di tempat ini dan kami semua masing-masing mengalami pengalaman secara pribadi dengan Tuhan. Saat kami menuruni Gunung Sinai, barulah tampak di bebatuan yang kami lalui sebelumnya ternyata dilapisi bunga es tipis. Hal ini disebabkan suhu udara yang cukup dingin sehingga embunnya membeku dan membentuk lapisan es. Kami menuruni anak tangga yang berbatu-batu untuk kemudian melanjutkan perjalanan kami sekali lagi dengan menunggangi unta menuju ke tempat perhentian yang pertama – Biara St. Catherine.

Sekitar 3 jam yang kami lalui saat kami turun dari puncak gunung Sinai menuju ke Biara St. Catherine. Begitu seluruh rombongan sudah berkumpul, kami kembali ke tempat penginapan kami di Hotel St. Catherine untuk melanjutkan perjalanan kami berikutnya, yaitu untuk makan siang dan menuju perbatasan Taba untuk meninggalkan Mesir dan memasuki Tanah Perjanjian: Israel!



Rombongan Holy Land trip yang diakomodasi oleh Rhema Tours tiba di desa St. Catherine sekitar pukul 17.30 waktu setempat dan kami langsung menuju penginapan di Hotel St. Catherine. Hawa dingin sangat terasa ketika kami keluar dari bus dan menginjakkan kaki di depan hotel. Sebelum waktunya makan malam, beberapa di antara kami menyempatkan diri untuk berbelanja beberapa keperluan untuk mendaki ke gunung Sinai dan sedikit souvenir. Di area lobby hotel tersebut berjajar toko-toko souvenir yang juga menjual keperluan mendaki gunung seperti senter dengan berbagai varian, tongkat, topi kupluk, sarung tangan, kaos kaki, jaket, dan lan-lain. Selain itu, sebagai kenang-kenangan perjalanan kami di Mesir, kami juga membeli beberapa souvenir seperti pajangan patung unta, piramida, kalung, gelang, kipas, dan sebagainya. Begitu kami selesai melakukan check-in di kamar hotel, sekitar pukul 7 malam kami menikmati makan malam beserta semua rombongan. Udara malam itu begitu dingin hingga banyak di antara kami yang mengenakan pakaian berlapis-lapis dan jaket tebal. Bahkan, untuk berjalan di area terbuka dari kamar hotel menuju restoran kami harus mengenakan topi dan sarung tangan agar tidak menggigil kedinginan. Memang, di bulan November ini Mesir sudah memasuki musim dingin.

Seusai menikmati makan malam, tour leader kami dari Rhema Tours – Tabitha – menghimbau agar kami segera beristirahat karena pukul 00.00 dini hari kami akan dibangunkan untuk melakukan perjalanan mendaki Gunung Sinai. Jadi, malam itu kami beristirahat sekitar 4 jam lalu mempersiapkan diri untuk berkumpul di lobby hotel pada pukul 1 pagi. Udara pagi itu amat dingin, sehingga agar tidak menggigil kami semua mengenakan pakaian berlapis-lapis dengan ditutup jaket beserta topi dan sarung tangan. Rombongan kami keluar dari hotel St. Catherine dengan mengendarai bus menuju Biara St. Catherine yang terletak di kaki Gunung Sinai. Pagi itu begitu gelap sehingga saat kami berjalan kaki menuju perhentian unta dari Biara St. Catherine harus diterangi dengan lampu senter. Kami harus berhati-hati berjalan kaki karena jalan yang tidak rata dan berbatu-batu.
Kami tiba di tempat perhentian unta sekitar pukul 2 pagi waktu setempat dan mulai menunggangi unta masing-masing dengan dipandu orang-orang suku Beduin. Dari tempat itu, kami melakukan perjalanan sekitar 300 meter melalui jalan yang tidak rata dengan diterangi lampu senter menuju perhentian unta. Di sekitar daerah tersebut banyak terdapat suku Beduin yang memelihara unta dan menyewakannya untuk kami tunggangi.

Suku Beduin sangat senang melayani rombongan kami dari Indonesia, karena sebagian besar yang menunggangi unta menuju lereng Gunung Sinai adalah orang Indonesia, sementara peziarah dari negara-negara lain memilih untuk berjalan kaki. Bagi saya, menunggang unta menuju Gunung Sinai merupakan pengalaman tersendiri dan patut dicoba. Perjalanan menuju lereng Gunung Sinai ditempuh sambil menunggang unta dalam kegelapan sekitar satu setengah jam dalam kegelapan dan jalan yang berliku-liku ke atas. Unta dapat mendaki ke lereng gunung tanpa penerangan, karena apabila disorot lampu malah unta tersebut marah dan berhenti melanjutkan perjalanan. Pemandangan di angkasa sungguh indah karena saat menunggang unta tersebut saya dapat melihat bintang-bintang bertaburan dengan cantiknya. Saat kami menunggang unta di tengah kegelapan, kami tidak bisa saling melihat rekan-rekan dari rombongan kami satu sama lain. Menunggung unta sungguh sebuah pengalaman tersendiri saat mendaki gunung Sinai yang berkelok-kelok. Tentunya dibutuhkan keberanian dan niat yang sungguh-sungguh untuk mencapai ke puncak! Perjalanan menuju puncak Gunung Sinai dengan mengendarai unta kami tempuh selama sekitar satu setengah jam. Selama perjalanan, saat saya melihat ke atas, tampak langit yang begitu cerah dan bertaburan bintang-bintang yang sangat indah. Sambil mengagumi keagungan Tuhan, saya bersenandung,
“Bila kupandang bulan dan bintang
Ajaib dan mulialah karya-Mu
Kujatuh tersungkur…
Di bawah kaki-Mu Tuhan
Kusembah Kau Yesus, kusembah Kau…”

Satu setengah jam berlalu, kami tiba di sebuah warung tempat perhentian, di mana unta-unta juga ditambatkan karena perjalanan selanjutnya menuju puncak tidak mungkin dilakukan dengan mengendarai unta. Kami beristirahat di sebuah warung untuk sekedar menghangatkan diri dan menikmati minuman panas maupun mie instan panas. Harga makanan dan minuman di warung tersebut naik beberapa kali lipat namun tetap saja laris karena banyak yang membutuhkan minuman hangat maupun mie instan yang hangat. Untuk menempuh berjalanan selanjutnya, kami harus berjalan kaki karena jalan yang akan kami lalui selanjutnya tidak dapat dilewati unta. Kami harus mendaki sekitar 758 tangga alami dari gunung batu, tanpa pegangan, dengan ukuran yang berbeda-beda dan kecuraman yang berbeda pula berkelok-kelok hingga menuju puncak. Inilah yang disebut mencari Tuhan bukan hanya dengan segenap hati dan jiwa, tapi juga dengan segenap kekuatan!

Cairo – Egypt

Posted: December 4, 2011 in Holy Land Tour
Tags: , , ,

– Mesir –

Kami mendarat di Kairo, Mesir pada hari Sabtu tanggal 19 November 2011 di malam harinya. Yang kami lakukan hanyalah menikmati makan malam sejenak lalu check-in di penginapan kami yaitu Hotel Grand Pyramids. Tentunya untuk mengatur perjalanan yang cukup jauh dari tanah air seperti ini tidak mungkin berlangsung tanpa didukung oleh orang-orang yang handal, profesional, dan berpengalaman di bidangnya. Rhema Tours mengatur jadwal kami sedemikian rupa sehingga kami dapat menikmati perjalanan ini dan dapat mengambil hikmahnya dari beberapa tempat yang kami kunjungi.

Keesokan harinya, di hari Minggu kami memulai perjalanan dengan mengunjungi situs sejarah Mesir di Giza yang menjadi salah satu dari 7 keajaiban di dunia zaman sebelum Masehi yaitu piramida. Piramida di Mesir ini dibangun dengan tujuan sebagai kuburan bagi Raja Mesir pada waktu itu. Di lokasi yang kami kunjungi, terdapat tiga piramida besar yang merupakan kuburan raja dari 3 generasi dan dibangun sekitar 3000 tahun lalu. Selanjutnya, kami juga menuju ke lokasi di mana terdapat patung sphinx – sebuah patung dengan kepala yang memiliki rupa manusia dan berbadan singa. Konon, patung ini dibangun guna menjaga makam para raja Mesir. Kepala manusia melambangkan kepandaian, sedangkan badan singa melambangkan kekuatan.

Kami melanjutkan perjalanan kami menuju ke Gereja Gantung. Oya, sebagai informasi… di negara ini tidak dikenal istilah agama Kristen, sehingga ibadah di gereja pada umumnya disebut beragama Koptik. Memasuki Gereja Gantung atau Hanging Church ini di bagian halaman terdapat pahatan-pahatan di dinding yang bernuansa Kristiani, lalu menuju ke sebuah tangga menuju ke ruang ibadah utama gereja tersebut. Pada mulanya, tempat ini merupakan bekas benteng Romawi dan mulai dibangun menjadi gereja pada akhir abad ke-3 hingga pertengahan abad ke-4. Pondasi gereja ini terdiri dari dua menara bekas benteng Romawi lalu di atasnya dibentangkan dua batang pohon kurma lalu didirikanlah bangunan gereja tersebut sehingga dikenal sebagai Gereja Gantung. Desain interior gereja ini dibangun dengan gaya Basilika.

Lalu, kami mengunjungi gereja Abu Sirga (Abu Serga Church), sebuah gereja yang didirikan untuk memperingati pengungsian Yesus di masa kecil saat dibawa oleh kedua orang tuanya melarikan diri ke Mesir (Mat. 2:13). Gereja ini dibangun pada abad ke-4 dan merupakan gereja tertua di Kairo. Ternyata, tidak jauh dari sana terdapat lokasi di mana bayi Musa ditemukan oleh putri Firaun (Kel. 2:10) dan untuk memperingati peristiwa tersebut dibangunlah Sinagoga Ben Ezra. Di sini juga tersimpan salinan Perjanjian Lama yang diperkirakan ditulis oleh Nabi Ezra.

Luar biasa, Tuhan melakukan perkara yang luar biasa mengenai lokasi ini; di mana putri Firaun menemukan Musa dan mengangkatnya dari air – yang akhirnya dikenal sebagai pembebas bangsa Israel keluar dari Mesir/ tanah perbudakan rupanya di sekitar tempat itu pula Yesus – sang pembebas manusia dari dosa juga pernah menginjakkan kaki-Nya. Saya percaya, segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita pun tidak ada yang kebetulan, semuanya telah diatur oleh TUHAN secara ajaib, sehingga apabila dengan seksama kita memperhatikannya sebenarnya Tuhan juga turut hadir dalam setiap peristiwa yang kita lalui.

Sore harinya menjelang malam, kami menuju ke arah Sungai Nil untuk menikmati makan malam di atas kapal pesiar sambil menyusuri Sungai Nil dengan Nile Cruise. Sekitar 2 jam bepesiar mengarungi Sungai Nil, semua rombongan ziarah yang dikoordinir oleh Rhema Tours berkumpul untuk makan malam bersama sambil menikmati iringan lagu-lagu nostalgia. Yang cukup menarik di kapal ini adalah ketika kami disuguhi tarian tradisional Mesir berupa tari putar.

Sekitar lebih dari 45 menit sang penari berputar-putar dengan pakaian khasnya yang ternyata juga dapat menyala hingga seluruh kostumnya pun diputar-putar. Sungguh, ini merupakan suguhan tarian khas Mesir yang sungguh unik!

Acara malam ini berakhir sekitar pukul 22.00 waktu setempat dan kami kembali ke hotel untuk beristirahat agar keesokan harinya dapat menempuh perjalanan selanjutnya.


Ketika TUHAN mengizinkan masa-masa sulit terjadi dalam kehidupan kita, bukan berarti TUHAN hendak meninggalkan kita. Namun, TUHAN hendak menyatakan kemuliaan-Nya di saat kita menghadapi persoalan yang begitu berat seolah-olah kita mendapati jalan buntu. Sama seperti bangsa Israel yang dituntun keluar dari Mesir oleh TUHAN melalui Musa, tidak berapa lama kemudian mereka menemui jalan buntu. Laut Merah menghentikan langkah mereka untuk melanjutkan perjalanan sedangkan pasukan Mesir sedang mengejar mereka. Di saat tidak ada jalan terbuka, TUHAN sanggup membuka jalan! Laut Merah dibelah-Nya sehingga menjadi kering dan bangsa Israel dapat melintas dengan selamat (Kel. 14:22).

Setelah berhasil melintasi Laut Merah, perjalanan bangsa Israel tidaklah begitu mudah. Masih ada padang gurun yang harus dihadapi. Demikian pula, perjalanan iman kita mengikut Yesus tidaklah selalu mudah. Adakalanya justru kita mendapati adanya persoalan, masalah, pergumulan yang kita hadapi lebih berat dibandingkan semasa kita belum mengikut Yesus. Pilihlah untuk menghadapi ‘padang gurun’ kehidupan ini tetap bersama Yesus! Biarkan Yesus yang memandu jalan kehidupan-Mu, bahkan di masa-masa tersulit sekalipun! Jangan terkecoh maupun tergoda untuk mencari ‘jalan pintas’ di luar kehendak-Nya, karena sekalipun tawaran ‘jalan pintas’ itu menarik, seolah-olah langsung menyelesaikan pergumulan kita, namun ujungnya adalah kebinasaan!

Sekalipun Tuhan Yesus mengizinkan kita berjalan di padang gurun, percayalah bahwa senantiasa ada penyertaan dan pemeliharaan-Nya! Saat bangsa Israel berjalan di padang gurun selama 40 tahun pun, TUHAN memelihara kehidupan mereka secara menakjubkan; “Pakaianmu tidaklah menjadi buruk di tubuhmu dan kakimu tidaklah menjadi bengkak selama empat puluh tahun ini.” (Ulangan 8:4).

Mungkin saat ini pergumulan yang sedang Anda hadapi belumlah terselesaikan, Anda seolah-olah berputar-putar saja di padang gurun permasalahan Anda, belum ada jalan keluar dan hanya jalan buntu yang Anda temui… jangan putus asa! TUHAN masih memelihara kehidupan Anda. Inilah saat yang terbaik untuk mengevaluasi kehidupan kita, apakah kita selama ini masih menyimpan dosa, kepahitan, ketidakjujuran, membuat permusuhan dengan seseorang, tinggi hati, dan lain-lain. Sadarilah kelemahan dan dosa kita di hadapan Tuhan dan mintalah pengampunan-Nya!

Selain pemeliharaan Tuhan di tengah-tengah ‘padang gurun’ permasalahan kita, percayalah bahwa DIA tidak akan pernah terlambat menolong kita, bahkan di tengah-tengah kemustahilan sekalipun! Di saat tiada jalan, justru TUHANlah yang akan membuat jalan bagi kita! Inilah janji TUHAN bagi kita bersama:
“Ya, AKU (Tuhan) hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.” (Yesaya 43:19b)
Nantikanlah pertolongan Tuhan! Percayalah bahwa janji-janji-Nya akan ditepati dalam hidup kita! Masih ada jalan sekalipun saat ini jalan masih tertutup, Tuhan yang buka jalan! Amin.

Posted with WordPress for BlackBerry.