Posts Tagged ‘Sum4Je’


Sum4Je 1

Melalui konferensi ini, Anda akan semakin diperlengkapi untuk melihat Pulau Sumatra dari sudut pandangnya Tuhan, sehingga cinta akan Sumatra semakin tertanam di dalam kita. Melalui gereja-Nya, Tuhan akan melakukan perkara-perkara yang ajaib sehingga Anda akan belajar untuk menangkap hati-Nya untuk mencintai dan memenangkan Pulau Sumatra bagi Tuhan Yesus.

Bukan sebuah slogan saja, namun Sumatra for Jesus akan menjadi sebuah impartasi bagi gereja-gereja lokal khususnya di Sumatra dan sekitarnya untuk menjadi semakin kuat dan berdampak. Lebih dari 2000 tahun yang lalu Tuhan Yesus datang ke dunia ini untuk memberitakan Injil dengan disertai dengan kuasa SUPERNATURAL untuk mengadakan mujizat dan tanda-tanda ajaib.

Inilah waktunya gereja bangkit, kembali dipenuhi dengan pengurapan dan kuasa SUPERNATURAL untuk bersaksi, memberitakan Injil dan memenangkan jiwa-jiwa yang terhilang bagi Tuhan Yesus. Hamba-hamba Tuhan yang diurapi akan menginspirasi Anda dalam setiap sesi dan workshop yang ada, dilanjutkan dengan KKR Kesembuhan Ilahi “Kuasa Salib-Nya” dan “Festival Kuasa Allah” selama dua malam berturut-turut.

Sum4Je 2a

Konferensi Sumatra For Jesus 2014 ini terdiri dari 6 sesi utama disertai dengan 4 workshop penginjilan yang dapat Anda pilih sesuai dengan panggilan pelayanan Anda.

Marketplace Evangelism
Marketplace merupakan ladang yang sangat luas bagi pemberitaan Injil. Pelayanan Tuhan Yesus bukan saja di tempat-tempat religius namun juga di marketplace. Melalui workshop ini Anda akan diperlengkapi untuk menjadi dampak secara supernatural di dunia marketplace.
Children Evangelism
Tuhan tidak pernah menentukan jenjang usia tertentu untuk mengalami pertobatan. Bahkan, anak-anak pun bisa mengalami pertobatan di kala menerima pemberitaan Injil. Anak-anak begitu berharga bagi Kerajaan Sorga sehingga Anda pun perlu diperlengkapi untuk menjangkau anak-anak bagi Kristus!
Prayer and Evangelism
Ketika Gereja terus berdoa dan mencari kehendak Tuhan, kebangunan rohani akan terjadi. Injil akan diberitakan dengan penuh kuasa sehingga jiwa-jiwa yang terhilang akan mengalami pertobatan. Doa dan penginjilan akan menjadi kegerakan yang senantiasa selaras dengan isi hati Tuhan.
Youth Evangelism
Nilai-nilai kehidupan yang dianut oleh seseorang semenjak masa mudanya akan mempengaruhinya ketika dewasa dan akan berdampak bagi generasi selanjutnya. Masih banyak jiwa-jiwa yang terhilang di usia muda sehingga Gereja harus bangkit untuk memberitakan Injil kepada generasi muda demi masa depan yang lebih baik.

Terimalah impartasi dan pengurapan yang SUPERNATURAL dalam Sumatra for Jesus 2014!

Sum4Je 2b

Untuk Informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Calvin (Medan) +62852 0734 2198 | Nini (Palembang) +62813 6767 2500 | Dewi (Pekanbaru) +62896 1517 7543 | Franky (Lampung) +62896 2519 3164 | atau email kami di myhome@gms.or.id

 

Advertisements

20140111-201918.jpg

Pendaftaran Konferensi “Sumatra for Jesus” 2014 mulai hari ini, 11 Januari 2014 telah dibuka. Seiring dengan kerinduan Tuhan melalui Gereja Mawar Sharon khususnya di pulau Sumatra, maka kali ini event Sum4Je diselenggarakan dengan mengangkat tema “Supernatural”. Secara luar biasa, Tuhan akan mengurapi umat-Nya untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah dengan tanda-tanda heran agar nama Tuhan Yesus semakin dipermuliakan. Konferensi ini akan diadakan pada tanggal 15 – 17 Mei 2014 mendatang dan pada malam harinya juga disertai dengan Festival Kuasa Allah. Bergabunglah dalam konferensi yang luar biasa ini, nikmati hadirat Tuhan dan terimalah impartasi serta pengurapan kuasa Allah yang ajaib bagi kehidupan Anda untuk semakin memperluas kerajaan-Nya. Pendaftaran untuk konferensi ini dilakukan di GMS my home, Sun Plaza lt. Roof setelah setiap ibadah berlangsung di area entry hall dengan biaya sebesar Rp. 150.000,- (early bird hingga 9 Maret 2014). Sumatra for Jesus!


20130529-000738.jpgSabtu sore ketika saya dan isteri menyusuri jalan raya menuju Lapangan Benteng, kota Medan masih dipenuhi dengan hiruk-pikuk kendaraan lalu-lalang menuju segala penjuru. Ada yang baru saja mengakhiri aktivitas harian dalam pekerjaan lalu pulang ke rumah, ada pula yang mempersiapkan diri untuk bermalam minggu, dan sebagainya. Pastinya, banyak juga penduduk Medan dan sekitarnya yang sedang melakukan perjalanan menuju pusat keramaian kota di Lapangan Benteng. Ya, hari ini adalah malam terakhir diadakannya KKR Sumatra for Jesus oleh GMS my home. Sebelumnya, pada pukul 14.00 – 15.00 WIB di ruang ibadah utama Gereja Mawar Sharon telah dilaksanakan sesi penutupan konferensi Sum4Je (singkatan Sumatra for Jesus) oleh Ps. Yosep Moro Wijaya. Dalam sesi terakhir sekaligus penutupan konferensi ini, sekali lagi Ps. Moro mengingatkan seluruh peserta konferensi dan para delegasi dari luar kota yang hadir untuk menjadi garam dan terang bagi dunia, khususnya di Sumatera. Ps. Caleb Natanielliem selaku Asisten Gembala Sidang Sinode Gereja Mawar Sharon pun turut mendoakan seluruh peserta konferensi dalam acara penutupan ini.

Saya tiba di Lapangan Benteng sekitar pukul 17.30 WIB. Matahari sore dengan hangatnya menyambut kedatangan saya yang segera bergegas ke stage utama untuk turut memimpin doa bersama dengan para panitia yang bertugas sebelum dimulainya KKR. Puji Tuhan, para pendoa pun dapat merasakan bahwa kami semua telah meraih kemenangan di alam roh. Dalam KKR ini kami akan menuai banyak jiwa bagi kemuliaan Tuhan Yesus! Saya menyaksikan, selain para panitia dan volunteer yang begitu antusias dalam KKR ini, para pengunjung yang hadir lebih awal – sekitar 1000 orang lebih di antaranya – turut berdoa dan memuji Tuhan. Persiapan demi persiapan terus dilakukan oleh panitia hingga menjelang pukul 18.30 WIB. Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang, kain-kain penutup tenda panitia pun sampai terhempas angin. Secara drastis, sinar matahari yang cerah tertutup awan gelap dan secara perlahan rintik-rintik air hujan membasahi Lapangan Benteng dan sekitarnya. Sekalipun segenap pengunjung yang lebih awal hadir sempat panik, namun para panitia begitu sigap dan tidak menunjukkan kepanikan sehingga dapat mengendalikan kondisi akibat cuaca yang sangat tidak terduga. Saya dan isteri bergegas menuju tenda pendoa untuk berdoa agar Tuhan menberikan cuaca yang cerah serta menjauhkan hujan agar KKR dapat tetap dilangsungkan dengan baik. Secara pribadi, Tuhan memberikan kesaksian di dalam batin saya, “Aku akan menunjukkan kemuliaan-Ku di hadapan semua orang bahwa Aku berkuasa atas cuaca dan berkenan atas KKR ini.”. Saya hanya memegang janji-Nya dan percaya bahwa KKR ini akan terus berlanjut, Tuhan sanggup mengendalikan cuaca dan menghentikan hujan.

Puji Tuhan, setengah jam berlalu dan rintik-rintik air hujan berangsur-angsur berhenti. Angin kencang tiada bertiup lagi. Sekali lagi, saya dan Ps. Rebecca Mustika Dewi (yang juga turut menjadi pembicara di salah satu workshop doa konferensi Sum4Je) mengambil alih otoritas rohani di area stage dan memimpin doa di hadapan para panitia dan pengunjung yang hadir untuk memuji kebesaran Tuhan dan menenangkan segenap pengunjung serta mempersiapkan untuk dimulainya KKR Sum4Je di hari kedua ini. Puji Tuhan! Medan menjadi saksinya, baik para hadirin, orang-orang yang berada di sekitar Lapangan Benteng pun menjadi saksinya! KKR dimulai dan hujan pun berhenti! Orang-orang semakin banyak berdatangan dan mengisi kursi-kursi yang telah disediakan oleh panitia. Di malam kedua ini KKR akan dibuka dengan penampilan drum light yang luar biasa dan menaikkan puji-pujian di hadapan Tuhan serta menampilkan special beatbox performance oleh “Beat World” dari Surabaya. Ketika acara dimulai, semakin banyak orang terus berdatangan memenuhi Lapangan Benteng untuk menyaksikan kebesaran Tuhan.

Sesaat sebelum Firman Tuhan disampaikan oleh Ps. Philip Mantofa, hujan rintik-rintik kembali turun. Segenap pendoa dan panitia segera berdoa dengan lebih lagi. Jangan sampai hujan menghalangi pemberitaan Firman Tuhan! Sekalipun beberapa hadirin sudah membuka payung dan berlindung di bawah naungannya, seluruh pengunjung yang hadir tidak bergeming untuk menantikan Firman Tuhan disampaikan. Tampak Ps. Caleb sekeluarga, Ps. Moro dan isteri, dan segenap gembala-gembala lokal lainnya dari GMS di Sumatera yang berada di jajaran kursi depan tetap mengikuti berlangsungnya KKR meskipun pakaian yang dikenakan semakin lama semakin basah oleh rintik-rintik hujan. Saya hanya menatap ke langit dan saat air hujan membasahi kaca mata, saya berkata sambil tersenyum, “Oh Tuhan, betapa romantisnya Engkau… Untuk menyampaikan Firman-Mu pun perlu dalam suasana hujan rintik-rintik seperti ini agar berkesan di dalam hati…” Saya tetap bersyukur, karena angin juga tidak berhembus dengan kencang dan hujan tidak semakin deras.
20130529-000744.jpg
Ps. Philip Mantofa menyampaikan Firman Tuhan yang berjudul “Air sumber hidup” – judul perikop dari Injil Yohanes. 7:37-39.

Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan. (Yohanes 7:37-39)

Bila Yesus memberikan ‘air kehidupan’ – yaitu Roh Kudus maka ada tiga hal yang terjadi:
1. Manusia yang harusnya mati akan beroleh hidup yang kekal
2. Kita yang harusnya binasa malah beroleh pengampunan
3. Hidupnya diubah, yang semula hidup untuk diri sendiri akan menjadi saksi Yesus ke mana-mana dan diberi baptisan Roh Kudus dengan tanda berbahasa roh
Apabila mau mengubah budaya seseorang, ubah bahasanya dulu. Karena itu, melalui bahasa Roh, seseorang yang berbahasa ‘Sorga’ akan mudah mempelajari budaya Sorga. Untuk menerima baptisan Roh Kudus, ada tiga hal yang harus dipenuhi, yaitu:
1. Haus; seperti yang dituliskan di ayat ke-37: “Barangsiapa haus…”
2. Percaya kepada Yesus
3. Minta, seperti yang tercantum dalam Luk. 11:9-13, “Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”
20130529-000959.jpg
Di akhir khotbahnya, Ps. Philip mengundang segenap hadirin yang belum pernah menerima baptisan Roh Kudus dengan tanda berkata-kata dalam bahasa roh serta ingin menerimanya untuk bangkit berdiri. Banyak sekali orang yang berdiri di antara kerumunan 8.647 orang yang hadir malam itu. Dalam tiga kali periode saat mendoakan semua orang yang berdiri, banyak di antaranya yang langsung menerima baptisan Roh Kudus dengan tanda berbahasa lidah! Ps. Philip kemudian membacakan Firman Tuhan dalam Kis. 10:47, “Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?”. Ps. Philip kemudian mengadakan altar call bagi mereka semua yang ingin menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat serta langsung memberi diri dibaptis malam itu. Luar biasa, ketika sekitar 1500 orang maju ke depan untuk menerima pengampunan dosa dan membuka hatinya bagi Tuhan Yesus, hujan pun berangsur-angsur berhenti. Tercatat 268 orang yang memberi diri dibaptis selam malam ini. Jadi, keseluruhan yang dibaptis selam selama dua hari KKR Sum4Je adalah 514 orang. Sorga menuai banyak jiwa yang kembali pada Kristus!

Di penghujung KKR Sum4Je, saya dan para gembala lokal Gereja Mawar Sharon yang ada di Sumatera mendoakan kota-kota di mana kami ditempatkan. Ps. Moro mendoakan seluruh tanah Sumatera serta Ps. Caleb Natanielliem turut mendedikasikan Sumatra bagi Yesus. Di akhir acara, Ps. Caleb dan Ps. Moro bersama-sama memukul sebuah gong yang besar sebagai sebuah simbolisasi bahwa Sumatera dipersembahkan bagi Tuhan Yesus dan dilanjutkan sambil menaikkan pujian theme song “Sumatra for Jesus”. Segala jerih lelah, upaya, doa, tenaga, dana, dan waktu yang telah dikorbankan baik oleh segenap pemimpin-pemimpin rohani maupun para volunteer tidak sia-sia! Kami telah menjadi saksi mata kebesaran Tuhan malam ini. Hujan pun tidak dapat menghentikan KKR “Sumatra for Jesus” ini! Datanglah Kerajaan-Mu di pulauku! Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus.


20130529-000329.jpg

Di hari pertama KKR “Sumatra for Jesus” atau yang juga disebut dengan “Sum4Je” dibuka dengan nyanyian doa dalam bahasa Batak serta penampilan pujian dan penyembahan yang dikolaborasikan dengan nuansa alat musik tradisional Sumatra yaitu tagading dan sulim yang disemarakkan dengan tari-tarian. Sumatera, khususnya kota Medan bergoncang malam hari ini! Sekitar 6500 masyarakat Medan dan sekitarnya, juga ada di antaranya dari luar kota di provinsi-provinsi Sumatra memenuhi Lapangan Benteng.
20130528-160002.jpg

Ps. Yosep Moro Wijaya – Gembala GMS Regional Sumatra – menyampaikan Firman Tuhan setelah kesaksian dan pujian yang dibawakan oleh Choky Sitohang. Beliau mengajak seluruh jemaat yang hadir untuk membuka Injil Yoh. 4:3-10. Dalam Injil ini dikisahkan Yesus dalam perjalanan dari Yudea ke Galilea melewati daerah Samaria. Saat melewati wilayah Samaria, Tuhan Yesus menjumpai seorang wanita Samaria di sebuah sumur. Tidak ada istilah kebetulan, karena kebetulan hanya istilah manusia. Malam hari ini juga bukan sebuah malam kebetulan bagi semua orang yang hadir. Istilah kebetulan muncul dari ketidakmengertian manusia akan pekerjaan Allah di balik semua karya-Nya yang ajaib untuk menolong dan menyelamatkan manusia.

Yesus bisa melihat hingga kedalaman hati wanita itu, ada sebuah kekosongan di dalam hatinya dan hanya bisa diisi oleh air kehidupan; pribadi Tuhan Yesus sendiri. Wanita ini pernah memiliki hubungan dengan 5 pria yang telah menjadi suaminya, dan saat ini sedang tinggal dengan seorang pria yang bukan suaminya. Wanita ini mencari waktu yang tepat untuk menghindar supaya tidak berjumpa orang lain ketika mengambil air dari sumur Yakub. Jam 12 siang menurutnya adalah waktu yang tepat. Namun, bukan suatu kebetulan… Yesus ada di situ dan Dia ingin memulihkan hidup wanita Samaria tersebut. Dengan sengaja, Tuhan Yesus menciptakan ‘kebetulan demi kebetulan’ karena ingin menyelamatkan manusia.

Wanita Samaria ini sempat menolak Yesus karena merasa berbeda suku, karena orang Samaria tidak bergaul dengan orang Israel. Namun, kasih Allah melampaui segala perbedaan suku-suku bangsa karena Dialah yang menciptakan perbedaan-perbedaan itu bagi kemuliaan-Nya. Wanita Samaria ini terikat oleh banyak sekali dosa. Dia berpindah dari satu pria ke pria lainnya karena kurang kasih dan merasa dirinya telah kotor, dan tidak mungkin menerima pengampunan. Kasih Yesus sanggup untuk mengampuni semua dosa. Malam hari ini Tuhan Yesus hendak mengetuk hati setiap pengunjung yang hadir agar membuka hatinya bagi Yesus karena Dia ingin mengampuni dosa dan memulihkan kehidupan manusia.
20130528-160041.jpg
Mengakhiri khotbahnya, Ps. Moro menantang semua pengunjung yang hadir untuk menerima ‘air kehidupan’ yang dari situ akan terpancar mata air hingga kekekalan. Sekitar 1200 orang, baik terdiri dari banyak anak muda maupun dewasa muda maupun yang telah berusia lanjut maju ke depan untuk memperbaharui iman mereka kepada Tuhan Yesus.
20130525-084814.jpg
Untuk pertama kalinya, banyak orang yang baru menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya serta sekitar 246 orang memberikan diri untuk dibaptis selam malam ini juga. Segala kemuliaan bagi Tuhan Yesus!

I Love Sumatra

Posted: May 24, 2013 in Event
Tags: , , , ,

20130524-165252.jpg

Senang sekali bisa berbagi dalam sesi perdana di hari ini dalam konferensi “Sumatra for Jesus” 2013. Berikut saya tuliskan di blog ini isi hati Tuhan yang saya tangkap untuk saya bagikan kepada semua peserta konferensi maupun Anda semua yang membacanya. Dari masa lalu hingga masa kini, Tuhan berbicara kepada umat-Nya dengan berbagai cara melalui hamba-hamba-Nya. Tuhan juga ingin menyampaikan rasa cintanya kepada pulau ini dengan berbagai cara karena Yesus mengasihi Sumatra! JESUS LOVEs SUMATRA! Event Sumatra for Jesus ini merupakan sebuah acara untuk sekali lagi Dia menunjukkan bahwa JESUS LOVEs Sumatra. Apakah kita sungguh-sungguh mengasihi pulau ini? Kita perlu mengetahui bahwa masih banyak di antara mereka yang masih belum kita ketahui, belum kita kenal, dan belum kita doakan!

20130524-155241.jpg

GOD wants to change your heart for this island
Tuhan ingin mengubah hatimu bagi pulau ini. Bila hati kita dipenuhi dengan kebencian terhadap seseorang, sudah pasti kita tidak bisa melayani orang tersebut. Bila kita juga pernah merasa benci terhadap pulau ini, menyesal telah dilahirkan di pulau ini, merasa tidak suka dengan orang-orang di kota di mana kita ditempatkan, SUDAH PASTI kita tidak bisa melayani pulau ini dengan maksimal. Kita perlu mengasihi pulau ini! Tuhan akan mengubah hati kita bagi pulau ini! Melalui konferensi ini, izinkan Tuhan menjamah hati setiap kita agar hati kita diubahkan-Nya untuk: (1) mengerti hati-Nya bagi pulau Sumatra, (2) melalui gereja-Nya mewarnai dan memenangkan pulau ini, (3) dan hasilnya, kita memiliki rasa cinta (LOVE) untuk Sumatra. Cinta menggerakkan diri kita untuk untuk melakukan yang terbaik. Cinta membuat seseorang lebih bersemangat dalam menjalankan hidupnya. Seseorang bisa memiliki hubungan tanpa cinta, namun hal itu tidak akan bernilai/ berarti. Cinta pada pasangan/ keluarga akan membuat kita mau dan rela melakukan apa saja bagi pasangan atau keluarga kita. Cinta pada pekerjaan akan membuat kita begitu antusias dalam bekerja, datang tepat waktu, bersemangat kejar target, dan rajin. Bayangkan kalau seseorang tidak mencintai pekerjaannya… apapun yang dikerjakannya tidak akan maksimal. Segala sesuatu; apapun itu bentuknya: karya seni, lukisan, musik, bangunan arsitektur, dll juga akan tercipta dengan baik apabila didorong oleh cinta. Pelayanan kita kepada Tuhan dan terhadap sesama akan membuahkan hasil yang berarti bila kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan sesama. Cinta pada kota dan masyarakat akan membuat kita menghargai fasilitas umum, memelihara, merawat, menjaga kebersihan dan tidak sembarangan membuang sampah, tidak memperkatakan hal-hal yang negatif seputar pemerintahan, pejabat pemerintah, tidak mengutuki kota di mana kita tinggal, tidak memandang rendah mereka yang berbeda suku dengan kita, dan sebagainya. Cinta pada pulau ini akan membuat kita bangga bahwa kita born, live, and love SUMATRA; membuat kita cinta dengan budayanya, merasa banyak saudara dari berbagai rumpun suku bangsa, ikut merasa memiliki seni dan budaya Sumatra yang tampak pada bangunan-bangunan budaya, tari-tarian, alat-alat musik, dan pakaian adat seperti yang kita saksikan di malam pembukaan kemarin.

Kasih tidak pernah gagal, LOVE never Fails (1 Kor. 13:8 – NIV) – bila kita mengasihi pulau Sumatra seperti cara Tuhan mengasihi pulau ini, cara pandang kita akan diubahkan. Bukan keburukan-keburukan maupun halhal negatif yang selalu kita keluhkan dari pulau ini, namun kita akan mulai mendoakan pulau ini, mempelajari pulau ini, bangga dengan pulau ini, menggali potensi dan mengapresiasi budaya pulau ini. LOVE never fails! Keberadaan kita di pulau ini berdampak! (katakan buat rekan di sebelah kanan kirimu!) Entah kita dilahirkan di Sumatra, atau karena pindahan, keberadaan kita di pulau ini bukan suatu kebetulan! Tuhan ingin agar keberadaan kita di pulau ini berdampak. Jangan pernah berpikir, “Mengapa aku tidak dilahirkan atau dipindahkan di sebuah kota yang banyak orang Kristennya saja. Di kota/ pulau ini imanku tertekan.” — kabar baik bagi Anda, karena inilah dinamika iman Kekristenan sejati! Semakin ditindas, semakin dianiaya, iman Kekristenan semakin tersebar luas dan bertumbuh!

Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. (Kis 8:1b)

Iman bertumbuh dalam penganiayaan dan dalam pembacaan Kitab Suci (Judul perikop 2 Tim. 3:10)

Mungkin keberadaan kita kita di pulau ini membuat kita merasa seperti ‘orang buangan’; karena tidak ada kesempatan untuk berada di kota/ pulau/ negara lain. Kita tinggal di tengah-tengah masyarakat yang kebanyakan dari antara penduduknya seperti orang buangan. Kebanyakan dari penduduknya bukan dari tanah asli Sumatra. Selain suku-suku asli, ada suku Melayu, India, Pujakesuma (Jawa), Chinese, dan lain-lain. Banyak di antaranya dari zaman nenek moyang memang sengaja datang ke Indonesia untuk berdagang, adapula karena transmigrasi, ada yang karena penugasan kerja hingga menetap. Mari kita belajar dari Yeremia 29:4-7 Judul perikopnya adalah “Surat kiriman kepada orang-orang buangan di Babel”.

Dari antara orang-orang terpelajar dari kaum Israel seperti Daniel, Sadrakh, Mesakh, Abednego dilatih, dididik dan diberi jabatan di kerajaan Babilonia. Mereka diasimilasikan/ dibaurkan agar belajar tulisan dan bahasa orang Kasdim, memiliki nilai-nilai, pengetahuan, kecerdasan, hikmat, pandangan, budaya, bahkan diberi nama seperti dewa Babel (Daniel diberi nama Beltsazar; Dan. 4:8) dengan harapan mereka juga menyembah dewa Babel.

BERTAMBAH BANYAK DAN JANGAN BERKURANG!
4 “Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel, kepada semua orang buangan yang diangkut ke dalam pembuangan dari Yerusalem ke Babel: 5 Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya; 6 ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang! (Yeremia 29:4-7)

Ayat ke-6 ini dalam salah satu Alkitab versi Bahasa Inggris dituliskan, “multiply there and do not decrease! (NASB)” – berlipat ganda dan jangan berkurang! Dengan menjajah Israel, Babel berharap bangsa Israel semakin berkurang. Penguasa kegelapan yang mempengaruhi Sumatra ini ingin agar Kekristenan semakin berkurang. Mungkin tidak dengan sebuah pengusiran atau serangan langsung untuk menaklukkan, namun dengan cara pembauran. Iblis membaurkan nilai-nilai dunia ini seperti perzinahan; baik perzinahan rohani dalam bentuk penyembahan berhala maupun dalam arti melakukan hubungan di luar pernikahan yang sah. Degradasi moral juga diasimilasikan oleh iblis ke dalam kehidupan keluarga seperti perpecahan dan perceraian.

Babel ingin orang-orang buangan dari Israel berbaur, berasimilasi dengan budaya Babel, mempelajari tulisan dan bahasa Kasdim, kawin campur dengan orang Babel, dan menjadi seperti orang Babel dan menyembah dewa Babel. iblis ingin agar semua orang – termasuk Gereja – terasimilasi dengan budaya neraka! Hal ini mengakibatkan semakin berkurangnya orang-orang yang sungguh-sungguh dengan Tuhan, karena terasimilasi (terbaur) dengan dosa. Iblis menginginkan agar jumlah orang benar berkurang. Namun, Tuhan menginginkan agar kita bermultiplikasi dan jangan berkurang! Gereja harus terus bertumbuh, mengalami peningkatan dalam jumlah, berlipat ganda dan jangan pernah berkurang di pulau Sumatra ini!

LOVE THIS ISLAND!
CINTAILAH PULAU INI! Orang-orang Israel yang berada dalam pembuangan menyimpan perasaan duka yang begitu mendalam dan bisa jadi menyimpan kebencian dan dendam terhadap kerajaan Babel. Hati mereka begitu disakiti melihat sanak keluarga yang disiksa bahkan dibunuh. Mereka tentunya berharap untuk bisa memberontak, bahkan membalas dendam atas perlakuan yang mereka terima. Sebisa mungkin, dalam masa pembuangan mereka akan memberontak, merusak, melakukan aksi demonstrasi, membakar ban di depan gedung-gedung pemerintah, melempari gedung-gedung fasilitas umum dengan batu, mengambil sebanyak mungkin sumber daya Babel, mengutuki Babel dengan kata-kata negatif dan menjatuhkan, dan lain-lain. Akan tetapi, pikiran Allah berbeda dengan pikiran manusia. Rancangan-Nya jauh melebihi rancangan manusia. Tuhan justru berfirman:
“5 Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya; 6 ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang! 7 Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”

Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk mendirikan tempat tinggal, buat kebun anggur dan nikmati hasilnya, serta berkeluarga… berarti tinggal sebagai ‘orang buangan’ dalam waktu yang sangat lama. Terus berlipat ganda dan jangan berkurang. Satu lagi di ayat ke-7… Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang… berdoalah untuk kota itu… Apa? Bisa saja bangsa Israel berkata kepada Tuhan, “tangan mereka masih berlumuran darah dari keluargaku yang telah mereka bunuh…” Namun Tuhan tetap tahu yang terbaik. Dendam, pemberontakan, dan balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah. Kasih menutupi banyak sekali pelanggaran dan kasih tidak pernah gagal. Bagaimana kita bisa mensejahterakan pulau ini? Sekali lagi, dimulai dengan CINTA… I LOVE my CITY, I LOVE my ISLAND! Cintailah pulau ini! Jangan sekedar pindah ke salah satu kota di pulau ini hanya untuk mengambil keuntungan dari pulau ini, mengeksploitasi pulau ini, merusak pulau ini dan menjelek-jelekkan pulau ini! Atau… bahkan negative thinking tentang pulau ini. Bukan sekedar berkeluarga, study atau bekerja dan melayani di pulau Sumatra ini, tapi milikilah cinta untuk mensejahterakan pulau ini. Orang-orang yang tidak memiliki cinta terhadap pulau ini hanya sekedar mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, kalau bisa sebanyak mungkin yang ada di pulau ini dia ambil. Hanya mencari keuntungan dengan membangun ini dan itu, tanpa memperhatikan tata kota dan estetika/ keindahan kota. Sudah saatnya orang-orang benar tampil untuk menunjukkan cinta bagi pulau ini. Orang seperti ini datang ke Sumatra hanya untuk mengambil, mengambil, dan mengambil… sebanyak apapun yang bisa diambil akan diambil sebagai keuntungan! Kenapa kita perlu mengasihi pulau ini? Apa alasan kita mencintai pulau ini? Dalam Surat Yohanes yang pertama tertulis, “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” 1 Yohanes 4:19 Cinta itu memberi. Definisi kasih adalah keinginan untuk menguntungkan orang lain dengan memberi, bahkan rela berkorban. Orang yang mengasihi Sumatra memiliki prinsip: aku ada di pulau ini, mungkin terlahir di pulau ini, tinggal di pulau ini, belajar di pulau ini, bekerja/ membangun bisnis di pulau ini, berarti aku ada untuk memberi yang terbaik bagi pulau ini! Yer. 29:7 : berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. Babel adalah merupakan negeri musuh bagi orang-orang Israel yang terbuang. Sangat berat bagi mereka untuk bisa mendoakan kota ini, apalagi untuk mengusahakan kesejahteraannya. Namun, Tuhan berfirman, “kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” – Kesejahteraan SUMATRA adalah kesejahteraan KITA semua!